Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sementara itu di sebuah tempat tertutup, Bunga sedang berbincang dengan seseorang. Keduanya sedang membicarakan tindakan yang akan dilakukan setelah Abimana menyerahkan semua asetnya untuk ke tiga anak kandungnya.
"Mas, sekarang apa yang akan kita lakukan setelah semua hal yang sudah kita rencanakan gagal?" tanya Bunga pada seorang pria berpakaian serba hitam yang duduk di hadapannya.
"Seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya, kita akan lenyapkan Keluarga Anggara dari dunia ini," jawab orang itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan pada Abimana? Lelaki itu sudah tidak punya apa-apa untuk dimanfaatkan," tanya Bunga lagi.
"Sementara biarkan dia tinggal bersama dengan kalian. Siapa tahu, ia bisa dimanfaatkan nanti."
Bunga mengangguk. Wanita itu kemudian menyandarkan punggungnya, menghembuskan napas panjang.
"Kenapa?" tanya laki-laki itu.
"Aku hanya merasa semua hal yang kita lakukan dulu akhirnya sia-sia. Mulai dari membuat putri bungsu Anggara itu hilang, kemudian menjadikan Chika putri angkat mereka. Hingga menipu Abimana tentang anak, padahal tidak pernah ada yang terjadi di pesta malam lajang itu. Tetapi, pada akhirnya semua sia-sia. Putri bungsu mereka berhasil ditemukan dan.Abimana tidak memiliki harta sepeserpun," keluh Bunga.
Wanita selingkuhan Abimana itu meraih tangan pria berbaju serba hitam tersebut.
"Mas, bukankah perusahaanmu sudah besar sekarang. Tidak bisakah, aku dan anak kita tinggal bersamamu? Aku lelah harus terus berpura-pura suka dengan Abimana dan melayani pria itu," lanjutnya.
"Bunga Sayang, perusahaanku memang sudah mulai besar, tapi, belum menjadi perusahaan nomor satu di negeri ini karena masih ada Kaisar Grup di atasnya. Jika kita berhasil mendapatkan Anggara Grup dan mengalahkan Kaisar Grup, barulah kita bisa hidup dengan tenang menikmati harta kita. Jadi, bersabarlah sedikit lagi," bujuk pria itu.
"Baiklah, demi kebahagiaan keluarga kita," balas Bunga. "Tapi, Mas, sampai sekarang aku masih penasaran mengenai hubunganmu dengan Chika? Kenapa kamu memasukkan dia ke keluarga Anggara?" tanya Bunga lagi.
"Dia bukan siapa-siapa, selain hanya pion yang aku manfaatkan untuk dijadikan mata-mata di keluarga itu," jelas pria itu. "Bunga, kamu harus percaya kalau aku hanya mencintaimu dan anak kita."
Bunga tersipu.
"Mas, malam ini biskan aku tidur denganmu? Aku sangat merindukanmu, lagian aku bosan kalau harus melayani Abimana terus-terusan," pinta Bunga.
"Tentu saja, Sayang," jawab Pria itu sambil menarik Bunga agar duduk di pangkuannya.
Dengan bibirnya, pria itu mulai menelusuri leher Bunga.
"Mau disini atau di hotel?" bisik pria tersebut.
"Di hotel saja, tapi aku mau makanan pembukanya di sini," jawab Bunga.
Wanita yang sudah tak lagi muda itu mengalungkan kedua tangan di leher pria tersebut kemudian mulai menyatukan bibir mereka. Tubuh keduanya bergerak liar, menikmati segala sentuhan hingga tanpa disadari ada orang yang diam-diam menyaksikan perbuatan mereka itu. Tangannya mengepal menahan semua amarah yang hampir meledak.
***
Di kediaman Keluarga Anggara....
Aluna menghembuskan napas panjangnya. Sejak kepergian Marvin.beberapa saat yang lalu, dia terus memikirkan pria itu.
Aluna merasa bersalah karena sudah memanfaatkan pria sebaik Marvin.
"Apa aku batalkan saja ya pertunangan itu? Rasanya memang tidak adil memanfaatkan Marvin hanya untuk membalas semua perbuatan Chika. Apalagi, baik di kehidupan sekarang atau di kehidupan sebelumnya, dia tulus kepadaku."
Aluna berbicara pada dirinya sendiri.
"Dari perkataannya tadi sepertinya kami pernah bertemu sebelumnya. Tapi, dimana? Kenapa aku tidak ingat sama sekali."
Aluna.berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil berusaha mengingat-ingat. Sayangnya ia tidak menemukan sosok Marvin dalam ingatan. Hingga tiba-tiba matanya menangkap kotak berudu berwarna biru di atas tumpukan buku di lemari meja belajarnya.
Aluna meraih kotak itu lalu membukanya. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk mahkota ada di sana. Aluna mengangkat kalung itu dan menatapnya lekat-lekat.
"Apa kalung ini milikku?" gumamnya.
Aluna memejamkan matanya sambil berusaha mengingat kalung tersebut. Sebuah siluet anak kecil laki-laki tiba-tiba muncul di kepalanya diikuti suara anak laki-laki yang mengatakan, "Kata mama ini simbol Keluarga Kaisar. Aku akan mengambilnya lagi saat datang nanti untuk menikah denganmu. Jaga baik-baik ya."
Aluna kembali berusaha menggali ingatannya lebih dalam. Sayangnya tidak ada lagi yang bisa dia ingat selain rasa sakit di kepalanya.
"Kakak, Kakak," panggil Aluna setengah berteriak. Ia memegangi kepalanya yang terasa di tusuk-tusuk.
Andi yang mendengar suara teriakan Aluna segera datang.
"Luna, kamu kenapa?" tanya Andi dengan wajah panik.
"Kak, ke pa laku sa kit."
Setelah mengatakan itu, Aluna langsung tak sadarkan diri.
"Luna, Luna, kamu kenapa, Dek? Luna, bangun!"
Andi membopong tubuh adiknya dan merebahkannya di atas tempat tidur. Dia juga menyimpan kalung di tangan Aluna di dalam saku. Andi segera menelpon dokter keluarga untuk datang memeriksa. Tak lupa ia juga mengabari mamanya dan kakak pertamanya–Andi.
ini si nenek" rada" oleng