NovelToon NovelToon
Perjodohan Dan Pernikahan

Perjodohan Dan Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Putritritrii

Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?

Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.

Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.

Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.


"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 : KECEWA

Rianti tersenyum.

"Apakah aku boleh memberikan saran atau masukan gitu?" tanya Rianti dengan sopan.

"Ya, silahkan saja," balas Dave santai. Ia bersiap mendengar baik-baik perkataan yang akan diucapkan oleh Rianti.

"Begini, Dave. Aku ngomong sebagai sahabat kamu. Jadi, untuk posisi sekarang. Aku tetap dukung Nona Davina. Dia perempuan yang menjadi istri sah kamu. Davina juga mengorbankan dirinya untuk menikah sama kamu. Meskipun kalian dijodohkan, kenapa nggak berniat gitu saling jatuh cinta dan mencintai. Selagi berkesempatan membentuk cinta yang nggak ada jadi ada. Karena ingat, Dave. Aku sebagai wanita yang posisinya sudah menikah, jika aku di posisi Nona Davina, aku nggak akan kasi maaf, sama pria yang nggak menghargai pengorbanan dari dia yang sudah menjadi istri sah, gitu. Aku nggak setuju dengan caramu, Dave. Aku mengerti, Ecca memang baik sebagai kekasihmu terdahulu. Tapi, pikirkan. Kenapa Oma, tak setuju dengan pilihanmu," ujar Rianti panjang lebar.

Dave bergeming. Kedua matanya hanya fokus pada jarak pandang yang jauh di dinding kaca ruangannya. Dave merasa tertampar akan perkataan Rianti. Ada benarnya, jika di nilai dari sudut pandang Rianti. Dia lebih paham kehidupan sebuah pernikahan.

"Dave," panggil Rianti. Ekor matanya berpindah ke arah Rianti seakan ia tersadar dari lamunannya.

"Iya ... aku paham. Terima kasih, Ri," ucap Dave menyunggingkan senyum kecil dari bibir tipis yang berwarna merah cherry yang siap di petik.

"Yah ... kalau begitu. Apakah aku sudah bisa keluar?"

Dave menganggukan kepalanya.

"Baiklah ... silahkan dilanjutkan tugasmu, Ri." Dave beranjak dari duduknya dan melangkah ke bangku kerjaannya.

Rianti cuma bisa tersenyum dengan bibir tipis nyaris tak terlihat. Ia pun segera beranjak dan menjauh dari ruangan kerja Dave.

"Bagaimana bisa, aku melakukan hal-hal aneh. Argggghhh ... aku benar-benar pusing." Dave mengacak rambutnya dengan kasar.

***

Di perusahaan tempat Davina bekerja. Kepalanya terus di isi dengan tatapan kedua mata Dave terhadap wanita didepannya. Davina terus bertanya-tanya. Apakah benar, wanita tadi memang mantannya, Dave.

Selain memikirkan Dave dan Ecca. Kepala Davina di isi dengan ucapan Aldi tadi. Rasyid, pria yang sempat mengisi kekosongan hatinya, akan segera menikah dengan sahabatnya Savira. Dia benar-benar merasa iri, karena Savira beruntung bisa menikah dengan pria yang ia mau.

Berbeda dengan Davina. Dia bukan ingin mengeluh atau tak bersyukur akan keadaan hidupnya. Tapi, bila seperti tadi, melihat tatapan dari kedua mata Dave. Davina paham, masih ada cinta untuk wanita masa lalunya.

"Huh ... aku benar-benar pusing." Davina membatin. Ia tak bisa fokus pada kerjaannya saat itu.

"Kalian ... apa mau kopi? aku mau ke dapur, meminta kopi," ucap Davina seraya bangkit dari duduknya.

"Aku mau, Vin." Dinda menyunggingkan senyumannya.

"Aku juga, Vin. Makasih ya, tahu aja aku lagi butuh asupan dari nikmatnya kopi." Aldi masih sibuk pada catatan dan pena di jarinya.

"Baiklah ... aku ke dapur," balasnya sambil berjalan ke arah pantry.

Setibanya ia di pantry. Si Mba CS, masih berada di sana. Bukan hanya si Mba, tapi ada Savira yang sibuk dengan mangkok berisi makanan dan segelas susu putih didepannya. Terlihat, Savira terlonjak mengetahui kedatangan Davina. Wanita itu cuma acuh dan membuang pandangannya ke arah lain.

"Mba ... saya mau kopi tiga dong," ucap Davina mendapatkan jawaban si Mba dengan ramah. Lalu, ia berjalan menuju meja di sisi lain dan duduk membelakangi Savira. Kedua ekor mata Savira, menatapi punggung milik Davina. Ia pun tak tahan dengan diamnya Davina. Kedua kakinya berjalan, kemudian duduk di samping Davina.

Kedua ekor mata Davina menatap sinis ke Savira. Ia pun bangkit dari duduknya, dengan cepat tangan Savira menahan lengannya.

"Tolong kasi aku kesempatan untuk minta maaf, Vin." Kedua mata Savira tampak memelas. Akhirnya, Davina mengurungkan niatannya. Ia pun kembali duduk tanpa mau berlama-lama menatap mata Savira.

"Langsung ke intinya saja, Ra," balas Davina.

"Vin ... aku benar-benar minta maaf. Kalau selama ini, aku tak mengatakannya ke kamu. aku takut Vin mengecewakanmu. Aku nggak berniat, buat kamu sedih pada saat kamu tahu, Kak Rasyid menyukaiku. Bukan aku sengaja, Vin. Berkali-kali aku menguatkan hatiku untuk mengatakannya ke kamu. Tapi, kenyataannya aku tak mampu ketika wajahmu berbinar menceritakan tentang Kak Rasyid. Aku nggak tega menghancurkannya, Vin. Jadi tolong, maafkan aku. Dua minggu lagi, aku akan menikah dengan Kak Rasyid. Undanganmu, akan aku berikan dengan tanganku ini. Aku hamil anaknya Kak Rasyid, Vin." Kedua mata Davina membeliak kaget. Ia bergeming tak percaya mendapati kebenarannya.

Selama ini, Davina berpikir. Kalau Rasyid itu pria yang sangat baik. Tapi, kenapa bisa Savira hamil duluan.

"Kenapa kau bisa hamil? apakah Kak Rasyid memaksmu?" Davina mencoba menelisik ke wajah Savira.

Savira menggeleng.

"Tidak ada paksaan, Vin. Semuanya, murni karena kami sebelumnya minum-minuman keras saat kami berlibur bersama. Jadi, aku tak menyalahkan Kak Rasyid. Dia segera tanggung jawab, setelah aku membertahunya." Cairan bening tampak bergumpal di bola mata Savira.

Tanganya perlahan terulur menggenggam punggung tangan Davina. "Maafkan aku, Vin. Aku gagal menjadi sahabatmu."

"Sudahlah ... itu jodohmu. Dan jodohku adalah suamiku. Jadi, tidak perlu ada penyesalan. Aku paham maksudmu. Jaga dirimu baik-baik, Ra. Aku permisi," ucap Davina dengan senyum tipis. Kemudian, ia mendapati si Mba CS sudah menyusun tiga cup pesanannya.

"Terima kasih, Mba," kata Davina saat ia membawa nampan. Lalu, kedua kakinya berjalan menuju pintu. Baru saja hampir tiba di ambang pintu. Terlihat Rasyid datang dan membukakan pintu untuk Davina.

"Silahkan, Vin," katanya dengan lembut.

"Terima kasih, kak," balas Davina sekenahnya. Rasyid sedikit kaget.

Sampai dikubikelnya, Davina memberikan satu persatu kopi pesanan kedua sahabatnya. Ketiganya, sama-sama menyeruput kopi hitam pekat kesukaan mereka.

"Terima kasih, Vin," ucap Aldi sesudah meneguk kopinya.

"Iya sama-sama. Kembalilah bekerja, sampai jam makan siang tiba." Davina menyemangati keduanya.

"Iya ... kau juga." Dinda menyauti.

***

Matahari tampak kembali ke tempat peraduannya. Awan jingga mulai tampak membentangi langit yang tak lagi biru. Davina berdiri di depan pintu otomatis, saat Dave belum juga datang mejemputnya.

"Vin," panggil Williams tiba-tiba dari arah belakang.

Davina menoleh ke arah sumber suara.

"Pak," balasnya seraya setengah menunduk memberikan penghormatan.

"Kenapa masih di sini? Dave belum menjemputmu?" tanyanya.

"Iya ... mungkin lagi kena macet, Pak," balas Davina sopan.

Dengan elegannya, Williams mengangkat pergelangan tangannya. Melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.

"Ini sudah hampir setengah jam dari jam keluar kantor. Apa kamu sudah menghubunginya?" Pertanyaan Williams menyadarkan kebodohan Davina.

"Belum, Pak. Agh ... baiklah. Saya akan mencoba menghubungi suami saya," balas Davina sungkan.

Mendengar kata suami, Williams hanya menyunggingkan senyuman.

"Baiklah ... saya jalan. Jika memang Dave tak bisa menjemput, saya bisa mengantarkanmu," balas Williams lagi.

Davina dengan cepat menggeleng sebagai penolakan.

"Tidak usah Pak. Saya akan menunggu suami saya saja," jawab Davina sopan.

"Baiklah kalau begitu. Saya duluan, Vin," ucap Williams dengan tersenyum tipis.

"Iya Pak. Hati-hati di jalan."

Setelah kepergian Williams, Davina langsung saja mengambil ponselnya. Ia segera menuju pada kontak suaminya. Setelah itu, benda pipih itu ia tempelkan di daun telinganya. Nada sambung ke empat, terdengar suara Dave.

"Vin ... maaf, aku tak mengabarimu. Apakah kau bisa pulang sendiri naik taxy?" tanya Dave.

"Maksud kamu? nggak bisa jemput aku, gitu?"

"Iya ... maafkan aku tak sempat mengabarimu. Nggak masalah kan?"

Davina menari napasnya dalam-dalam.

"Vin, kau masih di situ?"

"Kenapa kau tidak bisa menjemputku? Agh ... lupakan. Aku baiklah ... aku pulang naik bus aja," balas Davina kemudian memutus sambungan ponselnya.

Kedua mata Davina menatap awan jingga yang berganti mendung. Awan pun tampak kelabu. Ponsel dalam genggaman tangan Davina bergetar. Ia pun kembali melihat ke arah ponselnya.

"Naik taxy saja. Jangan naik bus." ~ Dave.

Davina cuma berdiam memandangi layar ponselnya. Lalu, ia berjalan sebelum hujan turun dan membasahi bumi.

Bersambung.

Jangan lupa like dan komentar. Terima kasih ^_^

IG @putritritrii_

1
Margareta Djawan
Lumayan
Margareta Djawan
Biasa
Micke Rouli Tua Sitompul
ecca pelakor
Micke Rouli Tua Sitompul
tinggalkan aja si dave
muhammad anshari
Kecewa
muhammad anshari
Buruk
srimusvita
seru
Vera Wilda
terima kasih Thor...
Vera Wilda
Alurnya agak bolak balik, 🤔🤔🤔
Vera Wilda
selalu aja ada yg mengganggu jd gak selesai2 🤭😄😄😄
Vera Wilda
kelamaan banget Thor dg situasi SPT ini, belum ada perkembangan mereka berdua, jd bosan dikit 🤭😊
Vera Wilda
kok Dave ngomong nya jd begitu ? ngomong SM Davina nya mau sama2 belajar mencintai sekarang ngomong k William lain lagi...
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔
Vera Wilda
masak iya Davina cuma gara2 d cium aja marah, dia kan suami mu, agak lebay sich sikap Davina ... 😊
Vera Wilda
hadir nich Thor ....
Rari
Cerita menarik tidak bertele2
Melani Mardiansyah
rekomemded banget cerita ny
Siti Aminah
😊
Ayu Prasetyowati
❤️❤️
Risti Sari
👍❤
sari emilia
kl gtu hrs nya byk berdoa ucp syukur krn selamat bukan mlh minun2an....dasar manusia tdk berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!