Dia adalah seorang pendekar hebat du abad kejayaan, dia adalah pahlawan wanita yang selalu di agung - agungkan oleh semua orang. Jangan tanya seberapa besar kekuatan nya, dantian Qi nya sudah melampaui batas manusia. Ia memiliki banyak jenis tumbuhan obat beserta senjata tajam yang sangat legenda dan sangat di incar oleh para kultivator.
Ia berjalan dengan perlahan di antara rintik nya hujan dan jalanan yang licin, seekor kuda liar berlari dari arah hutan dengan sangat kencang. Mei Rui, gadis itu yang mendapatkan serangan secara tiba - tiba pun terkejut hingga membuat dirinya jatuh dari atas tebing.
Cahaya silau merasuk indra penglihatan nya, secara tiba - tiba ia merasa seperti di sebuah danau yang cukup dalam. Beberapa ingatan masuk ke indra pengingat nya , mata nya terbuka ia mulai naik ke atas permukaan dan menghirup udara segar sebanyak - banyak nya. .
"Terimakasih nenek " ia berucap pergi sambil membawa gelang giok pemberian nenek pengemis.
baca kelanjutan cerita nya yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uyuuun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rampok
Huang Mei menatap malas pangeran mahkota yang saat ini sudah ada di hadapan nya, bisa - bisanya ia membawa Huang Mei untuk menangkap rampok yang selalu mengambil dagangan para warga yang melintas. Huang Mei duduk di atas dahan pohon rindang, sesekali ia menguap karena rasa kantuk yang sudah menyerang nya dari tadi.
"Aku mengantuk seharusnya kau tidak akan membawa ku pada malam hari seperti ini " kesal Huang Mei yang masih tetap setia dengan duduk di atas dahan pohon.
"Itu kereta yang akan membawa bahan pokok ke ke desa itu, aku sengaja mengirim mereka secara diam - diam agar desa di sana tidak lagi mengalami kemiskinan " ucap pangeran mahkota yang hanya di balas tatapan datar oleh Huang mei.
"Itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah, jika anda ingin melihat mereka terbebas dari kemiskinan maka anda harus membuka lapangan pekerjaan untuk mereka. Anda bisa melihat apa ada sesuatu di desa itu yang bisa di jual dan menghasilkan uang, jika ada maka anda harus tahu cara mengolah nya dan ajarkan hal itu ke mereka maka mereka akan terbebas dari kemiskinan " balas Huang Mei sambil menatap kereta yang di hadang oleh beberapa orang yang di yakini Huang Mei itu adalah rampok.
Terlihat sang supir kereta bersama rekan nya sudah tampak kelelahan dan sang rampok bersiap menusuk mereka dengan belati. Huang Mei menyibak kan kipas milik nya yang telah ia sematkan jarum akupuntur. Tepat sasaran, sekelompok rampok itu terdiam mematung, huang mei telah memberikan bubuk racun di jarum - jarum kecil yang ia sematkan di kipas milik nya.
"Fokus pangeran, ingat dengan tujuan anda membawa saya kemari. Saya tidak ingin waktu saya terbuang sia - sia " ucap Huang Mei lalu turun dari dahan pohon tersebut.
Huang Mei berjalan dengan sangat anggun, ia menghampiri para orang - orang yang ada di sana sambil tersenyum dengan penuh arti.
"Aku tahu kalian sengaja di kirim ke sini untuk tujuan tersendiri, tapi kalian harus tahu satu hal, karena kalian sudah bertemu dengan ku maka kalian pantas mati " ucap Huang Mei dengan senyuman manis yang tampak menyeramkan.
Tanpa basa - basi Huang Mei memenggal kepala mereka semua, tanpa perlu di tanya Huang Mei sudah tahu siapa dalang dari ini semua itu. Huang Mei berbicara kepada pangeran mahkota agar kepala dari para rampok itu di kirim ke kediaman Menteri He.
Pangeran mahkota memanggil prajurit bayangan nya dan memerintahkan mereka untuk mengirim kepala rampok itu ke kediaman menteri He dan memajang tubuh nya di alun - alun kota.
"Semuanya telah selesai tapi bagaimana cara mengatasi perekonomian di desa itu ? " tanya pangeran mahkota.
Huang Mei berjalan menulusuri desa tersebut, ia melihat satu tempat yang di pagari oleh kayu. Tempat yang banyak sekali di hinggapi oleh ulat - ulat sutra, mungkin warga setempat mengira ulat - ulat itu adalah binatang yang menjijikan.
"Kita bisa menghasilkan kain sutra terbaik dari ulat - ulat ini, ini adalah ulat sutra jika kita membudidayakan nya maka ulat - ulat ini bisa menjadi langkah awal untuk mengatasi kemiskinan di desa ini " ucap Huang Mei.
"Aku masih tidak mengerti " ucap pangeran mahkota dengan menatap wajah Huang Mei.
"Lebih baik kita kembali ke kota dan besok kita kembali lagi ke sini dengan perlengkapan yang lengkap " balas Huang Mei dan pangeran mahkota setuju.