Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.
Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.
Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.
Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disenchanted 32
Sepulang sekolah, Alisha langsung mencari-cari sang ibu, guna menanyakan kebenarannya. "Mam? Mama! Mama di mana?!" panggilnya dengan keras.
Alina, yang tadi sedang mengecat kuku, sontak langsung menghampiri sang putri di ruang tamu. "Ada apa sih Al? Pulang-pulang kok teriak-teriak?" tanyanya heran dengan tingkah sang putri.
"Aku mau tanya sesuatu. Apakah Papaku adalah Ayahnya Jee juga?" Bukannya menjawab, Alisha justru balik bertanya dengan tak sopan.
"Jaga nada bicaramu pada Mama, Al. Tahu dari mana kamu?"
"Jeehan yang bilang ke aku. Jadi, itu benar, kan? Kalau begitu Mama perebut suami orang, ya kan?"
Plak!
Satu tamparan mendarat tepat di pipi kiri Alisha, rasa nyeri dan panas sesaat merambati pipinya yang mulus. "Lancang!" teriak Alina tak terima.
"Sudah Mama bilang, jaga nada bicaramu pada Mama!" bentaknya lagi membuat Alisha terisak. Baru kali ini ia rasakan tamparan dari sang Mama.
"Kamu tak perlu tahu hal lain, yang perlu kamu tahu, Hasya adalah Papamu. Titik!" tegasnya, tak mau lagi menerima pertanyaan-pertanyaan dari sang putri.
Tak ingin berdebat dengan sang Mama. Alisha memilih pergi ke kamarnya dengan berlari, sambil memegangi pipinya yang terasa perih.
"Apa-apaan anak itu, bisa-bisanya dia melabeli ibunya sendiri dengan perebut suami orang." Alina marah-marah sendiri di ruang tamu, masih merasa kesal dengan sikap sang putri.
"Gak bisa dibiarkan, aku harus telepon Mas Hasya dan memintanya menegur anak kandungnya itu!"
•••
Hasya tengah sibuk-sibuknya dengan laporan yang menumpuk, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Mau tak mau ia mengalihkan fokusnya untuk sesaat dari layar komputer ke layar ponselnya yang menyala dan berdering.
"Halo?" katanya begitu panggilan tersambung. Suara Alina yang khas, terdengar melengking di ujung sana.
"Ada apa? Aku masih sibuk jam segini, kita bicara nanti, ya." Hasya hendak menutup panggilan tersebut namun urung saat nama anaknya disebut-sebut.
"Kamu harus menegur anakmu itu, Jeehan. Dia udah bilang yang enggak-enggak tentang aku, Mas!"
"Apa maksud kamu? Jeehan gak mungkin bilang begitu, aku yakin."
"Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus bicara sama dia, dan kasih tahu dia untuk gak menjelekkan aku lagi apalagi sampai bilang yang enggak-enggak ke Alisha. Titik!"
"Oke, fine, kalau itu maumu, aku akan bicara dengan Jeehan nanti." Hasya meletakkan ponselnya begitu saja di meja. Selalu saja begini, aduan-aduan tak berarti Alisha di tengah kesibukannya sungguh memecah fokusnya.
Alina sepertinya tidak dapat memahami situasi di mana, ketika seorang pria sedang bekerja, maka ia tak bisa diganggu. Otak pria didesain untuk fokus pada satu pekerjaan saja. Berbeda dengan perempuan yang bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus.
Kini ia memijat tulang di antara kedua alisnya. "Benar-benar bikin pusing!" gerutunya frustasi.
"Kenapa Mas Hasya?" tanya seorang rekan kerja di sampingnya.
Hasya menoleh, "Oh gak apa-apa, cuma sedikit pusing sama kerjaan aja, kok," jawabnya tak enak hati, karena sepertinya percakapannya barusan mengganggu orang di sampingnya.
"Pelan-pelan aja kerjainnya, Mas. Biar kepala gak pusing, kerjakan satu-satu aja, jangan serakah, hehe," kata si pria yang terlihat lebih muda dari Hasya itu, mencoba mencandai laki-laki yang 10 tahun lebih tua darinya.
Entah mengapa, kata 'jangan serakah' yang diucapkan pria tadi mengusiknya. Itu mengingatkannya pada dirinya sendiri yang sempat serakah 1 bulan lalu, karena ingin memiliki 2 wanita sekaligus dalam hidupnya.
•••
Maura begitu sibuk dengan pekerjaan barunya, hingga tak sadar bahwa putrinya sudah pulang sekolah dan menatapnya diam-diam dari meja makan.
"Eh, Jeehan kok udah pulang? Kapan pulangnya, Nak? Kok Ibu gak tahu, ya." Maura mendekati sang putri lalu mengusap pucuk kepalanya lembut.
"Baru aja kok, Bu. Sekitar 5 menit yang lalu," jawab Jee sambil mencium punggung tangan sang ibu. "Jeehan gak mau ganggu ibu yang lagi kerja, jadi yaaa Jee diam aja di sini, lihatin Ibu."
"Maaf, ya, Nak. Kebetulan hari ini pesanan Ibu lagi banyak. Alhamdulillah. Jee udah makan belum, Nak?"
Jeehan menggeleng, "Mau Jee bantu gak Bu?" tawarnya pada sang ibu.
"Hmm, boleh deh, tapi memangnya Jee bisa?"
"Bisa dong! Jee ke atas dulu ya, Bu, ganti baju."
Tak lama kemudian, Jee kembali turun dengan pakaian rumah yang rapi dengan rambut dikuncir satu. Dengan sigap, ia membantu sang ibu membuat kue kering.
"Ini kayak gini kan, Bu? Aku benar gak?"
"Benar, Sayang, lanjutkan ya. Ibu panggang yang ini dulu." Keduanya tampak asyik membuat adonan dan memanggang kue bersama. Hingga tak terasa, langit berubah jingga.
"Akhirnya selesai juga, terima kasih ya, Sayang." Maura memeluk sang putri. Sejak sidang mediasi selesai, Maura berusaha sekuat mungkin untuk memenuhi segala keperluannya dan Jeehan secara mandiri. Meskipun ia memiliki uang yang cukup dari Hasya untuk mereka hidup, tapi Maura sungkan untuk menggunakannya.
Kini, keduanya tengah duduk santai sambil menonton televisi bersama. Menghabiskan waktu berharga, hanya berdua saja.
"Jeehan, Ibu mau tanya, boleh gak Sayang?" tanya Maura di sela-sela kegiatan mereka menonton televisi.
Jeehan menoleh, sesaat meninggalkan pandangannya pada tayangan yang disukainya. "Tanya apa, Bu?"
"Ehm, hanya tinggal dengan Ibu, apakah Jee merasa bahagia?" Entah pemikiran dari mana, tapi Maura sungguh penasaran dengan perasaan putrinya saat tahu orangtuanya bercerai.
Jee tampak menarik napas panjang, mematikan televisi lalu menatap sang ibu lekat-lekat. "Ibu mau jawaban yang jujur atau bohong?" kata Jee niat mencandai sang ibu.
"Yang jujur dong, Sayang. Anak ibu mana mungkin bisa bohong." Maura balik menggoda Jee.
"Kalau Ibu tanya bahagia atau enggak, jelas Jeehan bahagia, karena Ibu kan dunianya Jee. Walaupun ya, rasanya agak berbeda karena gak ada Ayah. Tapi selama sebulan ini, Jee udah mulai terbiasa, kok Bu."
Mendengar jawaban jujur dari sang putri, mendadak hatinya merasa bersalah. Sekali pun Jeehan telah mengerti situasi yang terjadi di antara orangtuanya, bahkan paham mengapa Maura memilih menceraikan ayahnya. Tetap saja, perceraian itu akan memberi dampak pada Jeehan. Dan Maura tahu itu.
Tetapi Maura tak punya pilihan lain. Perpisahan itu terasa sangat menyakitkan, tapi ia juga tak sanggup bila harus bertahan. Maura mengusap ujung matanya dengan tisu, lalu memeluk putrinya erat.
"Maafkan Ibu, ya, Nak. Maafkan Ibu yang sudah memisahkan kamu dengan Ayahmu."
Jeehan melepas pelukan ibunya, kedua tangannya bergerak menangkup wajah sang ibu yang sudah basah oleh air mata. "Ibu, jangan sesekali menyesali keputusan Ibu itu. Sudah pernah Jee katakan, kan? Jee akan mendukung apapun keputusan Ibu, selama Ibu merasa bahagia. Apa yang terjadi, biarlah terjadi, Bu. Jangan disesali akhirnya."
Betapa bersyukurnya Maura dihadirkan sosok seorang putri yang dewasa dan begitu bijaksana. Tak pernah ia kira, ia akan dikuatkan oleh anaknya sendiri.
"Iya, Nak. Ibu hanya merasa bersalah."
"Sudah, Bu, jangan lagi merasa bersalah, Jee sudah mengikhlaskan dan merelakan semuanya. Toh, kalaupun Jeehan rindu sama Ayah, kan sewaktu-waktu Jee bisa telepon atau ketemu Ayah."
Maura mengangguk-angguk lalu tersenyum. "Iya, Nak. Kelak, kalau Jee mau menikah, Jee harus pikirkan baik-baik, ya. Jee harus mengenali sosok yang akan mendampingi Jee kelak dengan baik."
"Ih, Ibu, kok udah bahas nikah aja, sih. Jeehan kan masih sekolah tahu!" protesnya tak suka tiba-tiba Ibunya membicarakan pernikahan.
"Iya, iya, Ibu tahu. Tapi suatu saat, Jee pasti akan menikah kan? Ibu hanya berpesan agar Jee mengingat nasihat ini dengan baik. Jangan menikah karena terburu-buru, ya, Nak. Menikahlah jika Jee telah siap untuk membangun rumah tangga."
"Hmm, iya, iya."
"Satu lagi, Nak. Menikahlah karena Jee merasa surga terasa dekat bersamanya. Hakikat pernikahan adalah tentang ibadah, Nak. Pastikanlah bahwa ia yang kamu nikahi, adalah sosok yang akan terus mengingatkanmu pada-Nya, mengingatkanmu untuk terus beribadah dan berbuat kebaikan-kebaikan."
"Pilihlah ia yang dapat mengayomi dan penuh dengan kasih sayang. Menikahlah karena cinta dan agama, Nak. Karena seumur hidup itu lama. Kamu perlu imam yang tepat untuk membimbingmu."
"Iya, Ibu, iyaaa."
"Dengarkan dulu, Ibu belum selesai. Pernikahan itu diibaratkan seperti kita menaiki kapal. Tanpa nakhoda yang tepat, kapal akan terombang-ambing di tengah-tengah dahsyatnya lautan. Tanpa imam yang tepat, pernikahan akan goyah diterpa pahitnya cobaan kehidupan."
Jeehan hanya mencoba terus mendengarkan nasihat dari sang ibu tanpa berniat membalasnya. Ia hanya akan berkata iya dan bergumam sebagai tanda bahwa ia masih mendengarkan sang ibu.
Semangaaat Jee 💪
hiks.. hiks...
Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk
tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
walaupun itu sgt pahit.....
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya
wkwkwk