"Apa?! Menikah dengan orang gagap itu? Aku tidak mau!"
"Menikah dengan kakak ipar mu, atau pergi dari rumah ini!"
Aline terpaksa menikah dengan kakak iparnya yang gagap karena keponakannya dan juga kondisi keuangan keluarganya yang bergantung pada kakak iparnya. Sedangkan Aline sendiri sebenarnya memiliki kekasih yang sangat dicintainya.
Apakah Aline bisa mempertahankan rumah tangga yang tidak di landasi rasa cinta?
Ataukah perlahan akan mencintai pria gagap yang dari awal tidak disukainya?
Yuk, simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Jangan Egois!
Setelah Ruslan selesai di periksa dan di beri resep obat, akhirnya Fina membawa Roni dan kedua mertua Roni serta Giyan ke ruangannya.
"Apa yang terjadi, pak? Kenapa bapak bisa jatuh?" tanya Fina mengawali pembicaraan.
"Mantan pacar Vivi semalam ke rumah ingin mengambil Giyan. Dia menerobos masuk dan mendorong bapak hingga terjatuh," sahut Ruslan menghela napas panjang.
"A...a..."
"Plak"
"Aku akan menempatkan orang untuk mengawasi rumah ayah dan ibu agar dia tidak menganggu ayah dan ibu lagi," ucap Roni setelah di tepuk lengannya oleh Fina.
"Terimakasih, Ron. Kamu tidak perlu repot-repot sepert itu. Cepat atau lambat, semua orang akan tahu keadaan Vivi. Dan jika Roni brengseek itu tahu, kami tidak akan bisa mempertahankan Giyan lagi. Bagaimanapun, dia adalah ayah biologis Giyan. Dia lebih berhak di bandingkan dengan kita," ujar Ruslan tidak berdaya.
"Sebenarnya, Vivi pernah membicarakan hal ini dengan ku. Tepatnya sebelum Vivi mengalami kecelakaan," ucap Fina membuat Roni, Ruslan dan Roni menatap Fina.
"Begini, aku sudah pernah bercerita kalau si buntung itu pernah menemui Vivi sebelum Vivi kecelakaan, 'kan? Waktu itu, Vivi benar-benar tidak ingin anaknya di ambil si buntung itu. Tapi dengan keadaan Vivi yang seperti saat ini, kecil kemungkinannya kita bisa mempertahankan hak asuh pada Giyan,"
"Walaupun di akte kelahiran Giyan adalah anak Roni, tapi ayah biologisnya adalah si buntung itu. Kalaupun Pak Ruslan dan Bu Nuri ingin mengambil hak asuh atas Giyan, itu juga sulit. Karena keadaan bapak yang sakit dan tidak bisa bekerja saat ini. Aku punya saran agar kalian bisa tetap mempertahankan Giyan," ujar Fina nampak serius.
"Apa, nak Fina?" tanya Ruslan tidak sabar.
"Bukankah bapak dan ibu punya anak gadis, ya? Adiknya Vivi. Benar begitu?" tanya Fina membuat Ruslan, Nuri dan Roni agak bingung dengan arah pembicaraan Fina.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Ruslan penasaran.
"Bagaimana... kalau Roni turun ranjang?" tanya Fina hati-hati, "Kalau ide ini tidak berhasil dan aku di benci Roni, akan aku hajar si Rayyan dan si Andi, karena telah memberikan ide absurd ini. Dan bodohnya aku mau-mau saja menyetujui ide mereka. Padahal akulah yang harus berperan banyak dalam menjalankan ide ini. Apa mereka telah menghipnotis aku, hingga aku mau menyetujui ide mereka inj?" gumam Fina dalam hati tidak berani melirik Roni, apalagi menatap Roni.
Sedangkan Roni nampak membulatkan matanya mendengar apa yang di katakan oleh Fina.
"Apa maksud dokter Fina? Kenapa dia ingin aku menikah dengan Aline? Bukankah dia tahu bagaimana aku mencintai Vivi?" gumam Roni dalam hati dengan kedua tangan yang terkepal.
"Maksud nak Fina.. Roni menikah dengan Aline?" tanya Ruslan memastikan. Walaupun sudah pasti bahwa yang di maksud Fina adalah seperti yang di pikirannya. Namun, entah mengapa Ruslan ingin memastikannya lagi.
Sedangkan Nuri nampak diam. Sesekali Nuri melirik Roni, wanita itu ingin memastikan ekspresi wajah menantunya itu. Nuri pernah membicarakan hal ini dengan Ruslan. Tentu saja Nuri akan senang sekali, jika Roni mau menikah dengan Aline. Mana rela Nuri kehilangan menantu seperti Roni. Karena laki-laki seperti Roni ini menurut Nuri sangat langka.
"Iya, pak," jawab Fina sedikitpun tidak berani melirik Roni.
"Sebenarnya, saya dan istri saya juga sudah pernah membicarakan hal ini. Tapi, kami enggan untuk mengatakannya pada Roni. Roni menolong Vivi saat Vivi bunuh diri, menikahi Vivi dan menyelamatkan kami dari rasa malu karena Vivi gagal menikah. Mau menerima bayi dalam kandungan Vivi, dan menyayanginya seperti anaknya sendiri. Mencukupi kebutuhan kami sekeluarga. Mengobati bapak dengan pengobatan yang terbaik, bahkan sampai mengobati bapak ke luar negeri. Roni juga menyelamatkan Aline yang hampir di lecehkan supir taksi,"
"Dengan budi Roni yang begitu banyak pada kami sekeluarga, bapak tidak berani meminta apapun lagi dari Roni. Bapak terlalu malu untuk meminta sesuatu pada Roni. Walaupun sejujurnya kami sangat berharap, kalau Roni akan tetap menjadi menantu kami," ujar Ruslan tertunduk dengan napas yang terasa berat.
Fina mengerti perasaan Ruslan dan Nuri. Kedua orang tua itu pasti merasa sangat sungkan dan juga merasa terlalu banyak berhutang budi pada Roni. Dan hal ini malah membuat nilai plus orang tua Vivi di mata Fina.
Fina memberanikan diri menatap Roni. Fina mencoba merangkai kata untuk membuat kalimat yang bisa di terima oleh pikiran Roni. Dalam hati wanita yang berprofesi sebagai dokter itu mengumpat Rayyan, Andi, dan Aiden. Karena Fina baru sadar, kalau keberhasilan rencana yang sudah mereka sepakati waktu itu tergantung pada bagaimana dirinya membujuk Roni.
"Roni, apa kamu masih mencintai Vivi?" tanya Fina lembut.
"Te..te..tentu saja," sahut Roni tanpa keraguan.
"Apa kamu menyayangi Giyan?" tanya Fina lagi.
"A..a..aku me..me.. menyayanginya," jawab Roni jujur adanya.
Sejak Giyan dalam kandungan, Roni selalu berinteraksi dengan bayi itu dengan mengelus perut Vivi. Merasakan pergerakan Giyan dalam perut Vivi. Selain itu, Roni juga sering mengunjungi bayi itu di dalam kandungan Vivi. Rasa sayang Roni, muncul seiring berjalannya waktu. Apalagi saat menggendong bayi yang montok dan menggemaskan itu. Ada perasaan bahagia sekaligus tenang dalam hati Roni saat melihat dan menyentuh bayi itu.
"Jika kamu menyayangi Giyan, menikahlah dengan Aline!"pinta Fina hati-hati.
"A..a.."
"Plak"
"Aku hanya mencintai Vivi dan aku tidak bisa menikah dengan orang lain," jawab Roni tanpa keraguan setelah Fina menepuk lengannya.
"Ron, dengarkan aku! Vivi tidak akan bisa bangun untuk selamanya. Dia sudah meninggal. Kamu harus menerima kenyataan ini. Jangan menentang takdir Tuhan, Ron! Jangan terpaku pada Vivi yang sudah meninggal! Apa kamu pikir Vivi akan senang, kalau melihat kamu terpuruk seperti ini? Apa kamu tidak sedikitpun memikirkan perasaan kami yang tulus menyayangi mu? Kami sedih melihat kamu terpuruk seperti ini, Ron,"
"Jika kamu benar-benar mencintai Vivi, kamu harus membuat Vivi bahagia. Caranya, rawat dan didik Giyan sebaik-baiknya. Karena Vivi sangat mencintai Giyan. Namun, Giyan tidak hanya butuh figur seorang ayah, tapi juga figur seorang ibu, Ron. Dan Vivi tidak bisa lagi melakukan itu. Dan jalan satu-satunya, kamu harus menikah lagi,"
"Apa kamu lebih mementingkan Vivi yang selamanya hanya akan berbaring di atas ranjang dengan alat penunjang kehidupan, dari pada masa depan bayi yang tidak berdosa itu? Jika kamu tidak mau menikah lagi, biarkan saja Giyan di ambil oleh ayah biologisnya. Aku yakin dia akan menyayanginya, karena dia adalah ayah kandungnya. Giyan akan memiliki figur seorang ibu, jika dia tinggal bersama ayah kandungnya," ujar Fina membuat Roni membulatkan matanya.
Entah dimana menghilangnya rasa takut dibenci Roni tadi. Mungkin karena melihat Roni yang keras kepala membuat Fina menjadi jengkel dan melupakan rasa takutnya.
"Ma..ma...mana boleh be..be.. begitu!" ucap Roni tidak terima.
Roni sudah berjanji pada Vivi akan menyayangi, mencintai, dan membesarkan Giyan seperti anaknya sendiri. Mana boleh dirinya mengingkari janjinya pada wanita yang di cintainya. Mana mungkin Roni mengecewakan Vivi dengan membiarkan Giyan diambil oleh ayah biologisnya yang kelakuannya bejatt. Apalagi Roni sudah terlanjur menyayangi dan mencintai Giyan.
"Jika kamu ingin tetap mempertahankan Giyan bersamamu, maka menikahlah dengan adiknya Vivi!" tegas Fina.
"A..a.."
"Plak"
"Aline membenci ku dia tidak akan mau menikah dengan ku," ucap Roni setelah lengannya di tepuk Fina.
"Benci? Apa kamu tidak tahu bahwa jarak antara benci dan cinta itu hanya seujung kuku? Aku yakin kamu pasti bisa meluluhkan hatinya. Tidak ada wanita yang cocok menjadi ibu Giyan selain adiknya Vivi. Dia pasti menyayangi Giyan, karena Giyan adalah keponakannya," ujar Fina terus berusaha meyakinkan Roni untuk menikah lagi.
Fina dan para sahabatnya berpikir, jika Roni menikah lagi, maka Roni tidak akan terlalu terpaku lagi pada Vivi. Karena Roni adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Roni tidak akan menelantarkan istrinya. Dengan membuat Roni menikah lagi, para sahabat Roni berharap perlahan-lahan Roni bisa melupakan dan mengikhlaskan kepergian Vivi.
Ruslan nampak menghela napas panjang.
"Ayah dan ibu tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengan Aline. Tapi, kami akan sangat bahagia, jika kamu mau menikah dengan Aline. Jika kamu setuju menikahi Aline, biar ayah dan ibu yang membicarakan soal ini pada Aline," ujar Ruslan penuh harap Roni mau menikahi Aline.
Roni tertunduk dengan kedua tangan yang terkepal. Roni sadar, bahwa Vivi tidak akan bisa bangun lagi. Roni juga sadar, Giyan membutuhkan figur seorang ibu. Tapi Roni belum rela untuk melepaskan Vivi.
"Jangan egois, Ron! Jika kamu tidak bisa memberikan orang tua yang lengkap bagi Giyan, biarkan dia hidup bersama ayah biologisnya. Karena sebejat apapun si buntung itu, dia tetaplah ayah biologis Giyan dan dia berhak atas Giyan," ujar Fina memprovokasi.
...🌟...
...Ada yang pergi, tapi tak pernah kembali....
...Ada kesalahan yang tak mungkin termaafkan....
...Ada yang belum usai, karena tak pernah berani untuk memulai....
...Ada kenangan yang tak terlupakan, hingga menghambat masa depan....
...Ada lara yang menusuk jiwa, tapi tak pernah mengenal kata rela....
...Ingin diam terpaku di masa lalu dan menangisi deritamu, atau bangkit dan berjuang untuk masa depanmu....
...Semuanya adalah pilihanmu....
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
roni dpt vivi itu anugrah, tp roni punya bini c aline sptnya musibah
org macam kmu hrs ditampar keadaan dulu baru sadar diri