Tuan Reeve Ethan Duke ke-4 merupakan seorang vampire yang kesepian, dia memilih tinggal di sebuah Castile milik keluarganya yang ada di bukit pinus, bukit yang terkenal tidak pernah terlihat matahari, tidak dapat membedakan waktu apakah siang atau malam hari. Suatu hari dia tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang memiliki tanda lahir yang sudah di ramalkan dalam kitap Xaffo. Gadis yang memiliki tanda bekas gigitan vampire di tangannya adalah gadis yang disiapkan kakeknya Benedic Ethan Duke ke-2 sebagai istrinya. Gadis itu bernama Jenna Weems. yang merupakan manusia biasa, pertemuan pertamanya membuat tuan Reeve penasaran, karena sangat sulit berbaur dengan manusia lainnya Reeve meminta bantuan seorang asisten vampire yang telah lama hidup bersama manusia lainnya yaitu Jasper Lacsen. Bagaimana kisah tuan muda vampir dalam mendapatkan jodohnya, nantikan terus kisahnya guys.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Janne yang pingsan dari rasa lemas, dia kemudian teringat dengan apa yang terjadi, dia seperti tidak bisa mengendalikan rasa hausnya, Janne merasa dirinya berubah, ada sesuatu yang aneh, seakan yang sekarang ini setengah badannya adalah sebagai vampire dan setengahnya adalah dirinya manusia.
Hans yang baru tiba pun menanggalkan jubah berwarna hitam, memberikannya kepada pengawalnya, dia menghampiri Janne berjalan perlahan ke ranjang, kemudian duduk disebelah badan Janne yang masih lemas.
Hans mengelus rambut Janne dan menatap detail kulit Janne yang mulai membiru, tergambar jelas pada wajahnya seperti garis-garis syaraf pada permukaan kulitnya. Tatapan Janne kosong dan bola matanya yang tadinya coklat, kini bola mata itu mulai terlihat seperti kuning terang.
“Sudah berapa lama seperti ini?” tanya Hans.
“Hampir dua jam lalu” jawab William yang baru datang belakangan.
“Berikan dia darah” Hans yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan kearah William.
“Baik tuan” ujar William menundukan wajahnya didepan Hans yang berlalu begitu saja.
Reeve yang masih berada di lorong bawah tanah itu merencanakan sesuatu agar mereka bisa masuk ke dalam istana Hans, di ruangan yang gelap dan lembab itu mereka hanya menyalakan sebuah obor kecil sebagai penerangan dan mereka sedang berdiskusi bagaimana cara mereka masuk ke dalam untuk menyelamatkan Janne.
“Aku ada ide” Helen yang tersenyum menatap Jesper dan Reeve.
“Apa” sahut mereka (paman Jesper dan Reeve) berdua dengan kompak.
“Ini, ini adalah parfum ekstrak ikan busuk” Helen yang mengambil sebotol farfum kaca buatannya sendiri.
“Parfum apa? Baunya busuk” ujar Reeve tidak suka dengan hal berbau.
Namun Reeve tiba tiba terdiam karena wajahnya Helen terlihat sangat marah, dia sengaja melakukan eksperimen untuk mencari bau vampire yang sangat mirip dengan Hans, walau sebelumnya dia tidak pernah bertemu langsung, tapi melalui vampire yang lain dia dapat mencium dan merasakan karakter dari vampire yang menjadi anak buah Hans.
Reeve dan paman Jesper mengelas semua parfum itu ke seluruh tubuh mereka, dengan segala perlengkapan yang mereka tinggalkan dalam lorong bawah tanah itu, mereka bertiga keluar dari lubang bawah tanah secara perlahan dan mengendap-endap menyusuri tembok tinggi yang panjangnya sekitar seratus meter.
Tempat itu terlihat seperti sepi, bahkan tidak terlihat atau tercium bau vampire lainnya, baru beberap meter mereka mencium kehadiran vampire lain, yang perlahan baunya semakin menyengat, ternyata William yang keluar sambil mengambil beberapa tong kayu, berisi wine darah yang sudah disimpan pengawal Hans selama bertahun-tahun.
“Siapa kalia?” pertanyaan William ketika melihat rombongan Reeve dari belakang mengendap-endap.
“Ka….kami membawa manusia” ujar Jesper dengan badan tegap seperti anggota prajurit Hans.
“Kau…..” Reeve yang terkejut melihat William tengah membawakan sebuah tong kayu, dia juga tahu bahwa tong itu beri berisi wine darah yang memang dikumpulkan dari beberapa orang terpilih sejak puluhan tahun lalu.
Wiliam yang terkejut hanya melihat sekitaran agar memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka, Wiliam pun mengajak Reeve dan yang lainnya untuk memasuki sebuah ruangan, yang memang dirancang khusus oleh Wiliam sebagai laboratorium pribadi miliknya.
“Ikuti aku” ujar William berjalan perlahan sambil celingak celinguk.
Sementara Reeve percaya akan perkataan William, mereka pun mengikuti dari belakang hingga sampai pada sebuah pintu kayu yang telah usang.
”Kalian masuklah dulu tunggu aku” William memberikan arahan kepada Reeve dan lainnya.
“ Apa wine darah ini untuk Janne?” tanya Reeve yang memegang pergelangan tangan William supaya dia tidak beranjak pergi dulu.
“ Sepertinya Janne telah menjadi vampir walau belum seutuhnya, agar dia selamat aku harus memberikan wine darah ini padanya” penjelasan William membuat Reeve sedikit tengah dia tidak ingin melukai tangani lagi hanya untuk meminum tetesan darah.
“Kau seorang ahli biologi, aku seperti tidak asing denga tesis yang kau tulis” Helen yang melihat lihat laboratorium kecil milik William, di sana dia juga membuka sebuah buku tesis yang boleh ditulis oleh Wiliam, dia menceritakan beberapa hal, apa yang terjadi jika vampire tidak meminum darah atau bagaimana vampire menghadapi sinar matahari yang terik dan pertanyaan lainnya yang bersangkutan dengan vampire.
“Bersikaplah sopan nona” ujar William yang kemudian mengambil buku yang dipegang oleh Helen.
“ Kau bahkan yang dimaksud oleh Van bukan? Mencari cara dan penawaran agar kalian bisa kembali menjadi manusia biasa” Jesper yang kemudian membidik kepala Hans dengan sebuah senapan yang disimpannya di sabuk celananya.
“Apa Van selamat?” tanya William menatap kesal.
“ Sayangnya kami tidak tahu” sahut Jesper jutek.
“ Kami bertemu di rumah Janne, dia berjanji akan menjaga kami dari serangan Hans, Setelah kami masuk ke dalam rumah Janne ternyata rumahnya diledakkan dan hancur berkeping-keping, yang aku tahu, kamu yang terkurung dalam sebuah lorong bawah tanah hingga membawa kami ke sini” Jelaskan panjang lebar agar tidak terjadi perselisihan lagi diantara para vampire.
“Van belum kembali dari perjalanannya, aku sangat khawatir karena Hans mengetahui bahwa adalah orang yang berbelok dari kubunya” Jelas Wiliam yang membuat mereka pun bertanya tanya ke mana perginya Van.
“Lalu apa yang terjadi pada Janne?” tanya Reeve penasaran.
“Aku harap kau tidak marah, Janne diperkosa tapi tenang, sebelum itu terjadi aku sempat memberitahunya sesuatu dan memberikannya kapsul obat” dengan murung William menceritakan semua detail kejadian apa yang terjadi pada Janne.
Mendengar perkataan Wiliam sangat marah, dirinya terkejut dan membuat yang lainnya shock, terlebih lagi Helen kakak angkatnya itu sangat merasakan apa yang Janne rasakan.
“Sepertinya tujuan Hans adalah memperoleh keturunan” ujar paman Jasper yang merasa kesal karena hujan diperlakukan secara tidak manusiawi.
“Tapi tenang saja aku telah memberinya obat, walau obat itu memiliki efek samping” jelas William kepada yang lainnya, tentunya obat yang diberikan William memang memiliki efek samping, yang membuat Janne nantinya tidak akan memiliki seorang anak dari siapapun.
“Yang ku pedulikan sekarang adalah bagaimana kita mengeluarkan Janne dari sini” Reeve yang merasa kesal ingin sekali membunuh Hans dengan tangannya.
“Sementara kalian bersembunyi di sini, aku tidak ingin kali membahayakan nyawa Janne, setelah itu kita pikirkan bagaimana cara mengeluarkan Janne dari sini dan mengalahkan Hans” William meyakinkan lainnya agar mau menunggu aba-aba dari dirinya, jika gegabah nantinya takut Hans akan melakukan hal-hal di luar dugaan.
“Ajak aku bersamamu, aku ingin sekali melihat Janne” Reeve terus menahan William.
“Kau ini keras kepala sekali, kalau kau pun tertangkap oleh Hans aku bisa mati, semua penelitian ku akan sia-sia” teriak William yang sangat kesal akan sikap Reeve.
Lalu Halan teringat akan seorang profesor muda di tahun empat puluhan, yang rela menjadi vampire hanya untuk penelitian gilanya akan hidup abadi.