NovelToon NovelToon
KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:185k
Nilai: 5
Nama Author: balqis

Kehidupan Abyaksa Pratama dan Anisa fitriani mulanya sangat bahagia. Di mata Anisa, Aby adalah sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab dan penyayang. Tidak pernah terbersit sedikitpun di benak Anisa kalau pria pilihan Abahnya itu membawanya pada situasi di mana dia harus memilih antara ego dan kesempatan meraih surga.

Tragedi kebakaran di kantornya yang harus mempertemukan Aby dengan seorang wanita bernama Jelita.

Haruskah ia ikhlas membagi suaminya dengan wanita lain? yuk kita ikuti bareng- bareng ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Anisa sudah mulai sadar dari pengaruh bius operasi.

Ia menatap ruangan ruangan yang serba putih.

Yahya menyapanya dengan gembira.

"Syukurlah kau sudah sadar."

"Aku dimana, kak?"

"Di Singapura, kau sudah menjalani operasi."

"Darimana biayanya, kak?"

Yahya terdiam. Ia ingat permintaan Aby kalau Anisa tidak boleh tau kalau dirinya sudah membiayai pengobatannya.

"Kak...?" Anisa merasa heran karna Yahya terlihat berpikir.

"Kau tidak usah pikirkan hal itu dulu. Yang penting kau jalani proses kesembuhan mu. Biar kita cepat balik ke Indonesia, kau sudah kangen pada Al, bukan?"

Anisa tersenyum.

Entah apa maksud pak Aby menyembunyikan semuanya dari Anisa. Yahya tak habis pikir.

"Istirahatlah, masih ada sesuatu yang harus ku urus."

Yahya meninggalkan Anisa sendirian.

Anisa menghela nafas berat.

"Sebegitu berubahnya kah Mas Aby sekarang? Sampai tidak ada tersisa sedikit saja perhatiannya yang dulu. sekedar bertanya bagaimana keadaanku sekarang saja tidak sempat. Ah mungkin dia sudah melupakanku, bahkan mungkin sepulang dari sini, aku akan menerima surat cerai." pikirnya.

Di luar, Yahya sedang menerima telpon dari Aby.

"Bagaimana keadaanya sekarang?"

"Alhamdulillah di sudah sadar. wajahnya terlihat lebih segar. Pak Aby mau bicara?"

 "Ah tidak, aku cukup senang mengetahui kalau dia sudah selamat."

Aby menutup telponnya.

Ia merasa lega karna Anisa sudah tidak dalam bahaya.

Ia mencoba untuk bangkit, lalu berjalan keluar.

"Mau kemana Mas Aby, kau belum pulih benar." Lisa yang melihatnya langsung menghampirinya.

"Aku akan kerumah yang aku belikan buat Jelita, dulu. Mudah-mudahan rumah itu masih aman. Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian disini, terimakasih banyak."

"Kau bilang apa? Kita sahabat, jangan pernah merasa sungkan." sela Imran.

"Aku harus menata hidupku kembali."

"Lalu Zahra?"

"Dia tetap ku bawa."

Aby berkeras ingin pindah. Imran dan istrinya tidak bisa mencegahnya lagi.

Perlahan Aby menuju rumah yang dulu dia berikan kepada Jelita, berharap rumah itu masih aman dari ketamakan Jelita dan ibunya.

Dari luar rumah itu terlihat remang-remang.

Seorang tetangga datang memberikan kunci.

"Sudah lama sekali sejak terakhir bapak datang kesini. Tapi saya selalu merawat dan menjaga rumah ini."

"Terimakasih pak. dan mulai sekarang saya yang akan menempati rumah ini."

"Kalau begitu, ini kuncinya." si bapak terlihat gembira karena tetanggaan dengan Aby.

"Tapi mana Bu Jelitanya?"

"Hanya saya dan anak saya ini saja, Pak." jawab Aby. Si bapak pun tidak bertanya lagi.

Aby memasuki rumah itu, perabotannya masih tertata rapi.

"Besok aku tinggal menjemput Al untuk tinggal di sini." gumamnya penuh harap.

Walau dengan kondisi yang kurang fit, Aby memaksakan diri masuk kerja. Ia menitipkan Zahra pada tetangga.

Wajah Aby terlihat pucat dan lelah. beberapa kali ia terlihat mengusap keringat di keningnya.

Imran menghampirinya.

"kau terlihat lelah, istirahatlah dulu."

" Tanggung, Im.. sudah cukup lama aku ijin." ucapnya bersemangat.

"Apa kau sudah bertemu Jelita?"

Aby Menggeleng.

"Kenapa?"

"Malas saja ketemu dia."

"Tapi Zahra harus kau serahkan pada ibunya."

"Mungkin nanti sore, Im."

Sorenya, By mengajak Zahra ketempat Jelita.

Jelita sendiri terlihat kaget saat Aby datang. Ia hanya tertunduk malu.

Aby merasa muak dan marah melihatnya.

"Maaf kan aku, Mas Aby. Aku khilaf, aku janji akan mengembalikan rumah ini padamu, tapi aku minta waktu." Aby hanya terdiam.

" Aku memang pantas tidak mendapat kepercayaan mu lagi. Tapi beri aku kesempatan."

Aby tersenyum sinis.

"Darimana kau akan dapat uang untuk bayar hutang di bank?" pekerjaan mu selama ini hanya berpoya- poya, menghabiskan uang."

"Iya, benar kata Mas Aby. Tapi aku ikut tanam modal di sebuah bisnis kosmetik."

"Sudahlah, aku muak dengan bualanmu. Aku tidak akan berusaha membalasnya. Tapi aku yakin keadilan itu masih ada. Kau akan menerima karma dari segala perbuatanmu."

"Aku hanya datang mengantar Zahra. Kalau ikut bersamaku, dia akan menderita, aku tidak bisa memberinya tempat tinggal yang nyaman lagi."

"Kenapa hanya Zahra, kau juga berhak tinggal disini."

"Aku lebih nyaman tinggal di gubuk reyot ketimbang harus serumah dengan wanita licik yang tak tau terima kasih seperti mu!"

Jelita berlinang air mata. Ia sangat terluka oleh oleh ucapan Aby. Rasa cintanya pada Aby belum pupus.. Namun caranya yang salah hingga membuat Aby telanjur membencinya.

Setelah menyerahkan Zahra

 Aby pergi meninggalkan rumah kenangannya bersama Anisa itu.

Sepulang dari sana, ia langsung menemui Al. Karna Al memilih tinggal bersama Budhe nya, Aby meninggalkannya dengan sejumlah uang untuknya. Walaupun dalam keadaan kesusahan, ia tetap ingat akan kewajibannya.

****

Lima bulan kemudian...

Anisa terlihat sedang duduk menikmati suasana pagi bersama Al.

kondisinya berangsur membaik, walaupun belum sembuh total karna ia masih harus menjalani serangkaian pengobatan seperti kemo dan lain sebagainya.

 Ia terlihat lebih kurus. Rambutnya pun hampir habis karena kemo terapy yang ia jalani.

Yahya datang menghampiri mereka. Pria itu tak pernah lelah memberi dukungan padanya.

Bahkan ia tidak perduli pada hidupnya sendiri.

"Kalian disini, rupanya?"

Ia duduk di depan Anisa.

"Aku menemani dia bermain." Yahya tersenyum. Senyum yang memancarkan ketulusan.

Namun sebaik apapun ustadz Yahya pada ya. Anisa tidak pernah bisa melupakan Aby.

 Dulu saat ia kembali dari Singapura karna pengobatan yang ia jalani. Ia sempat mendengar kabar tentang apa yang terjadi pada Aby Dan Jelita. Namun tak sekalipun Aby muncul di hadapannya atau sekedar menanyakan kabar atau paling nggak kabar anaknya.

"Ayah kemana ya, Bun?" terlihat sorot kerinduan di mata Al.

"Bunda juga belum tau kabar ayah sekarang."

Yahya termenung, ia juga heran karna Aby tidak pernah lagi menelponnya untuk menanyakan kabar Anisa. Dia juga menghilang tanpa berita.

Yahya sempat berpikir untuk menceritakan yang sebenarnya pada Anisa, tapi janjinya pada Aby menghalanginya.

"Yang sabar, ya! Kita tunggu semoga ayah cepat bisa menemui Al." Yahya menepuk pundaknya.

"Kak, bisa minta tolong cari kabarnya Mas Aby di kantornya?" pinta Anisa dengan penuh harap.

Setelah berpikir sejenak. Yahya mengangguk. Ia tau, Anisa sangat merindukan Aby. Walaupun dia tidak mengakuinya, Yahya tau itu.

"Akan aku coba."

Sore harinya, Yahya kekantor dimana Aby bekerja. Itupun alamatnya ia dapat dari Anisa.

Sampai disana sudah agak sepi. Para karyawan sudah kebanyakan pulang. Hanya satu dua yang tertinggal.

Yahya menghampiri security yang sedang bertugas.

"Ada yang bisa saya bantu, pak?" sambutnya dengan ramah.

"Saya, saya mau ketemu pdk Aby."

Security itu menatapnya sejenak.

"Maksud bapak, pak Abyaksa Pratama?"

"Iya, tepat sekali yang bagian manajer marketing di sini " jelas Yahya.

"Bapak ini siapanya? apa tidak tau kalau pak Aby sudah lama tidak bekerja di sini lagi."

Yahya semakin penasaran.

"Berhenti? maksud saya, dia pindah, kan? Lalu pindahnya kemana?"

"Waah, kalau itu saya tidak tau, pak. Setau saya. Pak Aby berhenti karna beliau sakit- sakitan. Dan saya tidak tau lagi beliau kemana."

Yahya terlihat putus asa.

Saat itu Imran batu keluar dari kantornya.

"Nah, kebetulan sekali, itu pak Imran, sahabat dekat pak Aby." kata security menunjuk Imran.

"Pak Imran! Ini ada seseorang hendak mencari pak Aby. Pak Imran tau, kan dimana dia sekarang?"

Imran sempat kaget. namun akhirnya ia mau menceritakan tentang Aby pada Yahya.

Singkat cerita, Imran membawa Yahya ke sebuah rumah di pinggiran kota. Tempatnya sangat sepi. Hanya ada beberapa rumah di tempat itu.

Mereka menuju sebuah rumah yang paling rapi di antara rumah lainnya.

Dari tempat yang agak jauh, Yahya melihat seorang pria yang sedang duduk melukis.

perawakannya kurus tinggi dan berambut gondrong.

"Itulah Aby sekarang. Ia terpaksa hidup dengan satu ginjalnya karna yang satunya sudah dia jual untuk pengobatan istrinya. Mulanya tidak ada keluhan apapun, ia bekerja dengan semangat sampai sering bergadang. Ia mulai sering sakit. Kelelahan tak berujung.

Setelah doa periksa kedokter, ternyata ginjalnya yang masih sayu itu infeksi.

Sejak itu dia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia merasa tidak mampu memenuhi tanggung jawab sebagai pimpinan lagi."

Yahya mengusap airmatanya yang menitik tanpa ia sadari.

"Ternyata cinta dan pengorbanan pak Aby luar biasa. Apalah artinya aku ini. dia pantas mendapatkan cinta Anisa." ucapnya dalam hati.

"Jadi dia menjual ginjal untuk membiayai pengobatan Anisa? Dan dia dia juga sama sekali tidak di ketahui."

"Saya ikut terharu dengan kisah pak Aby itu." ucap Yahya serak.

"Dan menurut pak Imran, apakah saya harus mengatakan ini pada Anisa? Sedangkan pak Aby sendiri melarang saya."

"Menurutku tidak ada salahnya mereka pertemukan lagi.

"Toh Aby tidak pernah menalak Anisa."

Yahya mohon diri pada Imran

Dalam perjalanan pulang, Yahya terus memikirkan tentang Aby.

Bersambung.....

1
Farisfauzi' Moms
👍
Nur Karyani
Luar biasa
Aira Azzahra Humaira
kok jadi males bacanya
Aira Azzahra Humaira
ah nisa baik banget km sih istri tua banyak kelebihan nya
Aira Azzahra Humaira
udah bikin cerai aja biar tau rasa si abi jodohin ama ustadz yahya si nisa
Aira Azzahra Humaira
istri tua emang tiada tandingannya dah apa gak malu tuh si linta darat
Aira Azzahra Humaira
udah talak aja si jelita nya km udah cukup bertanggung jawab abi klu emang km gak rakus sih klu rakus ya pengen punya bini dua
Aira Azzahra Humaira
instingnya istri gak pernah salah
Aira Azzahra Humaira
emang bego ya si abi mau maunya di porotin cepetan katauan atuh Thor kacian si nisa nya biar mampusss tuh abi
Aira Azzahra Humaira
dasar abi oneng mau aja di bikin ribet
Santiani
kanapa si Aby mau aja/Sob/
Santiani
langsung baca bab 87 kok tamat nya gantung ya , cerita nya belum tuntas
Nur Hayati
Luar biasa
Aira Azzahra Humaira
tuh kan mulai bejat tuh ibunya si lita dasar gak ada ahklak
Aira Azzahra Humaira
bener kata Imran ngapain nolongin orang klu keluarga nya sendiri harus tersakiti
Aira Azzahra Humaira
dasarnya abi aja yg rakus perceraian emang di benci dalam agama tapi nyakitin istri mu bego
Yus Nita
lama x ganjaran buat si Risma, yg gak ada nyadar nu
Yus Nita
buat ulah
Yus Nita
emang lah si Risma, ntah kapan insyaf ny
Yus Nita
si Risma tuh aja yg do penjara ksn.
karena dia yg ngotot mau mengambil
Khalisa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!