Kalau yang ingin cerita cinta-cintaan bukan di sini tempatnya. Ini hanyalah cerita gabut author yang entah kenapa bisa bikin kisah anak berusia 8 tahun.
Nggak suka boleh skip. Yang mau lanjut harap sediakan tisu karena cerita ini mengandung banyak bawang.
***
'Apakah aku nakal? Kenapa aku dibuang di sini? Apakah Ayah tidak inginkan aku lagi?'
Amara, seorang gadis berusia delapan tahun yang tengah dilanda sedih karena dititipkan di panti asuhan oleh ayahnya tanpa dia tahu kenapa. Di tengah kesedihannya, Belvara, seorang anak laki-laki selalu hadir untuk menghibur hati Amara yang sedang sedih.
Sampai pada akhirnya ....
"Tidak! Kalian bohong!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon trias wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Bekal Untuk Pergi
Sudah hampir tiga bulan aku menunggu, tapi Bunda Evie tidak juga membawaku pergi untuk mengunjungi makan ayah. Semua orang sangat sibuk sehingga mengabaikan aku.
Aku nekat menemui Bunda Evie, akan aku buat dia mau pergi denganku ke makam ayah!
"Ya Amara?" tanya Bunda Evie dengan senyumannya yang khas, tampak wajahnya lelah dengan bulatan menghitam di bawah kelopak matanya.
Aku mendekat dengan mendekap celengan ayam milikku, sepertinya hampir penuh.
"Ada apa?" tanya Bunda Evie sekali lagi.
Aku sedikit ragu melihat wajah lelah dan senyum yang dipaksakan itu, celengan ayam milikku aku serahkan kepadanya.
"Apa ini?" tanya Bunda Evie dengan bingung.
"Untuk ongkos pergi ke makam ayah," ucapku.
"Kamu nggak perlu kasih celengan itu buat Bunda, Amara."
"Tapi Bunda pernah bilang kalau Bunda nggak punya uang buat ke sana, jadi aku kumpulkan uang ini buat ongkos kita pergi," ucapku dengan yakin.
"Kalau sekedar untuk ongkos Bunda punya, kok. Kamu simpan saja lagi celengan itu," titahnya, tapi aku menggelengkan kepala dan langsung memecahkan celengan itu ke lantai. Bunda Evie sampai terkejut dengan apa yang aku lakukan. Segera uang yang ada di sana aku kumpulkan satu persatu.
Aku melihat uang yang ada di tanganku, ku kira isinya akan banyak, tapi kenapa hanya sedikit? Apa ini cukup untuk membawa kami pergi ke kampung?
Bunda Evie mendekat dan langsung berjongkok untuk membantuku mengumpulkan uang recehan ini.
"Dari mana kamu punya uang sebanyak ini?" tanya Bunda Evie heran.
"Aku kumpulkan dari uang jajanku," ucapku sambil memisahkan lembaran uang menurut warnanya.
"Ya ampun, Amara. Kamu nggak perlu lakuin itu buat ini. Jadi, kamu nggak jajan selama ini?" tanya Bunda Evie, aku menggelengkan kepala. Demi untuk bisa pergi ke sana, aku rela tidak menggunakan uang jajanku. Bunda Evie tiba-tiba terisak pelan, membuat aku menolehkan kepala.
"Kenapa Bunda menangis?" tanyaku.
Bunda Evie menggelengkan kepalanya. "Bunda nangis karena senang," ucapnya seraya mengusap air mata. "Kamu anak yang baik."
Aku dan Bunda Evie menghitung uang yang ada. "Apa ini cukup?" tanyaku.
"CUkup. Ini sudah cukup!" ucap Bunda Evie setelah membantuku menghitung semuanya.
"Benarkah?" tanyaku senang.
"Iya, ini lebih dari cukup. Masih ada sisa buat kamu jajan nanti setelah kembali," ucap Bunda Evie lagi, tapi aku tidak akan menggunakannya, akan aku kumpulkan lagi agar bisa sering menengok ayah di sana.
"Kapan kita akan pergi?" tanyaku dengan tidak sabar.
"Kamu masih sekolah, Amara."
Aku menghela napas kesal mendengarnya. Bunda Evie melihat kalender kecil yang ada di atas mejanya. "Ada tanggal merah di hari Senin, kita bisa berangkat di hari minggu siang," ucap Bunda Evie yang membuat aku senang bukan kepalang.
"Beneran kita akan berangkat hari itu?" tanyaku tidak percaya. Bunda Evi menganggukan kepalanya. Aku berlari keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang senang, bahkan sampai sesenang itu sehingga mengeluarkan tas dan memasukkan pakaian terbaikku. Jangan sampai ada yang memakainya dan membuatku terlihat jelek di mata Ayah nanti. Mungkin saja Ayah melihatku dari surga dan akan sedih jika melihat pakaianku yang tidak cantik.
"Ayah aku akan datang nanti. tunggu aku, ya!" seru ku berbicara sendiri.
Malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Semoga saja pada waktu keberangkatan kami nanti tidak ada halangan yang membuat kami batal untuk pergi.