Ai Awso, si Bodyguard tapi lenje, suatu saat mendapat tawaran untuk mengawal Maria Zhang, Selebritis Seksi yang galak. Maria konon dihantui oleh sosok hantu penuh dendam, namun sosoknya meneror semua agen wanita yang ia sewa. Sosok itu tidak muncul kalau ada pria di dekat Maria.
Maria benci laki-laki karena rasa traumatis. Karena itu, Ai yang kemayu kerap dipilih untuk mendampinginya.
Mereka selalu berdua kemana-mana sampai akhirnya Maria lupa, kalau walau pun kemayu, tapi Ai laki-laki tulen. Gayanya aja lenje, tapi kalau udah berantem ya lebih gahar dari pria tulen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante Udah Pasrah
Hari ini mode serius tapi tetep tampan.
Di novel terdahulu sudah dibahas bagaimana jika para Raja berkumpul.
Tapi, bagaimana saat para Ksatria berkumpul?
Alkisah, ada seorang Ksatria Tampan dengan kemampuan luar biasa tangguh. Namanya Pak Arman.
Di masa mudanya, ia menghadang segala resiko di depannya tanpa ragu, dan ia memenangkan semua yang dikehendakinya untuk kalah, dengan mudah.
Apalah seorang Raja tanpanya? Bahkan sekelas Raja Diraja, seorang Sebastian Bataragunadi, bergantung padanya. Sampai mau resign saja Pak Arman dipersulit. Masalahnya, seorang Komandan GSA bekerja untuk seumur hidup. Kecuali dia wafat, lumpuh, atau dipecat dengan tidak hormat.
Pertanyaan yang paling sering dilancarkan Pak Sebastian kalau Pak Arman mengajukan resign adalah :
"Resign? Dulu kamu juga pernah ngajuin resign waktu nyari Asse. Akhirnya bingung mau ngapain,"
"Dulu saya masih muda Pak, jadi labil,"
"Sekarang kamu Resign mau ngapain habis ini?"
"Saya capek Pak, kerja tiap hari gajiannya sebulan sekali,"
"Kalau kamu bisa atur keuangan, nggak bakal takut gaji habis, masih ada penghasilan dari investasi lain,,"
"Saya nggak takut gaji habis, cuma pucat saja,"
"Perusahaan kita lagi masa repot nih Man," kaata Pak Sebastian. Kapan nggak repotnya? Nggak pernah. Repot melulu kok.
"Kamu sudah tua, lebih sabar saja sedikit," kata Pak Sebastian lagi.
Pak Arman hanya bisa mencibir. Sungguh sulit mendengar kata itu. Sabar.
Ia jadi mengerti kenapa Sabar itu hadiahnya surga. Karena kalau 'sabar' itu gampang, pasti hadiahnya cuma dispenser.
Seandainya sabar itu dapet duit, pasti Pak Arman sudah jadi triliuner.
Menjadi Komandan GSA ini adalah pekerjaan seumur hidup sepertinya.
Apalagi saat terjadi kasus seperti waktu Rahwana diculik. Ia dalam masa tenggang pengajuan resign karena usianya sudah lewat 50 tahun. Seharusnya jabatan ia serahkan ke Rumi yang juga dengan misuh-misuh menerima jabatan.
Eeeh, memang dia nggak boleh resign ya, Rahwana malah diculik.
Waktu lagi nyari Rahwana, dalam hati Pak Arman waktu itu 'Gue janji nggak akan resign lagi, kalau gue resign gue bakal janji lagi'.
Jadilah di usianya yang lebih dari 60 tahun ini, dia masih menjabat menjadi seorang Ksatria.
GSA itu sebenarnya Pasukan Anti-Prei ya.
Jadi, menimbang hal-hal diatas itu, yang mana sudah ia pikirkan matang-matang, di dalam ruang interogasi Pak Arman pun dengan penuh wibawa membicarakan masalah putranya, Ai Awso, perihal hubungannya dengan Maria Zhang.
Di depannya ada Om Leonard Zhang.
(Si Rumi lagi digeret keluar sama Khalid, lagi dibacain doa soalnya senyum-senyum terus sambil ngetik kata mesra dari hapenya).
Ayah kandung dari Maria Zhang.
Di sini, permasalahan mereka hanyalah ego.
Terus terang saja, Pak Arman tidak ada masalah dengan Maria. Walaupun bapaknya Maria dianggapnya nyebelin puooolll. Tapi setidaknya mereka adalah saudaranya sendiri. Satu wali asuh. Mereka pernah berjuang bersama-sama walau ujungnya berbeda rute.
"Awu," desis Pak Arman serius.
Om Leon langsung jiper. Saat Pak Arman sudah memanggilnya dengan nama kecilnya, jadi dimulailah hubungan persaudaraan mereka.
Sudah pasti masalahnya serius, dan mereka harus mengeluarkan ego masing-masing.
"Ya Bang Ares?" desis Om Leon.
"Apa yang lo lakuin ke target dengan nama Trisnawan?" desis Pak Arman.
"Oh, dia melecehkan Maria. Abang pasti tahu gue apain dia,"
"Lu tipe yang langsung tembak. Yang ini lo siksa dulu. Gue nggak semudah itu lo kibulin Wu,"
Om Leon menghela nafas, lalu membuang muka, "Trisnawan itu satu panti sama Gopar. Hubungan mereka erat. Divine sepertinya cuma pengalih perhatian. Di balik ini ada organisasi besar yang belum kita sentuh. Gopar hanya pecahan. Tapi 'atasannya' belum bisa kita raih,"
"Jadi, lu interogasi dulu si Trisnawan ini sebelum lu bunuh, gitu?"
Om Leon mengangguk, "Dia nggak ngomong apa-apa. Si b4ngsat itu cuma ketawa-tawa. Dasar sayko!" ia mengetuk ketuk jemarinya ke atas meja. "Tapi dia bicara satu hal,"
"Apa?"
"Dia benar-benar mencintai Maria,"
"Ck! Bego bener…" gumam Pak Arman.
"Iya. Habis itu gue tembak dia di jidat," kata Om Leon.
Lalu keadaan hening.
"Bang Ares," Om Leon menyalakan rokoknya.
"Hm?"
"Gue iseng cek darah si Trisnawan. Lo tau nggak… Ada zat adiktif yang sama dengan yang ada dalam darah Gopar. Juga yang sekarang ada dalam darah Devi Nestapa,"
"Flakka?" tanya Pak Arman.
"Iya," jawab Om Leon.
"Itu sebabnya Trisnawan yang seorang schizophrenia bisa berani menghampiri Maria," desis Pak Arman.
"Benar. Flakka itu simultan versi murahnya k0kain. Tapi durasinya tidak lama. Karena itu kecenderungan untuk memakai dosis yang lebih tinggi seringkali terjadi. Itu berarti kecenderungan kecanduan juga semakin memungkinkan,"
"Hm... jadi tinggal menerjunkan anggota untuk menyamar jadi pecandu,"
"Gunakan saja Divine, paksa dia atau bayar biar jadi pro kita,"
"Ya udah…" gumam Pak Arman.
"Ya udah?" Om Leon Mengangkat alisnya tanda kebingungan.
"Ya udah, kita nikahin aja tu dua bocil. Keburu mlendung si Maria,"
"Hilih, gampang bener mancingnya, kayak mancing mujaer," gerutu Om Leon.
"Lagian, kalo udah nikah itu berarti proteksi untuk Maria dapat lebih mudah dijalankan. Mereka dilindungi malaikat. Kaena perjanjian pernikahan kan langsung antara manusia dengan Tuhann. Astral tidak bisa menginterupsi. Astral hilang, Maria tenang, semua senang,"
"Ntar kalo dah nikah, mereka tinggal sama gue ya Bang,"
"Farah nggak suka anak kecil, tinggal di rumah gue aje,"
"Dari mana lo tau Farah nggak suka anak kecil?!"
Pak Arman menyeringai, "feeling,"
"Spik dewa lo! Di rumah lo banyak senjata, nggak bisa cucu-cucu gue biarin tinggal di sana,"
"Gue bisa ngegedein Ai dan Glady di ruang senjata. Lah di rumah lo banyak tukang pukul, keselamatan lebih tak terjamin lagi,"
"Justru penjagaan di rumah gue level mytic,"
"Di rumah gue ada ibu-ibu jepun yang pinter masak, lembut dan serba bisa, jadi udah ideal buat bayi dan anak kecil, di rumah lo ada kebon binatang reptil,"
"Aargh! Kalah gue…" keluh Om Leon.
Quote sontoloyo of The Day :
"Sungguh, kata-kata paling indah jaman sekarang adalah : Sudah Ditransfer Ya."