Frisha Natalia, kabur dari rumah ketika dipaksa menikah dengan pria beristri, sebagai penebus hutang ayahnya. Di jalan, Frisha mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan gadis itu lumpuh.
Clyton Xavier Sebastian, pria yang tidak sengaja menabraknya, bersedia bertanggung jawab memberi kompensasi dan menjamin pengobatannya.
Akan tetapi, Frisha menolak. Dia menuntut tanggung jawab dalam bentuk lain, yakni menikahinya.
Apakah Xavier, seorang CEO perusahaan besar, mau menerima pernikahan dengan wanita asing begitu saja? Ikuti kisahnya yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : HAMIL?
“Maaf, Tuan. Setelah putusan pengadilan, saya sudah tidak memantaunya sama sekali. Haruskah saya menyelidikinya? Adakah sesuatu yang terjadi karenanya?” tanya Gerry di balik telepon.
“Hmm ... dari keterangan Xavier, dugaanku mengarah pada wanita itu. Dan dia dalang dari kejadian yang menimpa Frisha,” ujar Leon kembali mengingat setiap ucapan putranya.
“Apa? Baik, Tuan. Saya akan mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk menyelidikinya!” sahut Gerry dengan cepat. Meskipun ia sendiri bingung harus mulai dari mana, karena kejadian tersebut sudah puluhan tahun lamanya.
Leon sengaja menghubungi Gerry, karena Gerry yang tahu bagaimana seluk beluk kejahatan Yenny, beserta proses dari kepolisian. Setelah sambungan terputus, Leon mengepalkan tangannya dengan kuat. Denyut jantungnya meningkat, mengingat wanita yang pernah menipunya, juga wanita yang nyaris merusak hubungannya dengan Khansa.
“Jika memang itu benar kamu, tidak akan ada pengampunan lagi!” geram Leon menggertakkan gigi-giginya.
...\=\=\=\=0000\=\=\=\=...
Setelah mobil yang dikendarai menelusuri jalan setapak yang begitu panjang, akhirnya Zico berhasil keluar dari zona yang membuatnya bergidik ngeri. Ia sempat mendengar desing baling-baling helikopter yang mengusik pendengaran. Namun tak begitu mempedulikkan.
“Huhh! Akhirnya!” seru Zico menyeka bulir keringat yang menyembul dari wajahnya. Ia mendesah lega ketika menemukan jalan yang mengarah ke jalan tol. “Dasar google enggak berguna!" ketus lelaki itu yang mengumpat sedari tadi. Gara-gara penunjuk jalan itu, dia harus tersesat selama berjam-jam dalam kegelapan malam.
Zico melirik ke belakang, memperhatikan gerakan dadanya, takut tiba-tiba tidak bernapas. “Sabar ya, Cantik! Jangan mati dulu. Kita belum sempat kenalan,” gumam lelaki itu segera melesatkan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Penunjuk jalan yang berdiri di setiap sudut jalan tol, memudahkannya lekas sampai di tempat tujuan. Sekitar tiga puluh menit berkendara, Zico menghentikan mobilnya di pelataran rumah neneknya.
“Ma! Mama! Nenek!” teriak Zico turun dari mobil, sembari berlari dengan kaki panjangnya, lalu mengetuk-ngetuk pintu dengan sangat kasar. Zico terus berteriak tak sabar hingga pintu terbuka.
“Zico! Jangan teriak-teriak. Enggak enak sama tetangga. Ini bukan rumah kamu yang jauh dari tetangga!” ucap seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik.
“Maaf, Ma. Tolong, ada perempuan, sakit, pingsan. Di sana!” tunjuk Zico ke arah mobil dengan napas terengah-engah.
“Apa? Wanita? Siapa?” teriak Rumi terkejut.
“Issh! Mama, katanya jangan teriak-teriak,” cibir lelaki itu.
“Haihh! Buruan dibawa masuk, kenapa kamu tinggalin!” Rumi membuka pintu lebar-lebar mengabaikan cibiran putranya.
Zico segera berbalik dan berlari membuka pintu penumpang. Meraih Frisha dalam gendongannya dan segera membawanya masuk ke kamar yang disiapkan sang mama.
“Ada apa sih?” seru nenek Sarah yang mendengar keributan. “Siapa yang kamu bawa itu, Zico?” tanyanya lagi ketika melihat cucunya membawa masuk seorang wanita.
Rumi yang berprofesi sebagai dokter bedah itu, segera memeriksa kondisi Frisha. Untungnya ia selalu membawa perlengkapan dokternya ke mana pun.
“Ambilin infus, di kamar mama! Dia dehidrasi!” titah Rumi pada putranya setelah beberapa saat.
Zico mengangguk dan segera melangkah panjang menuju kamar ibunya, membawa sebuah kantung infus dan segera menyerahkannya pada Rumi. “Ini, Ma!” ujarnya.
Dengan cekatan, Rumi segera memasang infus itu agar segera mengalir dalam tubuh perempuan itu. Matanya membeliak ketika menemukan bekas darah yang mengalir di paha Frisha.
“Darah apa ini? Apa dia terluka?” tanya Rumi pada Zico yang hanya dijawab gelengan saja.
“Tolong kalian keluar dulu. Aku harus memeriksanya!” usir Rumi pada Zico dan Sarah yang masih mengerubunginya.
“Nek, ayo, Nek!” ajak Zico menarik lengan renta sang nenek.
Sarah masih melontarkan berbagai pertanyaan. Mengenai siapa wanita yang dibawa Zico, apa yang terjadi dan kenapa bisa bersama cucunya.
Sesampainya di luar kamar, Zico mengembuskan napas kasar. “Gara-gara mencari pesanan nenek, Zico harus melalui jalur yang ekstreme dan menegangkan. Mana hari udah semakin gelap. Udah tahu Zico enggak hapal daerah sini, disasarin pula sama mbah google! Di tengah pelosok sana, ketemulah wanita itu tergeletak di tengah jalan. Enggak tega dong biarin gitu aja! Pas Zico cek, masih bernapas jadi buru-buru Zico angkut dan bawa pulang. Takutnya, jebakan dari begal. Untung masih bisa sampai rumah dengan selamat!” gerutu Zico berkacak pinggang.
Zico dan Rumi sebenarnya tinggal di Pulau Jawa. Mereka berkunjung ke Palembang, untuk menjemput Sarah dan mengajaknya tinggal di sana.
Sarah yang semakin tua dan tidak ada yang mengurus, membuat Rumi mengajak sang ibu tinggal bersama. Karena wanita itu dinas di Jawa, tidak bisa jika harus tinggal di sini.
Sebelum berangkat ke Jawa, Sarah meminta dibelikan berbagai makanan khas Palembang yang ingin ia bagikan pada sanak saudara di sana. Akan tetapi, lokasi yang ditunjukkan Sarah cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Sarah ingin membeli semua oleh-oleh dengan kualitas terbaik. Alhasil, Zico cukup kelabakan karena tidak begitu hapal dengan jalan yang ia lalui.
“Aduh, kepala nenek mendadak sakit mendengar celotehanmu!” desis Sarah menekan kepalanya yang memang terasa berat.
“Mbuhlah, Nek. Sakarepmu!” (Entahlah, Nek. Terserah!)
Zico mendesah kasar, ia berjalan mondar-mandir di depan kamar tamu, ketika sang ibu lama sekali tak kunjung keluar. “Ma! Ada apa? Wanita itu baik-baik aja ‘kan?” seru Zico menempelkan telinganya pada pintu.
“Jangan berisik! Biar mama konsentrasi!” balas Rumi dengan suara agak keras.
“Istirahat saja, Nek. Besok Zico jelasin lagi ya.” Zico memapah neneknya ke kamar dan memintanya untuk segera tidur. Setelah itu dia kembali lagi dengan perasaan was-was.
Cukup lama menunggu, pintu kamar tamu terbuka. Rumi melepas masker dan juga sarung tangan yang dikenakannya. Menyeka keringat yang bermunculan di wajahnya.
“Dia hamil dan mengalami pendarahan. Dari luka-luka di wajahnya, sepertinya wanita itu habis mengalami kekerasan,” ucap Rumi pada Zico.
Sepasang mata Zico membelalak lebar, mulutnya juga menganga mendengar penjelasan dari ibunya. "Hamil? Pendarahan? Lalu?" tanyanya dengan penuh keterkejutan.
Bersambung~
Kalau ada yang nebak, Zico adalah penolong JIhan waktu jadi desainer atau rival Papa Tiger, bukan ya gaess.. Rival Papa macan itu Zero 😁 dia sudah berbahagia bersama Erent. Zico ini, kalau sebelumnya udah ada, anggep aja beda orang ya 😅
semangat komennya... biar nanti malem up lagi 😘
con; ketika panik, terburu2, kan gak mungkin memakai kata melenggang.
Melenggang itu lbh ke arah berjalan santai...
sdh terburu2 mosok pakai kata melenggang..
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘