Aku harap ini adalah keputusan yang tepat untuk melupakan semua yang terjadi. Aku juga berharap Alexander bisa membahagiakanku. Aku ingin melupakan masa lalu dan si pria berwajah muram itu. Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Namun, apakah semua akan berjalan sesuai kehendak hati?
Lanjutan Fall in Love with Lover
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proof of Love
...Alexander...
...Lilia...
"Nona, tidak jadi?!" Salah seorang karyawan toko bertanya dengan sedikit berteriak kepadaku.
"Jadi! Nanti aku kembali lagi! Tunggu sebentar, ya!" Aku pun menjawab sambil menarik Alexander keluar dari toko.
Oh, ya ampun. Kenapa harus seperti ini?!
Tak tahu mengapa Alexander bisa seperti ini. Mungkin akunya juga yang salah karena telah membawanya masuk ke toko ini. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kami serius dalam menjalani hubungan. Pastinya ingin sampai ke jenjang pernikahan. Dan setelahnya tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Jadi rasanya tidak perlu malu saat memilih lingerie di hadapannya. Tapi kenapa sampai semerah ini wajahnya?
Dasar perjaka! Ada-ada saja.
Lantas aku membawanya pergi ke sebuah pedagang es yang ada di pinggir jalan. Kami menyeruput es sebentar sebelum melanjutkan pencarian. Semoga saja wajah merahnya bisa kembali normal seperti sediakala. Kuakui jika aku memang kebablasan dan tak tahu aturan. Tapi sepertinya, aku bisa menggodanya dengan hal yang terjadi barusan. Kita lihat saja nanti seberapa merah wajahnya saat kugoda tentang ini.
Dear, kau itu lucu. Polos sekali. Aku menyayangimu, Dear.
Pukul sebelas siang waktu pedesaan dan sekitarnya...
Kami pulang setelah mendapatkan apa yang diinginkan di pasar. Dan saat pulang, betapa terkejutnya kami kala melihat seisi rumah sudah dipenuhi banyak orang. Kulihat makanan juga telah banyak disediakan. Sepertinya ibu yang menyiapkannya sendiri. Dia begitu tanggap dengan keinginan putranya yang ingin mengikatku. Saat baru sampai pun aku segera diperkenalkan kepada para ibu yang hadir.
"Ini calon mantuku. Namanya Lilia." Ibu Alexander berbicara kepada ibu-ibu yang hadir. "Lilia, ini Bibi Rum dan Asri. Mereka masih saudara dekat dengan kita." Ibu Alexander memperkenalkan.
Aku mengangguk lalu tersenyum. "Lilia, Bi." Aku menundukkan kepala kepada mereka.
"Cantik ya calon mantunya." Salah satu ibu berdres putih memujiku.
"Iya. Alexander memang pintar memilih calon istri. Dia sukanya yang berisi." Ibu yang lain menimpali.
Kulihat Alexander tersenyum-senyum sendiri. Dia mengusap-usap hidungnya karena merasa grogi. Ibu pun segera menyadari. Ibu kemudian meminta kami untuk duduk di hadapan para ibu lainnya.
"Sudah beli cincinnya, Nak?"
Ibu Alexander duduk di samping putranya. Di hamparan karpet rumah ini. Kami duduk bersama para ibu yang hadir. Sepertinya acara pemberian cincin akan segera dimulai.
"Sudah, Bu." Alexander segera menjawabnya.
"Oh, ya sudah. Cepat berikan cincinnya kepada Lilia. Ibu dan para tetangga sudah menunggu," kata ibunya lagi.
Eh? Langsung?
Aku tak percaya jika prosesinya akan berjalan cepat. Padahal biasanya ada kata sambutan atau apalah sebelumnya. Tapi ini, ibu Alexander meminta kami untuk segera mengikat diri di hadapan para ibu lainnya. Alexander pun mengeluarkan cincin yang dibelinya di toko tadi. Sebuah cincin emas putih seberat lima gram dengan permata di tengahnya. Dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arahku di depan para ibu lainnya.
"Lilia." Dia menyebut namaku. "Terimalah bukti keseriusanku. Aku mencintaimu," katanya yang membuat pipiku merona seketika.
Sungguh tak tahu apa yang harus kukatakan. Rasanya begitu bahagia sekali melihat dirinya menyerahkan cincin itu padaku. Kulihat sekilas para ibu juga tampak terkagum-kagum dengan keberanian Alexander dalam menyatakan cintanya. Entah mengapa aku merasa malu sendiri di hadapannya. Seperti ingin lari dan segera masuk ke dalam kamar saja.
kapan update
ditunggu yaaqq