Ashilla tidak pernah menyangka jika di hari itu ia harus merelakan masa lajangnya, menikah dengan sosok yang tidak pernah ia kenal sebelumnya hanya karena ancaman dari sang paman yang akan menghentikan pengobatan adiknya yang tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Hidupnya hancur, semakin hancur ketika ia mengetahui fakta sebenarnya mengenai alasan mengapa laki-laki itu memilih menikahinya.
Mampukah Ashilla menjalani biduk rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kata cinta didalamnya?
IG : reinata_ramadani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih
°°°~Happy Reading~°°°
Beberapa perawat terlihat hilir mudik menyiapkan segala peralatannya. Dokter perempuan yang sedari tadi memantau keadaan Shilla pun sudah siap dengan sarung tangan yang tersemat di tangannya.
"Nyonya Shilla, tolong ikuti intruksi saya."
Shilla dengan menahan gejolak sakit itupun mulai mengikuti intruksi sang dokter. Berkali-kali perempuan itu mengejan, namun sang bayi tak kunjung menampakkan diri.
Shilla mulai kelelahan. Nafasnya sudah memburu hebat. Tenaganya telah habis terkuras. Namun ia harus tetap berjuang, demi sang bayi yang sudah tak sabar menyapa dunia.
"Sedikit lagi, Nyonya. Mengejan sekuat yang anda bisa. Satu, dua, tiga... ."
Shilla mengerahkan seluruh tenaganya. Tangannya bahkan kini mencengkeram kuat tangan besar Damian. Sungguh, ini pertaruhan hidup dan mati yang tak mudah dilalui.
Hingga akhirnya, tangis itu menggaung memecah keheningan.
Shilla terkulai lemas. Nafasnya tersengal dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya yang memucat.
"Terimakasih Shilla. Kamu berhasil."
Bahagia dirasa. Membuat laki-laki itu tak segan melabuhkan kecupannya di kening sang istri. Apalagi saat sang dokter mengumumkan jenis kelamin sang bayi.
Bahagia itu semakin membuncah pasti. Ia mendapatkan seorang putra. Putra kecil yang akan menjadi pewarisnya kelak di masa depan.
"Terimakasih, Shilla."
Air mata itu akhirnya luruh membasahi wajah Shilla. Lega rasanya. Setelah berjuang berjam-jam lamanya, akhirnya rasa sakit itu menemui titik akhirnya.
Hingga dirasakannya pergerakan kecil kini terasa menggelitik di atas dadanya. Shilla mengalihkan pandangannya. Membuat ia seketika itu terpaku, saat menatap pada sosok mungil yang kini bergerak gelisah di atas dadanya.
Air mata itu kembali luruh. Tangannya yang bergetar kini mengusap lembut sosok bayi mungil yang baru ia lahirkan beberapa menit lalu.
"I--ini, bayi Shilla mas?" Perempuan itu menatap bayi mungil itu tak percaya. Ini seperti mimpi. Apa ia benar-benar telah melahirkan bayi menggemaskan itu? Kesayangannya? Malaikat kecilnya?
"Ya, Shilla. Bukankah dia sangat menggemaskan?"
Shilla mengangguk. "Iya. Dia tampan, mirip sekali seperti mas."
Butir air mata itu kembali meluruh. Setelah perjuangan yang tidak mudah itu, akhirnya bayi itu sekarang ada di dekapannya. Detak jantung mereka menyatu. Saling berdetak seolah memberikan sinyal bahwa mereka sepasang ibu dan anak yang tak akan terpisahkan, sampai kapanpun.
"Assalamualaikum kesayangan bunda... ."
🍁🍁🍁
Shilla tengah di bersihkan. Sedang Damian, setelah mengadzankan bayi mungilnya, kini laki-laki itu menepi ke sudut lain. Laki-laki itu tengah mendekap hangat bayi mungilnya, menyalurkan kehangatan di tengah dinginnya rintik hujan di luar sana.
"Hallo baby. I'm your'e daddy."
Tangan besarnya kini mengusap punggung kecil yang ada didekapannya. Terasa gelenyar aneh yang kini menggelitik hati kerasnya.
Rasanya luar biasa. Tak pernah ia bayangkan memiliki anak akan seperti ini rasanya.
Antusias itu membara. Bahagia itu tak usah ditanyakan sebesar apa. Damian benar-benar bahagia, melebihi kontrak triliunan yang ia dapatkan.
Manik matanya kemudian bergerak menatap pada sang istri yang sesekali masih terlihat meringis. Dokter masih memberikan beberapa penanganan setelah proses persalinan.
Melihat perjuangan Shilla untuk bisa melahirkan sang bayi, Damian merasa goyah. Apa rumah itu akan sebanding dengan perjuangan Shilla untuk melahirkan bayi mereka? Apa itu akan sebanding dengan perjuangan Shilla menahan sakit berjam-jam lamanya? Berjuang mempertaruhkan nyawanya?
Laki-laki itu menunduk menatap pada sang putra yang bergerak halus dalam dekapannya.
Apa benar-benar tidak apa-apa jika ia membawa bayi mereka?
"Baby. Is it okay if daddy takes you away from mommy?"
(Baby, tidak apa-apa kan jika daddy membawamu jauh dari mommy?)
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕