Pernikahan, Yasmin berpikir jika ia menikah dirinya akan hidup bahagia. Kehidupan sehari-hari ada yang mencukupi dan ia tidak perlu capek-capek kerja. Malah sebaliknya, laki-laki yang ia kenal baik dan tidak pelit ternyata adalah seorang yang pemalas tidak mau bekerja. Sebut saja namanya Hendro.
Kehidupan rumah tangga yang tidak di penuhi oleh Hendro di tambah lagi suaminya ini ternyata menikah secara diam-diam dengan tetangga samping rumahnya yang bernama Susi, janda empat kali di cerai.
Penasaran bagaimana Hendro dan Susi bisa menikah? Apakah Yasmin dan Hendro akan bercerai? Sama saya juga penasaran, yuk ikuti cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
"Mas,....!" Panggil Yasmin tersenyum-senyum sendiri.
"Sayang, kamu kenapa sih?" Tanya Bagas heran. "Perasaan sejak tadi senyum-Senyum sendiri."
"Aku lagi bahagia banget," ucap Yasmin.
"Bahagia karena apa?" Tanya Bagas. "eh, ngomong-ngomong mana kejutan yang kamu bilang tadi?"
Bagas melirik kedua tangan istrinya yang saat ini sedang bersembunyi di belakang.
"Sayang, apa sih? Jangan buat mas penasaran dong!"
Yasmin pun mengeluarkan selembar amplop lalu di berikan pada suaminya.
"Ini apa?" Tanya Bagas.
"Buka aja, kejutannya ada di dalam." Ujar Yasmin.
Bagas yang penasaran langsung membuka amplop tersebut lalu membacanya.
"Sayang, ini serius?" Tanya Bagas tidak percaya.
"Iya mas, serius. Mas, akhirnya aku hamil juga...!"
Bagas langsung memeluk istrinya.
"Kamu hamil dan sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Serius kamu hamil?"
Bagas masih tidak percaya.
"Iya mas, aku sudah hamil delapan minggu!"
"Sayang,....!!"
Bagas semakin erat memeluk istrinya, di kecupnya bibir Yasmin dengan mesra lalu di ciumannya perut datar sang istri.
"Tapi, kenapa kamu pergi ke Dokter sendiri?" Tanya Bagas tidak terima.
"Awalnya aku iseng tes sendiri, garis dua. Aku tidak percaya jadi aku pergi sendiri. Iya kalau garis duanya beneran, kalau zonk? Makanya aku mau memastikan sendiri biar mas gak kecewa nanti."
"Sayang,.....!" Rengek Bagas kembali memeluk istrinya.
"Anak yang aku tunggu sekian tahun akhir aku di percaya juga mas. Sungguh aku bahagia," ucap Yasmin.
"Mas juga bahagia, mulai sekarang kamu jangan capek-capek lagi. Sayang, malam ini kamu mau makan apa? Atau, malam ini juga kita pergi membeli perlengkapan bayi?"
"Eh, jangan dulu mas. Nanti aja dekat lahiran. Pamali kata orang tua," ucap Yasmin.
"Tapi mas udah gak sabar loh....!"
"Sama,....!"
Bagas dan Yasmin terus membahas kehamilan, mereka akan membuat kejutan untuk bu Mita besok.
"Hati-hati sayang," ucap Bagas saat istrinya hendak menuruni tangga.
"Iya mas,....!" Jawab Yasmin.
"Kamu suka makan pedas, sekarang di kurangin. Nanti, anak kita kepanasan di dalam perut sana."
"Eh, bisa seperti itu ya mas?"
"Em,....bisa kali....!!"
Yasmin tertawa, menurut Bagas sangat lucu karena suka bercanda. Beda dengan Hendro dulu yang suka membentaknya.
Atas penolakan Bagas, Hera semakin menyimpan dendam pada pria itu. Entahlah, Hera sangat tidak terima melihat kehidupan Bagas yang sudah bahagia sekarang.
Lain pula dengan seorang wanita yang saat ini sedang terpana memandang foto Bagas. Namanya Farida, perempuan berusia dua puluh sembilan tahun, anak dari pak Fauzi, rekan bisnis Bagas.
"Pah, dia ganteng. Aku suka padanya," ucap Farida.
"Sayangnya dia sudah menikah. Farida, jika kau bisa menikah dengan Bagas, otomatis perusahaan kita semakin berkembang luas."
"Kenapa sih, kalau ada laki-laki tampan dan sempurna pasti udah nikah. Menyebalkan!" Ucap Farida kesal.
"Istrinya seorang janda, di banding perempuan itu kau jauh lebih segalanya."
"Serius bekas janda pah?" Tanya Farida tidak percaya.
"Iya, janda sebatang kara pula. Papah sudah menyelidiki istri Bagas."
"Kenapa baru sekarang papah memberitahu dia pada ku?"
"Karena sekarang perusahaan Bagas sedang naik-naiknya. Banyak pengusaha yang mengincar kerjasama dengan perusahaan dia."
"Pah, aku bisa bersaing dengan istrinya. Lagian, kalau dia janda akan lebih mudah untuk menjatuhkannya."
"Papah akan sangat bersyukur jika kau bisa menikah dengan dia. Nama keluarga kita akan semakin di kenal kalangan luas."
"Segara atur rencana pertemuan aku dan Bagas. Pah, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dia."
Pak Fauzi tersenyum lebar karena ternyata anaknya tidak menolak.
"Tapi, kau sudah bertunangan dengan Rendra. Bagaimana?" Tanya pak Fauzi.
"Aku akan mengakhiri hubungan ku dengan Rendra jika aku sudah berhasil mendapatkan Bagas. Papah tahu sendiri jika selama ini aku juga terpaksa bertunangan dengan dia."
"Bagas jauh lebih kaya dari pada Rendra. Hidup mu akan terjamin, pikirkan lah!"
"Aku lebih memilih Bagas. Dia tampan, aku tertarik padanya!"
Farida dan papahnya mulai sibuk mengatur rencana. Pak Fauzi ingin memperkenalkan Farida pada Bagas.
Sementara itu, di kampung sedang geger karena Susi datang ke rumah bu Surti untuk melabrak Hendro.
Terus berteriak tidak jelas, mengumpat bahkan seisi kebun binatang keluar semua. Hendro tampak santai dan tenang tak mau menanggapi kelakuan Susi di luar.
"Hendro, cepat selesaikan urusan mu dengan Susi." Ujar bu Surti.
"Biarin aja lah bu. Nanti, kalau capek berhenti sendiri."
"Ibu malu Hendro, ibu malu!"
"Biarin aja!"
"Lama-lama ibu bisa gila dengan kelakuan kamu ini. Kamu mau jadi apa Hendro? Sudah bagus nikah sama Yasmin, cantik, baik dan penurut malah milih Susi yang seperti itu. Cepat usir dia, ibu pusing!"
Hendro kesal, pria ini akhirnya keluar menemui Susi dengan membawa satu ember air.
Byuuuur......
Hendro menyiram wajah Susi yang saat ini sedang mengoceh-ngoceh tidak jelas.
"Hendro, urusin istri kamu. Malam-malam ganggu orang istirahat aja. Berisik!" Tegur salah seorang tetangga.
"Bikin malu aja kamu ini Susi. Aku sudah mentalak kamu. Pergi sana!" Usir Hendro.
"Setelah aku cacat dan harta ku berkurang, kamu malah menceraikan aku. Dasar bajingan, laki-laki tidak tahu diri."
"Kamu itu yang tidak tahu diri," ucap Hendro membalas. "Janda empat kali, kegatalan. Menyesal aku nikah sama kamu, mending sama Yasmin dulu."
"Terus aja kamu sebut nama mantan istri kamu itu. Lama-lama ku bunuh dia!"
"Susi, pergi sana. Jangan membuat keributan di sini, ibu malu!" Usir bu Surti.
"Ini lagi, nenek peyot udah mau mati sukanya ikut campur. Sana pergi ke kuburan!"
Plaaaak......
Hendro yang tidak terima ibunya di hina langsung di tampar oleh Susi.
"Haduh,....mulut kamu ini jahat banget Susi...!" Teriak salah seorang tetangga.
"Diam kalian...!" Teriak Susi marah. "Ayo pulang bang, sampai kapan pun aku akan tetap menjadi suamiku!"
Susi menarik tangan Hendro, mengajak pria ini untuk pulang tapi Hendro menolak dan berusaha melepaskan tangan Susi.
"Ayo pulang,....bajingan kamu, bang. Jahat kamu, tega kamu sama aku!"
"Aku udah gak mau sama kamu. Aku udah talak kamu, pergi sana!"
Hendro berusaha melepaskan tangan Susi yang memeluk kedua kaki Hendro.
Bu Surti yang melihat keributan ini mendadak tidak sadarkan diri. Hendro panik, pria ini langsung mendorong Susi dengan kasar.
"Bisa-bisanya kamu dorong aku demi membela nenek-nenek ini?"
Hendro sebenarnya ingin menghajar Susi, tapi ia tahan karena Hendro lebih memilih mengurus ibunya. Para tetangga tidak berniat membantu, mereka tahu sendiri bagaimana kasarnya mulut Susi.
Hendro menyeret Susi keluar dari rumah ibunya kemudian menutup pintu. Tidak lupa mematikan lampu depan agar wanita itu cepat pergi.
rupa nya katak jandaku diartikan ada sorang janda dan ada seorang lelaki yang menclaim janda itu adalah miliknya