Noora Agatha William adalah seorang wanita karir dan cantik yang berprofesi sebagai model papan atas, bahkan Noora juga mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Bahkan rumah tangga Noora begitu terlihat sangat bahagia dan harmonis, namun seketika pernikahan yang selama ia bina bersama sang suami tidak menyangka akan di rusak oleh orang ke tiga.
Akan kah pernikahan Noora dan Adam masih bisa di pertahankan, atau malah mereka berdua milih berpisah untuk kebahagian mereka masing-masing.
Kita simak terus yuk perjalanan rumah tangga Noora dan Adam, kalau kalian suka dengan Novel ini jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Adam
Pagi pun sudah berganti dengan sore, dan acara pernikahan Devan dan Noora pun sudah selesai. Devan dan Noora sudah bersiap masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya menuju ke rumah yang akan ia tempati bersama Noora.
"Ma kita pergi dulu ya." ucap Devan kepada sang mama, yaitu mama Asih.
"Iya.. jaga istrimu baik-baik Van." jawab mama Asih.
"Noora pamit dulu ya ma." Noora yang sudah mencium tangan ibu mertuanya.
"Iya sayang.. hati-hati ya di jalan." mama Asih yang sudah mengusap pundak menantunya.
"Awas kamu gak bener jaga putri Almarhum tuan William, papa gantung kamu di pohon Duren." ucap tuan Agra kepada anaknya.
Semua yang mendengar ucapan tuan Agra seketika tertawa. "Tenang pa, Devan akan menjaga Rara."
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Devan, Devan dan Noora pun sudah masuk ke dalam mobil, dan mobil pun sudah melaju meninggalkan Hotel. Di dalam mobil Devan dan Noora duduk bersebelahan, Devan terus menggenggam tangan Noora, dengan Noora sudah menyenderkan kepalanya di bahu Devan.
"Hari ini aku sangat bahagia sayang." ucap Noora.
"Aku juga sangat bahagia berkali-kali lipat sayang." Devan yang sudah mengecup kening istrinya.
"Kita mau ke mana sayang?." tanya Noora yang menatap wajah Devan.
"Mau ke rumah kita dong."
"Apa kita tidak tinggal bersama mama Asih dan papa Agra?."
"Apa kamu mau tinggal bersama mereka?." tanya Devan balik.
"Tidak sayang.. aku ingin membina rumah tangga secara mandiri, dan tidak merepotkan mama dan papa." jawab Noora.
"Pengalamanmu menikah lebih banyak dari aku sayang, mohon bimbingannya."
"Aku tidak patut membimbingmu sayang, karena pengalamanku kemarin membina rumah tangga gagal, aku yang justru meminta mu untuk membimbingku agar menjadi istri yang baik dan sholehah." Noora yang terus menatap lamat-lamat wajah suaminya."Semandiri apapun seorang wanita dia juga butuh di bimbing, butuh di sayang dan butuh kelembutan." lanjut Noora lagi.
"Aku akan mencoba menjadi suami yang baik untukmu sayang, dan kita sama-sama belajar ya untuk menjadi suami dan istri yang baik."
"Jangan mencoba, tapi berusahalah menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita." sahut Noora.
"Baik sayang, aku akan berusaha menjadi kepala rumah tangga yang baik." Devan yang kembali mengecup kening istrinya.
Noora dan Devan terus bermesra-mesraan di dalam mobil. Sedangkan Pak Hendra sopir pribadi Devan terus menatap spion mobil. "Sepertinya ada yang mengikuti kita tuan." ucap pak Hendra.
"Siapa?." tanya Devan.
"Dari tadi mobil hitam di belakang terus mengikuti mobil kita tuan." jawab pak Hendra terus menatap pada spion mobil.
Devan dan Noora pun seketika langsung menoleh ke belakang, benar saja ada mobil berwarna hitam sedang mengikuti mobil mereka. Namun Devan tidak mengetahui itu mobil siapa.
"Dia siapa sayang?." Noora yang terlihat khawatir.
"Mungkin dia pengemudi yang lewat jalur sama seperti kita." Devan yang tidak mau membuat Noora takut.
Namun Noora tidak bisa di bohongi jika mobil itu melewati jalur yang sama kenapa tidak lebih dulu mendahului mobil mereka, padahal jalan begitu sangat sepi, hanya ada beberapa pengendara yang lewat. Karena letak rumah Devan berada di pinggir kota banyak melewati hutan-hutan di sepanjang jalan. Noora benar-benar merasa cemas, kejadian pait apa lagi yang akan menimpa dia dan juga suaminya.
Devan kembali menoleh ke belakang, dan mobil hitam itu terus saja mengikuti mobilnya. "Ayo tambah kecepatan pak." ucap Devan kepada pak Hendra.
"Baik tuan". pak Hendra pun sudah menancap gas dengan kecepatan tinggi. Namun mobil hitam itu juga tak kalah kencang seakan tau bahwa mobil Adam sedang di ikuti.
"Bagaimana kalau mobil itu_." ucap Noora.
"Suttss.. semua akan baik-baik saja sayang, kamu tidak perlu takut, ada aku di sini."
Noora yang mendengar ucapan Devan mencoba untuk tenang, dan menepiskan semua ketakutannya. Noora semakin menggenggam tangan Devan dengan erat.
Saat suasana di dalam mobil menjadi hening, tiba-tiba ponsel Noora ada notifikasi pesan masuk, yang tertera dari layar ponsel nama Viola. Noora pun segera meraih ponsel dan membuka pesan.
"Ra, apa acara pernikahnmu sudah selesai, aku harap sudah, karena pihak polisi telah mengabariku, bahwa Adam kabur dari penjara." pesan dari Viola.
Deg..
Seketika jantung Noora berasa berhenti berdetak, wajahnya pucat pasi, rasa bahagia yang barusan ia rasakan bersama Devan seketika di hancurkan oleh kembalinya sosok Adam di kehidupannya.
"Sayang apa ada masalah?." tanya Devan yang melihat raut wajah Noora seketika berubah.
"A_dam.. A_dam..." ucap Noora terbata-bata.
"Adam kenapa?." Devan yang tidak paham dengan ucapan istrinya.
Devan pun langsung mengambil ponsel Noora dari gengaman Noora, dan sudah membaca pesan yang barusan di kirim oleh Viola.
"****.. Adam kabur dari penjara, bagaimana bisa." Devan yang merasa frustasi.
"Aku yakin mobil yang di belakang kita adalah mobil Adam mas, sudah ku duga kalau dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanku, bagaimana ini mas." Noora yang begitu sangat cemas.
"Tenang sayang, aku tidak akan membiarkan Adam menyentuh mu lagi."
"Aku takut kalau dia akan melukaimu lagi, dia benar-benar bukan Adam yang dulu, dia seperti moster berani melukai orang, bahkan berniatan untuk membunuh."
"Aku tidak akan membiarkan Adam melukaiku dan melukaimu, jadi tenanglah." Devan yang sudah mendekap tubuh Noora.
"Aku takut mas.. aku takut.."Noora yang sudah menitihkan air matanya.
Saat mobil Devan terus melaju dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba mobil hitam itu juga melaju cukup tinggi lalu melaju di samping mobil Devan. Kaca mobil berwarna hitam tersebut sudah terbuka memperlihatkan seorang laki-laki memegang satu pistol di tangannya, dan terdapat Adam di sebelahnya sedang mengemudikan mobil.
"Berhenti, hentikan mobil ini sekarang!." teriak laki-laki menodongkan pistol ke arah kaca pak Hendra.
Pak Hendra yang melihat seseorang menodong pistol menjadi terkejut dan takut. "Bagaimana ini tuan?." tanya pak Hendra.
"Tambah kecepatan pak, dan kaca jangan di buka." sahut Noora.
"Ini sudah begitu cepat nyonya, jika saya tambah kecepatan lagi kita sendiri yang bisa celaka, karena jalan berlika-liku." ucap pak Hendra.
"Woy.. cepat hentikan mobil ini!."
"Duwarrr! Duwarrr!. pistol yang sudah di lesatkan ke langit.
"Mas..." Noora yang bersembunyi di pelukan Devan karena takut.
"Kalau kalian tidak menghentikan mobil ini, akan ku tembak mobil ini!." Laki-laki dengan tubuh besar kembali mengarahkan pistol ke arah pak Hendra.
"Hentikan mobil sekarang pak, saya akan turun dan menghadapi Adam." ucap Devan.
"Tidak! apa kamu gila mas, apa kamu tidak melihat mereka berdua sedangkan kamu sendiri, mereka juga membawa pistol, sedangkan kamu, kita baru saja menikah, aku tidak mengizinkan kamu keluar dari mobil ini." Noora yang tidak setuju dengan keputusan Devan.
"Iya tuan, benar kata nyonya Rara, itu bisa membahayakan tuan." sahut pak Hendra.
biasanya cerita begini pemain nya pasti tegas dan pintar
katanya Dirut kan seharusnya pada pinter bukan bego semua