Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.
Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?
Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.
Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memang Berat, tapi Harus Memilih
Nadia mengambilkan tisu untuk sang sahabat. Tak hanya itu, ia juga mengambilkan minum untuk wanita yang saat ini sedang merasakan kegundahan yang teramat sangat di dalam hatinya.
Nadia menatap kasihan pada Zi. Ia sangat tahu, betapa Zi masih sangat mencintai pria itu.
"Sabar, Zi, sabar. Jangan terlalu kamu tekan perasaanmu. Aku tahu ini memang berat. Tapi jika kamu begini terus, nggak bisa mengikhlaskan, itu akan terasa lebih berat. Bukankah kamu sudah memilih melepaskannya," ucap Nadia lagi. Mencoba mengingatkan sang sahabat agar tidak terlalu larut dalam dilema hati yang ia buat sendiri.
"Kamu benar, Nad. Aku memang harus melupakannya. Merelakannya. Namun entah kenapa? apapun yang terjadi padaku akhir-akhir ini malah mengingatkanku pada pria bajingan itu." Zizi kembali meluapkan rasa kesalnya pada Zein. Hatinya benar-benar berada di antara benci dan cinta. Di antara resa dan gelisah. Di antara iya dan tidak.
Sungguh, ingin rasanya Zi menjerit dan pergi jauh dari ini. Entah ke mana, asalkan tidak kembali berurusan dengan pria itu. Beserta kerabatnya sekali, kalau bisa.
Pergi jauh... dari sini... batin Zi. Seketika kata itu menyerangnya. Rasa yang diciptakan oleh kata-kata itu seakan memberinya kekuatan untuk berani mengambil langkah. Meninggalkan segalanya. Meninggalkan mimpinya. Meninggalkan segala kenangan yang pernah tercipta bersama pria itu. Ia tidak mau berhubungan lagi dengan keluarga pria yang pernah memberinya harapan, namun pada akhirnya menghempaskannya tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Lalu, apa yang masih ia harapan dari keluarga itu. Dari pria yang tidak bisa menjaga rasa yang ia miliki. Tidak bisa menghargai rasa cinta yang sedang tulus ia berikan tanpa pamrih. Pria itu dengan tega malah membalasnya dengan sebuah pengianatan.
Ini anaknya, ini bayinya, pria itu tidak berhak. Pria itu hanya menabur benih. Tetapi tidak menjaga. Dia yang selama ini menjaga. Zi ingin egois kali ini. Ia tak mau kalah lagi.
Zi takut, jika ia bertemu pria itu lagi, ia gak mampu menahan beban cintanya. Ia tak akan sanggup untuk tidak memaafkan pria itu. Dan hasilnya ia pasti akan kalah dengan perasannya.
Kali ini keberanian terus mendorongnya pergi. Pergi menjauh dari negara ini. Sebab rasa itu kini menciptakan rasa tak rela, tak rela jika akhirnya pria egois itu melihat bayi-bayi mereka. Sampai matipun ia tak akan pernah rela pria itu merebut bayi-bayi ini darinya. Biarkan saja dia tenggelam dalam penyesalan. Zi tak mau peduli lagi. Terlebih keluarga itu, yang mungkin saja hanya membohonginya. Menipunya. Setelah bayi ini lahir, bisa saja mereka merebut, lalu melenyapkan nya. Siapa tahu? iya kan?
Pria itu.... yang katanya menikahinya karena cinta saja, dengan mudah melemparnya ke dasar jurang penderitaan. Apa lagi sebuah keluarga yang memiliki kekuatan yang Zi sendiri merinding membayangkannya. Bukankah ia hanya akan dianggap sebatas butiran debu. Hanya sekali tiup saja, maka debu itu pasti akan menghilang selama-lamanya.
Tak ingin bernasib seperti yang ada di dalam bayangannya, Zi pun memutuskan untuk meninggalkan negara ini. Meninggalkan orang-orang yang ia kenal. Tanpa membeitahu Nadia dan Bima. Karena seperti pengalaman yang sudah pernah terjadi, ternyata satu di antara mereka sama sekali tidak bisa di percaya.
Zi takut, kalau sampai rencananya ini bocor pada mereka berdua. Otomatis keluarga itu pasti akan kembali menemukannya.
***
Zein tak berpikir panjang. Selepas mengetahui kemungkinan kenyataan Zi kini telah mengandung buah hatinya, pria ini pun langsung tancap gas ke Bandara.
Mencari tiket untuk pulang ke Batam. Karena harapannya hanya satu, yaitu keluarganya. Zein yakin, mereka pasti tahu kabar terkini wanita itu. Syukur-syukur mereka mau berbaik hati memberi tahu dirinya, di mana mantan istri tercintanya itu berada.
Beruntung nasib baik kini berpihak kepadanya. Zein langsung mendapatkan tiket dan siap terbang ke Batam. Membawa sebuah harapan, kedua orang tuanya akan memaafkan kesalahannya dan memberi tahu keadaan Zi saat ini.
***
Di sisi lain, Vita merasakan perubahan pada diri sang kekasih. Bagaimana tidak? Beberapa kali ia mencoba menghubungi pria itu. Tetapi tidak di angkat. Bahkan pesan yang ia kirim pun tidak di balas oleh pria itu. Membuat Vita kesal dan memutuskan untuk pergi ke rumah di mana Zein tinggal.
Bersambung...