Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.
Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.
Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Alvaro membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Rika untuk memasuki mobilnya. Ia terlihat senang saat Rika menurut padanya tanpa ada bantahan.
Alvaro menghidupkan mesin mobilnya. Ia melirik kearah Rika yang terlihat lebih pendiam setelah dari restoran tadi.
"Apa kamu sedang sakit perut?" tanya Alvaro membuka percakapan.
Rika mendelik dan mencebik tidak suka dengan pertanyaan yang diajukan oleh Alvaro. Ia merasa kalau Alvaro sedang menyindirnya karena ia makan banyak tadi sewaktu direstoran.
"Bukan itu maksudku." Alvaro meralat kata-katanya barusan setelah melihat perubahan wajah Rika yang terlihat tidak senang dengan pertanyaannya. "Maksudku, apa kamu ada masalah, karena sejak tadi kamu hanya diam saja," ralat Alvaro memperbaiki kata-kata sebelumnya. Ia takut kalau Rika benar-benar akan marah padanya.
"Tidak ada, aku hanya bingung saja dengan semua ini." Rika melirik kearah Alvaro.
"Dengan apa?" Alvaro menatap sesaat kearah Rika.
"Dengan kamulah, kok kamu bisa mengenalku? Memangnya kita sebelumnya pernah bertemu dimana ataukah kamu teman kerjaku dulu ditempat lama?" Akhirnya keluar juga semua yang mengganjal di benak Rika.
"Benar kamu tidak mengingatnya?" tanya Alvaro sambil tersenyum jahil.
Rika menatap Alvaro sambil mengerutkan dahinya, kembali menggali ingatan dulu. Tapi tetap ia tidak mengingatnya. Rika memberengut karena sejak awal tadi ia merasa dipermainkan oleh Alvaro.
"Perkenalkan namaku Alvaro," ucapnya sambil melirik kearah Rika. Ia tampak senang membuat wanita disampingnya ini cemberut karena terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Rika benar-benar merasa asing dengan nama tersebut. "Lalu darimana kamu tahu kalau namaku Rika?" Rasa penasaran Rika semakin mencuat keatas.
"Aku dokter yang menolongmu beberapa hari yang lalu," ucapnya lagi menambahkan.
"Apa!!" Rika membulatkan matanya setelah mendengar kata terakhir yang disampaikan oleh lelaki disampingnya ini. Ia tampak menunduk sambil mempermainkan jemari tangannya. Pantas saja ia tahu kalau Rika tidak punya uang sedikitpun. Ia kini terlihat bodoh dihadapan Alvaro. Ia benar-benar berusaha untuk bersikap biasa saja, namun tetap terlihat sangat kentara gugupnya. "Memangnya kenapa ia menemuiku? Apa ia ingin menagih biaya perawatan waktu itu?" gumam Rika didalam hatinya. Ia tampak gelisah kini.
"Oh ya, yang waktu itu, ma'af ya Dok soalnya aku kurang sopan padamu." Rika meremas tangannya beberapa kali. Ia melirik sesaat kearah Alvaro dan mengalihkan pandangannya saat Alvaro juga melirik kearahnya. Tiba-tiba ia merasakan atmosfer yang berbeda dan terasa sangat panas didalam mobil ini. Ia benar-benar ingin sampai kekontrakannya dengan segera.
"Jangan sungkan begitu, anggap saja mulai sekarang kita adalah teman." Alvaro tetap fokus dengan jalan didepannya.
"Baiklah." Rika tampak menepuk jidatnya sekali, ia lupa mengatakan alamatnya pada Alvaro.Pantas saja mobil yang ditumpanginya terasa melambat. Ia menatap sejenak kearah Alvaro dan mengatakan alamat rumahnya pada Alvaro dan diangguki oleh Alvaro. Kebetulan Alvaro juga bermaksud ingin menanyakan alamatnya.
Mobil yang ditumpanginya kembali melaju normal, namun hanya dalam waktu 5 menit mereka sudah sampai dikontrakan Rika.
Alvaro menatap tak percaya dengan pemandangan dihadapannya. Sebuah kontrakan sangat kecil menurutnya, dan juga lingkungan kurang sehat. Ia berdecak beberapa kali saat melihat Rika yang tampak biasa saja melihat pemandangan yang kurang bersih dan tampak terlihat gelap. Bahkan jalanan tampak dipenuhi dengan genangan air hujan juga sampah agak berserakan dimana-mana.
"Sudah berapa lama kamu tinggal disini?" tanyanya pada Rika yang sudah berdiri disamping mobilnya. Matanya tidak pernah lepas menatap kontrakan milik Rika yang tanpa penerangan.
"Baru beberapa hari, kebetulan disini ada tempat kosong. Yah, walaupun lingkungannya sedikit kumuh tapi didalam rumah masih terasa nyaman dan bersih," ucap Rika tersenyum tipis. Rika juga tidak menampik keinginannya yang menginginkan mengontrak ditempat yang lebih bagus dan lingkungan yang bersih. Tapi apa mau dikata, isi kantongnya hanya cukup untuk kontrakan seadanya saja. Syukur-syukur ia tidak tidur dijalanan seperti gelandangan.
"Oh iya, kalau kamu ingin pindah ketempat yang lebih baik, kamu bisa meminta bantuanku. Jangan sungkan, aku pasti akan membantumu. Lagi pula, tempat seperti ini sangat tidak baik untuk wanita sepertimu, rawan kejahatan."
Rika hanya mengangguk saja, ia menatap Alvaro dengan sendu dan itu tidak lepas dari penglihatan Alvaro.
"Jangan lupa hubungi aku, kalau terjadi sesuatu padamu. Ini kartu namaku." Alvaro menyerahkan kartu namanya pada Rika yang disambut Rika dengan anggukan.
"Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kamu masuk kedalam dan istirahat."
Rika menatap Alvaro yang menaikkan kaca mobilnya hingga tertutup penuh, sebelum itu ia sempatkan untuk melambaikan tangannya kearah Rika, yang dibalas Rika dengan anggukan kepala dan juga lambaian tangan.
Rika menatap kepergian mobil Alvaro didepan kontrakannya. Setelah mobil Alvaro menghilang, ia segera masuk kedalam rumahnya untuk segera membersihkan dirinya karena ia merasa kalau tubuhnya sudah terasa sangat lengket.
Setelah ia mengunci pintu, bergegas ia meraih handuk dan juga kimononya untuk segera menuju kearah kamar mandinya yang terletak diujung ruang dapur.
Selesai mandi, Rika mendudukkan dirinya didepan televisi sambil menatap kearah handphonenya. Ia benar-benar tidak tahu lagi bagaimana caranya menghubungi suaminya dan menceritakan kejadian yang menimpanya beberapa hari belakangan. Ia benar-benar merindukan Angga, dan rasanya ia juga sangat kesepian.
Rika tampak termenung saat melihat tidak ada satupun pesan ataupun panggilan dari suaminya. Namun ia tidak heran karena handphone milik Angga tidak pernah aktif lagi semenjak ia pergi dari rumah menuju ketempat temannya beberapa hari yang lalu. Rika benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mencari keberadaan suaminya.
***
Angga tampak geram setelah mendengar penuturan Asra mengenai hubungan Rika dan Alvaro. Taktiknya benar-benar sudah salah karena melepaskan mangsanya begitu saja sehingga memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mendekatinya dan terlebih lagi itu adalah rivalnya sendiri.
"Apa laporan yang kamu dapatkan itu tidak salah?" Angga berusaha meyakinkan apa yang didengarnya.
"Iya bos, semuanya akurat 100% bos, hubungan mereka hanya kenal begitu saja, itupun tidak disengaja sewaktu Rika mengalami insiden pingsan dijalan beberapa hari yang lalu," jelas Asra dengan yakin.
"Jadi benar apa yang dikatakannya waktu itu," gumam Angga didalam hatinya saat ia mengingat kepulangan Rika yang terlambat dari biasanya.
"Sudah berapa kali mereka pernah bertemu?" tanya Angga memastikan.
"Ini kali kedua bos dan itupun secara tidak sengaja. Dari gerak-geriknya sepertinya mereka kelihatan canggung bos. Apa bos tidak marah?" tanya Asra yang berusaha mencairkan suasana yang tampak mencekam.
"Sialan!" desis Angga yang mengingat keakraban mereka bahkan mereka terlihat seperti orang yang sedang pacaran. Canggung darimananya coba. Mana ada perempuan canggung seperti itu, selalu mengumbar senyum malu-malu seperti itu.
"Apa bos sedang cemburu? Siapa tahu bos, kalau hati bos sudah berpaling."
Angga melotot kearah Asra. "Keluar kamu!!" teriak Angga untuk mengusir Asra dengan mengibaskan tangannya. Ingin rasanya ia menyumpal mulut sialan asistennya yang sudah menyulut amarah dihatinya. Tidak mungkin ia mencintai Rika walaupun Rika berwajah bidadari. Walau bagaimanapun, ia akan tetap mempertahankan hatinya hanya untuk Helena, bukan untuk seorang pembunuh seperti Rika.
Asra tahu kalau ia sedang menyiram bara api dengan bensin. Ia menundukan kepalanya sesaat sebelum membalik badannya. Ia tahu kalau Angga perlu menenangkan dirinya sesaat. Saat sudah tiba didepan pintu, Asra kembali menoleh kearah Angga, disana Angga masih memperlihatkan kilat kebencian dimatanya. Ia benar-benar tidak bisa melupakan dendamnya.
Angga tampak memijat batang hidungnya beberapa kali, ia benar-benar tidak suka saat Alvaro membantu Rika baik itu mengantarnya pulang ataupun mengajaknya makan, terlebih lagi saat ia memperlakukan Rika dengan sangat baik dan juga akrab. Rika harus merasakan sakitnya dirinya yang masa remajanya telah direnggut dan hanya dihabiskan dengan belajar keras dan belajar keras tanpa mengenal pergaulan luar. Ia begitu sangat kesepian dan sendirian akibat ditinggal oleh orang yang paling dicintainya. Ia dianggap bak sebuah robot yang wajib menuruti semua perintah tuannya dan digembleng agar bisa mengelola perusahaan milik ayahnya tersebut. Ia benar-benar dendam pada Rika karena semua peristiwa silam yang kelam. Dia kehilangan masa remajanya dan dia kehilangan panutan dalam hidupnya.
Angga mengepalkan tangannya dengan sangat erat hingga kukunya melukai telapak tangannya, namun ia tidak dapat merasakan kepedihan lukanya sebelum luka tak kasat mata miliknya dapat terobati. Namun goresan kepahitan itu walau bagaimanapun tetap tak akan pernah pudar serta rasa sakit yang kembali berdenyut saat ia menatap senyum manis Rika yang sangat dibencinya.
Angga bergegas menuju kearah kamar mandi yang sudah di isi oleh pelayannya dengan air hangat. Ia ingin berendam sesaat untuk menghilangkan gurat kemarahan diwajahnya. Agar terasa rileks dan membuatnya bisa kembali menyusun Rencana untuk menghancurkan Rika.
•
•
•
**********
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karakter utama mleyot kayak gubug reot