Dia ada karena sebuah kesalahan, tapi kehadirannya tidak lantas untuk dipersalahkan.
Vallery Hamil di luar nikah saat umurnya masih 19 tahun dengan pria bule keturuanan Jawa-Rusia, yang umurnya terpaut cukup jauh dengannya. Hidupnya berubah setelah ia menikah dengan pria bule itu. Perubahan apa saja yang terjadi pada Vallery setelah menikah?
Yuk, baca selengkapnya hanya di aplikasi sini🤗🥰😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Fix, Gagal Resepsi
****
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Lingga kemudian bersiap-siap untuk pergi ke rumah Vallery. Ia perlu membahas rencana pembatalan resepsi pernikahan mereka dengan calon mertuanya. Sebenarnya, Dika juga meminta dirinya untuk datang ke rumah ibu mereka. Namun, Lingga menolaknya. Karena ia ingin membahas hal ini dengan calon mertuanya lebih dulu, sebelum ia membahas ini ke keluarganya.
Lingga meraih ponselnya dan menghubungi Vallery.
"Pengen makan apa?" tanya Lingga to the point.
Ia memang kurang suka berbasa-basi. Baginya time is money, dan ia tidak suka membuang waktu untuk berbasa-basi. Dia adalah seorang pengusaha yang baik.
Di seberang, Vallery langsung berdecak dan mengomel. "Assalamualaikum dulu dong, Mas," protesnya kemudian.
"Wa'allaikumsalam. Jadi mau makan apa?"
Vallery kembali berdecak. "Iiih, nyebelin. Aku udah makan."
"Nyemil kalau begitu."
"Apa ya?"
"Ya, terserah kamu, kamu mintanya apa," balas Lingga sambil menutup pintu gerbang, setelahnya ia masuk ke dalam mobil.
"Sekali-kali kalau mau beliin tuh nggak usah nanya, Mas. Inisiatif dong."?
"Demi kenyamanan bersama, Vallery. Nanti aku beliin tahunya kamu nggak suka, ya mending nanya dulu lah." Lingga mengapit ponselnya di antara pundak dan telinganya, "malu bertanya sesat di jalan, Vallery."
"Alasan."
"Buruan jawab atau aku ke rumah dengan tangan kosong?"
"Jangan dong! Ya udah, martabak."
"Yang manis apa asin?"
"Apa aja."
Klik. Secara sepihak Vallery menghentikan sambungan telfon. Lingga berdecak samar lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Setelahnya, ia mulai mengemudikan mobilnya menuju rumah Vallery, yang tentu saja mampir terlebih dahulu ke tukang jualan martabak sebelum ke rumah Vallery.
Karena tidak tahu harus memilih martabak manis atau asin, Lingga akhirnya memutuskan untuk membeli keduanya. Lupakan omelan yang akan didapatkannya nanti. Siapa yang peduli, salah sendiri tadi tidak bilang dengan jelas.
****
"Nih, pesanan kamu."
Lingga langsung meletakkan kantong plastik berisi martabak itu di atas meja, lalu duduk di salah satu sofa.
"Papa kamu mana?"
"Mandi. Baru nyampe tadi soalnya." Vallery dengan gesit membongkar isi kantong plastik itu. Tak lama setelahnya ia berdecak. "Kebiasaan kamu tuh ya, Mas. Nggak bisa hidup prihatin sedikit?" ia menatap Lingga datar, "harus banget belinya yang manis dan asin? Nggak bisa salah satunya?"
Tuh, kan! Seru Lingga dalam hati.
"Takut salah, mending beli keduanya. Salah kamu sendiri kenapa nggak pesen yang jelas."
"Oh, jadi salah aku?"
Lingga menatap Vallery datar. Tak berselang lama, ia kemudian menggeleng cepat. "Bukan. Aku yang salah."
"Nggak ikhlas banget ekspresinya."
Lingga mengabaikan kalimat Vallery yang barusan. "Gimana keadaan kamu?" tanyanya kemudian. Ia perlu mengalihkan pembicaraan dengan cepat, kalau tidak mau berakhir drama.
"Nggak gimana-gimana kok. Ya, hampir kayak menstruasi seperti yang dokter Randu bilang tadi, Mas." Vallery mengambil potongan martabak manis dan mengunyahnya dengan lahap, "tenang aja. Moodku juga udah membaik, Mas. Nggak kayak tadi siang."
Lingga meringis samar. Begini aja dibilang moodnya membaik, gimana kalau moodnya memburuk. Dalam hati ia bergidik ngeri membayangkannya.
Vallery menyodorkan potongan martabak manis bekas gigitannya kepada Lingga, "mau?" tawarnya kemudian.
Lingga menggeleng. "Enggak usah, kamu aja yang makan." Ia kemudian menepuk perutnya, "udah kenyang."
Vallery mangguk-mangguk paham. "Abis makan apa emang?"
"Salmon salad."
"Bikin sendiri?"
"Delivery."
"Oh, kirain bikin sendiri."
Lingga menggeleng sambil merogoh saku jaketnya, karena merasakan getaran dari dalam sana. "Kalau ada yang tinggal klik dan sampai di rumah, kenapa harus repot-repot bikin sendiri?"
Vallery mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Ya, siapa tahu biar lebih terjamin kesehatan atau apalah itu."
"Restoran healty food jelas menjamin kesehatan dan kebersihannya. Mereka juga sekarang menyediakan layanan pesan antar. Jadi, yang mau hidup sehat dan nggak mau ribet kayak aku sekarang gampang." Lingga menatap layar ponselnya, nama Dika yang tertera di sana. Ia kemudian segera bangkit berdiri, "bentar, aku angkat telfon dulu."
"Siapa?"
Lingga langsung menunjukkan layar ponselnya kepada Vallery. "Dika. Dia tadi minta aku ke rumah Ibu."
"Kenapa kamu ke sini kalau Mas Dika minta kamu ke rumah ibu?" Vallery beralih menatap Lingga heran.
"Soalnya aku mau ketemu Papa kamu dulu."
Vallery manggut-manggut lalu mempersilahkan Lingga untuk menjawab panggilan tersebut.
"Ya, kenapa, Ka?"
"Lo di mana, Mas?"
"Rumah Vallery."
"Anjir, lah. Lo serius mau batalin resepsi nikahan kalian?"
"Hm."
Terdengar suara decakan dari seberang. "Bukannya tadi lo bilang kalau kondisi Vallery nggak papa ya, Mas? Kenapa pake acara dibatalin sih? Enggak mubazir? Sayang loh, masalahnya semua udah siap. Undangan juga udah disebar. Bukannya nanti malah kayak ketahuan kalau Vallery-nya hamil duluan?"
Lingga diam. Apa yang diucapkan Dika ada benarnya. Kalau ada rumor menyebar tentang hal ini bagaimana? Kasian juga Vallery. Duh, apa yang harus Lingga lakukan sekarang?
"Mas! Lo dengerin gue enggak?"
"Denger."
Dika kembali berdecak. "Tahu lah, bodo amat. Serah kalian. Gue matiin."
Klik. Sambungan diputus secara sepihak. Lingga mengeram jengkel, ini kedua kalinya menelfon dan sambungan dipotong sepihak. Sungguh menyebalkan.
"Kenapa?" tanya Vallery heran, saat melihat Lingga kembali dengan wajah ditekuknya.
Lingga hanya menjawabnya dengan gelengan kepala lalu duduk di sofa. Tak lama setelahnya Gerald turun, cepat-cepat Lingga berdiri dan menjabat tangan Gerald.
"Malam, Om."
"Hm. Ngapain kamu ke sini?" tanya Gerald sambil menatap Lingga heran, "minggu depan kalian menikah. Jangan terlalu sering bertemu, kalau nggak mau berujung berantem. Godaan sebelum nikah banyak." Gerald kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Vallery yang tampak begitu menikmati martabaknya.
"Kamu yang minta dia ke sini?" tanya Gerald pada Vallery, tangannya menunjuk ke arah Lingga secara terang-terangan.
Vallery menggeleng dengan mulut penuhnya. Hal ini membuat Gerald tanpa sadar berdecak saat melihatnya. Saat ia pulang tadi, ia mendapati Vallery sedang makan macaron, dan sekarang sudah makan martabak.
"Belum kenyang kamu?"
"Udah."
Gerald menatap Vallery tidak paham. "Kenapa masih makan terus?"
"Enak," cengir Vallery dengan wajah polosnya.
Gerald hanya mampu menggelengkan kepala tidak percaya. Sedangkan Lingga hanya meringis.
"Udah, nanti perut kamu begah karena kekenyangan. Kasian bayi kalian," omel Gerald.
Dengan patuh Vallery mengembalikan potongan martabak itu kembali ke dalam kardus kecil itu. Ekspresinya terlihat sedikit menggemaskan menurut Lingga.
"Jadi, ada apa kamu ke sini?" tanya Gerald.
"Saya dan Vallery ada rencana mau batalin acara resepsi, Om."
"Kenapa begitu? Maksud kamu apa? Kamu sedang main-main dengan saya?" gertak Gerald dengan wajah emosinya, "kamu jangan bercanda! Acaranya tinggal minggu depan, undangan sudah disebar, semua persiapan siap, dan kamu berencana membatalkannya? Kamu minta kuhajar?"
"Papa tenang dulu dong!" sela Vallery, "biar Vallery jelasin."
Meski sebenarnya terlihat tidak sabar, Gerald pada akhirnya mengangguk setuju saat sang putri hendak menjelaskan sesuatu.
"Ada apa?"
"Hari ini Vallery sempet pendarahan."
"Apa?! Kok bisa? Kamu nggak hati-hati?"
"Pa, calm down please!"
Gerald berdecak. "Ya gimana Papa bisa tenang kalau denger putrinya yang sedang hamil mengalami pendarahan. Tentu saja Papa khawatir. Tapi kalian nggak papa kan?"
Vallery mengangguk. "Cuma kecapekan," ucapnya berbohong.
Lingga yang mendengarnya sampai melotot saking kagetnya. Ia menatap ke arah sang calon istri, yang hanya dibalas dengan kedipan sebelah mata.
"Udah ke dokter?"
"Udah, dokter yang ngurusin kehamilan aku temennya Mas Lingga, Pa. Jadi begitu tahu aku pendarahan, Mas Lingga langsung nelfon temennya."
"Kapan kamu tahu pendarahannya?"
"Tadi siang."
"Kenapa nggak telfon Papa?" Ekspresi kecewa terlihat pada wajah Gerald.
"Kan Vallery ada calon suami, kata Papa kalau ada apa-apa aku bisa minta tolong ke Mas Lingga daripada sendiri, soalnya aku sedang hamil anak Mas Lingga. Kan Papa sendiri yang bilang gitu."
Mendengar penjelasan sang putri, Vallery tidak bisa berkata apapun selain mengangguk. Ia berpikir sejenak lalu menoleh ke arah Lingga.
"Berarti mulai sekarang kalau ada apa-apa sama Vallery, kamu yang kasih tahu Papa, Lingga. Saya minta kamu benar-benar menjaga putriku dengan baik. Dia akan mengorbankan masa mudanya hanya untuk mengandung anakmu dan menjadi istrimu. Papa harap kamu sadar diri untuk tidak menyakitinya nanti. Mengerti!"
"Iya, Om, mengerti."
Gerald mangguk-mangguk percaya. "Ya sudah kalau memang kondisi tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan resepsi. Papa setuju acara resepsi dibatalkan."
"Baik, Om. Terima kasih."
Gerald mengangguk tidak masalah. "Kamu bisa temui keluargamu sekarang. Mereka kan yang mengurus persiapan pernikahan kalian?"
Lingga mengangguk, membenarkan.
"Ya, sudah, kamu bisa pulang. Biar Vallery juga istirahat."
"Baik, Om, kalau gitu saya pamit." Lingga kemudian langsung berdiri dan menjabat tangan Gerald.
"Hm. Hati-hati."
Tbc,