Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika nasib nahas akan menimpa dirinya. Setelah sang ibu mengalami kecelakaan dan koma, Melati harus mau menikah dengan seorang pria dan menjadi yang kedua.
Dan lebih parahnya lagi dia harus merelakan anak yang di kandungnya sebagai syarat terwujudnya sebuah perjanjian. Namun seiring berjalannya dengan waktu, rasa cinta hadir diantara mereka dan membuat pria tersebut di landa kegalauan dalam hatinya. Siapakah yang akan di pilih oleh pria tersebut, istri pertama atau istri keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Shally, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Menguras Hati
"Mas, ayo bangun!! Ini sudah pagi. Melati juga harus bekerja lho. Nanti telat," seru Melati dengan mencoba menggoyangkan tubuh Arka yang tertutup selimut sebatas pinggang itu. Memperlihatkan otot perut yang kotak-kotak seperti roti sobek kesukaannya.
Ada rasa malu dan aneh ketika melihat Arka setengah telanjang, padahal ini bukan pertama kalinya dia melihat Arka seperti itu. Tapi tetep saja ada yang berdebar di dalam sana. Ditambah suasana yang berbeda membuat semakin, entahlah. Bahkan hatinya tak bisa mengungkapkan itu semua. Semua rasa tertuang ke dalamnya.
Arka hanya melenguh, masih enggan membuka matanya. Dia malas dan masih ingin honeymoon bersama Melati dan melupakan sejenak masalah pekerjaan. Dia ingin menikmatinya karena kapan lagi bisa berduaan dengan Melati di hotel seperti ini.
"Mas, ayo bangun!!" seru Melati lagi. Melati sendiri sudah heboh dari tadi pagi. Dia sudah membersihkan diri dari jejak-jejak perbuatan Arka tadi malam. Dia berencana akan bekerja hari ini, namun masih bingung Arka yang tak mau bangun sedari tadi.
"Mas, Melati harus kerja. Nanti telat loh."
Melati mendekat dan mencondongkan wajahnya pada ke wajah Arka, menepuk pipinya perlahan agar segera membuka mata. Namun sialnya bukan mata Arka yang terbuka, tapi tangan Arka yang terbuka dan segera memeluk Melati dalam dekapannya. Sedetik kemudian segera menggulingkan Melati di ranjang kembali serta mengungkungnya dengan kedua tangannya . Tentu saja Melati memekik terkejut atas ulah Arka. Dia memukul dada Arka agar segera turun dari tubuhnya.
"Kamu jangan aneh-aneh ya mas? sudah cukup kamu nakal tadi malam. Aku capek harus melayani kamu lagi," rengek Melati.
"Kamu mau dikutuk Malaikat Melati karena berani menolak permintaan suamimu?"
"Kan tadi malam sudah, Mas. Biarkan aku istirahat sebentar," pinta Melati dengan wajah memelas. Entah terbuat dari apa tubuh suaminya tersebut hingga tak kenal kata lelah. Sedangkan tadi malam dia hanya bisa pasrah karena sudah tak berdaya dan kalah.
Arka yang masih di selimuti hasrat hanya tersenyum melihat Melati yang tak berdaya dalam kungkungannya. Ada keinginan untuk menjamahnya kembali, namun di urungkan karena melihat Melati ya memelas seperti itu. Sehingga dia hanya ingin menggoda Melati saja.
"Mas, lepas!!" Melati mencoba memberontak. Namun Arka tiada bergerak. Dia masih menatap lekat pada wajah Melati.
Melati yang ditatap seperti itu hanya bisa membuang muka seraya menahan senyumnya. Hingga semburat merah muncul di pipinya.
Arka mendekatkan wajahnya ke wajah Melati, ingin menikmati bibirnya lagi sebelum dia membersihkan diri. Namun baru saja bibirnya akan bersentuhan dengan bibir Melati, ponselnya berbunyi.
Secara bersamaan mereka menoleh pada ponsel yang tergeletak di atas nakas itu.
"Angkat, Mas. Siapa tau penting." pinta Melati.
Arka mengangguk, kemudian ia bangkit dari tubuh Melati dan gegas menuju nakas. Di lihatnya nama Annisa di layar ponselnya.
"Annisa!!" seru Arka seraya memperlihatkan ponselnya pada Melati. Meskipun Melati mengangguk dan tersenyum, tapi Arka bisa lihat sorot mata tak rela dari mata Melati.
Melati berniat keluar ke balkon karena tak ingin mengganggu Arka yang ingin melepas rindu dengan Annisa. Namun genggaman tangan Arka membuatnya tak bisa kemana-mana. Dia mencoba memperlihatkan senyumnya, namun tak bisa karena ada rasa tak rela di sana.
Arka duduk di sisi ranjang yang di ikuti Melati. Kemudian menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Annisa.
\["Selamat pagi mas Arka!!"\] ucap Annisa yang nampak sekali ceria di seberang sana.
Arka tersenyum. Dan itu membuat Melati menyadari sesuatu bahwa istri pertama pastilah lebih berharga. Ya, dia menyadari itu. Namun mau bagaimana lagi jika hatinya tak mampu berpaling dari Arka, malah semakin dalam mencintainya.
\["Selamat pagi, Sayang. Bagaimana kabarmu?"\]
\["Baik, Mas. Mas Arka sendiri bagaimana? Apa nggak kangen sama aku?"\]
Arka sendiri menoleh pada Melati karena merasakan remasan di tangan kirinya. Terlihat Melati sedang menunduk seperti menahan sesuatu, hingga dia mengabaikan pertanyaan dari Annisa.
\["Mas!! Mas kog diem sih? Apa Mas Arka nggak kangen sama aku?"\]
\["Sangat, Sayang. Jika bisa, aku ingin terbang sekarang juga ke sana dan memelukmu karena rasa rinduku,"\]
Terdengar Annisa tergelak di sana, membuat Melati ikut tersenyum merasakan kebahagiaanya. Meskipun Melati sangat cemburu, namun dia menyadari jika posisinya salah. Dan tak seharusnya dia berada di posisinya sekarang.
\["Gombal banget sih suamiku ini? Jadi makin rindu aku. Mas sudah sarapan?"\]
\["Belum, sebentar lagi. Kamu sudah sarapan? Masak apa hari ini?"\]
\["Aku nggak masak, Mas. Mas Arka kan luar kota, jadi aku makan ala kadarnya saja."\]
\["Eh, mana bisa begitu? Kamu harus makan makanan yang bergizi dan jangan sampai telat makan, nanti perutnya sakit lagi. Aku nggak mau kamu sakit lagi, Sayang"\]
Melati mencoba menulikan pendengarannya. Karena semakin mendengar obrolan mereka, semakin perasaan bersalah menggelayutinya hingga dia merasakan sesak di dadanya. Keluarga yang bahagia, akankah hancur jika istri pertama mengetahui keberadaannya? Dan apakah pernikahan mereka akan berlanjut atau sebaliknya? Pertanyaan seperti itu selalu membuat dadanya ingin meledak memikirkannya.
Melati melepaskan tautan tangannya dan segera melangkah menuju balkon. Menghirup udara sebanyak-banyaknya agar rasa sesak di dadanya segera terhempas. Dia harus menerima nasibnya menjadi yang kedua. Karena yang kedua sampai kapanpun tak akan pernah bisa menggantikan yang pertama.
Melati memejamkan matanya menikmati udara pagi yang menyapa kulitnya. Mencoba menghilangkan suara-suara romansa antara Arka dan Annisa. Dia tak ingin terlalu larut dalam lara yang membuat dirinya semakin tersiksa. Karena itu dia mencoba ikhlas dan menerima.
Di rasakan tangan kekar perlahan menyusuri perutnya dan melingkar di sana. Dekapan hangat menjalar menyusup, dan hembusan nafas menyapa tengkuk lehernya. Membuatnya tersenyum tipis atas perlakuan manis yang Arka berikan padanya namun membuat hatinya sedikit miris.
"Kenapa kamu keluar? Apa kamu tidak merasakan panas matahari menerpa kulitmu?"
'Lebih panas mendengarmu bercanda dengan Annisa, mas. Daripada panas matahari pagi ini.'
Melati hanya menggeleng lemah. Masih menatap matahari pagi yang mengguyurnya dengan kehangatan sinarnya.
Tangan Arka berada di pundaknya, kemudian dengan perlahan membalik tubuh Melati untuk menatap wajah tampan Arka yang memporak porandakan hatinya tersebut. Jika saja kecelakaan tak pernah menimpa ibunya, sudah di pastikan dia tak akan pernah menjadi istri Arka dan menjadi yang kedua. Takdir memang kejam memperlakukan dirinya, namun dia harus menjalaninya dengan lapang dada. Bahkan untuk berlari pun Melati tak mampu menggerakkan kakinya.
"Kenapa kamu diam? Hemm?!" Tangan Arka terangkat, kemudian menyugar rambut Melati yang menerpa wajahnya, hingga membuat Wajah Melati tertutup dengan rambut panjangnya.
Melati mendongak dan menatap Arka. Dia menggeleng dan tersenyum manis membalas ucapan Arka.
"Apa kamu marah, Melati?" tanya Arka lagi yang tiada mendapat jawaban dari bibir Melati. Arka gamang, Arka takut jika Melati menjauhinya dan meninggalkannya. Karena tak bisa di pungkiri jika Arka sudah menyimpan rasa sayang untuk Melati di hatinya.
Melati masih menggelengkan kepalanya. "Kenapa harus marah, mas?"
"Siapa tau kamu cemburu, sayang."
"Katakan, istri mana yang tak cemburu jika melihat suaminya berteleponan ria dengan wanita lain meskipun itu dengan istri pertamanya." Melati tersenyum getir,
Arka segera menarik tangan Melati, mendekapnya penuh dengan perasaan sayang. Walau tak di pungkiri hatinya seketika bimbang ketika menghadapi kisah rumit percintaan mereka yang tak tau akan berujung ke mana.
Sedangkan di bumi lainnya, Tia dengan bingungnya mengeluarkan gaun terbaiknya dari lemari. Memilah-milah dan menempelkan pada tubuhnya seraya menatap kaca.
Dia berdecak kesal karena tiada gaun yang bagus untuknya, sehingga membuatnya ingin berteriak meluapkan kekesalannya. Dia berniat menghubungi Melati tapi dia baru ingat jika mereka masih berada di hotel.
Ting
Ponselnya berdenting. Dengan segera dia mengambil ponselnya dan membaca pesan itu dari siapa. Matanya seketika melebar sempurna ketika membaca pesan dari Irawan yang mengatakan dia sudah berada di depan kosan.
Dengan secepat kilat dia meraih gaun yang berada di depannya dan segera memakainya. Dia tak ingin Irawan sampai marah karena terlalu lama menunggunya.
Rambut yang sudah di sisir kembali berantakan, sehingga membuatnya ingin berteriak sekarang juga. Tak lupa dia memakai bedak dan lipstik ala kadarnya karena tak sempat memolesnya. Setelah di rasa cantik, dia segera keluar dari kosan dengan menenteng heelsnya.
Tok..tok..tok..
Irawan membuka kunci mobilnya, dan betapa terkejutnya melihat Tia yang masuk ke dalam mobilnya dengan dandanan seperti itu. Bahkan dia sampai tak bisa memalingkan wajahnya karena masih menatap wajah Tia.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Cantik ya?" tanya Melati seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya. Senyumnya pun di pasangan secantik mungkin.
Irawan terbahak melihatnya. "Cantik dari mana? Ondel-ondel pun kalah cantik dari kamu, Tia. Kamu punya kaca nggak sih di rumah? Ngaca lah jika mau keluar rumah biar nggak malu-maluin yang ngajak kamu keluar. Heran!! Masih ada ya wanita jelek seperti dirimu?"
Tia mendengus kesal. Bahkan pengorbanannya selama pagi tadi tak di hargai oleh Irawan. Dengan kesal dia menghentakkan kakinya dan membuka pintunya. Dia berniat untuk keluar dari mobil Irawan saat itu juga seandainya tangan Irawan tak menghalangi niatnya.
"Kamu mau kemana?"
"Pergi lah, gila kali aku mau jalan sama pria kayak kamu. Dasar dokter cabul!!"
Mata Irawan kembali melebar, tak terima dengan ucapan yang Tia lontarkan. Dengan keras Irawan menarik lengan Tia sehingga dia terduduk di kursi. Kemudian segera menarik sabuk pengaman dan memasangkan untuk Tia.
Irawan tersenyum smirk, kemudian segera menekan gas mobilnya hingga dengan cepat melesat bagaikan kilat.
"Aaaakh!!! Ampun, dokter. Aaakhhh!!!"
mf authooorr....lo sy blg trburuk yg su bkin z kecewa bc crita author.
krna dsni tokoh utama yg trtindas mpe su brjuang ksh anak tp msh kalah sm perem mandul😏🙄😠😠
su mandul tp g tau diri jg msh mo kuasai lakix, bner" perem g brguna.
sumpah.....sy bner" rasa rugi bc crita ni biar sy bc jg lompat" , endingx bkin emosi