SQUEL TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Kisah tentang ketulusan ....
Dan sungguh setelah kesulitan terdapat kemudahan.
Sebuah peristiwa nahas mempertemukan dua sosok terpaut usia 20 tahun.
Keduanya patah hati dan merana sebab kehilangan orang tercinta. Hingga kekosongan itu saling melengkapi ...
Kebersamaan perlahan menumbuhkan benih-benih cinta itu ...
Rasa yang sekian lama seolah mati, kini memiliki tempat berlabuh.
Mampu kah hubungan itu mudah ditempuh?
"Setiap melihatmu aku seakan sedang melihat Dia ... Dan darimu aku kembali tau ada ekspresi wajah bernama senyum dan ada sebuah rasa bersama bahagia ...." (Dimas)
"Siapa sebetulnya pemilih wajah ini? Apakah ia begitu berarti untuk Om?" (Shofie)
Selain kisah kedua tokoh di atas, kisah anak-anak Dimas juga akan ditampilkan di sini❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU RAIHAN
Siang itu begitu teduh, tampak iringan awan menutup sang mentari hingga terik itu tak mampu menerobos pori.
Dua insan tampak duduk bersimpuh di sisi sebuah gundukan kotak dengan nisan keramik di atasnya. Rumput-rumput tampak tersusun rapi dengan pohon kamboja tak jauh dari raga mereka berpijak membuat hembusan angin terus memaksa bersapa kulit, nyaman dan damai.
Rangkaian mawar putih di letakkan di atas nisan itu. Dimas sang pria tampak teduh menatap gundukan berisi orang tercinta yang telah tenang dalam peristirahatannya. Dua telapak tangan diangkat, untaian doa dipanjatkan. Shofi yang berada di sisi Dimas terus mengaminkan doa yang terlontar. Hening dan Syahdu.
Hingga jemari itu dengan lembut terus menyapu nisan dan gundukan itu setelahnya, Dimas bergeming ... ia bercengkrama dengan wanita tercintanya dengan bahasa kalbunya, melontarkan rasa cinta, berdo'a, bercerita tentang anak-anak, juga bercerita bahwa ada sosok baru dalam hidupnya. Mata itu terpejam saat kata maaf itu terucap. Ya, memasukkan wanita lain tak pernah terfikir oleh Dimas sebelumnya, namun nyatanya kini ia mantap atas keputusan itu.
Di sisi Dimas, Netra Shofi tak melepas aktivitas pujaan hatinya tersebut. Ada desir aneh menyelimuti ... seperti rasa cemburu dan takut kehilangan. Shofi buang angan itu seketika saat ia sadar wanita yang dicemburuinya nyatanya sudah tak bergerak dan telah tenang. Ia tersenyum getir. Ia memilih turut berkomunikasi dalam diam pula setelahnya, memperkenalkan diri, memohon maaf telah lancang ingin memiliki hati itu dan meminta restu akan hubungan yang sedang ia jalani. Shofi terlarut, tatapan itu belum terlepas dari gundukan yang menyelimuti raga pujaan hati kekasihnya hingga sebuah genggaman tiba-tiba ia rasakan mengunci jemarinya. Ia menoleh dan senyum menenangkan itu tertangkap netranya. Ia ikut tersenyum.
"Sudah selesai?" terdengar lembut kalimat itu. Shofi mengangguk. Mereka pun berdiri setelahnya, melewati gundukan demi gundukan mengarah pada makan sang putri kecil yang berada pada satu komplek pemakaman itu pula namun berbeda blok.
Di kejauhan tampak seorang pria dengan seorang bocah kecil duduk bersimpuh di sisi gundukan yang akan mereka sambangi. Netra itu membulat dan genggaman itu erat ia kunci pada jemari Dimas. Ya, Shofi melihat sosok masa lalunya lagi di sana.
"Ada apa?" Shofi menggeleng.
"Lain kali saja kita ke makam Zidna, Mas!" utar Shofi seketika membuat Dimas bingung, di tatapnya makam Zidna beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Sosok seorang lelaki dan anak kecil tertangkap netra Dimas yang membuat berbagai asumsi muncul di otaknya. Ya ... Dimas heran mengapa Shofi ingin menghindari sosok-sosok tersebut.
"Siapa dia? Kenapa kamu menghindarinya?" tanya Dimas menahan jemari Shofi yang baru saja hendak berbalik.
Bibir itu masih terkunci dan otak itu terus berfikir, ya Shofi memang belum pernah membuka cerita pada Dimas tentang pria itu, tapi ia sadar Dimas berhak tau semua tetang hidupnya.
"Seseorang dalam masa laluku, Mas."
"Jangan berbalik, kita hadapi!"
"A-ku belum siap! Setaunya aku sudah meninggal!" lirih shofi.
"Jangan mundur! Kamu lupa ia tidak akan mengenalimu! Kita akan tetap bertemu Zidna!" Shofi berfikir beberapa saat dan teringat wajahnya kini tak lagi sama, ia membenarkan ucapan Dimas dan mereka melanjutkan langkah setelahnya.
"Boleh kutahu siapa lelaki itu?" Dimas melontar tanya disela langkah mereka.
"Namanya Raihan, Mas! Kami dulu pernah dekat!" lirih Shofi. Dimas menoleh, ia kaget dengan hal yang baru saja ia dengar.
"Nanti aku ceritakan tentang dia!" Dimas masih menatap Shofi, ia mengangguk setelahnya.
"Satu tanya lagi ... mengapa ia bersama seorang anak, siapa anak itu?" Rasa penasaran tampak menguasai Dimas hingga sebuah tanya terlontar lagi.
"Itu anaknya, istrinya sudah meninggal!"
"Oh." Dan jawaban Shofi menenangkannya. Pernyataan bahwa pria itu sudah berumah tangga dan anak itu adalah buah dari perkawinannya melegakan Dimas yang awalnya berprasangka bahwa anak itu mungkin memiliki sangkutpaut dengan Shofi, namun dugaannya salah.
Tak berselang lama, gundukan kecil dengan nisan bertulis Zidna Khairana Maliki berada tepat di hadapan mereka, keduanya berhenti. Dimas bersimpuh dan menarik lembut jemari Shofi untuk bersimpuh pula.
Raihan yang sedang memanjatkan doa kaget, wajahnya terangkat, ia menatap dua wajah itu bergantian. Raihan merasa asing dengan dua sosok yang berziarah di makam mendiang putri Shofi. Ia yang pernah hidup bersama Shofi merasa Shofi tak pernah memiliki teman atau kerabat dengan wajah-wajah itu.
"Kalian siapa?" lontar Raihan seketika. Shofi memilih menunduk, rasa cemas masih menguasai.
"Kenalkan aku Dimas, ini pasanganku. Ka-mi salah satu pasien dokter Shofi," lugas Dimas ditanggapi dengan senyuman Raihan.
"Ma-af karena wajah kalian asing!"
"Boleh tau anda sendiri siapa?" Dimas tak membuang waktu melihat raut bersahabat di hadapannya.
"Saya mantan suami dokter Shofi!" Dimas lagi-lagi terhenyak, ia menatap Shofi yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Ohh." decak Dimas tampak banyak tanya di otaknya dan merasa butuh penjelasan dari Shofi. Shofi bergeming.
Raihan dan Putrinya berpamit undur diri lebih dulu karena lantunan doa mereka telah selesai. Dimas tersenyum dan mengangguk. Dimas memimpin doa setelahnya untuk mendoakan Zidna, raut kepiluan tergambar jelas di wajah Shofi, ia terdiam dan bermonolog dalam hati hingga satu persatu bulir itu lolos dari matanya. Dimas meraih bahu itu dan merangkulnya. Tak ingin Shofi merasakan pedihnya sendiri.
Sebelum pulang mereka mampir ke peristirahatan Karin. Seperti sebelumnya, lantunan doa mereka panjatkan di sana, luapan maaf dan janji akan segera membuka kebenaran Shofi ucapkan. Air mata lagi-lagi membasahi wajah mulus itu. Hingga setelah beberapa saat Dimas mengajak Shofi beranjak. Mereka menuju mobil.
"Mau cerita tentang Raihan?" Daripada otaknya semakin kacau dipenuhi asumsi yang belum tentu benar, Dimas melontar tanya saat mobil itu mulai menjauh dari area makam.
"Ia suamiku sebelum bersama mas Syafiq."
"Jadi perkataan pria itu benar. Apa selain dia dan syafiq ada lagi sosok lain?" Dimas menghentikan laju terios di tepi sebuah perkebunan.
"Tidak."
"Tatap aku Shof! Seperti halnya aku menceritakan kisah ibu Mayra juga Lyra yang pernah hadir dalam hidupku, aku ingin kamu tidak menutupi kisahmu pula. Bukankah kita sedang menjalani hubungan baik, hem?" Shofi mengangguk.
"Ma-af ... Sama halnya bersama mas Syafiq, pernikahanku bersama mas Raihan juga hanya sebatas agama, ia menceraikan dan meninggalkanku pindah ke Amerika. Beberapa tahun setelahnya kami bertemu dan dia telah memiliki anak itu, mereka nyatanya telah bersama saat hubungan kami masih berjalan, menurut mas Raihan ia dijebak dan terpaksa berpisah dariku. Entahlah ...!" Dimas bergeming menanggapi cerita Shofi.
"Bagaimana hubungan kalian setelah ia kembali?" Bibir itu terus bertanya hal yang menelisik otaknya.
"Ternyata ia menjadi Direktur di Rumah Sakitku bekerja. Kami berteman."
"Hanya teman?"
"Mas cemburu?" Mata itu menatap dalam netra Shofi.
"Aku seorang pria tua Shof! Maklumi jika aku khawatir kamu berpaling, terlebih pria masa lalumu masih muda, bukan pria sembarangan dan tak berstatus menikah pula!" Shofi tersenyum getir. Ia menatap lekat Dimas setelahnya.
"Untukku ketulusan Mas menutupi segala yang mereka miliki!" Sepasang jemari Shofi sudah berada di bahu Dimas, ia mengangkat tubuh dan mendekatkan bibirnya pada kening pria matang yang masih tampak tampan di usianya. Cup.
"Itu untuk ketulusan Mas! Terima kasih telah membuka hati Mas untukku!" Dimas menggeleng-geleng dan terus tersenyum.
"Terbalik, Sayang! Aku yang harusnya berucap itu, terima kasih sudah membuka hatimu untukku!" Dimas tersenyum.
"Kita belum sholat zuhur, Mas! Dua ratus meter dari sini ada masjid, kita ke sana saja!"
"Kita sholat di Vila saja!"
"Kita ke Vila?"
"Iya, kita makan siang di sana dan beristirahat, sore nanti kita ke rumah Kiran!"
"Dan menemui Di-a?"
"Kita tidak bisa tiba-tiba mengajak bertemu dan mengatakan kamu masih hidup. Aku akan coba berbincang perlahan nanti. Untuk kapan bertemu, kita perlu melihat waktu senggang Syafiq pula!" Shofi mengangguk.
"Sepertinya kamu sudah tak sabar bebas, hem?" Alis itu terangkat menggoda Shofi.
"Mas ... ishh ...!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
⛅Happy reading😘
⛅Jangan kendor komennya yaa😄😄❤❤
makanya jadi orang jgn lemah gitu