NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

BAB 20: BANDUNG, KOTA ASING

"Dulu aku mengira kota ini tempat berlibur, tempat udara sejuk dan kenangan manis. Tapi malam ini, di bawah kabut tebal dan langit gelap, Bandung berubah menjadi tanah asing. Kota di mana aku bukan lagi penduduk, melainkan orang asing yang masuk ke wilayah musuh, di mana setiap sudut menyimpan bahaya, dan setiap jalan mengarah ke jebakan."

Arka melangkah perlahan di samping Daniel Sihombing, menyusuri jalan setapak yang basah dan berlumpur di pinggiran kawasan elit Dago Atas. Sepatu kulitnya yang mengkilap kini kotor terciprat tanah, sama seperti hatinya yang dulu bersih dan polos kini ternoda oleh ribuan kebohongan yang terungkap satu per satu. Di sekeliling mereka, pepohonan tinggi menjulang rapat, membentuk terowongan alami yang gelap dan sunyi, seolah kota ini sengaja menutup mata dan telinganya terhadap apa yang terjadi di balik pagar-pagar tinggi itu.

Bandung.

Kota ini bukanlah kota baru bagi Arka. Beberapa kali ia dan Elena datang ke sini untuk berlibur, menikmati udara sejuk, makan makanan enak, berjalan-jalan di pusat kota, dan mengisi album foto dengan senyum-senyum bahagia. Dulu, bagi Arka, Bandung adalah kota romantis. Kota kenangan. Kota tempat ia merasa memiliki segalanya.

Tapi malam ini, semuanya berubah.

Langkah demi langkah yang ia ambil di tanah Bandung ini terasa berat dan canggung. Udara yang dulu ia anggap segar dan menyejukkan dada, malam ini terasa dingin menusuk sampai ke tulang, membawa bau yang tak bisa dijelaskan—bau rahasia, bau dosa, bau sesuatu yang busuk disembunyikan di bawah kemewahan.

Bandung, kota yang dulu ia kenal penuh kehangatan, kini berubah menjadi kota asing.

"Pak Daniel..." bisik Arka, suaranya bergetar menahan rasa asing yang memenuhi dadanya. "Aku merasa seperti berada di negeri orang. Padahal aku pernah berjalan-jalan di sini berjam-jam bersamanya. Aku tahu jalan ini. Aku tahu tikungan itu. Aku tahu rumah-rumah besar ini. Tapi malam ini... semuanya terlihat berbeda. Seolah kota ini punya dua wajah: satu yang ramah untuk orang luar, dan satu lagi yang gelap dan berbahaya bagi mereka yang tahu kebenaran."

Daniel melirik sekilas ke arah Arka, matanya tetap waspada mengawasi sekeliling. Ia mengerti betul apa yang dirasakan pria di sampingnya itu. Perasaan itu adalah perasaan terasing yang paling menyakitkan: merasa asing di tempat yang seharusnya paling akrab.

"Kota ini seperti orang, Pak Arka," jawab Daniel pelan. "Banyak wajah, banyak sisi. Di siang hari, Bandung manis, indah, dan terbuka. Tapi saat malam turun, dan kabut datang... sisi lain dari kota ini muncul. Sisi di mana orang-orang kaya bersembunyi, di mana rahasia-rahasia besar dikunci rapat di balik tembok tinggi, di mana hukum sering kali tunduk pada uang dan kekuasaan."

Detektif itu menunjuk ke arah vila Adrian yang atapnya sesekali terlihat mengintip di sela-sela dahan pohon.

"Dan bagi mereka, Bandung adalah markas. Rumah asli. Tempat di mana mereka tidak perlu berpura-pura. Di Jakarta, mereka menyamar sebagai warga biasa. Tapi di sini... di sini mereka adalah raja dan ratu. Kota ini sudah lama menjadi saksi bisu segala perbuatan mereka. Kota ini diam karena dia dibungkam oleh kekayaan mereka."

Arka mengangguk pelan. Ia teringat perjalanan-perjalanan liburan mereka dulu.

Setiap kali datang ke Bandung, Elena selalu bertindak aneh. Wanita itu selalu meminta menginap di hotel biasa di pusat kota, menolak menginap di vila teman atau kerabat yang mungkin dimilikinya. Dia selalu berjalan dengan kepala tertunduk sedikit, selalu berbicara pelan, selalu memakai topi atau kacamata hitam meski cuaca mendung.

Dulu Arka mengira itu sifat pemalu istrinya. Dulu ia mengira Elena tidak suka menarik perhatian orang.

Tapi sekarang... Arka paham alasannya.

Elena tidak pemalu. Dia ketakutan.

Dia takut ada yang mengenali wajah aslinya. Dia takut ada bekas karyawan keluarga Wijaya yang masih ingat wajah Claire Nathania. Dia takut ada tetangga lama yang masih tahu cerita sebenarnya. Dia takut Bandung, karena Bandung adalah kota yang tahu masa lalunya. Kota yang tahu siapa dia sebelum menjadi istri Arka. Kota yang tahu bahwa wanita cantik dan lembut itu dulunya hanyalah anak angkat yang menderita, atau lebih buruk lagi... pembunuh yang bersembunyi.

"Pernah sekali kami makan di restoran kecil di daerah Lembang," kenang Arka, suaranya lirih dan pahit. "Ada seorang bapak tua yang lewat di dekat meja kami. Dia menatap Elena agak lama. Wajah Elena langsung pucat pasi. Dia langsung menarik tanganku, memaksa kami pergi buru-buru, bilang dia tiba-tiba sakit perut. Aku heran waktu itu. Tapi sekarang aku tahu... bapak tua itu mungkin mantan sopir ayahnya. Atau tukang kebun. Atau tetangga lama. Dia hampir ketahuan malam itu. Dia hampir terbongkar penyamarannya hanya karena satu tatapan orang tua."

Arka menggelengkan kepalanya. Rasa asing itu makin kuat mencengkeram dadanya.

"Bandung bukan kota liburan bagi kami, Pak Daniel. Bandung adalah medan ranjau baginya. Setiap kali dia melangkahkan kaki di sini, dia harus lebih waspada, lebih hati-hati, lebih pandai mengontrol ekspresi wajah. Di Jakarta dia bisa santai berakting. Di sini... di sini dia berjalan di atas pisau setiap detiknya."

"Dan itulah sebabnya dia sangat benci sekaligus sangat butuh kota ini," tambah Daniel. "Di sini ada Adrian. Di sini ada kekuasaannya. Di sini dia bisa melepas topengnya dan menjadi dirinya sendiri. Tapi di sini juga ada bahaya terbesar: kenangan masa lalu, orang-orang yang tahu kebenaran, dan jejak-jejak yang belum sempat dihapus sampai habis."

Angin kembali berhembus kencang, menggulung kabut makin tebal hingga jarak pandang mereka tak lebih dari sepuluh meter. Jalanan berkelok itu kini benar-benar sepi. Tak ada kendaraan lewat, tak ada suara manusia, hanya suara angin yang berbisik di antara pepohonan.

Bagi Arka, suasana ini persis seperti hatinya sendiri. Sepi, dingin, dan penuh ketidakpastian.

Ia melihat ke sekeliling bangunan-bangunan besar yang tersembunyi di balik pagar dan tanaman rambat. Setiap rumah terlihat sama: megah, sunyi, dan tertutup. Di balik dinding bata merah dan kaca berwarna itu, berapa banyak lagi rahasia yang tersimpan? Berapa banyak lagi pasangan seperti Adrian dan Claire yang hidup di atas kebohongan dan kejahatan? Berapa banyak lagi orang asing seperti dirinya yang masuk ke kota ini tanpa tahu bahwa mereka sedang berjalan ke mulut neraka?

"Kita hampir sampai, Pak Arka," suara Daniel memecah lamunannya, menunjuk ke sebuah gerbang besi besar yang kini hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari tempat mereka bersembunyi. "Itu gerbang samping vila Adrian. Kurang dijaga, tapi pagar tingginya sama saja."

Arka menatap gerbang itu. Di baliknya, di dalam sana, kota Bandung yang asing itu menyimpan inti dari semua masalahnya. Di dalam sana, wanita yang dicintainya sedang duduk bersandar pada pria yang menghancurkan hidupnya. Di dalam sana, kebenaran dan kebohongan bercampur aduk menjadi satu hal yang mengerikan.

Arka menarik napas panjang, menghirup udara dingin Bandung yang menusuk paru-paru. Ia mencoba mencari rasa akrab, mencoba mencari sisa kenangan manis yang dulu pernah ia bangun di kota ini. Tapi tak ada lagi yang tersisa. Semuanya telah dikikis habis oleh kenyataan pahit.

Bandung bukan lagi kota tempat kenangan indah.

Bandung adalah kota tempat topeng akan dibuka.

Bandung adalah kota tempat semua rahasia harus diungkapkan.

Bandung adalah kota asing yang kini menjadi saksi perjuangannya.

"Masuklah, Pak Arka," bisik Daniel, mulai bergerak perlahan mendekati pagar samping yang tertutup semak belukar rapat. "Malam ini, kita akan membuat kota ini bicara. Kita akan membuat dinding-dinding ini mendengar kebenaran. Dan kita akan pastikan, bahwa setelah malam ini berlalu... tidak ada lagi rahasia yang bisa disembunyikan di sini. Tidak ada lagi tempat aman bagi mereka yang hidup dalam dosa."

Arka mengikuti di belakang detektif itu, langkahnya mantap dan tegas. Sepatu kotornya menginjak tanah Bandung yang basah dan gelap.

Di dalam sana, di balik kemewahan dan cahaya lampu hangat, mereka berpikir mereka berkuasa penuh di kota ini. Mereka berpikir Bandung milik mereka.

Tapi malam ini, Arka datang sebagai tamu tak diundang.

Dan dia akan mengubah sejarah kota ini.

Mengubah kota asing ini menjadi tempat pembalasan keadilan.

Karena baginya, kota ini tidak akan pernah asing lagi.

Setelah malam ini, Bandung akan selamanya menjadi kota yang mengingatkannya pada satu hal:

Bahwa kejahatan boleh bersembunyi di balik tembok tinggi dan kabut tebal... tapi kebenaran akan selalu menemukan jalan masuk.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!