Bagaimana rasanya ditinggal untuk selamanya oleh kedua orang tua, dan mempunyai ibu tiri yang yang gila harta, menjual anak tirinya kepada lelaki kaya demi uang, inilah yang dirasakan Lusiana gadis malang yang dijual ibu tirinya demi dirinya sendiri, dan harus menikah dengan pria yang membelinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 31 Kesalahpahaman
Saat Lusiana hendak masuk kerumah, tiba-tiba langkah Lusiana terhenti ketika melihat Tama sudah berada didepannya.
"Darimana aja kamu?" tanya Tama ketus
"Bukankah sudah aku bilang tadi, aku jalan-jalan ke mall" jawab Lusiana bingung kenapa tiba-tiba Tama keliahatan marah begitu.
"Jalan-jalan ya!, dengan siapa?"
"Sendirian aja"
"Sendirian katamu, ini siapa hah!" bentak Tama sambil menunjukan foto saat Leo memegang rambut Lusiana dikafe
"Kamu dapat foto itu darimana?" tanya Lusiana cemas.
"Aku dapat foto ini darimana dan dari siapa itu nggak penting, yang jelas sekarang kamu telah berani bermain api dibelakang ku ! ! !" suara Tama meninggi.
"Enggak, itu nggak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelasin" Lusiana berusaha memberikan penjelasan kepada Tama
"Jelasin APA?"
"Kamu dengar penjelasan aku dulu dong"
"Owhh, jadi ini alasannya, aku nggak boleh menemanimu karena kamu ingin bertemu dengan pria itu kan!"
"Enggak itu semua nggak benar, itu Leo teman lama aku, dan kebetulan secara tak sengaja kita bertemu pas jalan-jalan dimall" Lusiana mencoba memberikan penjelasan secara detail.
"TEMAN, sampai mengelus rambutmu seperti itu hah!, apa itu yang dinamakan teman"
"Aku nggak bohong sama kamu, dia cuma teman aku nggak lebih"
"Kamu boleh menganggapnya teman, tapi bagaimana dengan dia apa dia menganggap mu sebagai temannya juga"
"Iya, dia juga menganggap aku sebagai temannya"
"Kamu berbohong lagi, ini apa ?" Tama memperlihatkan video Leo menyatakan perasaannya kepada Lusiana.
"Kamu dapatkan ini darimana, siapa yang berani mencoba untuk mengacaukan hubungan kita" Lusiana merasa kesal karena semakin disudutkan Tama dengan bukti yang tak dianggapnya benar.
"Bukan Siapa, tapi kamu, kamu yang mengacaukan hubungan kita, ternyata percuma saja aku mempercayai mu selama ini, kamu nggak ada bedanya sama papa, kalian sama aja!"
"Kalau kamu nggak percaya sama aku, yaudah kita temuin Leo sekarang, dan kamu tanyakan sama dia sebenarnya"
"Buat apa?, bisa aja kan, kalian sekongkol untuk membohongi aku, demi kelanjutan hubungan kalian, apalagi dia sangat mencintai mu kan, tak menutup kemungkinan bahwa kau cepat atau lambat juga akan mencintainya"
"Leo memang menyatakan perasaannya padaku, tapi asal kamu tau aku tidak mencintainya, aku hanya menganggapnya sebatas teman nggak lebih, aku hanya mencintai kamu dan tidak ada yang bisa merusak rasa cintaku padamu"
"Kamu ngomong seperti itu hanya sebagai pembelaan mu saja kan, karena hubungan gelap kalian ketahuan" Tama tidak percaya lagi dengan ucapan Lusiana.
"Tolong kamu jangan berfikiran seperti itu, setidaknya dengarkan penjelasan aku dulu, baru boleh kamu berasumsi"
"Nggak ada yang mau dijelaskan lagi, kamu pasti melakukan pembelaan diri lagi kan, buktinya sudah jelas sekarang jadi jangan beralasan lagi"
"Nggak itu nggak benar..., kamu mau kemana?" Lusiana memegang tangan Tama yang hendak pergi meninggalkannya.
"Bukan urusanmu, jika kamu bisa bermain dibelakang ku, kenapa aku tidak?" ucap Tama sinis sambil melepaskan pegangan tangan Lusiana.
"Aku mau ikut, aku akan mengikuti kamu sampai kamu mau mendengarkan penjelasan ku" Lusiana berjalan disamping Tama untuk mengikuti kemanapun Tama pergi.
"Oke.. lebih baik kamu ikut saja denganku biar kamu dapat menyaksikan secara langsung aku bersama wanita lain, biar kamu tahu gimana rasanya dikhianati" ucap Tama sinis.
Lusiana menitikkan air mata mendengar ucapan Tama, Lusiana tak percaya bahwa baru saja dia merasakan kebahagiaan, tapi sekarang telah sirna karena kesalahpahaman.
Tama membawa mobil uring-uringan membuat Lusiana merasa cemas.
"Kamu pelan-pelan bawa mobilnya, nanti kita kecelakaan" ucap Lusiana mengingatkan Tama.
"Kamu bisa diam gak!, kalaupun kita kecelakaan itu malahan bagus, jadi kita sama-sama merasakan sakit" Tama tersenyum nakal kearah Lusiana.
"Kamu gila ya!"
"Iya...aku memang gila, ternyata hidupku hanya penuh pengkhianatan, semua orang berkhianat padaku!" Tama meneteskan air mata mengingat bahwa penghianatan itu kembali dialaminya.
"Aku sama sekali nggak pernah mengkhianati kamu, makanya kamu dengar dulu penjelasan aku"
"Terserah kamu mau ngomong apa, yang jelas aku tidak percaya lagi padamu, mungkin pernikahan ini adalah kesalahan terbesar, kamu tidak mencintai aku, dan selama ini kamu pura-pura mencintai aku karena merasa kasihan padaku kan!"
"Enggak itu tidak benar, rasa cintaku padamu itu sangat tulus"
"Terus kamu fikir aku percaya gitu?"
"Aku ini istrimu, jadi kamu harus mendengarkan apa kata aku dulu, jangan berpatokan pada bukti yang belum tau kebenarannya"
Tama tak menghiraukan ucapan Lusiana dia terus memacu kecepatan mobilnya, dan akhirnya Tama memarkirkan mobil disebut bar.
"Lho, kok parkir disini, kamu mau ngapain disini?" tanya Lusiana kaget karena Tama pergi kebar.
"Untuk senang-senang, aku tidak mengajakmu tadi, jadi jangan protes atau nggak kamu tunggu aja dimobil, aku mau senang-senang dulu" Tama meninggalkan Lusiana dan masuk kedalam bar, Lusiana tak mungkin membiarkan Tama masuk kedalam bar itu sendirian, dengan terpaksa Lusiana melangkahkan kakinya mengikuti Tama.
Lusiana kehilangan jejak Tama, Lusiana melihat ke segala penjuru untuk menemui Tama, dia merasa tak nyaman dengan suasana berisik seperti itu apalagi perempuan dengan laki- laki sudah tak ada malu lagi untuk bersentuhan, tangan laki-laki hidung belang bermain nakal ke setiap wanita yang ada didepannya, dengan baju yang super mini tentu saja akan mempermudah aksi para lelaki hidung belang untuk bersenang-senang dengan wanita yang mampu membuatnya terbuai dalam waktu sesaat, dan dengan imbalan memberikan uang tentu saja sang perempuan ****** itu rela melakukan apapun demi uang yang diinginkannya.
Seketika pandangan Lusiana terfokus kepada Tama yang sedang duduk di sofa paling sudut bersama perempuan yang berpakaian seperti setengah tela*j***, dengan segera Lusiana mendekati Tama.
"Itu siapa sayang?" tanya perempuan yang ada disamping Tama
"Dia istriku" jawab Tama cuek
"Kamu ngajak istri kamu kesini?"
"Enggak, dia mau ikut aja, mungkin dia mau melihat kita berdua, yasudah lah nggak apa-apa, kamu nggak terganggu kan" tanya Tama kepada wanita itu, bukan wanita itu yang terganggu melainkan Lusiana, hatinya teriris melihat kelakuan Tama
"Kamu boleh marah padaku, kamu boleh pukul aku, tapi tolong jangan bertindak seperti ini, hiks..hiks" ucap Lusiana sambil menangis.
"Kalau kamu terganggu melihat apa yang kami lakukan, maka jangan dilihat kamu boleh keluar" ucap Tama santai yang terus menciumi tangan wanita yang sedang bersamanya.
"Ayok kita pulang sekarang" Lusiana menarik tangan Tama.
"Aku nggak mau pulang, pulang aja sendirian aku masih mau disini" Tama sudah dalam keadaan setengah sadar karena terlalu banyak minum alkohol.
"Mbak tolong ya, ini suami saya kalau mau cari uang cari dengan cara yang halal, jangan mengganggu suami orang" ucap Lusiana kepada perempuan yang ada disebelah Tama.
"Siapa yang menggangu suami mbak hah, dia mendatangi saya sendiri, apa itu salah saya, saya rasa itu kesalahan mbak sendiri, karena tidak bisa menjaga suami sendiri" kata wanita itu, yang langsung pergi meninggalkan Tama dan Lusiana, sedangkan Tama sudah tertidur di sofa tempat duduknya karena minuman alkohol yang terlalu banyak.
Bersambung 😍
dr cerita dia (adam) mulai awal sampek kerumah nurin ,dan kehamilan nurin ,sampek diusir gk direstui oleh bram,
padahal habis pulang dr rmh nurin langsung meninggal si adam
dan dlm semua dramanya sllu jadi protagonis dan mudah senyum
like episode tertinggal
salam dari IKYD