Sequel SALAH NIKAH
Rico menikahi Layyana karena sebuah dendam.
Demi menuntaskan dendam yang sudah lama dia pendam, Riko rela menghabiskan sisa umurnya bersama wanita yang dia benci. Tujuannya satu, membalaskan dendam.
Layyana yang notabene adalah wanita kaya raya dan berpendidikan tinggi, selalu berpenampilan sederhana demi mencari cinta sejati yang mendekatinya bukan karena materi, melainkan karena cinta yang tulus. Sayangnya pria yang mengucap ijab qobul di sisinya pada hari pernikahan bukanlah Rendi, tapi sosok pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Good Job
Tak lama kemudian aku kembali ke rumah. Mobil memasuki halaman rumah. Okey, semuanya beres. Aktifitas mobil sudah bisa kupantau mulai skearang. Good job!
Kulihat barang-barang perbelanjaan sudah diletakkan di teras oleh tukang ojek, menggunung karena memang banyak sekali. Asisten rumah tangga yang cerdas. Benar dugaanku, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk membelanjakan barang-barang sebukit itu.
Si tukang ojek berpapasan denganku setelah menurunkan barang perbelanjaan. Dia mengangguk sopan kemudian berlalu pergi bersama motor bututnya yang suaranya benar-benar bikin olah raga jantung.
Aku mengangkuti barang-barang belanjaan ke dalam rumah, menuju dapur. Bolak balik mengangkatinya karena memang barang belanjaannya sangat banyak. Mungkin untuk stok. Awalnya sempat bingung bagaimana cara menyusun barang-barang belanja sebanyak itu. Tapi tetap kukerjakan. Bahan berjenis sayur mayor kususun ke kulkas, daging dan ikan kususun di dalam freezer, bumbu kuletakkan ke rak bumbu.
Pandangan kuedarkan ke setiap sisi dapur yang tak begitu laus. Semuanya sudah rapi. Oke, beres. Aku balik badan. Kudapati Rico yang sudah berdiri di hadapanku kini. Entah sejak kapan pria itu berdiri di sana. Tatapan mata pria itu kurasakan begitu tajam dipenuhi kebencian. Tatapan kemurkaan yang sudah sejak awal pertemuan ada, namun baru sekarang aku menyadari hal itu. Mata biru itu, menaruh dendam padaku. Wajah blasteran Turki – Indonesia, tampak sedang menahan kecamuk dalam dirinya. Aku dapat membaca situasi dalam hati Rico sekarang. Aku telat menyadari semuanya.
Kulihat seulas senyum tipis terbit di bibir tipis Rico.
Ya, pria itu sedang berpura-pura untuk tetap bersikap manis di hadapanku. Aku cepat membalas senyumannya itu.
“Kamu udah rapi sekali. Mau kerja?” tayaku menatap penampilannya yang sebenarnya menurutku jauh dari kata rapi. Tapi karena Rico sudah mandi, rambutnya juga basah oleh minyak, maka kuanggap dia rapi.
“Ya. apa yang kau lakukan di dapur? Memasak?”
“Aku baru pulang dari belanja. Dan belum sempat masak, soalnya tadi bunda menyuruhku ke pasar untuk membeli sederet perbelanjaan.” Aku menunjukkan catatan sebagai bukti outentik di hadapan mata suamiku bahwa istrinya ini baru pulang dari belanja.
Mata Rico membelalak menatap tulisan berderet panjang yang tertera di sana. “Sebanyak itu?”
“Ya. nggak masalah. Semuanya udah kelar, kok.”
Kulihat kening Rico mengernyit seperti sedang berpikir. Ahaaay… suamiku pasti sedang menatap takjub pada istrinya yang cerdas cendekiawati ini, hanya dalam waktu singkat istrinya mampu membelanjakan barang sebanyak itu. Hebat kan. He he..
Good job, Layyana! Bolehlah memuji diri sendiri.
“O ya, aku tadi sempat mampir ke toko baju. Ini kubelikan pakaian untukmu. Kemarilah, dicobain ya!” aku emnarik lengan Rico menuju kamar.
Pria itu menurut saja oleh tarikan tanganku.
Sesampainya di dalam kamar, aku meletakkan semua pakaian yang kubeli ke atas kasur.
“Kau beli sebanyak ini?” Tanya Rico menatap pakaian itu.
“Baju lima lembar dan celana juga lima lembar.” Kemudian aku tersenyum sambil mendekatkan mulutku ke telinga Rico lalu berbisik nakal di telinga itu. “Pst.. aku juga belikan celana dalamm untukmu.”
Rico menoleh untuk menjangkau wajahku di dekat bahunya. Aku mengerlingkan sebelah mata, membuat sudut bibir pria itu kembali tertarik sedikit.
Kuraih sehelai kemeja lalu menempelkan ke permukaan tubuh Rico. “Ini pas untukmu. Ayo, pakai!”
Tanpa berkomentar, Rico langsung melepas baju yang dia kenakan lalu mengganti dengan kemeja yang kuberikan.
Perfect! Kemeja yang kubelikan sangat pas di tubuh Rico.
“Sempurna, kamu ganteng banget pakai kemeja itu. suer!” Kuelus dada bidang Rico yang dilapisi kemeja baru.
“Kau tahu sekali ukuran badanku, kemejanya pas,” komentar Rico.
“Apa yang nggak kutahu darimu? Semua ukuran milikmu, aku tahu,” bisikku tersenyum simpul.
Kata-kataku berhasil membuat senyum Rico kembali terbit, senyuman asli yang tidak direkayasa.
“Sini, biar kurapikan!” Aku memasukkan ujung kemeja ke dalam celana Rico dengan cara membuka resleting celana pria itu dan memasukkan ujung kemeja.
“Kau pikir aku tidak bisa melakukannya sendiri?” ucap Rico tanpa melarang pekerjaanku.
“Biarkan aku mengerjakannya.” Aku melirik Rico.
Yang dilirik diam saja.
Kupasang ikat pinggang Rico. Tugasku memasang pakaian Rico sudah selesai. “Kamu kerja di mana sih? Di perusahaan apa? Jauh ya dari sini?”
Rico lalu menyebutkan nama perusahaan lengkap dengan alamatnya.
“Cepat pulang ya! Aku menunggumu. Aku yakin akan merindukanmu, seharian kita nggak ketemu,” kataku.
Rico mengangguk. Dia mengecup punggung tanganku. “Aku pergi. Telpon saja aku kalau ada apa-apa.”
Aku mengantar Rico sampai ke depan. Kulambaikan tangan saat mobil mulai bergerak meninggalkan rumah.
“Layyana!”
Suara Bunda Aisyah melengking, telingaku sampai keriting. Ada apa? Teriaknya sampai begitu? Kebakaran?
“Ini kenapa sayur bayam ditarok di freezer?”
Oh my God!
TBC
selamat berkarya semoga sukses mencerdaskan anak2 bangsa melalui tulisan
bahaya niih