Musim telah berganti dengan begitu cepat. Denting waktu membawa kita pada detik ini. Musim pertama telah usai meninggalkan bait-bait kenangan yang begitu indah.
Mereka telah bersama setelah melewati rintik sendu. Kini saatnya berbahagia. Namun adakah waktu yang tidak terbatas untuk merasa bahagia?
Bagaimana cinta akan menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31_Vidio Berantai
Disana. Di rumah gadis kecil yang cantik.
Gadis itu bercerita dengan bahagia dan ceria. Kakek dan neneknya tersenyum mendnegarkannya. Antara senyum bahagia tapi juga merasa ngeri. Akan menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bisa memiliki hubungan baik dengan salah satu keluarga Nugraha. Itu bisa membawa dampak baik bagi bisnis mereka.
“Jadi sekarang kau memanggilnya dengan sebutan, Mommy?” tanya Daniel dengan senyum. Kim mengangguk pasti dan kembali bercerita bagaimana lembut suaranya saat berbicara.
“Ok. Besok kita harus bertemu dengan Mommy Yuna,” ucap Daniel. Ia penasaran. Apa yang indah dari wanita itu hingga Leo seperti menempatkannya di bulan dan memagarinya. Seolah tidak ada yang boleh menyentuhnya. Hingga bahkan debu pun tak boleh menjamahnya.
Disana, di jalanan Ibu Kota.
Pada akhirya Yuna menyerah saat ia tidak behasil menghubungi Leo. Nomor ponsel Leo bahkan sudah dinonaktifkan. Ia mengenggam ponselnya dengan sedih. Tuan suami marah padanya. Tentu saja, dia dengan ceroboh memberikan hadiah pernikahan begitu saja. Yuna berjanji dalam hati akan membuat sapu tangan itu kembali padanya. Ia akan memberi Kim sesuatu yang lain untuk menukarnya. Semoga ia bisa. Semoga.
“Apa kau tidak berhasil mengejar mobilnya?” tanya Yuna pelan dengan rasa sesak dalam dadanya.
“Maafkan ketidakmampuanku, Nyonya,” jawab Albar.
Yuna mengangguk pelan. “Tidak apa-apa,” ucapnya. “Kembali saja,” pintanya. Ya, pada akhirnya dia kembali kerumah dengan perasaan yang bercampur.
Albar membukakan pintu untuk Nyonya mudanya setelah mereka sampai. Yuna keluar lalu melangkah
keteras rumah. Dia berdiri disana dan tidak masuk kedalam rumah. Ia masih mencoba menghubungi Leo tetapi ponselnya tidak aktif. Ia cemas setengah mati. Kemana suaminya pergi. Hingga satu jam dia berdiri dan menunggu Leo tapi Leo tidak juga kembali.
Albar yang sedari tadi memperhatikannya mencoba untuk mendekati Yuna.
“Maaf, Nyonya muda. Udara sangat dingin malam ini. Bagaimana jika Nyonya menunggu Tuan muda didalam saja.” ujar Albar mencoba membujuk Yuna.
“Tidak apa-apa, Albar. Aku akan menunggunya disini hingga dia pulang.”
Albar mengangguk dan kembali ketempatnya. Dia tidak benar-benar meninggalkan Nyonya mudanya.
Ia duduk di gazebo depan dan diam-diam mengambil vidio Yuna. Lalu mengirimkannya pada Dion. Ia berpikir jika mungkin Dion mengetahui keberadaan Bossnya.
“Perlihatkan ini pada Boss. Apa Boss tidak sayang jika kulit mulus Nyonya digigit nyamuk.” Pesan Albar pada Dion.
“Astaga, Nyonya cantikku terlihat begitu sedih. Apa mereka sedang bertengkar?”
“Kau bersama Boss atau tidak?”
“Tidak.” Balas Dion. Dia sedang menikamti kencan malam di kedai bakso bersama pacarnya saat ini.
“Sial. Rugi rasanya mengirim vidio ini padamu.”
“Hahaaa. Tidak juga. Sepertinya aku tahu bersama siapa Boss sekarang. Aku akan mengirim vidio ini padanya.”
Pesan mereka berakhir. Dion mengirim pesan itu pada Joe. Semenjak Joe bergabung dengan perusahaan Leo dia yang menjadi tangan kanan Leo untuk menangani hal yang serius. Jika masih tahap sedang maka Dion yang maju dan menjalankan semua perintah Sang Boss.
Tak lama pesan itu sampai pada seseorang yang saat ini tengah duduk sambil menemani Bossnya. Urusan mereka sudah selesai dan mereka sudah menemukan apa yang mereka ingin ketahui.
“Tuan muda,” ujar Joe. Dia memperlihatkan vidio yang dia dapat dari Asisten Dion. Leo segera memperhatikannya. Kemudian dia membawa pandangan mata tajamnya untuk menatap Joe.
“Darimana kau dapatkan ini?” tanyanya mencekam.
“Dion,” jawab Joe.
“Lancang.”
Leo berdiri dari duduknya dengan anggun. Punggungnya tegap dengan pandangan mata yang lurus kedepan. Joe segera berdiri dan membungkukkan badannya memberi salam.
Tanpa kata, Leo melangkah keluar ruangan dan langsung mengendarai mobilnya untuk kembali.
Disisi lain, Joe segera membuat pesan pada Dion.
“Kau dalam masalah karena berani mengambil vidio Nyonya Muda.”
Dion melompat kaget menerima pesan itu.
“Aku mendapatkannya dari Albar.” Balasnya segera dengan takut.
“Kalian berdua habis.” Balas Joe. Dion tersedak kuah bakso membacanya. Ia batuk-batuk hingga hampir muntah pelangi. Ia segera membuat panggilan pada Albar.
“Aku akan meminta bantuan Nyonya Muda. Biar bagaimanapun, Nyonya Muda memegang kendali atas semuanya.” Albar mencoba menenangkan sahabatnya dan sebenarnya juga menenangkan dirinya sendiri. Ia segera meminta Dion untuk menghapus vidio itu, pun juga dengan dirinya. Dia segera menghapus vidio itu.
Yuna masih mencoba menghubungi Leo dan ia menghela nafas lega saat panggilannya terhubung. Leo bahkan mau menerima panggilannya. Namun mereka saling diam saat panggilan itu terhubung, hanya terdengar helaan nafas dari keduanya. Meski
begitu … hatinya menjadi sangat tenang.
“Sayang, Leo Januar … aku mencintaimu.” Yuna berucap rendah. Hanya itu yang ia ucapkan. Dia tidak memiliki kalimat lain untuk membuat hati suaminya tenang. Tentang permintaan maaf atas kesalahannya, ia akan mengutarakan nanti setelah mereka bertemu.
Leo mengusap bibirnya saat mendengar ungkapan cinta Yuna. Cinta … terkadang memang hanya perlu dirasa tetapi terkadang ia juga harus didengar. Sebuah ungkapan sederhana yang mampu menentramkan hati dan jiwanya.
Leo tidak menjawab ungkapan Yuna tetapi ia mendengar hembusan nafas Yuna dengan
seksama. Bagai alunan lagu rindu setiap kali nafas itu berhembus dan merambat ditelinganya, membawa iramanya pada jantung hati yang tak teraba. Ia kecewa pada Yuna tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Sapu tangan itu sudah berada di tangan gadis kecil.
Mata Leo berubah menjadi tajam memperhatikan jalan. Ini bukan tentang gadis kecil. Ia tahu kepala putik ukiran bunga itu dari perusahaan berlian mana.
Hingga mobilnya belok di area rumahnya. Panggilan itu masih terhubung. Pagar tinggi terbuka dengan patuh. Dari sini … ia bisa melihat sesosok wajah cantik yang tengah menunggunya. Mobil yang ia kendarai berhenti dengan pelan. Dia segera keluar dari mobil dan memutus panggilan.
Yuna segera berjalan cepat menghampirinya. Mereka bertemu, saling menatap tanpa kata. Bibir Yuna bergetar menahan tangis lega. Ia menjinjit, memiringkan kepalanya dan mengambil ciuman di bibir Leo. Matanya terpejam.
Kedua tangan Leo berada di pinggangnya. Mengangkatnya dan menggendongnya di depan. Ia
menopang tubuh Yuna dengan kedua lengannya. Sementara kedua kaki Yuna mengapit pinggangnya.
Ini bukan ciuman nafsu. Ini adalah tentang cinta, meminta maaf dan memaafkan.
Sesorang yang duduk di gazebo menelan ludahnya dan segera menutup rapat matanya. Tapi sesekali
ia mengintip. Selalu manis setelah mereka bertengkar. Batinnya. Ia yakin tidak akan mendapat hukuman dari bossnya. Ia bersorak dalam hati.
Pagi hari … Leo meminta maaf pada si kecil karena tidak bisa mengantarnya. Ada urusan yang sangat penting. Dia bahkan pergi sebelum matahari benar-benar menampakkan sinarnya.
Tidak apa, si kecil sudah paham arti tanggung jawab yang diemban Sang Daddy. Pagi ini … ia berangkat berdua dengan Mommy. Leo tidak tahu jika hari ini, Yuna akan kembali menemui guru kelas dan guru pembimbing Arai. Yang ia tahu, Yuna hanya akan mengantar putranya sampai gerbang.
Yuna juga belum sempat memberitahunya karena pertengkaran mereka semalam.
_______
Catatan Penulis 🥰🙏
Nahh kan kan kan ... Up lagi kan, ya kan.
Terima kasih buat like, koment, hadiah dan votenya.
Padamu 🥰🙏
Yuukkk like dan komentar di Up bonus ini. Luv luv.
Kalian Luar Biasa.