NovelToon NovelToon
Penggalan Catatan

Penggalan Catatan

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:72.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syamsuddahri Pulungan

Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanah Kelahiran

Danu terbangun saat merasakan jalannya Bus yang berliku, syahdunya lagu lagu yang diputar juga tak mampu merobah detakan jantung Danu, pandangan matanya dari kaca jendela bus menuju tanah Sibolga yang sudah sudah ditunjukkan lampu lampu Bagan Pancang milik para nelayan yang berdiri kokoh di tengah lautan menunjukkan jika tujuan akhir dari Bus yang ditumpangi Danu sudah sangat dekat, terutama saat Bus sudah melewati situs sejarah Batu Lobang, menandakan jarak menuju Kota Kecil Sibolga hanya tinggal puluhan kilometer lagi.

“Sibolga dimana Bang ?”.

Danu menoleh gadis muda yang duduk di sebelahnya, Danu gelengkan kepala. “Belum Tahu”.

Gadis yang mengaku bernama Tiara ini tentu merasa heran. “Maksudnya Bang ?”.

Danu kembali geleng kepala. “Belum tahu kemana, lihat nanti sajalah”.

Kening Tiara makin berkerut. “Baru pertama ke Sibolga Bang ?”.

Danu menggeleng lagi. “Saya lahir di Kota kecil ini”.

Tiara tak lagi bertanya, ia lebih memilih memeriksa isi tas kecilnya, walau sebenarnya tak ada yang perlu di periksa, kembali menatap wajah Danu agak lama, ada banyak pertanyaan yang mengiang di otak Tiara, tapi sepertinya Tiara lebih memilih tak bertanya, karena agak sedikit bingung dengan beberapa jawaban Danu sebelumnya, sejak mereka duduk sebangku dari terminal bus Medan, memang hanya Tiara yang banyak nanya, Danu lebih banyak anggukkan atau gelengkan kepala.

Sementara Danu kembali melayangkan matanya keluar jendela, benar memang, yang ada dalam pikiran Danu saat ini adalah kemana tujuannya nanti, apakah menuju kampung halaman Ibunya, kerumah Paman sepupu jauh Ayahnya, atau mencari jalan lain belum juga dapat Danu putuskan, yang terpenting menurut Danu adalah sampai dulu, bagaimana nanti itu bisa dipikirkan lagi.

Pagi masih remang remang saat Bus PT. Makmur yang ditumpangi Danu memasuki terminal Bus Sibolga Nauli, para penumpang sudah berdiri, ambil tas di bagasi atas dan seperti berebut menuruni Bus, para abang beca juga sudah berjejer di depan pintu keluar menanyai para penumpang apakah ada yang tertarik menggunakan jasanya. Danu masih tetap duduk, ia memilih turun belakangan saja daripada harus berkerumun menuju pintu keluar, bahkan Tiara yang tadi duduk di samping Danu juga sudah menghilang entah kemana.

Setelah begitu tampak sunyi, Danu akhirnya berdiri, ambil tasnya dan beranjak keluar bus, setidaknya ada empat abang beca yang menawarkan jasa pada Danu, tapi semuanya beranjak tinggalkan Danu saat Danu menghadiahkan gelengan kepala kepada mereka. Danu turun dengan perlahan dan memutar pandangannya ke segala penjuru, Danu merasa ada yang asing, akhirnya Danu memilih menuju kedai kecil di sudut terminal, duduk dan memesan sarapan plus kopi.

Baru ?, tidak juga. Sejak masih kecil Danu hampir tiap tahun menginjakkan kaki di terminal ini, tujuannya tentu kampung halaman Ibunya yang sebenarnya tidak jauh dari terminal, hanya memakan waktu tak lebih 15 menit karena jaraknya hanya tujuh kilo meter saja. Sedikit tak biasa, karena jika selama ini saat sampai di terminal ini Danu dan keluarganya langsung mencari angkot menuju Desa Tapian Nauli I Pargodungan, ini mungkin yang jadi menimbulkan tanya, walau sering ke kota kecil ini, tapi pada dasarnya Danu hanya tahu terminal dan desa kelahiran Ibunya, atau paling hanya pernah ke Pandan, tempat tinggal paman jauhnya, tidak kurang, tidak lebih.

“Ibu tahu STIE AW”. Danu bertanya karena Ibu penjual sarapan tidak ada kesibukan.

Sang Ibu anggukkan kepala. “Itu di Jalan Diponegoro”.

Danu anggukkan kepala, walau sebenarnya tak tahu Jalan Diponegoro itu dimana. “Jauh dari sini Bu ?”.

Sang Ibu menggeleng. “Jalan Kaki juga bisa”.

Danu anggukkan kepala, pikiran Danu terus menimang nimang kemana arah tujuan terbaik yang bisa diambilnya pagi ini. Dalam hati Danu berkeinginan sendiri saja dulu, jika kerumah keluarga, dipastikan akan banyak pertanyaan yang menyerang Danu, berbagai pertanyaan tentunya, dan dipastikan akan ada pertanyaan tentang Juli, hal yang hingga kini belum bisa pupus dari hati dan pikiran Danu, maka yang paling baik menurut Danu adalah tak bertemu dengan segala yang berhubungan dengan keluarga dulu, sendiri dulu.

“Tempat Kost yang dekat sini ada Bu ?”.

Sang Ibu menoleh Danu. “Entah masih ada atau nggak, tapi itu rumah bertingkat yang diseberang sana rumah kost, itu punya tante Ibu”. Jelas Sang Ibu sambil menunjuk ke seberang jalan.

Danu anggukkan kepala. “Terima Kasih Bu”.

Sang Ibu penjual sarapan kembali dengan kesibukannya, Danu juga kembali dengan kesibukan yang bersarang di otaknya. Danu memilih menikmati kopinya dengan perlahan, walau sebenarnya sudah mantap memilih kost saja dulu, tapi isi kepala Danu masih juga diganggu oleh banyak keinginan, dada Danu belum juga sembuh dari getaran yang sudah datang sejak beberapa jam yang lalu, namun perlahan keraguan yang awalnya menjadi penguasa berangsur hilang, Danu benar benar mantap ingin yang baru dulu, mencoba berdiri di kaki sendiri.

Mata Danu lurus kearah rumah kost yang ada di seberang jalan, pilihan kost menurut Danu akan lebih baik, mudah mudahan masih ada tempat, nanti setelah memastikan ada tempat disana, hal berikutnya yang harus dilakukan menurut Danu adalah mencari kerja, mencari sesuatu yang diharapkan dapat menopang hidupnya di hari hari berikutnya, Danu ingin mencoba hidup mandiri, menjadi sesuatu yang baru, mengembangkan diri dan menata kembali hidup secara mandiri, benar benar sendiri.

Danu terlebih dahulu membuang nafas berat sebelum berdiri, ambil tas, bayar sarapan dan minumannya dan dengan mantap melangkahkan kaki menuju rumah kost yang tadi ditunjukkan padanya. Karena jaraknya hanya menyeberang jalan saja, Danu tak sampai satu menit sudah berada di depan pintu kost dan ucapkan salam.

Tak butuh waktu lama, ada jawaban dari dalam dan pintu terbuka, Ibu separuh baya lengkap dengan senyumnya yang merekah menyambut Danu, sebagai pemilik kost Ibu ini tentu pasti tahu apa tujuan Danu mengucapkan salam dan mengetuk pintunya.

“Mau cari Kost ya ?”.

Danu mengangguk. “Benar Bu, masih ada ?”.

“Silahkan masuk, duduk dulu ya”.

Danu melangkah masuk, sambutan Ibu paruh baya itu menunjukkan jika Danu sampai di tempat yang benar, jika memang tak ada lagi, dapat dipastikan beliau tidak akan diminta masuk, apalagi diminta duduk. Hanya sekian detik saat Danu menyandarkan badannya pada sofa di ruang tamu, Ibu paruh baya itu sudah muncul lagi, kali ini dengan segelas air putih ditangannya.

“Darimana ?”.

“Saya dari Labuhanbatu Bu”.

Kening Si Ibu agak berkerut. “Labuhanbatu ?”.

Danu mengangguk. “Iya Bu, Ibu nggak tahu, atau baru dengar ?”.

Si Ibu tersenyum. “Sepertinya iya, kalau dengar sepertinya juga sudah pernah, tapi persisnya kurang tahu”. Jelas Si Ibu.

Danu hanya tersenyum kecil dan mendengarkan semua penjelasan Ibu Kost yang tampaknya suka bicara ini, bagaimana proses, hingga fasilitas yang didapat di rumah kostnya, walau tampak agak unik, Danu memilih menyetujui semuanya, rumah kost atau sebenarnya lebih tepat kamar kost, karena disini Danu hanya mendapatkan satu kamar di lantai dua denga fasilitas tempat tidur singel tanpa kasur, bola lampu dan tikar. Kamar mandi bersama di lantai bawah, kamar mandi bersama seluruh penghuni kost, termasuk penghuni rumah.

Danu agak geleng kepala juga, ternyata Ibu Kost ini sudah janda, tapi ada dua anaknya yang sudah menikah tinggal di rumahnya. Artinya, anak kost hanya ada di lantai dua, ada delapan kamar disana, di lantai dasar rumah tinggalnya bersama dengan anak dan cucunya, sehingga kalau dihitung di lantai bawah ada tiga kepala keluarga, Si Ibu Kost dan dua anaknya yang sudah menikah, ramai.

Danu deal dengan Ibu Kost, setelah menerima kunci, Danu beranjak ke lantai dua, Danu dapat kamar nomor enam, satu satunya kamar yang kosong, yang baru ditinggalkan oleh penyewa yang menikah dua minggu lalu. Danu membuka pintu kamar dan masuk, hidupkan lampu dan duduk diatas ranjang. Ada rasa lega didadanya, setidaknya ini permulaan yang bakal panjang, bagaimana nanti akhirnya Danu belum memikirkannya sama sekali, setidaknya saat ini Danu sudah punya tempat untuk pulang.

Mata Danu menyusuri semua sudut kamar, benar benar hanya ranjang dan tikar, tak ada lemari, tak ada fasilitas  lain, bahkan kamar ini sedikit menyebalkan, bahkan jendela pun tak ada, sehingga jika lampunya mati, gelap gulitalah hasil akhirnya. Danu kembali hanya geleng kepala, memilih merebahkan tubuh diatas ranjang tanpa kasur itu, untung masih ada bantal walau tak seperti bantal, Danu melayang menggapai mimpi.

1
Sri Astuti
syukurlah.. semua bahagia.. tks sdh berikan kisah yg indah dan bnyk nasehat bagus ...
Sri Astuti
bravo Dewi kuadrad
Sri Astuti
salah kira
Sri Astuti
sangat menyentuh
Sri Astuti
sejujurnya saya lbh suka kisah" macam ni.. lbh merakyat dan real.. ga terlzlu halu.. lanjutkan.. jgn mudah terbawa arus.. semua punya fans nya masing"
Sri Astuti
alhamdulillah
Sri Astuti
kpn Danu bawa Dewi pulkam ya?
Niswa mandailing
yah tamat...
Andropist
cayo
Andropist
semangat
Andropist
up
Andropist
semangat om
Andropist
lanjut
Andropist
cayo Om
Andropist
semangat om
Andropist
cayo om
abjdefghij
terimakasih banyak kk
•~🐊🔫✓
Permisi Thor, Mampir yuk ke karya aku
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya
Fira Ummu Arfi
💯👍👍👍
Fira Ummu Arfi
💯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!