Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.
Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.
Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?
Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insecure
"Uda selesai belom peluk-peluk sama nangis-nangisnya? Berasa nonton pilem India aja, gue." Celetukan khas itu membuat Raina mengurai pelukannya, dan kepala dengan rambut orange itu menyembul dari balik bahu Tama. Lengkap dengan cengiran lebar Anya.
Anya menyela Tama ke samping, dan gantian memeluk sahabatnya erat-erat. Didit, yang datang bersama Anya, menepuk bahu Tama sekilas. Tama membalasnya dengan mengangguk ke arah Didit.
"Muka lo berantakan banget gini sih. Lo pulang gih, istirahat. Tante Elina biar gue sama Didit yang jagain." kata Anya.
"Tapi gue.."ucapan Raina terputus karena keburu disela Anya.
"Tante Eli aman sama gue. Elo juga harus jaga kesehatan. Kalau elo tumbang besok siapa yang jagain beliau? Udah sekarang elo pulang, mandi, makan yang banyak, terus tidur. Gue serahin ke elo nih Tam." Anya mendorong Raina ke arah Tama yang segera meraih pinggang gadisnya dan membimbingnya menjauh.
"Makasih, Ceng." seru Raina.
Sesampainya di rumah Raina, Tama menyiapkan bathtub dengan air hangat dan mengisinya dengan bath bomb dengan aroma favorit Raina. Sementara Raina mandi, Tama menyiapkan makan malam.
Raina merasakan segala keletihannya menghilang begitu air hangat itu melemaskan otot-ototnya. Raina bahkan nyaris terlelap ketika ia merasakan tangan hangat memijat bahu telanjangnya. Hembusan napas hangat yang amat dikenalnya membuat bulu kuduknya meremang.
"Masih lama mandinya?" bisik Tama di telinga Raina, mengecup belakang telinga gadis itu, membuat Raina terkikik geli.
"Masih pengen berendam sih, tapi aku laper," jawab Raina, mendongak menatap kekasihnya yang menunduk ke arahnya.
"Ya udah buruan. Ntar makanannya keburu dingin." kata Tama. Raina dengan jahil melingkarkan lengannya di leher Tama, membuat dadanya yang tertutup busa sedikit terangkat. Tama menarik napas berat. Susah payah menahan diri agar tak lepas kendali.
"Kamu basah, Sayang," dengan lembut Tama melepaskan lengan Raina dari lehernya. "Aku tunggu di dapur ya," cowok itu buru-buru berlari sebelum ia tergoda untuk ikutan berendam bersama kekasihnya.
Raina segera mengeringkan diri, memakai baju sekenanya dan segera menyusul Tama ke dapur. Aroma masakan nyaris membuat air liurnya menitik.
Masakan Tama selezat biasanya.Tak heran sepiring nasi goreng di hadapannya pun ludes dalam sekejap. Tama membereskan meja sementara Raina meletakkan kepalanya di meja makan.
Dering ponsel Tama yang diletakkan di atas meja membuyarkan kantuk Raina. Mengintip si penelepon, Raina pun memanggil Tama yang tengah mencuci piring bekas makan malam mereka tadi.
"Siapa, Sayang?" tanya Tama sambil mengeringkan tangannya.
"Bang Arka nih," sahut Raina. Tama meraih ponselnya, dan mengangkat panggilan kakaknya.
"Iya, Bang? Ada apa?" kata Tama begitu ia mengangkat telepon.
"Elo dimana?" Arka menjawab dari seberang.
"Di tempat Raina. Gue nginep sini kayaknya," kata Tama, membuat Raina mengangkat alisnya.
"Gila! Elo amnesia apa gimana sih, malam ini kan elo harus jagain Almira. Elo kan udah janji sama Tante Salma!" suara Arka terdengar tajam. Tama menyugar rambutnya dengan kasar. Sial. Dia lupa.
"Tolongin gue ya Bang? Gantiin gue jagain Almira. Gue beneran ngga bisa. Gue ngga bisa ninggalin Raina, dia lagi butuh gue banget."
"Enak aja. Elu pikir cuma elu doang yang punya pacar? Gue juga punya!" seru Arka.
"Iya, ngerti. Tapi kan cewek elo jauh, Bang. Dan kondisi Raina juga lagi nggak baik-baik saja. Tolonglah, Bang." Tama membuju lagi.
Untuk sesaat tidak ada jawaban dari ujung panggilan.
"Sial bener dah. Ini terakhir gue bantuin elo ya? Awas aja kalo abis ini elo masih berani nyuruh-nyuruh gue."omel Arka. Tama tertawa lega.
"Iya, Bang. Janji deh ini yang terakhir. Oh ya, Bang. Nanti kalau Bunda telepon, bilang gue yang jagain Almira di rumah sakit ya?"
"Nah, kan. Durhaka elu berani boongin Bunda."
"Plis, Bang."
"Ck. Iya deh. Apes amat gue punya adek nyusahin bener," ucapan Ark sebelum telepon diputus.
Raina yang mendengarkan semua percakapan itu terpaku. Emosinya yang tak baik-baik saja sejak kemaren malam, menjadi tambah parah. Ia tahu Bunda Dayen sengaja menjodohkan Tama dengan Almira padahal wanita itu tahu kalau Tama sudah menjalin hubungan dengannya.
Setidak pantas itukah dirinya untuk Tama? Apa karena ia tidak berasal dari keluarga yang baik, tidak mendapat didikan yang semestinya, bukan gadis alim dan kalem seperti Almira, makanya Bunda Dayen sama sekali tidak menganggapnya?
Raina merasa dadanya sesak oleh emosi. Ia menepis Tama dengan kasar saat cowok itu hendak membantunya bangun dari duduknya.
"Minggir deh." ketus Raina. Tama bingung dengan sikap Raina yang mendadak berubah.
"Kamu kenapa?" tanya Tama sabar.
"Udah deh nggak usah sok perhatian. Nggak usah sok peduli sama aku. Aku nggak butuh dikasihani."
Tama memandang Raina tak mengerti. Gadisnya ini kenapa sih? Sikap angkuhnya muncul lagi. Benar-benar membuatnya tertantang ingin menaklukkan keangkuhan yang disengaja itu.
"Aku beneran peduli, kok. Uda telat kali kalau kamu ngomong kayak gitu sekarang," jawab Tama kalem. Sengaja menggoda Raina.
"Udah deh ngga usah pura-pura. Jagain Almira, sana. Bukannya Mamanya Almira uda segitu percayanya sama kamu sampe anaknya diserahin ke kamu gitu? Calon mantu idaman Bunda kamu kan? Yang berjilbab gitu, kalem, alim. Pulang, sana!" Raina memukuli dada Tama yang merengkuhnya.
Tama menahan tawa. Jadi ini sebabnya gadisnya ini berubah sikap? Cewek emang susah dimengerti. Tapi khusus untuk cewek yang tengah didekapnya paksa ini, Tama tak keberatan. Ia akan menghadapi perubahan mood Raina yang bisa berubah seenaknya itu dengan sabar. Sama sekali bukan masalah besar untuknya.
"Oh, jadi ini gara-gara Almira? Beneran boleh aku jagain dia di rumah sakit sekarang?" tanya Tama dengan tampang tanpa dosa. Muka Raina memerah saking marahnya.
Mendadak isakan terlontar dari mulut Raina, disusul air mata yang tiba-tiba membanjiri wajah cantiknya. Oh, sial. Tama paling lemah dengan airmata Raina.
"Jahat!" jerit Raina sebelum berlari menuju kamar tidurnya. Disusul kemudian pintu kamar yang dibanting keras tepat di depan muka Tama. Amarah Raina serupa macan tidur, begitu bangun susah dijinakkan kembali.
Sambil mengulum senyum Tama meraih handel pintu, senyum nya tak lagi bisa ditahan ketika pintu kamar Raina bisa dibuka dengan mudah. Melangkah masuk, dan mengantisipasi apapun yang akan terjadi kemudian.
*makasih untuk like dan komennya ya. plis dukung karya ini terus ya biar makin lancar nulisnya. seberarti itu loh like dan komen kalian, mood booster beneran buat penulis receh macam aku. sehat selalu ya kalian ❤️
ada kah didunia nyata lelaki seperti mas tama😁
sukurinnnn
,seru dan terlalu bagus😍
sedih bnget jdi Raina dan Tama😭
mungkin ini udah brpa x aku baca ulang.gk pernah bosan, apa kabarnya ka?buat karya tulis mu yang sebagus ini lg dong ka 🙏