Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Dua Rahasia Besar
Setelah puas berburu gaun pesta yang mewah dan anggun di butik, Rara dan Sari berjalan dengan wajah berbinar-binar. Masing-masing dari mereka menjinjing dua kantong belanjaan besar berisi gaun pilihan terbaik yang seluruhnya ditraktir oleh Mita. Sebagai rasa terima kasih, Rara dan Sari langsung menarik lengan Mita menuju sebuah kedai kopi estetis di sudut mal. Kali ini, mereka berdua yang bergantian patungan untuk mentraktir Mita minum kopi dan camilan.
Saat pesanan kopi mereka sudah tersaji hangat di atas meja, suasana yang awalnya penuh tawa perlahan berubah menjadi lebih santai. Mita menatap kedua sahabatnya bergantian, lalu meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan pelan.
"Teman-teman..." Mita menurunkan volume suaranya, membuat Rara dan Sari otomatis memajukan tubuh mereka karena penasaran. "Sebenarnya, aku punya dua berita besar yang masih menjadi rahasia. Tapi... siang ini aku baru bisa membagikan salah satu rahasianya kepada kalian. Untuk rahasia yang satunya lagi, jujur aku sendiri masih bingung dan tidak tahu harus bilang apa."
Rara dan Sari menahan napas, mata mereka berkedip-kedip tidak sabar menunggu kelanjutan kalimat Mita.
"Rahasia yang pertama..." Mita mengusap perutnya yang masih rata dengan senyum tipis. "Aku hamil."
"WHAT?!" pekik Rara dan Sari bersamaan, membuat beberapa pengunjung kedai kopi sempat menoleh ke arah meja mereka.
Kedua sahabatnya itu langsung merepet habis-habisan secara bersahutan tanpa memberi Mita celah untuk menjawab.
"Demi apa, Mit?! Kamu hamil?!" semprot Rara dengan mata melotot.
"Sama siapa? Kok bisa?!" sahut Sari tidak kalah histeris, wajahnya memerah karena syok.
"Terus bagaimana nasib kamu, Mit? kamu kan udah putus dengan Ludwig, Kok kamu malah hamil sekarang?!" timpal Rara lagi, merutuk tanpa henti saking khawatirnya.
Mita hanya tersenyum tenang menghadapi kepanikan kedua sahabatnya itu. Ia mengangkat kedua tangan meminta mereka untuk tenang dan menurunkan nada bicara. Setelah Rara dan Sari mulai bisa mengatur napas dan kembali tenang, Mita menarik napas dalam-dalam untuk menyampaikan rahasia berikutnya.
"And untuk rahasia keduanya... aku bahkan tidak tahu siapa ayah dari bayi ini," ucap Mita lirih namun tegas.
Rara dan Sari kembali melongo, siap untuk merepet lagi, namun Mita buru-buru melanjutkan kalimatnya sebelum mereka memotong. "Karena waktu kejadian itu, dia sedang dalam keadaan mabuk berat. Dan keesokan paginya saat aku terbangun, dia sudah pergi dan tidak ada lagi di sana."
"Demi Tuhan, Mit, bagaimana ini nasibmu ke depannya?!" cerocos Rara lagi dengan mata yang berkaca-kaca, rasa syoknya kini berubah menjadi kekhawatiran yang mendalam. "Lalu bagaimana dengan kandunganmu? Padahal kita berdua ini sangat cemas memikirkan bagaimana kamu menjalani kehidupan sendirian dengan kondisi seperti ini!"
Sari langsung menggenggam erat jemari Mita di atas meja, menyambung kalimat Rara dengan suara bergetar. "Iya, Mit! Menjadi ibu tunggal itu tidak mudah, apalagi kamu masih kuliah dan cowok itu bahkan tidak tahu keberadaan anaknya. Kamu harus janji sama kita, kalau ada apa-apa, kamu harus selalu bilang ke kita, jangan pernah menanggung beban ini sendirian lagi!"
Mita tersenyum sangat tulus, matanya balas menatap Rara dan Sari dengan binar yang hangat. Ia balik menggenggam tangan kedua sahabatnya itu, berusaha menyalurkan ketenangan yang ia rasakan di dalam hatinya sendiri.
"Aku sangat bersyukur memiliki teman seperti kalian yang begitu peduli padaku," ucap Mita dengan nada suara yang bergetar lembut namun sarat akan keteguhan. "Tapi jujur, aku sama sekali tidak cemas akan kehadiran janin ini. Melainkan... aku sangat bersyukur karena dia hadir di rahimku. Dia adalah keluargaku, pengganti dari kedua orang tuaku yang sudah tiada."
Mendengar penuturan Mita yang begitu tegar, Rara dan Sari seketika bungkam. Rasa cemas yang sempat mendominasi dada mereka kini perlahan meleleh, digantikan oleh rasa haru yang mendalam melihat bagaimana Mita memandang bayinya bukan sebagai beban atau aib, melainkan sebagai anugerah terbesar yang dikirimkan Tuhan untuk menemaninya melangkah ke depan.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)