NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:31.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 Bebas

Suasana di luar sudah seperti sarang lebah yang dipukul tongkat. Telepon berdering, langkah kaki berlalu-lalang, staf keluar masuk ruang rapat. Namun, di balik pintu ruangan terbesar di lantai itu, suasananya justru terlalu tenang.

Ren duduk di balik meja kerjanya. Tatapan tajamnya tertuju pada layar laptop. Sesekali berpindah ke layar ponsel, lalu ke arloji di pergelangan tangannya. Jarum jam terus bergerak.

Tok.

Tok.

Suara pintu diketuk, tapi Ren tidak menjawab. Beberapa detik kemudian pintu tetap terbuka, meski tidak izin yang terucap.

Maria muncul dan langsung berjalan masuk. "Ren."

Awalnya wanita itu datang dengan semangat. Ia ingin melihat gladi terakhir Aurora. Ingin melihat Anjani. Ingin melihat sahabatnya itu bersinar setelah bertahun-tahun menghilang di balik dapur, cucian, dan rumah tangga yang menyedihkan.

Namun, sejak pertama menginjak lantai Aurora, yang ia lihat justru kekacauan. Semua orang panik dan nama Anjani terus disebut di mana-mana.

Maria berdiri di depan meja Ren. "Apa yang terjadi?"

Tidak ada jawaban. Ren bahkan tidak mendongak.

Maria mengernyit kesal. "Ren."

Pria itu masih bergeming.

"Ren Aksara." Maria sedikit meninggikan nadanya.

Pria itu akhirnya mengangkat kepala. "Hm."

Maria langsung mengomel. "Jangan 'hm' doang! Anjani hilang sejak pagi? Telepon nggak aktif? Semua orang panik? Dan kamu masih bisa duduk di sini?"

Raka yang berdiri di dekat rak dokumen diam-diam memalingkan wajah. Ia sudah terbiasa melihat Maria memarahi CEO mereka seperti sedang memarahi anak sekolah.

Sementara Ren hanya melirik arlojinya, lalu berkata datar. "Jam sekolah Sae sebentar lagi selesai."

Maria melongo. "Hah?"

Raka juga melongo.

Ruangan mendadak sunyi karena tidak ada satu pun orang yang merasa kalimat itu nyambung dengan topik pembicaraan.

Maria berkedip dua kali, lalu menunjuk dirinya sendiri. "Aku ngomong soal Anjani."

Ren mengangguk. "Ya."

"Kamu ngomong soal Sae."

"Ya."

Maria mulai ingin menggebrak meja. "Apa hubungannya?"

Ren kembali melihat arlojinya dengan tenang, tapi sangat menyebalkan.

"Sae tahu."

Maria mengernyit. "Tahu apa?"

"Di mana Anjani."

Deg.

Kali ini bahkan Raka ikut menoleh. Untuk pertama kalinya sejak tadi wajahnya berubah.

Maria langsung berdiri tegak. "Tunggu." Tatapannya menyipit. "Kamu tahu sesuatu?"

"Tidak."

"Lalu kenapa Sae?"

Ren menyandarkan tubuh ke kursi. "Sae memperhatikan lebih dari yang dia tunjukkan."

Maria terdiam, mengakui bagian itu memang benar. Anak bermuka datar itu memang aneh. Ia jarang bicara dan bereaksi, tapi hampir selalu memperhatikan hal-hal kecil yang dilewatkan orang lain.

Ren kembali melihat arlojinya. "Jemput dia."

Maria masih menatap curiga, namun beberapa detik kemudian akhirnya mendecih. "Kalau ternyata anakmu nggak tahu apa-apa, aku yang akan mencekikmu."

"Silakan."

Maria langsung memutar mata, lalu berbalik menuju pintu, dan sebelum keluar, ia kembali berhenti.

"Ren."

"Hm."

"Kamu nggak kelihatan panik."

Tatapan Ren kembali turun ke dokumen di depannya. "Saya tidak punya waktu untuk panik."

Maria menatap sepupunya itu beberapa detik sebelum akhirnya keluar. Ruangan menjadi sunyi lagi.

Lima belas menit kemudian, sekretaris mengetuk pintu. "Pak Ren."

"Hm."

"Pak Wirat sudah datang. Beliau tidak sendiri."

Ren mengangkat kepala. "Dengan siapa?"

"Beliau datang bersama Bu Cintya."

Ruangan mendadak lebih dingin. Raka yang sedang memeriksa jadwal langsung mengangkat kepala.

Tatapan Ren tidak berubah, namun jari telunjuknya berhenti mengetuk meja, tanda kecil yang hanya dipahami orang-orang terdekatnya.

"Persilakan masuk."

"Baik, Pak."

Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk terlebih dahulu. Pak Wirat, salah satu investor terbesar Aurora. Orang yang memiliki cukup saham untuk didengar, tapi tidak cukup saham untuk mengatur Ren.

Di belakangnya Cintya berjalan anggun dan profesional. Jejak kemenangan tak terlihat di wajahnya. Tidak ada senyum licik dan sikap berlebihan.

"Pak Ren." Pak Wirat mengulurkan tangan.

Ren menyambutnya singkat. "Pak Wirat."

Mereka duduk, sementara Cintya mengambil tempat sedikit ke samping. Posisi yang tidak menonjol, tapi tetap terlihat.

Pak Wirat langsung masuk ke inti pembahasan. "Saya tidak akan bertele-tele."

Ren mengangguk. "Silakan."

"Situasi Aurora saat ini mengkhawatirkan."

Kalimat pertama langsung mengenai sasaran.

"Model utama belum ada konfirmasi. Acara tinggal besok. Media sudah bergerak. Investor mulai bertanya." Nada bicaranya tetap sopan, tetap profesional, namun tekanannya jelas.

"Kami membutuhkan kepastian," tuntut Pak Wirat pada akhirnya.

Ren mendengarkan tanpa memotong.

Pak Wirat melanjutkan. "Kami menghormati keputusan Anda sejak awal. Namun saat ini risiko finansial terlalu besar."

Pria itu menggeser pandangannya ke arah Cintya. "Saya datang membawa solusi."

Raka langsung menghela napas dalam hati, karena ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Cintya." Pak Wirat menunjuk wanita itu. "Profesional, berpengalaman, sudah mengenal Aurora, sudah memahami konsep kampanye, dan yang paling penting..." Tatapannya kembali ke Ren.

"Dia tersedia."

Cintya sedikit menundukkan kepala, memainkan peran sempurna sebagai orang yang hanya ingin membantu. "Saya tidak berniat mengambil hak siapa pun, Pak Ren. Kalau Mbak Anjani kembali, tentu saya ikut senang." Suaranya lembut. Kalimatnya juga terdengar baik.

"Saya hanya tidak ingin Aurora mengalami kerugian," imbuh Cintya lagi.

Pak Wirat mengangguk puas, tepat seperti yang ingin ia dengar. Sementara Ren masih diam. Tatapan tajamnya bergantian menatap Pak Wirat dan Cintya.

Dan entah mengapa, Cintya mulai merasa tidak nyaman, karena sorot mata Ren tidak terlihat seperti orang yang sedang mempertimbangkan usulan, melainkan seperti orang yang sedang menghitung sesuatu hukuman.

*

*

*

Waktu terus berjalan. Jarum jam perlahan bergerak menuju sore.

Dan semakin lama, kemarahan Anjani semakin sulit ditahan. Ia sudah mencoba berpikir positif, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin Satriya memang sedang keluar sebentar. Namun, setelah berjam-jam berlalu tetap tidak ada kabar.

Anjani bukan orang bodoh. Ia tahu Satriya sengaja melakukannya. Meski begitu, di tengah kekesalannya, Anjani tetap memperhatikan Bella. Anak itu masih terlihat lemas, wajahnya pucat. Namun, panas tubuhnya sudah jauh menurun dibanding tadi malam.

"Minum dulu."

Bella menerima gelas yang disodorkan, meminum obatnya dengan patuh. Sesaat kemudian anak itu mendongak.

"Mama marah?"

Anjani menghela napas. "Tidak."

Bohong. Bella mungkin belum memahami semuanya, tapi anak itu cukup peka untuk menangkap suasana.

"Ayah bikin Mama marah?"

Pertanyaan itu membuat Anjani terdiam sesaat, lalu mengusap rambut Bella.

"Minum obat dulu."

Bella mengerucutkan bibir dan tidak bertanya lagi.

Setelah memastikan Bella makan dan minum obat, Anjani kembali berkeliling rumah. Langkahnya cepat. Pikirannya bekerja lebih cepat lagi. Ia mengingat setiap sudut rumah itu, setiap tempat yang pernah ia tempati selama bertahun-tahun. Dan tiba-tiba ingatannya berhenti di gudang.

Anjani langsung berbalik, berjalan cepat ke arah belakang rumah. Ruangan itu masih sama. Penuh barang-barang lama dan berdebu.

Tatapannya menyapu seluruh sudut, lalu berhenti pada sebuah rak besar. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kalau ingatannya tidak salah, di belakang sana ada jendela.

Anjani segera mendorong rak itu. Sangat berat tapi amarah memberinya tenaga tambahan. Sedikit demi sedikit rak bergeser. Dan benar saja, di belakangnya terdapat jendela tua. Kacanya retak di satu sisi. Engselnya bahkan tampak rusak. Sepertinya kerusakan itu sudah lama ada dan tidak pernah diperbaiki.

Anjani langsung mencoba membukanya, tapi macet. Ia menarik napas, kemudian mendorong lebih kuat.

Brak!

Jendela itu akhirnya terbuka. Angin sore langsung menerpa wajahnya. Kebebasan tepat di depan mata. Namun, senyum tipis yang sempat muncul perlahan menghilang. Ia teringat Bella.

Anjani menoleh. Anak itu masih berada di kamar, belum benar-benar pulih. Ia bisa saja pergi sendiri. Bahkan mungkin lebih mudah. Tapi Anjani tidak sanggup meninggalkan Bella sendirian di rumah kosong seperti ini, sekalipun ia sedang marah, sekalipun Bella sering menyakitinya. Anak itu tetap anaknya.

Beberapa menit kemudian. Anjani kembali ke gudang, membawa barang barang miliknya, dan Bella.

Bella menatap jendela yang terbuka lebar dengan wajah bingung. "Mama..."

"Hm?"

"Kenapa kita lewat jendela?"

Anjani sedang membantu Bella memakai sandal. "Karena pintunya tidak bisa dipakai."

Bella berkedip. "Hah?"

Anjani tidak ingin menjelaskan terlalu banyak. "Ayah lupa sesuatu."

Bella tampak semakin bingung. Namun, akhirnya mengangguk.

Sementara itu, di tempat lain. Maria sedang menyetir mobil dengan satu tangan sembari memijat pelipis dengan tangan lainnya.

"Ya Tuhan..." Ia melirik ke kursi sebelah. "Anak zaman sekarang serem banget."

Sae tidak mengangkat kepala. Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel.

Maria menunjuk layar itu. "Itu apa sih?"

"GPS."

"Aku tahu itu GPS."

"Bagus."

Maria hampir tersedak. "Yang aku nggak tahu kenapa ada GPS di HP Anjani!"

Sae tetap tenang. "Sedia payung sebelum hujan."

Maria melongo. "Oh My God..."

"Aku observasi."

"Kamu penuh intrik."

"Aku cerdik."

Maria memejamkan mata, mencoba sabar, tapi gagal. "Ren benar-benar membesarkan monster kecil."

"Tante jangan memuji."

"Siapa yang memuji?!" Maria ingin menurunkannya dari mobil.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti. Sae kembali melihat layar ponselnya. Titik koordinat terakhir berhenti di satu lokasi. Rumah Satriya.

Maria menatap pagar besar di depan mereka, lalu menekan bel beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Maria mencoba lagi, tetap sunyi.

"Anjani!"

Tidak ada sahutan.

"Hallo!"

Masih sunyi.

Maria mulai mengernyit. Ia berjalan mundur beberapa langkah, lalu menoleh ke Sae. "Kamu yakin?"

Sae melihat layar lagi. "Yakin."

"Rumahnya kayak kosong."

"Titiknya di sini."

Maria kembali menatap rumah itu. Terlalu sepi, bahkan tidak terlihat aktivitas apa pun. "Kamu mungkin salah baca."

"Tidak." Sae langsung menjawab tanpa ragu.

Maria menghela napas. "Kita bisa saja mengejar alamat yang salah."

Sae kembali menatap layar. "Titiknya tidak bergerak."

"Hm?"

"Itu titik terakhir sebelum ponselnya mati."

Maria terdiam. Sae mengangkat wajah, menatap lurus ke arah rumah Satriya.

"Artinya..." Anak itu menyimpan ponselnya ke saku. "Tante Anjani memang sempat ada di dalam rumah itu."

"Berarti sekarang dia sudah pergi dari sana?"

"Bisa iya, bisa tidak."

Maria langsung menatap kembali bangunan di depan mereka. Dan di saat yang sama, beberapa ratus meter dari sana. Anjani sedang menggandeng Bella menyusuri jalan belakang perumahan. Tidak menyadari, bahwa dua orang yang sedang mencarinya, baru saja tiba di lokasi yang ia tinggalkan.

Bersambung~~

1
Basla Fattana
waaahh.......kayaknya ren mau nembak anjani di bali🤭🤭🤭semoga aja ya thor🙏💪👍
Ayuwidia
Dinas sekaligus misi menaklukan hati Anjani
Ayuwidia
Semoga Anjani nggak muntah kayak adegan di full house
Ayuwidia
Kayaknya kalau pingin tajir melintir harus meniru Ren. Kerja terus, tanpa mengenal kata libur 🤭
Yeni Astriani
ditunggu selalu kelanjutan ceritanya Author☺☺☺
ryuka
owww oowww.. yg sadar duluan malah raka 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭
Najwa Aini
kalau kata pribahasa madura..
tep kotep cellot.
Najwa Aini
Lanjut investigasi, Raka. cari alasan lain yg ada di balik alasan lbh efisien itu
Najwa Aini
Ambrukk malah
Ayuwidia
Aamiin, dan semoga kesalahpahaman kamu ke Ren nggak berkepanjangan 🤭
Hary Nengsih
lucu perang m anak nya
ryuka
kangen obrolan sae sma bella lagi thorrr 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
ya ampunn saaeee.. kamu tuh lucu bgt siihhh 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
Yeni Astriani
lanjut Author
Najwa Aini
kok malah berasumsi hanya karena mendengar satu potongan kalimat..
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
Najwa Aini
Berarti dari dulu² perintah Ren itu agak syaithoni..ya..baru sekarang cukup manusiawi
Najwa Aini
sebegitu kuat ya getaran bahunya Raka
Najwa Aini
sebentar..apa dulu yg digoreng nih..yg aromanya sampai memikat gitu
Najwa Aini
sebentar..Aurora itu nama Brand ya..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...
Najwa Aini
ketenangan Anjani itu memukul mental Satrya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!