Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Dari hati ke hati
Rafael berdiri beberapa detik di kamar masa kecilnya.
Tangannya baru saja akan memutar kenop pintu ketika suara isakan tangis terdengar jelas dari dalam kamar yang tidak tertutup rapat. Spontan ia menghentikan gerakannya.
"Mama?" tanya Rafael dalam hati.
"Tolong kamu doakan Bintang, datanglah kemakam bersama Rafael kalau sempat." suara mama Sekar terdengar lirih namun sangan jelas terdengar oleh Rafael.
Rafael terpaku, nama itu.... Bintang.
Nama yang nyaris tidak pernah ia dengar lagi hampir sepuluh tahun lamanya. Setelah mamanya sering ke psikiater karena kakaknya meninggal, Bintang. Ia dan papanya tak pernah lagi menyinggung nama Bintang.
"Maaf ma, Gita selama ini tidak tahu kalau mas Bintang mencari Gita." perkataan Gita bagai petir menyambar tubuh Rafael.
"Apakah Gita mengenal kakaknya? Untuk apa kakaknya mencari Gita?" banyak pertanyaan dalam benak Rafael. Wajahnya menegang hingga suara langkah samar terdengar menuju pintu.
Rafael cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke lukisan di ujung lorong. Pintu kamar terbuka menampilkan Gita dengan wajah sembabnya.
Gita sedikit terlonjak, terkejut melihat Rafael yang berdiri tepat di ambang pintu. Mati-matian ia menahan isakannya. Hatinya diacak-acak, siapa yang tahu ternyata Rafael adalah adik Bintang. Pemuda yang sempat membuat hidupnya bewarna saat remaja.
Gita pikir Bintang hanya kenangan indah yang selamanya akan terkubur jadi masalalu. Nyatanya mereka memiliki benang merah rumit di kemudian hari.
"Kamu kenal kak Bintang?" pertanyaan itu meluncur mulus dari bibir Rafael. Ia tak bisa menahan diri meminta penjelasan.
"Rafael." mata Gita berkedip mendengar pertanyaan Rafael.
"Kalian masuk, mama turun dulu." mama Sekar menengahi.
Mama Sekar berjalan meninggalkan mereka yang masih betah berdiri diambang pintu. Sedetik kemudian Rafael masuk diikuti Gita.
"Aku kenal mas Bintang waktu masih di Jogja." Gita mulai mengingat sosok Bintang dalam hidupnya.
"Waktu itu aku masih SMP, kita ketemu karena dia bantu aku kabur dari tukang palak." Gita tersenyum mengingatnya.
"Aku tahu semua." kata Rafael. Gita menyerngit.
"Aku tahu semua cerita tentang kamu dari kak Bintang. Cewek Jogja cinta pertama kak Bintang. Namanya Ita, bukan Gita." Rafael melanjutkan kata-katanya.
"Ita itu nama kecilku." Gita meringis.
Rafael tertawa pelan, ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Lalu menatap Gita lama, tidak disangka ia bertemu perempuan yang di gilai kakanya dulu setengah mati. Dan sekarang malah jadi istri kontraknya.
Entah mengapa ada rasa yang mengganjal di dadanya.
Rasa yang selama ini tidak pernah ia rasakan saat mendengan nama laki-laki lain di dekat Gita. Namun kali ini berbeda, laki-laki itu adalah kakak kandungnya sendiri.
"Kalian... Sedekat apa dulu?" Tanya Rafael hati-hati. Wajahnya nampak santai tapi matanya menatap lekat kearah Gita seakan tidak ingin melewatkan ekspresi Gita sedetik pun.
Gita menautkan kedua alisnya.
"Maksutnya?"
Rafael menghembuskan napas pendek.
"Sebenarnya...." kata-kata Rafael menggantung. Ia sedikit ragu bertanya pada Gita.
"Hubungan kalian sebenarnya apa?" tanya Rafael akhirnya.
Gita terdiam.
Gita tahu, Rafael hanya bertanya tapi entah kenapa terdengar seperti interogasi ditelinga Gita.
"Kami teman, teman bertukar cerita. Teman bermain. Ya walaupun mas Bintang SMA aku masih SMP." Gita terkikik pelan.
"Cuma itu?" Rafael tampak ragu. Gita menghela napas.
"Mas Bintang cinta pertama aku." kalimat itu menghantam Rafael telak. Rahangnya mengeras tanpa sadar. Ada perasaan tidak suka dan iri dalam dirinya.
Iri karena ternyata kak Bintang mempunyai ruang besar dalam hati Gita. Mungkin hingga kini? Pikir Rafael. Meski Bintang sudah tiada namun tetap saja mampu membuat rasa sesak didadanya.
Gita menatap Rafael yang mendadak diam.
"Tapi hubungan kami tidak pernah sampai tahap pacaran." ucap Gita lirih.
"Kak Bintang pernah bilang suka sama kamu?" tanya Rafael penasaran. Gita menggeleng.
"Tapi dulu aku ngerasa mas Bintang juga suka sama aku." Gita lagi-lagi tertawa. "Tapi aku malu menanyakannya." lanjut Gita.
"Kamu tahu, Kak Bintang selalu bilang kalau dia sukses. Ada gadis Jogja yang ingin dia jadikan istri." Rafael tersenyum samar.
Pipi Gita memerah malu. Ia tidak tahu ternyata Mas Bintang pernah berpikir seperti itu.
"Jadi... Kalian saling suka." mata Rafael menatap lantai kamar.
"Mungkin. Mas Bintang bilang kalo jodoh kita pasti akan bertemu lagi." ucap Gita.
"Mas Bintang baik, selalu bantu aku. Ia menghormatiku tidak pernah melakukan hal aneh. Makanya aku juga sangat menghormati Mas Bintang." Gita melirik Rafael yang masih terdiam.
Semakin Gita bercerita, semakin jelas bagaimana posisi Bintang di hati perempuan itu.
"Kamu..." kalimat Rafael menggantung. "Masih sayang sama Kak Bintang?"
Pertanyaan Rafael membuat Gita tertawa geli. Lalu menggeleng.
"Perasaanku sudah berubah, aku menganggap Mas Bintang hanya bagian dari kenangan indah masa remaja. Saat pertama kali aku jatuh cinta." ucap Gita menatap Rafael lekat. Dada Rafael sedikit lega mendengar penuturan Gita.
"Kalau misal Kak Bintang masih hidup. Kamu bakalan nikah sama dia?" Gita menyembunyikan senyumnya ia tahu kenapa Rafael begini. Mungkinkah?
"Aku nggak tahu, tidak ada yang tahu jalan takdir kita kedepannya." jawab Gita. Rafael mengangguk setuju.
"Yang pasti..." Gita menatap Rafael intens.
"Aku nggak pernah membayangkan akhirnya justru menjadi istri adiknya." Gita tersenyum. Senyum yang entah sejak kapan mulai disukai Rafael.
Takdir memang aneh.
Perempuan yang dulu pernah hampir menjadi masa depan kakaknya, kini justru duduk dihadapannya sebagai istri kontrak yang tanpa ia sadari perlahan mengisi ruang kosong dihatinya.
"Kalau dulu aku tinggal di Jogja dan tidak diJakarta mungkin kita akan bertemu." kata Rafael tiba. Tiba Gita hanya mengangkat pundaknya.
"Kalau dulu kita lebih dulu bertemu, mungkinkah cinta pertamamu aku dan bukan kak Bintang?" pertanyaan Rafael sukses membuat Gita tersenyum geli. Namun sedetik kemudian wajah Gita berubah serius.
"Kalau dari dulu kita bertemu, mungkinkah yang kamu cinta aku dan bukan Rachel?" tangan Gita terangkat tanpa kendali, membelai pipi Rafael pelan.
"Mungkin.." jawab Rafael lirih, matanya memandang Gita sayu, jantungnya berdegup lebih kencang.
Seperti ada sengatan listrik ketika tangan Gita menyentuhnya. Rafael meneliti wajah Gita dalam, ia menelan Saliva membuat jakunnya naik turun. Ini pertama kalinya, ia merasakan getaran hebat dalam dirinya terhadap seorang wanita. Bahkan Rachel pun tidak pernah.
Gita menunduk, tidak sanggup merasakan buncahan dalam dadanya yang seperti akan meledak. Perlahan Rafael mendekatkan wajah mereka. Semakin dekat, Gita semakin tegang. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat milik Rafael. Wangi mint menerpa wajah Gita.
Semakin dekat, bibir mereka hampir bersentuhan...
Tiba-tiba
Ceklek...
Pintu terbuka, Mama Sekar membuka kamar tanpa mengetuk.
"Aduh maaf mama mengganggu." ucapnya salah tingkah.
Refleks mereka mundur saling berjauhan dan membuang muka.
"Kita nggak ngapa-ngapain kok ma, ada apa?" Gita bertanya kikuk. Rafael diam saja berusaha mengatur napasnya yang hampir menuju puncak itu.
Apa ini?????.
Jangan lupa untuk dukung author...
Like, comment, subscribe, vote, kasih gift. Apa aja deh....
terima kasih sudah mampir ^^
Siapa tuh? mantannya kah?