NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 : TELFON TENGAH MALAM DAN KABAR DUKA

FLASHBACK

Malam sebelum kabar kematian Budi.

Rumah Arga sepi. Hanya suara hujan gerimis yang mengetuk kaca jendela ruang kerja. Arga duduk di kursi dengan jas masih melekat di tubuh. Di atas meja ada map coklat berisi data keluarga Budi yang belum sempat ditutup.

Kirana sudah tidur di kamar sejak satu jam yang lalu. Sejak pulang dari kontrakan Budi, Kirana tidak banyak bicara. Hanya duduk diam di sofa dengan tatapan kosong. Arga tahu Kirana sedang menahan rasa bersalah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Arga menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. "Andai saja aku tidak gegabah menangkap Budi minggu lalu... mungkin keluarganya tidak akan seperti ini."

Tiba-tiba HP Arga bergetar di atas meja. Layarnya menyala menampilkan nomor yang tidak dikenal. Jam sudah menunjukkan pukul 00.17.

Arga mengangkat telepon itu dengan hati-hati. "Halo?"

Suara di seberang terdengar pelan dan bergetar. "Halo... Tuan Arga? Ini Budi."

Arga langsung berdiri dari kursi. Kakinya sedikit gemetar. "Budi? Kamu kenapa bisa telepon saya? Bukannya kamu..."

"Saya minta petugas jaga untuk pinjamkan telepon saya, Tuan," jawab Budi dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Saya harus bicara dengan Tuan sekarang. Sebelum terlambat."

Arga mengepalkan tangan. "Katakan, Budi. Katakan sekarang juga."

Budi menarik napas dalam-dalam di seberang telepon. "Orang itu... orang yang mengancam keluarga saya... dia..dia punya tato naga di pergelangan tangan kirinya, Tuan. Ada bekas luka bakar di area lehernya."

Arga membeku di tempat. Tato naga. Luka bakar. Arga mengenal tato itu. " Aku pernah melihat nya tapi di mana...? Seseorang dengan tato seperti itu sepertinya tidak hanya dimiliki satu orang. Tapi luka bakar seperti itu pasti hanya satu orang yang punya."

"Budi, kamu yakin?" tanya Arga dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Saya yakin, Tuan," jawab Budi. "Saya pernah melihatnya sekali di parkiran kantor. Dia pernah datang menemui saya malam hari, dua minggu lalu. Dia mengancam akan mencelakai istri dan anak saya kalau saya tidak melakukan apa yang dia suruh."

Arga menutup mata. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar. " Apa motif nya...? apa tujuan sebenarnya." gumam Arga pelan pikirannya penuh tanda tanya.

"Tuan?" tanya Budi bingung di seberang telepon.

Arga tidak menjawab. Dia hanya menggenggam telepon itu lebih erat hingga buku-bukunya memutih. "Budi, bertahanlah," ucap Arga dengan suara yang tegas. "Aku akan membuktikan kamu tidak bersalah. Aku janji."

Budi tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan di seberang telepon. "Terima kasih. Dan ...Tuan... Tolong jaga istri dan anak saya..."

Telepon itu kemudian ditutup.

Arga berdiri kaku di tempat. Pikiran nya melayang ke wajah Kirana yang tadi sore menangis di dalam mobil. Ke wajah Sari kecil yang memegang boneka kelinci lusuh. Ke wajah istri Budi yang menutup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.

"Siapapun kamu...kalau kamu bertindak sejauh ini... Apalagi kalau sampai berani menyentuh sehelai rambut Istriku. Aku tidak akan membiarkanmu lolos. Sekalipun kamu lari ke ujung dunia." batin Arga.

KEMBALI KE MASA SEKARANG

Pagi hari. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30.

Arga dan Kirana baru saja selesai sarapan bersama Pak Harsono. Suasana meja makan masih tenang. Hanya suara sendok yang menyentuh piring.

Tiba-tiba HP Arga berbunyi. Layarnya menampilkan nama Pak Surya IT.

Arga mengangkat telepon itu tanpa curiga. "Halo, Pak Surya."

Suara di seberang terdengar berat dan ragu. "Halo Pak Arga, maaf mengganggu. Ada kabar buruk. Saya baru dapat telepon dari kepolisian. Budi dikabarkan meninggal karena overdosis obat."

JDERR...

Arga mematung. HP nya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai dengan suara keras. Wajahnya seketika memucat. Matanya melebar. Dadanya terasa kosong.

Kirana dan Pak Harsono kaget. Keduanya menoleh ke Arga dengan tatapan cemas.

"Tidak... tidak mungkin. kemarin malam Budi baru saja meneleponku." batin Arga.

Kirana berdiri dari kursi. Dia berjalan mendekat dengan langkah pelan. "Arga? Kenapa? Ada apa?" tanya Kirana pelan.

Arga tidak langsung menjawab. Dia menunduk dan memungut HP itu dari lantai dengan tangan yang sedikit gemetar. "Budi... Budi meninggal," ucap Arga pelan. Suaranya serak.

Kirana membeku di tempat. "Meninggal? Maksudnya bagaimana?"

"Overdosis obat," jawab Arga singkat.

Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya langsung jatuh tanpa peringatan. "Tidak... tidak mungkin. Dua hari lalu kita baru saja ketemu istrinya. Sari masih kecil. Bagaimana dengan Sari?" suara Kirana bergetar.

Pak Harsono diam mematung. Dia tidak percaya. Seminggu ini dia hanya melihat Budi sebagai karyawan yang melakukan sabotase. Tapi sekarang, dia sadar kasus ini jauh lebih rumit dari dugaannya. "Apa mungkin Budi bukan pelakunya. Apakah Budi hanya korban disini." batin Pak Harsono mulai merasa Janggal dengan kasus ini.

Arga menghela napas panjang. Dia menatap Kirana dengan mata yang merah. "Dua hari lalu... Budi sempat meneleponku," ucap Arga pelan.

Kirana terkejut. "Meneleponmu? Kapan?"

"Tadi malam. Tepatnya tengah malam dia menelfonku." jawab Arga. "Dia bilang ada orang yang mengancam keluarganya. Orang itu punya tato naga di pergelangan tangan kiri dan ada luka bakar di area leher. Dia bilang orang itu memaksanya melakukan sabotase."

Kirana menutup mata. Kakinya terasa lemas. Dia hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada kursi. "Tato naga... ?" gumam Kirana pelan. " Aku pernah melihat orang dengan ciri ciri seperti itu.. iya waktu Aku Dan Rani melakukan meeting bersama Rayhan .. Aku melihat nya berdiri di depan Lobby hotel bersama 2 orang. " ucapnya sembari mengingat kembali saat dia masuk lobby hotel.

Pak Harsono menatap Arga dengan tatapan serius. "Jadi selama ini kita ada kemungkinan salah menuduh Budi, Arga?"

Arga mengangguk pelan. "Iya, Pah. sepertinya Kita salah.Disini Budi hanya dijadikan pion. Pelaku utamanya masih bersih."

Suasana ruang makan tiba-tiba menjadi sesak. Hanya suara hujan yang masih turun di luar jendela.

Arga mengangkat wajah. Sorot matanya tajam. "Kita harus ke rumah Budi sekarang. Kita harus memberi tahu istrinya."

Kirana mengangguk tanpa ragu. "Aku ikut."

Pak Harsono juga mengangguk. "Aku juga ikut, Arga. Ini tanggung jawab perusahaan, Papa sebagai pimpinan merasa ikut andil dalam kasus ini."

Tiga puluh menit kemudian.

Mobil hitam Arga kembali berhenti di ujung gang kontrakan Budi. Hujan masih turun pelan. Jalanan semakin becek. Pak Harsono, Kirana, Arga dan Pak Surya keluar mobil.

Mereka berjalan menuju kontrakan nomor 7. Pintunya sudah terbuka. Istri Budi duduk di lantai dengan Sari di pangkuannya. Wajahnya lebih pucat dari dua hari lalu.

Istri Budi mengangkat wajah ketika melihat Arga, Kirana, dan Pak Harsono datang bersama. "Pak Arga... Nona Kirana... Pak Surya... ada apa kalian datang lagi?" tanyanya dengan suara pelan.

Arga menundukkan kepala. Rasanya seperti ada beban berat yang menekan dadanya. "Mbak... saya punya kabar buruk tentang Budi," ucap Arga pelan. Sorot matanya penuh penyesalan.

DEG

Tiara menatap Arga dengan mata yang melebar. "Kabar buruk? Kabar buruk apa, Pak?"

"Budi... Budi meninggal pagi ini," ucap Arga pelan.

Waktu seolah berhenti. Dunia terasa gelap.

Tiara terdiam selama beberapa detik. Lalu tubuhnya bergetar. Sari yang berada di pangkuannya terbangun dan mulai menangis karena melihat ibunya menangis.

"Tidak... tidak mungkin," bisik Tiara sambil memeluk Sari erat. "Budi... Budi..."

Kirana cepat berjongkok di depan Tiara. Dia memeluknya dengan erat. "Sabar ya, Mbak. Sabar," bisik Kirana sambil ikut menangis.

Pak Harsono hanya bisa diam di dekat pintu. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu. "Ini semua salah kita." batin Pak Harsono.

Arga berdiri di sana dengan tangan terkepal. "Mbak, seluruh biaya pemakaman Budi akan ditanggung perusahaan," ucap Arga pelan. "Perusahaan juga akan memberikan biaya kompensasi untuk Mbak Tiara dan Sari."

Tiara mengangkat wajah. Matanya merah dan berkaca-kaca. "Biaya kompensasi?"

"Iya, Mbak," jawab Arga. "Dan jika nanti terbukti Budi bukan dalang utama dalam kasus ini... pendidikan Sari akan ditanggung perusahaan sampai kuliah."

"Dan juga saya berjanji atas nama saya. Saya akan membuktikan kalau Budi tidak bersalah. saya berjanji akan membersihkan namanya. " lanjut Arga penuh tekad.

Tiara tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk sambil menangis di pelukan Kirana.

Arga menatap pemandangan itu dengan dada yang sesak. "Aku berjanji, Budi. Aku akan membuktikan kamu tidak bersalah. Aku akan membuat orang yang melakukan ini membayar." batin Arga.

Hujan di luar semakin deras. Seolah ikut menangisi kepergian Budi.

Sementara Disini lain kota ini. Orang itu belum sedikitpun dicurigai. Dia masih duduk nyaman di ruang kerjanya yang dingin oleh AC. Dia duduk di kursi kerjanya yang empuk sembari meminum kopi hangat nya. Dia tersenyum tipis penuh muslihat setelah melihat kabar berita kematian salah satu Staf IT di Perusahaan HARSONO GROUP di dalam sel tahanan.

"Kirana ini baru permulaan dari kehancuran mu... selanjutnya adalah giliran suamimu tercinta yang akan mati."

[ BERSAMBUNG... ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!