Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Gadis yang Menghilang Bersama Cahaya
Langit akhirnya tenang.
Tak ada lagi portal.
Tak ada lagi suara sistem.
Tak ada lagi hujan data yang menutupi kota.
Yang tersisa hanya malam dingin… dan ribuan serpihan cahaya biru yang perlahan beterbangan di udara.
Seperti salju.
Seperti abu.
Seperti sesuatu yang terlalu indah untuk disebut kehancuran.
Dan di tengah semua itu—
Lyra masih memeluk Veyra erat.
Meski tubuh gadis itu terus menghilang sedikit demi sedikit.
—
“Tidak…”
Suara Lyra gemetar.
Tangannya makin kuat memegang tubuh Veyra seolah itu bisa menghentikan semuanya.
“Jangan…”
Namun serpihan cahaya terus terlepas dari rambut hitam Veyra.
Dari ujung jemarinya.
Dari kulitnya.
Dan tiap serpihan yang hilang—
membuat tubuhnya makin transparan.
—
Veyra sendiri hanya menatap langit.
Tenang.
Terlalu tenang.
Karena rasa sakitnya perlahan menghilang sekarang.
Suara-suara di kepalanya juga lenyap.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun—
ia akhirnya bisa mendengar dunia tanpa kebisingan.
Tanpa sistem.
Tanpa ketakutan.
Hanya angin malam.
Dan suara seseorang yang menangis untuknya.
—
“Heh…”
Veyra tersenyum kecil.
“Jangan nangis terus…”
Lyra langsung menatapnya dengan mata merah.
“Gimana aku bisa berhenti?!”
“Aku masih hidup.”
“KAMU LAGI NGILANG!”
Deg.
Veyra terdiam sesaat.
Lalu tertawa pelan.
Dan sialnya—
bahkan suara tawanya mulai terdengar samar.
—
Di sekitar mereka—
orang-orang mulai keluar perlahan dari tempat persembunyian.
Pasukan militer.
Warga.
Petugas medis.
Semuanya menatap langit dengan wajah kosong.
Karena mereka sadar—
malam ini dunia berubah
selamanya.
Namun di antara semua itu—
tak ada yang berani mendekat ke Veyra.
Mereka hanya diam.
Menonton.
Karena setelah semua yang terjadi—
tak ada yang tahu harus memandang gadis itu sebagai apa.
Monster?
Penyelamat?
Korban?
Atau hanya seseorang yang terlalu lama dipaksa menanggung dunia?
—
Selene berjalan pelan mendekat.
Biasanya ia akan bercanda.
Biasanya ia akan bilang sesuatu sarkastik.
Namun kali ini—
ia hanya berhenti beberapa langkah dari mereka.
Diam.
—
“…Kamu bener-bener nyebelin ya.”
Veyra melirik kecil.
“Hm?”
“Kamu bikin satu planet panik cuma buat ngilang dramatis.”
Veyra tertawa kecil lagi.
“Maaf.”
“Dan kamu masih sempat minta maaf…”
Suara Selene mengecil sedikit.
“…bodoh.”
Deg.
Meski terdengar kesal—
mata Selene jelas memerah.
Dan Veyra sadar sesuatu.
Ternyata selama ini ada lebih banyak orang yang peduli padanya daripada yang ia kira.
—
Di pusat komando—
suasana jauh berbeda.
Gelap.
Sunyi.
Seluruh layar mati.
Tak ada lagi sistem canggih.
Tak ada lagi jaringan global.
Dan Dokter Arkan—
masih duduk diam di depan monitor kosong.
Wajahnya kehilangan semua kesombongan.
Semua obsesinya.
Semua keyakinannya.
—
“Kita kalah…”
Salah satu staf bicara pelan.
Namun Arkan tidak menjawab.
Tatapannya kosong.
Karena ia akhirnya sadar sesuatu yang paling menyakitkan.
Selama ini ia mencoba menciptakan masa depan sempurna…
namun justru gadis yang ia anggap eksperimen gagal—
yang lebih memahami manusia daripada dirinya.
—
“Heh…”
Arkan tertawa kecil sendiri.
Pahit.
“Jadi ini rasanya…”
Tangannya gemetar kecil.
“…dikalahkan oleh hati manusia.”
—
Kembali ke kota—
cahaya di tubuh Veyra makin sedikit.
Dan Lyra mulai panik lebih parah.
“Nggak…”
Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh wajah Veyra.
Namun jemarinya mulai menembus cahaya tipis.
Seolah tubuh itu perlahan kehilangan bentuk fisiknya.
—
“VEYRA!”
“Aku di sini…”
Suaranya makin pelan sekarang.
Namun masih ada senyum kecil di wajahnya.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Karena Veyra terlihat menerima semuanya.
—
“Aku benci ini…”
Lyra menunduk.
Air matanya jatuh tanpa berhenti.
“Aku baru aja dapet kamu…”
Deg.
Kalimat itu membuat mata Veyra sedikit melebar.
Lalu perlahan melembut.
Karena selama hidupnya—
tak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
Tak ada yang pernah takut kehilangan dirinya.
—
“Heh…”
Ia mengangkat tangan perlahan.
Menyentuh pipi Lyra.
Meski tangannya kini cuma cahaya samar.
“Maaf ya…”
“Jangan minta maaf lagi…”
“Aku nggak nyesel ketemu kamu.”
Deg.
Dada Lyra terasa seperti dihantam sesuatu.
Karena Veyra mengatakannya dengan begitu tulus.
Begitu lembut.
Seolah itu adalah hal terakhir yang ingin ia sampaikan.
—
Tiba-tiba—
angin malam berhenti.
Semua serpihan cahaya biru di udara mendadak membeku.
Dan seluruh kota kembali terasa aneh.
—
Selene langsung menegang.
“…Tunggu.”
Lyra mengangkat wajah cepat.
“Apa?”
Namun sebelum Selene menjawab—
salah satu serpihan cahaya di udara mulai bergerak berlawanan arah.
Lalu serpihan kedua.
Ketiga.
Keempat.
Semua cahaya biru perlahan berputar.
Kembali menuju tubuh Veyra.
—
Deg.
Semua orang membeku.
—
“Ini…”
Selene menatap langit dengan mata melebar.
“Tidak mungkin…”
Cahaya yang tadi menyebar ke seluruh kota kini mulai berkumpul lagi.
Masuk ke tubuh Veyra.
Pelan.
Namun terus bertambah.
—
Lyra langsung menatap Veyra.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi—
cahaya di tubuh gadis itu berhenti menghilang.
—
“Apa yang terjadi…?”
Namun tak ada yang bisa menjawab.
Karena bahkan Veyra sendiri terlihat bingung.
—
Tiba-tiba—
sebuah suara kecil terdengar di kepalanya.
Bukan suara sistem lama.
Bukan suara jutaan data.
Melainkan suara lembut.
Sangat lembut.
“CORE REJECTED.”
Mata Veyra langsung melebar.
—
“NEW STATUS DETECTED.”
Cahaya biru di matanya berkedip pelan.
Dan tulisan transparan muncul di depan wajahnya.
SYSTEM ERASED
HOST SURVIVED
REBUILDING HUMAN LINK...
Deg.
Napas Veyra tercekat.
Karena untuk pertama kalinya—
sistem itu tidak mencoba mengendalikan dirinya.
Tidak mencoba mengubahnya.
Seolah sesuatu memang berubah setelah inti dunia dihancurkan.
—
“Lyra…”
Suara Veyra sedikit lebih jelas sekarang.
Lyra langsung memegang wajahnya.
“Apa?! Apa yang terjadi?!”
Veyra terlihat bingung.
“…aku nggak tahu.”
Namun sebelum sempat bicara
lagi—
BOOOOOOMMMM!
Ledakan besar tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
Semua orang langsung menoleh.
Dan di ujung kota—
sebuah menara hitam perlahan muncul dari bawah tanah.
—
Selene langsung memucat.
“Oh tidak…”
“Apa sekarang lagi?!”
Tatapan Selene berubah serius.
“Seseorang baru aja mengaktifkan server cadangan.”
Deg.
Wajah Veyra langsung berubah.
Karena ia mengenali energi itu.
Energi yang sangat familiar.
Energi yang seharusnya sudah hilang bersama sistem utama.
Namun sekarang—
ia muncul lagi.
Dan kali ini—
jauh lebih gelap.