Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *31
"Hm ... baiklah. Jika bi Diah bisa, maka bi Diah saja. Karena aku juga sudah terbiasa dengannya."
"Baik, tuan muda. Saya akan bicarakan dengan bi Diah sekarang juga."
Namun, belum sempat Wana menjawab apa yang Danu katakan. Tiba-tiba saja, suara Merlin terdengar dari belakang Danu.
"Bicara apa?"
Sontak, kedua pria yang ada di depan Sinta saat ini langsung menatap ke arah wanita tersebut. Seketika, Sinta di buat terasa canggung akan hal tersebut. Sejujurnya, bukan Sinta yang ingin ikut campur dengan apa yang Wana bicarakan. Hanya saja, saat ia masuk, bibirnya malah reflek ikut bicara saat telinga mendengar apa yang Danu katakan.
"It-- itu ... maaf. Aku gak maksud buat-- "
Wana langsung memotong ucapan Sinta dengan cepat. "Gak papa, Sinta. Itu ... ah, iya. Makanan sudah datang. Ada di atas meja sekarang. Kamu pasti lapar kan? Kita makan sekarang?"
Mata dan semua perhatian Sinta pun langsung teralihkan seketika. Rasa canggung akibat ikut bicara secara tiba-tiba pun langsung sirna.
"Oh, boleh. Kebetulan, aku memang sudah lapar," ucap Sinta sedikit berbisik pada beberapa kalimat terakhir.
"Mm ... ayo!"
Sontak, Danu dianggap angin lalu saat Sinta sudah ada di depan mata. Pria itu diabaikan oleh tuan mudanya. Dianggap tidak ada di ruangan tersebut.
"Ee ... tuan muda."
"Hm?" Wana sontak menoleh.
"Sebaiknya, saya pergi sekarang."
"Iya. Memang seharusnya begitu," ucap Wana cepat.
"Ya Tuhan," gumam Danu. "Cepat banget ngomongnya. Ya gini deh kalo cuma ngambil manisnya doang. Sepahnya, dibuang langsung setelah manisnya hilang."
"Apa kamu bilang?"
"Tidak, tuan muda. Saya pergi sekarang."
"Ee ... Danu."
"Ya, Nona."
"Mm ... apa tidak sebaiknya kamu makan juga bareng dengan kami di sini? Setelahnya, baru pergi." Sinta menawarkan dengan hati-hati.
Awalnya, wajah Danu sedikit bahagia. Namun, saat melihat tatapan Wana, wajah itu langsung berubah.
"Terima kasih, Nona. Saya sudah makan tadi. Mm ... lagian, ada urusan penting yang harus saja selesaikan. Saya harus pergi sekarang juga."
"Oh, sayang sekali."
Danu pun beranjak. Tak lupa, bibir pria itu ngomel pelan sambil meninggalkan vila tersebut. "Hm ... nyonya rumahnya cukup ramah dan kelihatan sangat baik. Tapi, tuan rumahnya kan galak."
"Astaga, nona. Sejujurnya, saya juga ingin. Tapi, suami nona tidak mengizinkannya. Lihat saja mata itu, mata yang penuh akan kekesalan. Tatapan tajam yang menakutkan."
Walaupun begitu, walau bibirnya sibuk mengomel, tapi Danu tidak kesal. Apalagi marah. Pria itu malah merasakan hal yang sebaliknya. Dia bahagia. Bahagia karena tuan mudanya itu akhirnya bisa merasakan rasa hangat makan bersama orang yang ia sukai. Bahagia karena sekarang, tuan mudanya tidak murung karena kesepian yang menemani hari.
Sementara Danu terus melanjutkan langkah meninggalkan Vila. Di dalam vila, Wana sibuk melayani istrinya. Iyah ... sedikit terbalik memang. Tapi itu bukan hal yang salah, bukan? Malahan, itu adalah hal yang wajar. Karena istri yang diratukan oleh suaminya, adalah istri yang paling beruntung di dunia.
"Kak Wana. Biar aku saja."
"Gak papa, Sinta. Aku sudah terbiasa melakukan ini. Kamu duduk saja. Biar aku yang siapkan."
"Gak bisa gitu."
"Kenapa tidak?" Wana memotong cepat.
"Karena ... ya ... karena .... "
"Tidak ada alasan. Duduk saja yang manis. Lagian, aku tidak masak. Cuma memindahkan makanan ini dari tempat ke piring saja. Bukan hal yang sulit."
"Tapi, kan-- "
"Nah, sudah selesai. Ayo makan!"
"Iy-- iya baiklah. Terima kasih," ucap Sinta dengan sangat canggung.
Wana pun duduk setelah menata piring di atas meja makan. Gerakan canggung Sinta masih terlihat. Namun, itu hanya sesaat. Karena beberapa detik berlalu, rasa canggung itu malah menghilang. Dia pun makan dengan santai.
Awal makan suasana terasa sangat hening. Hanya ketukan sendok yang bertabrakan dengan piring saja yang terdengar. Namun, itu tidak berlangsung lama. Karena Wana langsung memecahkan kesunyian mereka dengan mengajak Sinta bicara lagi.
"Mm ... kamu sibuk sama bunga tulip, tapi lupa pilih kamar mu tadi. Nanti setelah makan, kita pilih kamar yang mana yang cocok buat kamu."
"Pilih ... kamar? Maksudnya, kita akan tidur terpisah?"
Dengan anggukan pelan sedikit canggung. Wana mengangguk agak kaku. "Iy-- iya. Ke-- kenapa?"
"Ah, gak papa. Mm ... kita beneran akan tidur di kamar yang berbeda? Bagaimana kalau kedua orang tua kita datang? Kalau mereka tau ... apa yang harus kita lakukan?"
Mata di balik topeng itu menatap Sinta lekat-lekat. Perlahan, suara dari bibir indah itu terdengar. Suaranya pelan, tapi juga cukup jelas.
"Jadi ... kamu siap untuk tinggal di kamar yang sama dengan aku, Sinta?"
"Itu ... kenapa tidak?"
Seketika, jawaban itu langsung membuat semu merah di wajah Wana. Jawabannya sederhana juga tidak ada hal aneh yang terdengar. Tapi bisa-bisanya, hanya dengan sebuah jawaban singkat yang biasa saja, Rahwana jadi merona.
Beruntung, rona merah itu tidak terlihat karena tertutup oleh topeng yang ia kenakan. Jika tidak, pria itu semakin kelabakan dibuatnya. Apalagi ketika Sinta melihat secara langsung. Tidak menutup kemungkinan, wanita itu akan bertanya apa penyebab wajah Wana yang berubah warna.
"Anu ... baiklah. Jika kamu bersedia tinggal di kamar yang sama dengan aku, maka kita tidak perlu memilih kamar lagi. Kita akan tinggal di kamar aku saja."
Sinta menjawab dengan anggukan pelan. Senyum tipis singkat terlihat di bibirnya. Singkat tanpa terlalu terlihat. Walau begitu, sedikit saja ekspresi Sinta, mata tajam itu tidak melewatkannya sedikitpun. Semuanya pasti terlihat dengan sangat jelas di mata Rahwana.
"Ah. Ayo selesaikan makan. Setelah itu, kamu bisa istirahat di atas. Kamarnya ada di lantai dua."
"Hm. Iya, baiklah."
Beberapa saat kemudian, Wana mengantar Sinta ke kamar atas. Kamar tempat Wana tidur selama ini. Saat tiba di depan kamar, Wana langsung membuka pintu dari kamar itu dengan cepat.
"Ini kamarnya. Istirahatlah."
Mata Sinta langsung menyapu seisi kamar yang ada di depannya. Kamar itu cukup luas. Ada dua lemari besar yang berdiri tegak tak jauh dari jendela. Di kamar itu juga ada meja rias. Atau lebih tepatnya, isi kamar ini cukup lengkap dengan barang-barang yang sama seperti kamar pada umumnya.
"Istirahatlah, Sinta. Jangan canggung. Butuh apa-apa, katakan langsung padaku. Aku ada di lantai bawah."
Sinta melihat ke arah Wana yang sejak tadi tidak beranjak dari depan pintu. "Mm .... Kak, Wana tidak istirahat sekalian?"
"Aku ... a-- aku sebentar lagi. Ada hal yang harus aku kerjakan di ruang kerja ku."
"Ah, iya. Ruang kerja ada di lantai bawah. Urutan kamar ke tiga dari ruang tamu. Jika butuh sesuatu, kamu bisa datang temui aku di sana."
Lagi, Sinta menjawab dengan anggukan apa yang sudah Wana katakan. "Baiklah."