NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi / Naik ranjang/turun ranjang
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Pagi itu, apartemen mewah Thomas tidak lagi sesunyi biasanya. Cahaya matahari pagi menyinari ruang laundry transparan yang terletak di sudut dekat balkon. Thomas Adiputra, sang CEO yang biasanya hanya memegang pena seharga motor, kini tengah berdiri di depan mesin cuci high-end miliknya. Ia sedang memisahkan kemeja putihnya dari kain-kain lain dengan teliti.

Terdengar suara langkah kaki yang terseret-seret dari arah lorong kamar. Arunika muncul dengan penampilan yang sangat jauh dari kata "estetik". Rambut hitam panjangnya mencuat ke segala arah seperti sarang burung yang terkena badai, matanya masih setengah terpejam, dan ia mengenakan kaos kebesaran yang hampir menutupi celana pendeknya.

"Mas..." gumam Arunika sambil menguap lebar. Ia menyipitkan mata, mencoba fokus pada sosok Thomas. "Loh? Mas lagi... nyuci baju?"

Thomas menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada mesin cucinya. "Menurutmu aku sedang main sulap?"

"Ihh, maksud aku... biar aku aja yang cuci, Mas. Aku kan di sini perannya jadi istri, walaupun kontrak. Masa Mas yang ngerjain semuanya?" Arunika mendekat, mencoba merebut keranjang baju kotor yang ada di dekat kaki Thomas.

Thomas dengan sigap menjauhkan keranjang itu. "Apa? Kamu saja baru bangun dengan kondisi mengenaskan begitu. Jangan menyentuh pakaianku kalau nyawamu belum kumpul semua. Minimal mandi, Arunika. Bersihkan dirimu."

Arunika mengerucutkan bibirnya, ia menarik helai rambutnya yang mencuat ke depan mata. "Pelit banget sih. Aku nggak mandi aja udah cantik, Mas. Mama aja sering bilang aku itu natural beauty."

Thomas berhenti bergerak sejenak. Ia memperhatikan wajah polos Arunika tanpa make-up. Pipi gadis itu sedikit tembam karena bangun tidur, dan bibirnya yang kemerahan tampak mengerucut lucu. Di mata Thomas, dia memang cantik—bahkan terlalu cantik untuk dibiarkan dilihat orang lain dalam kondisi seperti ini.

"Cantik dan berantakan itu beda tipis," sahut Thomas datar, meski detak jantungnya sedikit melompat. "Sana duduk di meja makan. Jangan mengganggu alur kerjaku."

Arunika mendengus, namun ia menurut. Ia berjalan gontai menuju meja makan marmer dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya, matanya menatap kosong ke arah dapur bersih.

"Mas masak apa? Baunya enak banget," tanya Arunika dengan suara masih serak. "Aduh, tiba-tiba aku pengen banget makan semur daging buatan Mama. Mas masak apa? Aku pengen semur—"

Kalimat Arunika terputus saat Thomas berjalan mendekat sambil membawa sebuah mangkuk keramik besar berisi daging berwarna cokelat pekat yang masih mengepulkan uap panas. Aroma kayu manis, cengkeh, dan kecap manis yang gurih langsung menusuk indra penciumannya.

Mata Arunika membelalak sempurna. Binar di matanya seketika mengalahkan cahaya lampu dapur.

"Ini semur?!" pekik Arunika tertahan. Ia langsung menarik mangkuk itu mendekat. "Aaaaakhhh! Mas Thomas kayak cenayang deh! Kok bisa pas banget aku baru mau minta, Mas udah sajiin di depan mata?"

Thomas meletakkan piring berisi nasi hangat dan sepasang sendok-garpu di depan Arunika. "Kebetulan bahan di kulkas tinggal itu. Jangan berteriak sepagi ini, telingaku masih ingin berfungsi sampai usia tua."

"Bohong!" Arunika menyendok kuah semur itu dan mencicipinya. Matanya terpejam saking nikmatnya. "Gila! Ini enak banget, Mas! Lebih enak dari buatan katering kampus! Mas sengaja kan masakin ini buat aku?"

Thomas duduk di hadapan Arunika, menyesap kopinya dengan ekspresi yang diusahakan sedatar mungkin. "Sudah kubilang, itu hanya kebetulan. Berhenti membesar-besarkan hal kecil."

"Halah, gengsi banget sih jadi orang," goda Arunika sambil mengunyah daging yang sangat empuk itu. "Tahu nggak, Mas? Mas Thomas tuh tipikal cowok Act of Service yang levelnya udah 'sepuh'. Galak di mulut, tapi tangannya masakin semur."

"Berisik," potong Thomas cepat, wajahnya sedikit kaku. "Ada hal penting yang harus kita bahas. Tiga hari lagi, kita akan bertemu orang tua kita berdua untuk makan malam resmi. Itu saatnya kita mengumumkan soal pernikahan ini."

Arunika seketika berhenti mengunyah. Raut wajahnya berubah sedikit tegang. "Tiga hari lagi? Cepat banget, Mas?"

"Lebih cepat lebih baik sebelum Marsel atau Mami melakukan hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Thomas tegas. Ia menatap Arunika dengan tatapan mengintimidasi. "Aku ingin kamu akting dengan baik. Jangan sampai ada gerakan mencurigakan. Di depan mereka, kita harus terlihat seperti pasangan yang sudah mantap untuk menikah."

Arunika mengangguk perlahan. "Boleh, aku usahain semaksimal mungkin akting ala-ala pemenang Oscar. Tapi, Mas..."

"Apalagi?" Thomas menaikkan sebelah alisnya.

Arunika memberikan senyum paling manis—atau lebih tepatnya, senyum paling licik yang ia miliki. Ia memainkan jari-jarinya di atas meja. "Boleh minta uangnya nggak buat beli skincare sama make-up? Hehe."

Thomas mengernyitkan dahi. "Bukannya aku sudah memberimu kartu debit untuk operasional?"

"Ih, itu kan buat beli bahan makanan sama keperluan dapur, Mas. Kalau buat skincare yang bagus itu beda lagi anggarannya. Kan Mas yang bilang aku harus terlihat sempurna pas pengumuman nanti. Wajah aku kan harus glowing maksimal biar Aletta nyesel udah rebut Marsel, eh... maksud aku, biar Mas nggak malu punya calon istri kayak aku."

Thomas menatap Arunika lama, lalu ia mendengus pelan sambil merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam legam dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Arunika.

"Pakai ini," ucap Thomas singkat. "Beli apa pun yang kamu butuhkan. Jangan sampai ada alasan 'wajah kusam' saat hari pertemuan nanti. Aku tidak mau investasiku terlihat gagal."

Arunika menyambar kartu itu dengan mata berbinar-binar. "Wahhh! Black card?! Beneran boleh dipake sepuasnya, Mas?"

"Jangan sampai bangkrut, tapi jangan terlalu hemat juga," sahut Thomas. "Dan satu lagi. Setelah belanja, kamu harus menemaniku ke desainer untuk fitting baju. Kita akan pakai baju yang senada."

Arunika memberikan gestur hormat lagi. "Siap, Mas CEO! Pokoknya aku bakal dandan secantik mungkin sampai Mas Thomas sendiri nanti nggak kedip liat aku!"

Thomas hanya bergumam dalam hati, 'Sekarang pun aku sudah susah untuk berkedip kalau kamu di dekatku, Arunika.'

"Eh, Mas," panggil Arunika lagi sambil menyendok nasi terakhirnya.

"Apa lagi?"

"Nanti kalau Mama tanya sejak kapan kita deket, aku jawab apa? Masa aku bilang 'sejak Mas Thomas lemparin kontrak ke muka aku'?"

Thomas terdiam sejenak, ia menatap ke luar jendela apartemen, seolah sedang memutar kembali memori lama di kepalanya. "Bilang saja... sejak aku sering memperhatikanmu diam-diam dari jendela rumah selama sepuluh tahun ini. Tapi kamu saja yang terlalu buta untuk sadar."

Arunika tertawa renyah, menganggap itu adalah bagian dari skenario akting yang disiapkan Thomas. "Wah, keren banget Mas Thomas buat ceritanya! Dalem banget! Oke, aku catat ya. 'Mas Thomas naksir aku diem-diem'. Itu pasti bikin Mama sama Mami baper parah."

Thomas tidak ikut tertawa. Ia hanya menatap Arunika yang kembali asyik memandangi kartu kredit di tangannya.

"Iya," bisik Thomas sangat pelan sampai hanya angin pagi yang mendengarnya. "Anggap saja itu cuma skenario."

Pagi itu berlalu dengan Arunika yang sibuk membuat daftar belanjaan skincare mahal, dan Thomas yang diam-diam merasa dadanya sesak karena kebenaran yang baru saja ia ucapkan dianggap hanya sebuah lelucon oleh gadis yang ia cintai.

Sore harinya di Mall....

Arunika berjalan dengan penuh percaya diri masuk ke dalam toko kecantikan kelas atas. Di belakangnya, Thomas mengikuti dengan tangan di saku celana, wajahnya datar namun matanya selalu waspada mengawasi sekeliling Arunika.

"Mas, bagus yang mana? Yang shade pink atau yang peach?" tanya Arunika sambil mencoba dua warna lipstik di punggung tangannya.

Thomas melirik sebentar. "Ambil dua-duanya."

"Hah? Mahal loh, Mas. Satu aja ratusan ribu."

Thomas mengambil kedua lipstik itu dan memasukkannya ke keranjang belanjaan Arunika. "Waktumu lebih mahal daripada memperdebatkan warna lipstik. Kalau bingung, ambil semua pilihannya. Itu gunanya kartu yang aku berikan."

Arunika melongo. "Mas Thomas beneran tipe 'Sugar Daddy' ya ternyata. Untung cuma kontrak, kalau beneran bisa bahaya buat dompet Mas."

Thomas hanya tersenyum miring. "Jangan khawatirkan dompetku. Khawatirkan saja bagaimana caranya kamu tidak jatuh cinta padaku saat pertemuan keluarga nanti karena aktingku terlalu sempurna."

Arunika tertawa kencang, tidak menyadari bahwa Thomas sama sekali tidak sedang bercanda. Bagi Thomas, tiga hari lagi bukan hanya soal meyakinkan orang tua mereka, tapi soal memulai langkah nyata untuk membuat Arunika Nirmala benar-benar menjadi miliknya, tanpa ada selembar kertas kontrak pun yang membatasi mereka.

***

Arunika definisi "dikasih isyarat tidak mau mengerti" 🤣

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!