Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Malam telah turun sepenuhnya di kediaman Valerio, namun udara di balkon kamar Elowen terasa begitu tipis, seolah oksigen telah dihisap habis oleh ketegangan yang merayap. Elowen berdiri mematung, jemarinya mencengkeram pagar besi balkon yang dingin hingga buku-buku jarinya memutih.
Di telinganya, suara Jeff terdengar melalui sambungan telepon—suara yang biasanya menenangkan, namun kini terdengar seperti lonceng kematian bagi kewarasannya.
"Jeff, kumohon... dengarkan aku sekali saja," bisik Elowen. Suaranya serak, lelah karena pengulangan yang tak membuahkan hasil. "Kita tidak bisa meneruskan ini. Aku merasa... aku merasa kita sudah tidak berada di jalur yang sama. Aku bukan orang yang tepat untukmu."
"Kenapa kau bicara begitu lagi, El?" Suara Jeff di seberang sana terdengar stabil, namun ada nada keras kepala yang tidak bisa dibantah. "Kita sudah melewati satu tahun, Sayang. Aku tahu kau sedang dalam masa sulit setelah kejadian minggu lalu. Itu depresi, El. Dan aku tidak akan meninggalkanmu di saat kau sedang sakit. Aku mencintaimu lebih dari apa pun."
"Ini bukan tentang depresi, Jeff! Ini tentang aku yang sudah hancur!" Elowen setengah berteriak, air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku merasa tercekik. Setiap perhatianmu, setiap kata cintamu... itu justru membuatku sesak. Lepaskan aku, Jeff. Kumohon."
"Tidak, Elowen. Jawabannya tetap tidak," Jeff menyahut dengan kekehan kecil yang terdengar sangat menyakitkan bagi Elowen. "Aku tidak akan membiarkanmu merusak hubungan indah kita hanya karena fase emosional yang tidak stabil. Tidurlah, Sayang. Besok aku jemput ke kampus, ya?"
Elowen memejamkan mata, membiarkan dahinya bersandar pada pilar balkon yang keras. Ia merasa seperti mangsa yang terperangkap dalam jaring laba-laba sutra—lembut, indah, namun sangat mematikan. Jeff terlalu baik, terlalu sempurna, dan kebaikannya itu kini menjadi penjara yang paling kejam bagi Elowen.
Tepat saat itu, ponselnya bergetar di telapak tangannya. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di bagian atas layar.
Ezzra: Terima kasih sudah adil, Baby ❤️
Elowen memutar matanya, sebuah dengusan tak percaya lolos dari bibirnya. Dia benar-benar gila, batinnya. Ezzra pasti sedang membayangkan bagaimana Elowen menderita di antara dua sisi, dan pria itu justru menikmatinya. Ezzra menganggap pengakuan Elowen pada ibunya semalam adalah sebuah bentuk "keadilan" untuk malam panas mereka, padahal itu adalah awal dari bencana besar.
"El? Kau masih di sana?" suara Jeff memecah lamunannya.
"Aku masih di sini, Jeff," sahut Elowen lemas. "Tapi aku serius. Aku tidak bisa berpura-pura lagi. Hati aku... hati aku sudah tidak di sana."
"Aku akan menunggumu sampai hatimu kembali, El. Aku punya seluruh waktu di dunia untukmu. Aku mencintaimu, Sayang. Kumohon, jangan katakan kata putus lagi. Itu menyakitiku."
Elowen ingin berteriak bahwa Jeff seharusnya tersakiti sekarang agar mereka bisa selesai. Ia ingin jujur bahwa semalam ia menyerahkan dirinya pada pria lain, bahwa lehernya penuh dengan tanda yang bukan milik Jeff, bahwa hatinya kini bergetar karena ketakutan dan gairah yang salah pada Ezzra Velasquez. Tapi lidahnya kelu. Kebenaran itu akan menghancurkan Jeff, dan Elowen—meskipun ia merasa hancur—masih memiliki sisa-sisa nurani untuk tidak membunuh jiwa Jeff secara brutal.
Drrtt... Ponselnya bergetar lagi. Pesan baru dari Ezzra.
Elowen menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak untuk membaca pesan itu.
Ezzra: Suaramu terdengar sangat merdu saat memohon padanya, El. Tapi kau tahu, permohonanmu sia-sia. Pria seperti dia tidak akan pernah paham bahwa kau butuh dihancurkan, bukan disembuhkan.
Darah Elowen mendesir dingin. Ia menoleh ke arah kegelapan taman di bawah balkonnya. Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia sedang mengawasi ku?
"Jeff, aku harus menutup teleponnya. Kepalaku pusing," ucap Elowen tanpa menunggu jawaban. Ia langsung memutuskan sambungan sepihak, mengabaikan protes Jeff di ujung sana.
Ia segera mengetik balasan untuk Ezzra dengan tangan gemetar.
Elowen: Kau di mana?! Kau menguntit ku?!
Hanya butuh beberapa detik bagi Ezzra untuk membalas.
Ezzra: Lihat ke arah gerbang samping, di bawah pohon ek.
Elowen mencondongkan tubuhnya ke depan pagar balkon, matanya menyipit menembus kegelapan malam yang hanya diterangi lampu taman yang remang.
Di sana, di bawah bayang-bayang pohon ek yang besar, ia melihat siluet mobil hitam yang sangat ia kenal. Lampu depan mobil itu berkedip sekali, seperti kedipan mata seorang predator yang sedang mengintai mangsanya.
Elowen merasa lututnya lemas. Pria ini benar-benar tidak mengenal batas. Ia sudah sarapan bersama keluarganya pagi tadi, dan sekarang ia kembali di malam hari seperti pencuri.
Elowen kembali masuk ke kamarnya, menutup pintu balkon dengan kasar. Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan mengacak rambutnya frustrasi. Ia merasa seperti ditarik oleh dua kekuatan besar yang berlawanan. Jeff menariknya menuju kehidupan normal yang membosankan dan penuh kepura-puraan, sementara Ezzra menariknya menuju jurang kehancuran yang penuh gairah dan kejujuran yang menyakitkan.
Ponselnya berdering lagi. Kali ini panggilan telepon dari Ezzra.
Elowen mengangkatnya dengan emosi yang sudah di ubung-ubung kepala. "Kau mau apa lagi, Velasquez?! Pergi dari rumahku sebelum ayahku menembak kepalamu!"
Ezzra tertawa di seberang sana, suara tawa yang rendah dan serak, terdengar begitu intim hingga membuat bulu kuduk Elowen meremang. "Ayahmu menyukaiku, El. Dia bahkan mengajakku melihat koleksi mobilnya kapan-kapan. Dia tidak akan menembak calon menantu kesayangannya."
"Kau benar-benar tidak tahu malu," desis Elowen.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tidur untuk kekasihku yang sedang bimbang," ucap Ezzra, nadanya kini berubah menjadi lebih serius.
"Aku mendengar semuanya, El. Bagaimana kau memohon pada si pengecut itu untuk putus. Dan mungkin dia menolak kata putusmu seperti pria yang tidak punya harga diri."
"Berhenti memanggilnya begitu!"
"Kenapa? Kau masih membelanya? Setelah dia membuatmu merasa tercekik?" Ezzra mendengus. "Dengar, El. Kau tidak akan pernah bisa lepas darinya dengan cara memohon. Pria seperti Jeff harus diberikan kenyataan yang pahit agar dia pergi. Kau mau aku yang memberitahunya? Aku bisa saja mengirimkan foto lehermu yang penuh tanda dariku sekarang juga."
"Jangan berani-berani, Ezzra!" ancam Elowen panik.
"Maka lakukanlah sendiri. Atau biarkan aku terus masuk ke dalam hidupmu sampai dia menyadarinya sendiri. Mana yang lebih kau suka?"
Elowen terdiam. Ia terduduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah cermin. Ia menyadari bahwa ia tidak punya pilihan. Jeff adalah dinding beton yang tak tergoyahkan, dan Ezzra adalah buldoser yang siap meruntuhkan segalanya.
"Kau jahat, Ezzra," bisik Elowen lirih.
"Aku tidak jahat, El. Aku hanya jujur. Aku menginginkanmu, dan aku mendapatkan mu. Sementara dia? Dia menginginkan versi 'sempurna' darimu yang sebenarnya sudah mati sejak lama. Sekarang tidurlah. Aku akan pergi, tapi jangan lupa... dalam mimpimu pun, kau adalah milikku."
Sambungan terputus. Elowen meletakkan ponselnya dengan tangan lemas. Ia berjalan menuju jendela, melihat mobil hitam itu perlahan bergerak meninggalkan gerbang mansion Valerio.
Malam itu, Elowen berbaring di ranjangnya dengan perasaan yang semakin kosong. Ia merasa seperti boneka yang talinya ditarik ke sana kemari hingga hampir putus. Ia tahu, esok hari di kampus akan menjadi neraka yang lain.
Jeff akan datang dengan senyum kasih sayangnya, dan Ezzra akan datang dengan tatapan liarnya. Dan Elowen? Ia hanya bisa terus berjalan di atas tali tipis yang siap putus kapan saja, menanti saat di mana ia benar-benar akan jatuh dan hancur berkeping-keping.
"Maafkan aku, Jeff," gumamnya pada kegelapan kamar. "Tapi aku memang sudah tidak bisa diselamatkan."
Di luar, angin malam berhembus kencang, membawa aroma hujan yang akan segera turun, seolah alam pun ikut bersiap menyambut badai yang akan segera meluluhlantakkan hidup seorang Elowen Valerio.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...