Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Sweet Morning Chaos
Matahari pagi menyelinap malu-malu di balik gorden sutra Presidential Suite, namun suasana di dalam kamar masih terasa begitu panas dan pekat. Aneska terbangun dengan rasa pening yang ringan, tapi yang lebih mendominasi adalah rasa remuk di sekujur tubuhnya.
Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun rintihan kecil langsung lolos dari bibirnya. "Aduh..."
"Sudah bangun, Sayang?" suara bariton yang serak dan rendah itu terdengar tepat di telinganya.
Aneska menoleh dan mendapati Arga sedang berbaring menyamping, menopang kepala dengan tangan, menatapnya dengan tatapan "lapar" yang sama seperti semalam. Pria itu sama sekali tidak terlihat lelah; malah tampak begitu segar dan... berbahaya.
"Arga... lo beneran iblis ya?" suara Aneska serak. "Lo liat jam berapa sekarang? Gue baru tidur bentar!"
Arga terkekeh, tangannya mulai merayap masuk ke balik selimut, mengelus pinggang ramping Aneska yang kini penuh dengan tanda kepemilikannya. "Gue udah bilang, Nes. Cadangan tenaga 'perjaka tua' itu nggak main-main. Semalam itu cuma pemanasan."
"Pemanasan pala lo peyang! Gue ngerasa kayak abis ditabrak lari sama truk kontainer tahu nggak!" Aneska mencoba duduk, namun rasa nyeri di bagian bawahnya membuat ia memekik. "AAKKH! Sakit, Arga! Gila ya lo, itu punya lo... itu barang apa linggis sih? Gede banget, nggak masuk akal!"
Tawa Arga pecah memenuhi ruangan. Ia merasa sangat gemas melihat istrinya yang dalam kondisi lemas pun masih sempat-sempatnya mengomel dan menghina "aset" kebanggaannya.
"Eh, jangan disalahin dong. Itu kan sekarang punya lo juga, hak paten lo," goda Arga, ia menarik Aneska kembali ke pelukannya hingga dada polos mereka bertemu. "Lagian semalam siapa yang teriak 'Mas Arga, please jangan berhenti'? Hmm? Siapa yang mendesah kencang banget sampai gue hampir ilang kendali?"
"I-itu kan karena... karena lo mainnya curang!" wajah Aneska merah padam. "Lo sengaja kan naruh tangan lo di situ, terus lo—"
Kalimat Aneska terputus saat Arga tiba-tiba membalikkan posisi mereka. Kini Arga berada di atasnya, mengunci kedua tangan Aneska di atas kepala. Dominasi Arga kembali bangkit, dan Aneska bisa merasakan "kebangkitan" suaminya yang kembali mengeras di bawah sana.
"Arga, no! Gue mau mandi! Gue mau sarapan! Gue laper!" teriak Aneska panik, meskipun jantungnya mulai berdegup kencang lagi.
"Makanannya di sini, Nes," bisik Arga, menciumi leher Aneska dengan intens, menghisap kulit lembut itu hingga Aneska kembali mendesah pasrah. "Gue masih hyper, Sayang. Dan lo adalah satu-satunya obatnya."
"Tapi sakit, Mas Arga... pelan-pelan dong, jangan barbar kayak semalam," cicit Aneska yang akhirnya menyerah pada pesona suaminya.
Arga berhenti sejenak, menatap mata Aneska dengan tatapan yang sangat lembut namun penuh gairah. "Gue bakal pelan-pelan. Gue bakal manjain lo sampai lo lupa rasa sakitnya. I promise."
Dua jam kemudian.
Aneska akhirnya berhasil keluar dari tempat tidur, itu pun karena Arga yang menggendongnya ke kamar mandi. Saat ia mencoba berdiri sendiri untuk memakai jubah mandi, kakinya mendadak lemas dan gemetar.
"Arga! Sialan lo! Gue nggak bisa jalan!" Aneska berteriak dari dalam kamar mandi.
Arga masuk dengan santai, hanya melilitkan handuk di pinggangnya. "Kenapa lagi, Istriku?"
"Liat nih! Kaki gue gemeteran kayak jeli! Gue jalan aja gemetaran, gimana mau berangkat bulan madu?!" Aneska menunjuk kakinya dengan wajah kesal sekaligus malu. "Ini semua gara-gara 'si raksasa' punya lo itu! Gue mau komplain ke pabriknya, kenapa ukurannya nggak manusiawi begini!"
Arga tertawa sampai bahunya terguncang. Ia mendekat dan merangkul pinggang Aneska agar gadis itu tidak jatuh. "Pabriknya ya Papa Wirawan sama Mama, Nes. Mau telepon mereka sekarang?"
"Ih, gila ya lo!" Aneska memukul dada Arga. "Pokoknya gue nggak mau keluar kamar hari ini. Gue mau mogok jalan! Lo tanggung jawab, lo yang harus gendong gue kemana-mana!"
"Dengan senang hati, Nyonya Sebasta," Arga mencium puncak kepala Aneska. "Mau digendong ke meja makan, atau mau digendong balik ke kasur buat ronde ketiga?"
"ARGA! GUE GIGIT YA!"
Aneska benar-benar merasa sudah salah meja sekaligus salah orang. Pria yang ia kira kaku ini ternyata adalah mesin yang tidak bisa berhenti. Tapi di balik omelannya, Aneska tahu, ia tidak akan menukar rasa nyeri dan lelah ini dengan apa pun di dunia. Karena hanya Arga yang bisa membuatnya merasa begitu diinginkan, begitu dicintai, dan begitu... "penuh".