Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
"Iya ibu mau, kebetulan ibu sudah tidak bekerja lagi di tempat bu Anggun. Dia menutup tokonya karena pindah ke luar negeri bersama semua anggota keluarganya."
"Baiklah kalau begitu, nanti saya akan memberitahu Dimas kapan ibu bisa mulai bekerja. Dan Dimas, jangan lupa untuk menghubungi koki itu."
"Baik pak."
Kemudian terdengar suara adzan berkumandang. Papa Adit dan Lisa pamit untuk pulang kerumahnya, tapi ibu Sofia melarangnya.
"Maaf pak, apa tidak sebaiknya pulang setelah adzan? atau mungkin jika berkenan bapak dan nak Lisa bisa melaksanakan sholat Maghrib di sini dulu." Ujar ibu Sofia dengan sopan.
"Apa tidak merepotkan bu?" tanya papa Adit.
"Sama sekali tidak pak, maaf saya melarang bapak untuk pulang, kata orang tua dulu tidak baik dalam perjalanan di waktu Maghrib seperti ini."
"Iya bu, saya mengerti. Terima kasih sudah mengingatkan."
"Sama-sama pak."
Mereka berempat mengambil air wudhu secara bergantian. Setelah itu mereka memasuki ruangan khusus untuk sholat berjamaah yang masih berada di dalam rumah Dimas.
"Silahkan kamu pimpin Dimas." Ujar papa Adit.
"Baik pak."
Mereka berempat melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, dimana Dimas yang menjadi imam. Setelah selesai sholat, Lisa dan ibu Sofia merapikan alat sholat mereka. Lalu mereka berkumpul di ruang tamu lagi. Dan kemudian papa Adit juga Lisa pamit pulang karena hari sudah mulai petang.
Dimas dan ibu Sofia mengantarkan mereka sampai di depan pintu. Papa Adit dan Lisa segera memasuki mobil dan papa Adit langsung melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Dimas dan ibu Sofia kembali masuk ke rumah setelah mobil papa Adit sudah tidak terlihat lagi.
"Nak, bos kamu baik banget ya, bahkan dia mau mengantar karyawannya sampai rumah seperti tadi."
"Iya bu dia itu sangat baik, dia juga ramah dengan semua karyawan termasuk OB seperti Dimas ini bu."
"Tapi bu." Lanjut Dimas.
"Iya nak, ada apa?"
"Dimas mencintai anaknya pak Adit bu."
"Dimas, jangan nak. Ibu ga mau nantinya kamu sakit hati karena cintamu itu."
"Iya bu, Dimas tau itu salah, tidak seharusnya ini semua terjadi. Dimas sadar diri bu, keluarga kita dan keluarganya jauh berbeda. Bahkan perbedaan kita bagaikan langit dan bumi. Tapi perasaan ini datang dengan sendirinya bu, Dimas juga selalu berusaha untuk menghilangkan rasa ini, tapi semakin kesini cinta Dimas malah semakin besar bu."
"Iya nak, ibu mengerti betul bagaimana sifat kamu, dari dulu kamu bersungguh-sungguh dalam segala hal, ibu rasa dalam urusan perasaan kamu juga tak pernah main-main. Tapi sayang, janganlah kamu memilih orang yang salah, dia memang baik nak, tapi kita tidak sederajat dengan keluarga mereka. Ibu hanya ga mau nantinya kamu menderita."
"Dimas paham bu. Sudahlah, cinta ini akan Dimas simpan sendiri. Walaupun cinta Dimas tidak terbalaskan, tapi Dimas akan merasa bahagia saat melihat Lisa bahagia walaupun bahagianya bersama orang lain. Bukankah cinta itu tak harus memiliki kan bu?"
"Iya nak, kamu benar. Tidak ada yang salah dalam mencintai seseorang nak. Sudah sekarang kamu mandi sana, ini sudah malam. Ibu mau memasak buat makan malam kita."
"Iya bu, Dimas masuk dulu ya."
Di balas anggukan oleh ibunya, Dimas melangkah ke kamarnya dan ibu Sofia berjalan menuju ke dapur.
Tak lama Dimas berada di kamar, dia keluar dan berjalan menuju kamar mandi. Dan Dimas kaget saat melewati ibunya yang berada di dapur dalam keadaan menangis.
"Kenapa ibu menangis?"
"Ti-tidak nak, ibu tidak menangis. Tadi ibu ngupas bawang merah jadi mata ibu pedih." Ujar ibu Sofia sambil menghapus air matanya.
"Bu, dari dulu ibu selalu mengajarkan Dimas dengan kejujuran. Ibu jangan bohong ada apa? cerita sama Dimas bu,!"
"Kenapa kamu harus mencintai anak orang kaya nak? kenapa kamu seperti ibu, dulu ibu sangat mencintai bapakmu, kita sama-sama berjuang untuk cinta kita, tapi ibu harus di hina dan di caci maki oleh keluarganya karena keluarga kita berasal dari kalangan yang berbeda. Tapi alhamdulilah bapak membuktikan cintanya itu kepada ibu, dia rela meninggalkan keluarganya demi hidup sederhana bersama ibu. Kenapa kamu sekarang juga mencintai anak orang kaya nak? ibu ga mau nantinya kamu akan terhina seperti ibu dulu." Ujar ibu Sofia masih sambil menangis teringat masa lalunya.
"Ibu, sudah jangan pikirkan Dimas. Dimas sudah bilang, Dimas akan menyimpan rasa ini bu. Sudah jangan menangis lagi. Sayang tuh air mata ibu." Ujar Dimas sambil menyeka air mata ibunya.
"Dimas mandi dulu bu, sudah jangan menangis lagi." Lanjut Dimas.
"Iya nak, sudah sana mandi."
Dimas masuk ke kamar mandi, dan ibu Sofia melanjutkan memasak. Selesai mandi, Dimas melaksanakan sholat isya berjamaah dengan ibu Sofia. mereka hanya berdua karena pak Bayu belum pulang dari bekerja.
Selesai sholat, baru mereka menikmati makan malam yang sudah di sajikan oleh ibu Sofia tersebut. Dimas merasa sangat bahagia melihat kasih sayang ibunya terhadap dirinya.
"Terima kasih bu." Ujar Dimas sambil memegang tangan ibunya.
"Terima kasih untuk apa nak?"
"Untuk kasih sayang ibu yang tiada tara kepada Dimas."
"Sudah semestinya nak, kenapa kamu tiba-tiba berkata begitu?"
"Tidak apa bu, Dimas merasa sangat beruntung terlahir dari seorang ibu yang sangat baik."
"Sudah, ayo lanjutkan makannya. Habis ini kamu istirahat, kamu pasti capek kan kerja seharian."
Dibalas anggukan oleh Dimas. Tak lama kemudian terdengar suara motor berhenti di depan rumah Dimas, yang tak lain adalah motor Dimas yang diantar oleh orang suruhan papa Adit.
Dimas dan ibunya keluar rumah, Orang tersebut memberikan kunci motor Dimas dan langsung pamit pulang. Tak lupa Dimas berterima kasih kepada orang tersebut dan dia langsung pergi karena tidak mau untuk di ajak masuk terlebih dahulu.
.
.
.
Lisa....
Dalam perjalanan pulang papa Adit terus saja menggoda putrinya tersebut.
"Gimana usaha papa sayang?"
"Gimana apanya pah?"
"Ya gimana tadi, kamu seneng kan dengan cara papa ini. Usaha papa ga tanggung-tanggung loh, papa langsung antar ke calon mertua kamu. Hehehe." Ujar papa Adit sambil tertawa kecil.
"Papah, main calon mertua gitu aja, Lisa kan pengen tahu dulu dia seperti apa pah."
"kamu lihat sendiri kan sayang, dia anak baik, sopan, hormat sama orang tua, dia juga rajin beribadah. Papa yakin dia yang terbaik buat kamu."
"Makasih ya pah, semoga dia bisa menjadi imam Lisa."
"Nah gitu dong sayang. Nanti papa bicara sama mama. Kalau sebentar lagi dia akan mendapat calon menantu."
"Pah, jangan bilang mamah dulu. Jadi juga belum, nanti kalau Lisa sudah tahu dia dulu, kalau kita sudah bener-bener tahu semuanya baru bilang sama mamah. Sekarang kan Lisa juga belum tahu pah dia suka sama Lisa atau ga."