Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Setelah merasa semua barang yang ia butuhkan sudah terkumpul lengkap, Shen Yu pun segera berjalan pulang menuju kediamannya.
Sesampainya di rumah, dia tidak langsung istirahat. Ia langsung turun tangan bekerja dengan semangat!
Pertama, ia meletakkan makanan dan buah-buahan di atas meja untuk stok makanannya sendiri.
Kemudian, tugas utama dimulai: Mendekorasi Rumah!
Shen Yu mengambil tangga kayu kecil dan mulai memasang lentera-lentera indah itu di depan pintu, di tiang-tiang teras, dan bahkan menggantung beberapa di beranda lantai dua.
Saat semua lentera terpasang rapi, rumahnya yang tadinya sederhana kini berubah total! Warnanya menjadi cerah, terlihat sangat meriah, dan penuh suasana pesta.
Tak lupa, ia menaruh vas bunga krisan besar yang berwarna kuning keemasan di ruang tamu dan di kamarnya. Aroma bunga itu wangi semerbak memenuhi ruangan.
Shen Yu berdiri di tengah halaman, menatap hasil karyanya dengan mata berbinar-binar penuh kepuasan.
"Wow... luar biasa! Rumahku sekarang terlihat seperti istana kecil yang sedang merayakan pesta!" serunya bangga.
"Nyaman, hangat, dan indah dipandang. Persis seperti yang aku bayangkan."
Shen Yu menepuk-nepuk tangannya bersih.
"Oke, pekerjaan berat selesai! Sekarang waktunya duduk santai di teras, minum teh, dan menikmati pemandangan kota yang sedang sibuk bersenang-senang ini. Hidup itu benar-benar sempurna!"
Malam pun tiba, dan Festival Musim Gugur mencapai puncak kemeriahannya!
Shen Yu sudah mendengar kabar bahwa malam ini akan diadakan acara paling bergengsi dan indah sepanjang tahun: Pameran Kapal Hias.
Konon, para bangsawan dan pejabat tinggi akan menampilkan kapal-kapal model mereka yang dihiasi seindah mungkin, berlayar di sungai utama yang membelah kota.
Dan tentu saja, rumor mengatakan bahwa para Pangeran pun akan turun tangan ikut serta!
"Tentu saja aku tidak boleh melewatkan tontonan sekeren itu!" gumam Shen Yu penuh semangat.
Malam ini, Shen Yu tidak mau berpakaian biasa. Ia ingin tampil sesuai dengan suasana bulan dan bintang.
Ia mengenakan jubah panjang berwarna putih bersih. Kainnya sangat halus dan mengalir lembut. Dan yang paling istimewa, di seluruh bagian bajunya terdapat manik-manik kecil berwarna perak dan biru yang dijahit rapi.
Saat ia berjalan di bawah cahaya lampu atau terkena sinar bulan, manik-manik itu akan berkilauan indah seolah-olah ia sedang mengenakan baju berbintang!
Penampilannya malam ini begitu anggun, begitu bersih, dan memancarkan aura yang sangat memikat siapa saja yang memandangnya.
Shen Yu berjalan keluar rumah dan menuju Alun-Alun Besar serta tepi sungai yang menjadi pusat acara.
Pemandangan di sana sungguh luar biasa!
Semua orang tampak sedang berpesta!
- Para pria dan wanita mengenakan pakaian terbaik mereka, warna-warni cerah seperti taman bunga.
- Para pedagang berlomba-lomba menerangi gerobak mereka dengan lentera-lentera cantik, menjual jajanan, mainan, dan oleh-oleh. Suara mereka terdengar riuh dan semangat.
- Anak-anak kecil berlari-larian kesana kemari memegang lentera bentuk hewan, tertawa renyah dan bahagia tanpa beban.
Suasana sangat hangat, ramai, namun penuh kedamaian.
Shen Yu berjalan di tengah kerumunan dengan senyum lebar. Ia tidak merasa asing sama sekali. Justru ia sangat menikmati energi positif dari semua orang ini.
"Wah... seru sekali! Rasanya bahagia sekali melihat orang lain senang begini," bisiknya pelan.
Matanya memandang ke arah sungai yang luas. Di sana, sudah mulai berjejer kapal-kapal besar yang dihiasi dengan ribuan lampu, siap untuk diarak dan dinilai keindahannya.
"Dan di sana... pasti ada orang-orang 'kenalan'," pikirnya geli sambil mengingat Li Huangfu dan Pangeran Wen.
"Siapa tahu mereka sibuk memamerkan kapal mewahnya, jadi aku bisa lihat dari jauh..."
Shen Yu pun mencari tempat yang strategis dan nyaman untuk menonton pertunjukan utama malam ini!
Area tepi sungai Qinhuai malam ini menjadi tempat paling bergengsi di seluruh kota. Suasana di sana sangat mewah dan eksklusif.
Di sepanjang tepian sungai yang diterangi cahaya ribuan lentera, berkumpullah para bangsawan, pejabat tinggi, dan keluarga-keluarga berpengaruh. Mereka berdiri dengan gagah, memamerkan kapal-kapal hias buatan mereka yang dihias dengan begitu indah dan megah.
Namun, malam ini keramaian menjadi lebih istimewa karena kehadiran tamu-tamu utama.
Tidak hanya satu, tetapi tiga Pangeran hadir secara langsung!
Dan yang paling membuat orang-orang terkesima adalah... Putra Mahkota sendiri pun turut hadir menyaksikan perayaan ini bersama saudara-saudaranya!
Suasana menjadi sangat hormat dan penuh wibawa. Di antara mereka, tentu saja ada Pangeran Wen yang duduk tenang, dan tak jauh dari sana Li Huangfu yang mencoba terlihat keren namun matanya terus mencari-cari sesuatu.
Di tempat yang agak tinggi namun tidak terlalu mencolok, tepatnya di atas Jembatan Lengkung yang indah, berdiri sosok yang sangat memikat mata.
Itu Shen Yu.
Ia bersandar santai di pagar jembatan, kedua tangannya selipkan di lengan baju. Matanya memandang ke bawah dengan wajah tenang dan kagum.
Di bawah sana, sungai yang luas itu dipenuhi oleh kapal-kapal hias yang berjejer rapi.
Setiap kapal memiliki desainnya masing-masing:
- Ada yang berbentuk naga yang megah dengan lampu merah menyala-nyala.
- Ada yang berbentuk perahu bunga yang elegan dengan hiasan kain sutra berwarna-warni.
- Ada pula yang bentuknya unik seperti istana terapung.
Semuanya diterangi oleh ribuan lentera kertas dan lilin, memantulkan cahaya ke permukaan air sungai yang tenang. Pemandangannya... sungguh indah seperti di dalam mimpi!
"Wow... luar biasa," gumam Shen Yu pelan takjub. "Mereka benar-benar mengerahkan segalanya untuk festival ini ya. Indah sekali pemandangannya."
Shen Yu benar-benar menikmati pemandangan itu. Angin malam bertiup sejuk, membuat jubah putih berbintangnya berkibar anggun.
Di bawah sinar bulan, penampilannya terlihat begitu bersih dan memancarkan pesona yang sulit dijelaskan.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di bawah sana, di antara orang-orang penting itu, ada dua orang yang sedang memikirkannya dengan intensitas tinggi.
'Ah... andai saja Tuan Shen ada di sini melihat keindahan ini,' pikir Pangeran Wen sambil menatap langit.
'Mana kau bersembunyi...' pikir Li Huangfu gelisah.
Tapi Shen Yu di atas jembatan hanya tersenyum lebar.
'Asik... tontonan gratis kelas atas. Enak sekali hidup di zaman begini,' batinnya senang.
"Malam ini benar-benar sempurna. Pemandangan indah, suasana hangat, dan perut pun kenyang. Apa lagi yang bisa diminta?"
Tiba-tiba...
TARRAA!! DURRR!!
Suara ledakan keras terdengar dari kejauhan, dan seketika itu juga kembang api meletus indah di langit malam!
Warna-warni cahaya menyebar luas, menerangi seluruh pemandangan sungai dan kota. Bersamaan dengan itu, musik tradisional yang meriah dan lembut mulai dimainkan secara bersamaan oleh para musisi di tepian dan di atas kapal-kapal.
Dung... teng... ting...
Suasana menjadi begitu magis dan hidup!
Dengan gerakan perlahan namun anggun, iring-iringan kapal hias itu pun mulai bergerak! Mereka berlayar menyusuri aliran sungai Qinhuai yang tenang, membelah air yang memantulkan ribuan cahaya lentera.
Pemandangan itu sungguh memukau! Semua orang yang melihat—baik rakyat biasa maupun bangsawan—terkagum dan tak bisa mengalihkan pandangan.
"INDAH... SANGAT INDAH!!" seru orang-orang dengan suara penuh takjub.
Di atas kapal yang paling megah, yang memiliki hiasan kepala naga kecil di haluannya sebagai tanda status tertinggi, berdiri sosok yang paling dihormati malam ini.
Dia adalah Putra Mahkota.
Ia berdiri tegap di bagian depan kapal, mengenakan jubah keemasan yang sangat mewah. Matanya tenang memandangi pemandangan sepanjang sungai, menikmati alunan musik dan cahaya kembang api.
Wajahnya bijaksana dan penuh wibawa, namun tetap terlihat ramah dan hangat.
Tiba-tiba, seorang wanita muda yang sangat cantik jelita, putri dari seorang pejabat tinggi, berjalan mendekatinya dengan langkah gemetar dan malu-malu. Wajahnya memerah, tangannya memegang ujung bajunya dengan rapi.
Ia membawa sebuah gelas berisi anggur atau teh, berniat untuk menghormati Putra Mahkota.
"Ya... Yang Mulia Putra Mahkota," panggil wanita itu pelan, suaranya lembut terdengar di tengah musik. "Malam ini sungguh indah bukan? Perkenankan saya menghidangkan minuman untuk Yang Mulia."
Putra Mahkota menoleh, melihat wanita muda yang cantik dan pemalu itu, lalu ia tersenyum lembut.
"Terima kasih, Nona," jawabnya sopan. "Silakan duduk atau berdiri di sini saja. Malam ini memang malam yang indah untuk dinikmati bersama."
Suasana di kapal itu menjadi sangat romantis dan hangat, layaknya sebuah adegan dari cerita dongeng.
Dan di atas jembatan, Shen Yu menyaksikan semua itu dengan mata berbinar-binar.
"Wah... keren sekali," gumamnya senang. "Kapalnya bagus-bagus kembang apinya indah..."
Shen Yu benar-benar menikmati setiap detik malam ini.
"Festival Musim Gugur ini memang paling seru! Kelak kalau ada acara lagi, aku wajib keluar rumah lagi!" serunya dalam hati penuh kegembiraan.
Suasana pesta yang indah dan damai itu hancur dalam sekejap mata!
Tiba-tiba, ada yang tidak beres dengan kapal utama tempat Putra Mahkota berada.
"Lihat itu! Kenapa jalurnya miring sekali?!" teriak seseorang dengan panik.
Memang benar! Kapal megah berkepala naga itu bukannya berjalan lurus dan stabil seperti kapal lain, melainkan terlihat oleng, goyang-goyang tidak terkendali, dan seolah dikendalikan oleh orang yang mabuk atau tidak terlatih!
Ia mulai menyimpang jauh dari jalur yang seharusnya!
"Cepat! Putar kemudi! Kembalikan ke jalur!" teriak para pengawal di atas kapal dengan suara panik.
"Jangan biarkan dia menabrak!"
Di tepian sungai dan di kapal-kapal lain, para bangsawan dan pejabat yang melihat kejadian itu langsung panik setengah mati. Wajah mereka pucat!
"Itu kapal Putra Mahkota! Kenapa bisa begitu?!"
"Cepat selamatkan Yang Mulia! Segera kirim perahu kecil untuk mengejar!"
Suasana yang tadinya meriah berubah menjadi kekacauan total! Teriakan dan tangisan terdengar di mana-mana.
Di atas kapal yang sedang kacau balau itu, seorang pelayan kecil yang baru saja lari keluar dari ruang dalam berteriak dengan suara pecah karena ketakutan.
"BANTUU!! KAPAL KITA DISERANG!! ADA PEMBUNUH!!"
Wajahnya penuh darah dan ketakutan. Ia baru saja melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Namun, belum sempat ia bisa menerangkan apa-apa lagi atau memanggil bantuan lebih lanjut...
SYUUU...!!
Sebuah pisau tajam melayang dari balik tirai dan tepat mengenai punggungnya!
"AKH!!"
Tubuh kecil itu terhuyung, lalu dengan berat ia jatuh terguling dan tenggelam ke dalam air sungai yang dingin dan gelap!
Siapa pun yang mendengar teriakan itu dan melihat kejadian itu kini membeku ngeri.