NovelToon NovelToon
ASI Untuk CEO

ASI Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.

Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20.

Qiandra pun melongo, lalu dia terlihat melirik ke arah suami nya. Bahkan sekarang, asap terlihat keluar dari dalam kepala nya. Dia pun mencerna beberapa hal di luar nalar yang kini menimpa diri nya.

Tapi sampai pukul 03.30 pagi, Qiandra yang masih terus berusaha untuk berpikir, tetap saja tidak menemukan jawaban atas pertanyaan nya.

"Akh, mungkin memang setelah tinggal di rumah ini, otak ku memang menjadi pintar. Saking pintar nya aku bisa merapi kan semua buku buku ku yang berantakan, bahkan dengan otak ku yang pas pasan ini, aku bisa mengerjakan semua tugas sekolah dengan posisi tidur. Apa mungkin ada roh orang pintar yang masuk ke dalam tubuh ku ini." Ucap Qiandra pada diri nya sendiri, seraya memasang wajah penuh syukur. Bahkan seulas senyum tercetak dari bibir manis nya.

Dia memilih untuk tidak ambil pusing, dengan ke anehan yang kini menimpa diri nya.

Dia pun ber jalan ke arah meja belajar, yang tiba tiba sudah muncul di dalam kamar nya. Bahkan di atas meja belajar sudah ada tas ransel berwarna merah, sebuah warna yang sebenar nya dia sukai.

Karena filosofi warna merah itu sendiri, arti nya adalah pemberani. Qiandra berharap diri nya bisa berubah menjadi sosok orang yang pemberani. Tapi nyata nya memakai barang yang berwarna merah saja Qiandra tidak berani, apa lagi menjadi sosok pemberani yang berani melawan orang orang yang telah menindas nya.

Karena Qiandra takut, terlihat norak terutama menjadi pusat perhatian, karena memakai sesuatu yang berwarna merah, begitu terlihat mencolok bagi Qiandra. Dan diri nya merasa tidak pantas untuk sekedar menjadi pusat perhatian orang orang yang ada di sekitar nya.

Setelah selesai merapikan buku buku itu, bahkan di atas meja ada beberapa buku tulis yang bertulis kan nama nya, karena bagian nama yang ada di buku itu, sudah bertulis kan nama nya dengan cara di print out.

"Ayo lah Qiandra, persiapkan lah otak mu, untuk nanti menerima semua pelajaran yang di beri kan oleh guru, jangan bebani otak mu itu sekarang. Dengan berbagai pemikiran pemikiran yang memang tidak perlu untuk kamu pikir kan." Qiandra lagi lagi berbicara sendiri dengan nada frustasi sembari mengacak acak rambut nya sendiri.

Dia bukan si otak encer yang begitu pandai dalam menebak sesuatu, dia juga bukan orang pintar yang pandai menyimpul kan sesuatu hal. Walau pun beberapa fakta memang sudah terpampang jelas, di depan mata nya.

Dia tetap masih membutuh kan waktu yang lumayan lama, untuk mencerna atau pun menyimpul kan sesuatu hal.

Dia buru buru masuk ke dalam kamar mandi, untuk mandi. Lalu melakukan tugas nya dengan membersih kan tubuh suami nya, lalu menyusui suami nya itu sampai suami nya itu terlihat kenyang.

Tok

Tok

Tok

Ceklek

Pintu pun terbuka, beberapa pelayan yang ada di rumah Julia masuk ke dalam kamar Qiandra dengan lancang, karena sedari tadi yang punya kamar. tidak menjawab panggilan dari pelayan yang ingin mengantar kan makanan untuk nona muda nya itu sarapan.

Karena Qiandra sedari tadi masih kalut dengan beberapa pikiran pikiran yang masih saja mengganjal pada hati nya, sembari masih menyusui suami nya.

Tiba tiba Felix suami nya pun melepas kan puting milik nya dari dalam mulut nya, "Kenapa di lepas, padahal Asi nya ini belum kosong, masih banyak air susu nya." Qiandra berbicara sendiri, sembari memasang wajah bertanya tanya ke arah suami nya. Karena Dia merasa dada nya masih terasa penuh dan juga sesak.

"Apa mungkin, dia ingin ganti ke puting yang lain. Maka nya dia melepas kan puting yang ini dari dalam mulut nya." Gumam Qiandra lagi, sembari terus menyodor nyodor kan puting yang satu nya lagi, ke dalam mulut suami nya. Tapi suami nya tetap menutup bibir nya, bahkan tidak merespon aksi yang Qiandra itu lakukan.

"Ehhem." Terlihat seorang pelayan yang bernama Siti itu berdehem ke arah Qiandra, seketika membuat Qiandra pun menoleh.

Dia kaget, kala melihat banyak nya pelayan yang berdiri ber jejer di sebelah ranjang tempat tidur nya.  Mata Qiandra membulat sempurna kala menatap wajah pelayan paruh baya, yang dia kenal.

"Ibu Siti." Ucap Qiandra dengan nada yang terdengar terbata bata, lalu dia terlihat menunduk kan wajah nya. Menggigit bibir bawah nya untuk menahan takut.

"Nona muda, sarapan nya sudah kami tata di atas meja yang ada di sofa, nanti kalau udah selesai makan bisa memanggil kami, biar kami langsung membersih kan sisa sisa bekas makanan yang ada di atas meja," Ucap salah satu pelayan dengan nada penuh hormat ke pada Qiandra.

"I - iya, kalau begitu aku mau sarapan dulu! Silahkan kalau kalian mau keluar," Ucap Qiandra dengan nada yang terdengar begitu halus dan juga sopan.

"Kalau begitu kami permisi nona muda, maaf karena kami telat mengganggu nona muda, kalau ada sesuatu hal yang nona muda butuh kan, jangan ragu untuk memanggil kami."

"Iya saya juga permisi ya nona muda, sekali lagi maaf kan kami. Karena dengan lancang masuk tanpa ijin," Ucap salah satu pelayan lagi.

"Iya .. saya memaf kan kalian kok." Ucap Qiandra masih menunduk kan wajah nya.

"Ayo Siti, kita keluar. Nanti kalau sampai nyonya Julia melihat kita di sini dan malah mengganggu anak dan juga menantu nya,  bisa bisa kita semua di pecat!" Ucap salah satu pelayan lain, sembari masih berusaha menarik bahu Siti.

Karena sekarang Siti terus memandang wajah Qiandra, dengan tatapan wajah tidak suka. bahkan sebuah kebencian tercetak jelas dari balik wajah nya.

"Tinggal kan aku sendiri di sini, aku masih ada urusan dengan anak yatim piatu itu." Siti dengan wajah geram, ingin menghampiri Qiandra yang sedang ber jalan ke arah sofa.

"Sudah lah Siti, apa pun masalah yang dulu terjadi antara kamu dan juga anak itu, ku mohon jangan menyakiti nya. Sekarang dia itu majikan kita." Salah satu pelayan sedang berusaha untuk menenangkan Siti.

Qiandra kini duduk di atas kursi sofa dengan menunduk kan wajah nya, lalu dia mulai mengambil makanan yang kini tersedia di atas meja sofa yang ada di depan nya.

'Dia itu ibu nya Mirna, ibu dari teman sekolah ku. Mirna mengaku sebagai anak orang kaya di sekolah ku. Kenapa juga pada saat itu aku harus jujur, jika orang yang mencuri uang kas sekolah ku, adalah Mirna. Padahal saat itu aku hanya di tanya, apakah aku melihat orang yang masuk ke ruang kepala sekolah dan salah ku saat itu, aku dengan jujur menjawab, jika aku melihat Mirna masuk ke dalam ruang kepala sekolah. saat aku masuk ke dalam ruang guru untuk meletak kan buku buku tugas yang baru saja di kumpul kan. Aku sangat menyesal, kenapa saat itu aku harus jujur dan mengatakan apa yang aku lihat, harus nya aku jawab saja tidak tahu,' Batin Qiandra dari dalam hati nya. Sembari sesekali melirik ke arah keributan yang berada tak jauh dari nya.

Qiandra kini mulai memakan makanan yang ada di depan nya, dengan mengunyah makanan itu begitu pelan. Karena dia begitu kalut dengan berbagai pikiran yang kini menghantui diri nya.

Setelah selesai dengan semua kegiatan nya, dia mulai memakai sepatu baru yang sudah tersedia di dalam kamar nya. Karena saat di rumah, dia mencari sepatu usang nya tapi tidak ketemu. Jadi mau tidak mau dia harus memakai sesuatu yang memang sudah tersedia, tidak mungkin juga dia berangkat ke sekolah tanpa alas kaki.

Dia melirik ke tas usang, yang kemarin dia gunakan untuk mengangkut buku buku pelajaran yang ada di rumah, unyuk membawa buku buku sekolah nya itu ke rumah ibu mertua nya.

"Bingung aku, sepatu ini begitu bagus dan mewah, walaupun ber warna merah. tapi ya memang ada nya ini. Tapi tas nya, kalau aku pakai juga ke sekolah, pasti semua orang akan melihat ku dengan tatapan aneh. Ya udah lah, aku memilih pakai tas lama ku, walau pun bolong sedikit gak pa pa lah." Akhir nya setelah lama ber fikir, Qiandra pun memilih untuk memakai tas lama nya kembali.

Lalu Qiandra pun ber jalan ke arah suami nya, "Aku berangkat sekolah dulu ya kak, semoga Tuhan segera mengangkat penyakit kakak dan menumbuhkan kan kakak, biar hidup kakak bisa normal kembali," Ucap Qindra dengan tulus, lalu dia mencium punggung tangan suami nya itu dengan penuh hormat.

Ceklek

Qiandra pun membuka pintu kamar nya, Alangkah terkejut nya diri nya, kala melihat ibu mertua nya berdiri berbaris dengan beberapa pelayan yang ada di samping nya.

"Maaf Mommy, kalau saya membuat kalian semua menunggu," ucap Qiandra dengan nada tidak enak, saat memandang ke arah ibu mertua dan beberapa pelayan.

"Sudah aku bilang ber kali kali, jangan meminta maaf, jika memang kamu merasa tidak melakukan kesalahan apa pun," ucap Julia sembari menatap tubuh menantu nya itu dari atas sampai bawah.

"Iya, apakah di rumah ini ada sepeda? Atau halte bis yang dekat dengan area perumahan mewah ini?" Tanya Qiandra dengan nada begitu polos, tapi wajah Qiandra tiba tiba terlihat ketakutan, kala ibu mertua nya malah menatap nya dengan tatapan tajam.

"Apa? Sepeda, halte bis, kamu bercanda, kamu adalah menantu satu satu nya rumah ini? Mana mungkin saya membiarkan mu itu berangkat sekolah dengan transportasi itu. Kamu berangkat dengan supir pribadi saya. Terus baju apa yang kamu gunakan sekarang? lalu kenapa memakai tas yang sudah bolong begini? Kamu bisa membuat membuat nama baik keluarga Julia wayne menjadi sangat buruk di masyarakat." Ucap Julia dengan nada yang meninggi, bahkan wajah nya kini sangat terlihat seram.

Julia terlihat memutar tubuh menantu nya itu ke arah kanan dan juga kiri, agar dapat melihat penampilan menantu nya dari segala arah.

Qiandra sendiri hanya menggigit bibir bawah nya, bahkan jantung nya berdetak berkali kali lipat. Bahkan mata Qiandra kini tampak berkaca kaca.

Julia hanya bisa menghembus kan nafas dengan kasar, kala melihat ekpresi menantu nya.

"Ya sudah, ayo kita masuk kembali. Siti buang lah tas milik nyonya Felix," Ucap Julia sembari menyerah kan tas usang Qiandra ke arah Siti pembantu yang ada di rumah nya.

"Saya .. Nyonya," Ucap Siti seraya menunjuk diri nya sendiri.

"Iya kamu, buang tas dan juga isi nya ke tong sampah." Ucap Julia, lalu dengan gerakan lembut mengambil tas yang berada di punggung menantu nya, lalu melempar tas itu tepat ke tubuh Siti.

"ba baik nyonya, saya akan membuang nya." Siti terlihat memasang wajah jijik, kala diri nya berhasil menangkap tas usang Qiandra yang di lempar Julia ke arah nya. Karena tas itu, berbau tidak enak. Bahkan Siti yang membawa tas usang itu ke arah tong sampah yang berada di bagian pojok rumah di lantai,

"Nyo - mommy mertua, terus bagaimana dengan buku buku saya, yang ada di dalam tas." Ucap Qiandra dengan air mata yang akhir nya luruh dari sudut mata nya.

"Tenang Mommy akan mengantar mu hari ini  ke sekolah, mengganti semua buku buku jelek mu itu, dengan buku baru. Dan akan menemui kepala sekolah untuk mencabut beasiswa kaum miskin yang kamu gunakan untuk sekolah di sana, karena mommy mulai sekarang akan menjadi wali untuk mu." Julia berusaha menahan emosi nya.

Karena dia sangat membenci orang yang membantah keputusan nya.

"Bu - bukan itu masalah nya Mommy." Ucapan Qiandra terjeda, karena Julia malah menyela apa yang akan dia ucap kan.

"Apa lagi? Ternyata di balik wajah polos mu itu, kamu adalah seorang anak yang pembangkang," Ucap Julia sembari melirik tajam ke arah menantu nya.

"Hiks hiks hiks, karena di dalam tas itu, adalah sebuah buku tugas. Yang semalam di kerjakan oleh seseorang, karena seingat ku. Aku belum pernah mengerjakan tugas itu sama sekali. Dan tugas itu harus di kumpul kan hari ini, kalau tidak guru akan membuat ku tinggal kelas, karena selama ini nilai untuk pelajaran psikologi ku sangat lah buruk." Ucap Qiandra dengan wajah yang terlihat jujur, bahkan air mata terus menerus luruh membasahi ke dua pipi nya.

"Apa maksud mu dengan seseorang yang mengerjakan tugas mu itu, memang semalam aku yang menaruh sepatu, tas, peralatan menulis dan juga meja belajar yang baru!" Julia kini tampak seperti orang yang sedang berpikir.

Siti yang sudah selesai membuang tas usang milik Qiandra, akhir nya kembali ke barisan teman teman nya.

"Siti! Ambil isi tas usang itu dari tong sampah, lalu bawa masuk ke dalam kamar. Aku menunggumu sekarang!" Ucap Julia dengan nada meninggi.

Para pelayan melirik ke arah Siti, " kok saya kok saya lagi nyonya!" Ucap Siti sembari menunjuk dirinya lagi.

"Ambil isi tas itu atau kamu akan saya pecat sekarang!" Ucap Julia.

"Ba - baik nyonya!" Ucap Siti patuh lalu lari ngacir ke arah tong sampah. Dengan bibir yang terus menggerutu.

"Kalau begitu ayo masuk kembali ke dalam kamar, mommy mertua mu ini, akan mendandani mu menjadi orang berkelas," ucap Julia ke arah menantu nya, Dia memegang kedua bahu menantunya itu membawa nya ke dalam kamar.

Mata Qiandra membulat sempurna, dia baru sadar kalau di dalam kamarnya itu sudah tersedia meja rias, saat laci meja rias itu dibuka. Sudah tersedia beberapa make up dan juga skin care.

"Sekarang Kamu duduk di sini!" Minta Julia sembari mendudukkan menantunya di atas kursi di depan meja rias.

"Baik mommy," Qiandra dengan patuh langsung duduk.

"Lihat dan perhatikan rangkaian skin care yang saya oleskan ke wajah mu, dan perhatikan juga teknik make up agar wajah mu itu lebih glow up tapi tidak menor." Ucap Julia sembari mengoleskan beberapa skin care ke wajah menantu nya.

"Nyo - mommy, boleh kah saya mencatat urutan nya, karena saya tidak yakin otak saya mampu mengingat nya!"

"Oke!"

Qiandra pun yang sudah mendapatkan izin dari mertuanya, berjalan ke arah meja belajar untuk mengambil sebuah buku dan juga pulpen.

Setelah itu Dia mencatat rangkaian skin care yang tadi sudah dioleskan ke wajah nya.

Julia yang tersenyum tipis saat melihat kegigihan dari menantu nya.

"Sudah mommy."

Lalu Julia lanjut ke make up, yang akan dioleskan ke wajah menantu nya.

"Apakah kamu ingin juga mencatat teknik make up ini?" Tanya Julia sembari menaikkan satu alis nya.

"Tidak memi mertua ini hanya pakai lipgloss dan juga bedak tabur tipis, saya bisa mengingat nya," ucap Qiandra lalu menoreh ke arah cermin yang ada di meja rias, matanya berbinar-binar kalah melihat wajah nya sekarang ini.

"Aku pikir kamu menyukai warna merah, tapi aku sadar perempuan polos sepertimu tidak pantas memakai warna merah. Sekarang ganti sepatu mu dengan sepatu baru ini! Dan ini juga tas baru, di dalamnya sudah berisi buku buku yang tadi akan aku buang ke tong sampah!" Ucap Julia sembari menunjuk ke arah meja belajar yang ada di kamar menantu nya.

"Terima kasih banyak mommy mertua," ucap Qiandra dengan mata berkaca kaca.

Qiandra pun langsung memakai tas, sepatu dan juga sebuah jaket takut berwarna putih krem.

Julia tampak tersenyum miring ke arah menantu nya, dia seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu.

Qiandra pun berjalan ke arah kaca, wajah nya terlihat begitu kaget, kala melihat diri nya sendiri. Bukankah kini dia terlihat seperti Cinderella.

'apa nanti yang di pikir kan teman teman ku, tentang penampilanku yang baru.' batin Qiandra dari dalam hati nya, bahkan helaan nafas panjang keluar dari hidung nya. Bahkan kini rawat wajahnya yang awalnya sangat bahagia berubah menjadi sendu.

"Nanti pulang sekolah aku akan menjemput mu, kita pergi akan ke rumah sakit. Untuk melakukan pemeriksaan pada otak suami mu, sepertinya sudah ada sebuah perkembangan, kenapa bisa dia mengerjakan tugas tugas psikologi mu." Ucap Julia melirik tajam ke arah anak nya.

Qiandra hanya bisa membulat kan mata nya.

1
Nurul Mentari
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!