NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Militer / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melabuhkan seluruh rasa

Malam di asrama militer biasanya ditandai dengan kesunyian yang disiplin, namun di rumah nomor 12, kesunyian itu terasa jauh lebih padat dan hangat. Suara jangkrik di luar jendela seolah kalah oleh suara detak jantung dua manusia yang baru saja dipertemukan kembali oleh takdir dan tugas negara.

Shaheer masih bersandar di sofa ruang tengah. Seragam lorengnya sudah berganti dengan kaos oblong hitam yang santai, meski perban putih di lengan kirinya masih terlihat kontras. Adeeva tidak beranjak dari posisinya. Ia duduk di atas karpet bulu, menyandarkan kepalanya di kaki Shaheer, membiarkan jemari suaminya yang kasar namun hangat menyisir rambutnya dengan gerakan lembut yang sangat menenangkan.

"Shaheer?" panggil Adeeva pelan.

"Ya?"

"Jangan pergi lagi sesingkat itu tanpa kabar. Aku hampir gila." Adeeva mendongak, menatap mata Shaheer yang tampak sangat lelah namun penuh dengan binar kasih. "Aku bahkan sempat berpikir untuk kembali ke Jakarta, tapi aku tahu kalau aku lari, aku tidak akan pernah bisa tenang karena tidak tahu kabarmu."

Shaheer menghentikan gerakan tangannya. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan membungkuk untuk meraih kedua tangan Adeeva, membantunya berdiri dan duduk di sampingnya di atas sofa. Jarak mereka kini hilang. Bau sabun antiseptik bercampur dengan aroma maskulin khas Shaheer memenuhi indra penciuman Adeeva.

"Dengarkan aku," suara Shaheer berat dan rendah, jenis suara yang selalu berhasil membuat Adeeva tunduk tanpa merasa dipaksa. "Ke mana pun aku dikirim, entah itu ke hutan paling gelap atau perbatasan paling jauh, aku punya satu alasan kuat untuk tetap hidup dan pulang tepat waktu. Dan alasan itu adalah kamu."

Adeeva merasakan matanya memanas. Ia teringat kembali bagaimana awalnya pernikahan ini terjadi. "Kadang aku masih tidak percaya kamu memilihku. Padahal Abi sudah bilang kalau aku ini anak nakal, anak pemberontak yang bakal bikin kamu susah. Bahkan keluargamu dulu lebih setuju kalau kamu sama Kak Adiba yang jauh lebih sempurna."

Shaheer tersenyum miring, senyum yang biasanya membuat nyali prajurit ciut, tapi kini justru membuat hati Adeeva meleleh. Ia mengusap pipi Adeeva dengan punggung tangannya.

"Kamu pikir aku laki-laki yang bisa dipaksa?" tanya Shaheer retoris. "Sejak awal, aku memang mau kamu, Adeeva. Adiba itu wanita baik, tapi dia bukan orang yang aku cari. Aku butuh seseorang yang berani melawan duniaku, bukan yang hanya tunduk padanya. Kamu mungkin pemberontak, tapi kamu jujur dengan perasaanmu. Dan kejujuran itu yang membuatku jatuh hati sejak pertama kali melihatmu berargumen dengan Abimu."

Shaheer menarik Adeeva semakin rapat ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Adeeva menyandarkan kepala di dada bidangnya, tepat di atas detak jantungnya yang stabil. "Keluargaku atau keluargamu mungkin sempat menolak, tapi aku tentara, Deeva. Kalau aku sudah menentukan target, aku tidak akan mundur sampai target itu jadi milikku. Dan targetku saat itu adalah mendapatkan restu untuk menikahimu, bukan saudaramu."

Kehangatan yang Menjadi Satu

Adeeva merasakan dadanya sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Ia merangsek maju, melingkarkan lengannya di leher Shaheer dan membenamkan wajahnya di leher suaminya. Tidak ada lagi rasa canggung. Ia ingin berada sedekat mungkin dengan pria yang telah memperjuangkannya habis-habisan ini.

Shaheer mengerang kecil saat luka di lengannya sedikit tertarik, namun ia tidak melepaskan pelukan itu. Justru ia menarik pinggang Adeeva agar lebih dekat, mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Posisi ini begitu intim, hingga Adeeva bisa merasakan panas tubuh Shaheer merembes ke balik kain gamis tipisnya.

"Lenganmu... sakit ya?" bisik Adeeva, sedikit merenggangkan pelukannya karena khawatir.

"Sakit ini tidak sebanding dengan rasa sesak karena merindukanmu selama seminggu di sana," sahut Shaheer. Ia memegang dagu Adeeva, mengangkat wajah istrinya agar menatap matanya langsung. "Aku lebih suka kamu yang manja begini daripada kamu yang hobi membanting pintu seperti dulu."

Adeeva tersenyum tipis, lalu dengan keberanian yang baru ia temukan, ia menyentuh rahang Shaheer yang kasar karena belum sempat bercukur. "Kamu terlihat lebih seksi kalau punya jenggot tipis begini, Kapten."

Shaheer tertawa rendah, suara tawa yang terasa bergetar di dada yang menjadi sandaran Adeeva. Ia perlahan mendekatkan wajahnya. Adeeva bisa merasakan embusan napas Shaheer yang hangat di bibirnya. Saat bibir mereka akhirnya bertemu, dunia seolah berhenti berputar. Itu bukan ciuman yang menuntut, melainkan sebuah ungkapan syukur yang mendalam.

Adeeva membalas ciuman itu dengan tulus, tangannya meremas pundak Shaheer, mencari pegangan di tengah gairah yang mulai tumbuh di antara mereka. Shaheer memperdalam ciumannya, tangannya yang tidak terluka mengusap punggung Adeeva dengan protektif, seolah ingin menyatukan dua jiwa yang sempat terpisah jarak ribuan kilometer itu.

Misi Baru dan Kejutan di Balik Pintu

Di tengah momen intim itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang ragu-ragu. Adeeva tersentak dan hampir melompat dari pangkuan Shaheer dengan wajah merah padam. Shaheer menghela napas panjang, sedikit kesal karena interupsi yang tidak tepat waktu.

"Siapa lagi ini?" gerutu Shaheer.

Adeeva merapikan pashminanya yang sedikit berantakan dan berjalan menuju pintu. Saat dibuka, ternyata Fathiyah berdiri di sana dengan wajah yang tampak lelah namun ada semburat aneh di pipinya. Di belakangnya, agak menjauh, Kaysan berdiri sambil menyender di motor dinasnya, melambaikan tangan dengan wajah cengengesan.

"Maaf mengganggu, Deeva. Aku cuma mau mengantar obat antibiotik tambahan untuk Bang Shaheer. Tadi ketinggalan di poliklinik," ujar Fathiyah.

Adeeva menerima bungkusan obat itu, lalu melirik ke arah Kaysan yang tampak sedang menunggu Fathiyah. "Kak Fathiyah diantar Kapten Kaysan lagi?"

Fathiyah berdehem, mencoba bersikap kaku. "Tadi... dia memaksa. Katanya daripada aku jalan kaki malam-malam."

"Bukan memaksa, Dok! Itu namanya pengawalan khusus!" teriak Kaysan dari kejauhan.

Shaheer muncul di belakang Adeeva, merangkul pinggang istrinya dengan posesif. "Terima kasih, Fathiyah. Sampaikan pada Kapten itu, jangan terlalu lama mengganggu adikku. Suruh dia pulang."

Fathiyah mendengus pelan namun ada senyum tipis di bibirnya sebelum ia berbalik pergi menuju motor Kaysan.

Penyerahan Hati yang Utuh

Setelah menutup pintu, Adeeva kembali ke pelukan Shaheer. Mereka berjalan perlahan menuju kamar tidur yang kini terasa sangat hangat. Shaheer menuntun Adeeva menuju studio gambar kecil di sudut ruangan.

"Lihat ini," Shaheer menunjuk meja gambar Adeeva. "Selama di perbatasan, aku selalu membayangkan kamu duduk di sini. Aku tidak peduli orang mau bilang apa soal kamu yang belum bisa jadi istri perwira sempurna. Bagiku, melihatmu bahagia dengan pensil gambarmu itu sudah cukup."

Adeeva menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Shaheer, terima kasih sudah memilihku. Terima kasih sudah tidak menyerah saat Abi melarangmu dulu."

Shaheer mengangkat tubuh Adeeva, menggendongnya menuju tempat tidur dengan sangat hati-hati. Ia meletakkan istrinya di atas kasur seolah Adeeva adalah perhiasan yang paling berharga di dunia.

"Aku tidak pernah menyerah pada apa pun yang memang sudah digariskan untukku, Deeva," bisik Shaheer tepat di telinga istrinya. "Dan kamu adalah garis takdir yang paling indah yang pernah aku perjuangkan."

Malam itu, di rumah nomor 12, asrama militer tidak lagi terasa kaku. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Adeeva menyerahkan seluruh hatinya tanpa sisa. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi butuh pelarian ke Jakarta atau ke mana pun. Karena di dalam pelukan Shaheer, ia telah menemukan kebebasan yang sesungguhnya—kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri dan dicintai tanpa syarat.

Adeeva memejamkan mata dalam pelukan Shaheer, merasakan napas suaminya yang teratur di keningnya. Ia tahu, tugas mungkin akan memanggil lagi, tapi ia tidak takut. Karena kini ia tahu, sejauh apa pun sang Kapten pergi, hatinya akan selalu menetap di rumah ini, bersamanya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Shabrina Darsih
yah ko tamak ka
cerita kaysan sm fathiya blm Ka
Isti Mariella Ahmad: Nanti kalau sempat ya, soalnya ada cerita lain 🤭
total 1 replies
falea sezi
pantes bokap lu marah. lah penampilan uda kayak. lacur. pdhl anak kiyai😒 menjual. diri aja. cocok
falea sezi
gercep. sekali. kapten🤣
Shabrina Darsih
shsher junior
Shabrina Darsih
lasihan deeva baru. uka lembaran baru sm shareer d tinggal bertugas
semangat deeva
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!