NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:56.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Perlahan langkah Adinda maju, terukur dan hati-hati. Udara di lorong itu terasa dingin, merayap sampai ke kulit, tapi tidak sedikit pun mengurangi tekadnya.

Ia melirik ke arah Naya. Alisnya terangkat tipis, memberi isyarat tanpa suara.

“Sekarang.”

Satu kata. Pendek. Tapi cukup untuk mengubah segalanya.

Adinda kembali melangkah, menyusuri lorong yang gelap. Cahaya redup dari ponsel Naya membantu menerangi jalan di depan mereka, meski hanya sebatas cukup untuk melihat pijakan.

“Sepertinya pintunya di ujung sana,” bisik Adinda nyaris tidak terdengar.

Naya mengangguk. “Hati-hati. Jangan gegabah.”

Langkah mereka semakin pelan saat lorong mulai berbelok. Suasana makin sunyi. Bahkan suara napas sendiri terasa terlalu jelas.

Adinda memutar di tikungan—

Dan langsung berhenti.

Dua pria duduk di balik meja. Kepala mereka tertunduk, bertumpu di atas permukaan kayu. Seperti tertidur.

“Kurangi cahayanya,” kata Adinda lirih. “Nanti mereka bangun.”

Tanpa banyak gerakan, Naya langsung meredupkan layar ponselnya. Mereka melangkah lagi. Pelan. Nyaris tanpa suara.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga—

Tiba-tiba salah satu penjaga bergerak. Bahunya bergeser. Kepalanya terangkat sedikit.

“Jangan… bergerak,” gumamnya samar.

Langkah Adinda dan Naya langsung terhenti.

Napas mereka tertahan. Adinda menoleh sedikit ke belakang. Matanya bertemu Naya. Tidak ada kata—hanya satu pesan yang sama: diam.

Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya. Penjaga itu mengerang pelan… lalu kembali menjatuhkan kepalanya ke meja.

Suasana sunyi kembali. Adinda refleks memegang dadanya dan beberapa detik kemudian keduanya bisa bernafas lega.

“Astaghfirullah…” bisiknya lirih, tangannya refleks memegang dadanya. “Cuma ngelindur.”

Naya menatap ke depan lagi, suaranya sangat pelan. “Kita lanjut.”

Kali ini langkah mereka terasa jauh lebih berat, sampai akhirnya berhenti tepat di depan pintu ruangan itu.

  "Kita masuk sekarang?" tanya Naya hati-hati.

  Adinda terdiam sejenak, seperti menyiapkan strategi berikutnya, lalu tanpa menjawab tangannya mulai memegang gagang pintu itu.

   Prok ... prok ... prok ....

  Suara tepukan tangan menggema di ruangan itu. Tiara mengangkat sudut bibirnya tipis, seolah memang sudah menunggu kedatangan Adinda.

 Berbeda dengan Sintia yang sedikit terkejut, tatapannya sedikit menunduk karena dibalik rahasia besar ini ada sebagian rahasia besar yang tidak diketahui oleh anaknya.

  "Ka-mu...," nada suaranya gugup.

 Adinda mendekat tanpa ragu, beberapa penjaga langsung bergerak seolah ingin menghadangnya namun tangan Tiara segera mencegahnya.

  "Biarkan saja, aku hanya ingin tahu sampai dimana keberaniannya," ucapnya sedikit menyeringai.

  Sementara Adinda langsung mendekat kearah keduanya. Tiara juga Ibu Sintia.

  "Oh, jadi semua ini ulah kalian berdua," ucapnya dengan suara cukup tenang.

  Adinda berdiri tegak di hadapan mereka. Tidak tergesa, dan cukup tenang. Tatapannya berpindah dari wajah Tiara… lalu berhenti pada Sintia.

“Akhirnya,” katanya pelan, “semuanya kelihatan jelas.”

Tiara tersenyum tipis. Tidak terkejut. Justru seperti sudah menunggu momen itu. “Kamu lebih cepat dari yang aku kira,” balasnya santai.

Sintia tidak langsung bicara. Wajahnya menegang, tapi ia berusaha tetap terlihat tenang.

“Kamu gak seharusnya ada di sini, Dinda.”

Adinda terkekeh pelan. Hampa.

“Lucu sekali,” katanya. “Orang yang nyulik… malah bilang aku gak seharusnya datang.”

Kalimat itu langsung memotong suasana.

Beberapa penjaga saling melirik. Pak Arbani yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung mencari Adinda—dan saat menemukannya, ada kelegaan yang tak bisa disembunyikan.

“Mbak Dinda...” suaranya serak.

Langkah Adinda maju satu lagi. “Tenang, Pak. Saya di sini.”

Tiara bertepuk tangan pelan, sekali… dua kali.

“Manis sekali,” sindirnya. “Sampai sekarang masih pura-pura jadi penyelamat.”

Adinda menoleh. Tatapannya tajam lalu bibirnya terangkat sedikit.

“Pura-pura?” ulangnya. “Atau kamu yang terlalu lama hidup dalam kepalsuan?”

Senyum Tiara memudar sedikit. “Jangan sok suci, Dinda,” balasnya lebih dingin. “Kalau bukan karena ayahmu, kamu gak akan punya apa-apa.”

"Justru karena aku anak Papa," potong Adinda cepat. “Dan kamu pikir semua itu jadi milikmu?”

Adinda melangkah lebih dekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah, sorot matanya santai tidak tajam tapi dingin.

“Sejak kapan status anak sambung membuatmu merasa berhak atas semuanya?”

Nada suaranya tetap rendah. Tapi setiap kata terasa menekan. Tiara tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras.

Sintia akhirnya ikut bicara. “Kamu gak ngerti posisi kami,” ucapnya. “Selama kamu hilang ingatan, siapa yang jaga kamu? Siapa yang kasih tempat?”

Adinda menoleh pelan. Raut wajahnya berubah. Bukan marah, lebih seperti kaget.

“Jaga?” ulangnya pelan. “Atau manfaatin?”

Sintia terdiam, jari-jemarinya perlahan mengepal kuat, seolah tidak terima. Ingin melawan tapi ... semua kedoknya sudah dikuliti.

Sementara Adinda tidak berhenti.

“Kalau benar menjaga… kenapa semua aksesku ditutup?” lanjutnya. “Kenapa semua keputusan selalu diambil tanpa aku tahu?”

Suasana mulai berubah. Para penjaga yang tadi tenang mulai panik. Beberapa mundur refleks, sementara sisanya saling melirik bingung.

Dan di sudut ruangan, Naya yang sejak tadi diam, perlahan menurunkan ponselnya.

Ia menatap ke arah Adinda singkat dengan isyarat kecil. Semuanya… sudah siap.

Tiara menyadarinya. “Jangan sok menang dulu,” ucapnya tajam. “Kamu datang cuma berdua.”

Adinda mengangkat sudut bibirnya sedikit. “Siapa bilang?”

Kalimat itu baru saja selesai— Suara langkah kaki terdengar dari luar. Cepat dan teratur.

Pintu belakang terbuka keras. Beberapa pria masuk. Gerakannya tegas, langsung menguasai posisi.

Para penjaga yang tadi berdiri mulai panik. Sebagian mencoba bergerak, tapi sudah terlambat.

“Turun!” bentak salah satu dari mereka.

Situasi berubah dalam hitungan detik. Tiara mundur satu langkah.

“Ini apa—”

“Selesai,” potong Adinda. Tidak keras. Tapi mutlak.

Sintia terlihat pucat, kakinya bergetar hebat seolah tidak mampu lagi memijak ke bumi. “Dinda… kamu—”

“Kali ini gak ada yang bisa ditutupin lagi,” balas Adinda, dan anakmu harus tahu tentang ini," ucap Adinda sedikit mengancam.

"Jangan....," suara Sintia tercekat.

Adinda tidak menanggapi. Ia berjalan ke arah Pak Arbani. Tangannya dengan cepat melepaskan ikatan di pergelangan pria itu.

“Maaf, Pak. Saya telat.”

Pak Arbani menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca.

“Mbak Dinda, akhirnya…”

Adinda membantu beliau berdiri. Di belakangnya, suara gaduh mulai mereda. Semua sudah terkendali.

Tiara masih berdiri di tempatnya. Tatapannya berubah. Tidak lagi meremehkan.

“Kamu pikir ini selesai?” ucapnya pelan.

Adinda menoleh tatapannya lurus.“Ini bukan dugaan,” jawabnya dingin. “Semuanya memang selesai malam ini.”

Ia berhenti sejenak. Lalu menambahkan—

“Dan setelah ini… semuanya akan terbuka. Termasuk siapa aku sebenarnya.”

Ucapan itu menggantung di udara—dan tidak ada satu pun yang berani mematahkannya.

Bersambung.....

1
Mundri Astuti
dah halalin adinda Valen, ye ilah....pada malu" meong pada😂
Sugiharti Rusli
apalagi Arya juga sudah punya tanggung jawab lain kepada istri dan putranya sekarang, dan dia sadar kalo kebutuhan Alesia juga tidak akan mungkin dia bisa penuhi seperti yang Valen beri selama ini
Sugiharti Rusli
kalo sudah saling mengerti, paling tidak si Valen tidak harur ovt terhadap interaksi Arya dan Alesia yah,,,
Sugiharti Rusli
dan Arya juga sudah menyadari sepenuh nya, kalo sejak Alesia bayi yang jadi tempat pulang adalah Valen, ayah yang merawat dan mengasuhnya
Sugiharti Rusli
karena biar bagaimanapun keberadaan Arya sebagai ayah biologis Alesia akan tetap melekat sampai kapanpun,,,
Sugiharti Rusli
tapi memang harus dibicarakan sih yah tentang hal ini, agar baik Valen dan Arya memiliki pandangan yang sama tentang putri mereka,,,
Sugiharti Rusli
kira" apa yang akan disampaikan Valen ke Arya saat sekarang mereka bertemu ga sengaja di taman yah, eh kalo Arya sengaja dink mencari putrinya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kamu juga menjaga jarak sama Adinda, padahal kalo kamu sudah mulai nyaman, bisa bicara layaknya dua orang dewasa,,,
Sugiharti Rusli
dan Arya juga ga mungkin mengambil alih perhatian Alesia, dia hanya menganggap teman baik saja dan namanya bocil yah mudah menyapa
Sugiharti Rusli
jadi hal" kecil saja, kamu yang lebih paham kan,,,
Sugiharti Rusli
hadeh Valen seharusnya sih jangan ovt tentang kondisi Alesia yah, kan sedari bayi kamu yang ada di dekat dia,,,
Dew666
🥰🥰
Dew666
🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
yah cukup rumit juga sih hubungan mereka jadinya, yang mengasuh dan merawat Alesia siapa, yang jadi penyumbang benih siapa,,,
Suanti: klu takut segera lah valen nikahin adinda 🤭
total 1 replies
Sugiharti Rusli
entah apa yang nanti akan Valen katakan tentang ketakutannya itu saat Adinda mungkin menyadari yah
Sugiharti Rusli
oke kalo sama Arya dia hanya menganggap teman ayahnya, kalo sama Adinda kan dia sudah nyaman juga memanggil mama
Sugiharti Rusli
tapi apa Alesia lama" ga menyadari kalo dia sengaja dijauhkan tuh sama mereka,,,
Sugiharti Rusli
makanya dia sedang membatasi dirinya dan Alesia, baik ke Adinda maupun ke Arya
Sugiharti Rusli
oh jadi Valen sekarang lagi mode insecure terhadap perasaannya sebagai seorang ayah yah,,,
Marini Suhendar
Valen..alesia pasti tetap kamu yakin lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!