NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam itu, cahaya bulan merayap masuk melalui celah gorden kamar utama kediaman Pradipta. Dewa masih terjaga, namun kali ini bukan karena memikirkan bursa saham atau ancaman dari luar.

Ia berbaring miring, menatap wajah istrinya yang terlelap dengan sangat damai. Aira mengenakan daster biru muda, salah satu dari koleksi daster baru yang dibelikan Dewa, dan terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat mereka masih tinggal di gang sempit.

Dewa mengulurkan tangan, merapikan anak rambut yang menutupi dahi Aira. Ia merasa seolah hidupnya baru saja dimulai kembali. Segala kemewahan yang ia miliki selama ini terasa hampa sampai Aira masuk ke dalamnya dan membawa aroma tumis kangkung serta tawa yang tulus.

Tiba-tiba, Aira bergerak sedikit. Matanya mengerjap terbuka dan ia mendapati suaminya sedang menatapnya tanpa kedip.

"Mas... kok belum tidur?" bisik Aira dengan suara khas orang bangun tidur yang serak namun manis di telinga Dewa.

"Belum ngantuk, Ai. Masih pengen lihat wajah kamu," jawab Dewa sambil tersenyum tipis.

Aira menarik selimutnya lebih tinggi, menutupi sebagian wajahnya karena malu. "Mas gombal terus. Nanti kalau aku terbang, Mas yang susah nangkepnya."

Dewa terkekeh, ia menarik Aira ke dalam pelukannya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dada bidangnya. "Ai... besok aku harus ke luar kota selama dua hari. Ada peresmian cabang baru di Surabaya. Kamu mau ikut?"

Aira terdiam sejenak. Ia teringat Nyonya Widya yang baru saja memintanya untuk menemaninya ke acara bakti sosial di Jakarta pada waktu yang sama. Hubungannya dengan ibu mertuanya sedang berada di tahap gencatan senjata yang manis, dan Aira tidak ingin merusaknya.

"Mas... sepertinya aku tidak bisa ikut. Mama minta ditemani besok. Aku ingin benar-benar jadi menantu yang baik buat Mama," ucap Aira tulus.

Dewa menghela napas panjang, ada nada kecewa yang tidak bisa ia sembunyikan. "Dua hari tanpa kamu itu rasanya seperti setahun tanpa gajian, Ai."

"Mas lebay! Kan ada telepon, ada video call. Lagipula, Mas kan mau kerja, bukan mau bulan madu," ledek Aira sambil mencubit pelan pinggang Dewa.

"Justru itu masalahnya. Aku kerja biar bisa bulan madu terus sama kamu," balas Dewa sambil mengecup puncak kepala Aira.

Keesokan paginya, suasana kamar menjadi sedikit riuh. Dewa yang biasanya tenang saat menyiapkan keberangkatan, tiba-tiba menjadi sangat rewel. Mungkin karena ia tahu Aira tidak ikut bersamanya.

"Ai! Kemeja putihku yang biasa di mana? Kok tidak ada di gantungan?" seru Dewa dari dalam walk-in closet.

Aira yang sedang menyiapkan sarapan di dapur kecil lantai atas langsung berlari masuk. "Ada di situ, Mas. Di deretan paling depan."

"Tidak ada, Ai. Ini semuanya kemeja biru," keluh Dewa.

Aira mendekat, menggeser satu gantungan, dan muncullah kemeja putih yang dicari Dewa. "Ini apa, Mas? Masa ini warnanya hijau?"

Dewa menyengir tanpa dosa. "Oh, iya. Tadi tertutup bayangan mungkin."

Beberapa menit kemudian, Dewa kembali memanggil. "Ai! Kaos kakiku yang ada motif garisnya di mana?"

Aira menghela napas, ia mendekati laci kaos kaki dan langsung mengambilkan yang diminta Dewa tanpa perlu mencari lama. "Mas Dewa... Mas itu CEO terkaya, tapi cari kaos kaki saja tidak bisa?"

Dewa menarik tangan Aira, menariknya mendekat hingga jarak di antara mereka hilang. "Aku bukannya tidak bisa mencari, Ai. Aku cuma ingin kamu yang mengambilkannya. Biar ada bau tangan kamu di bajuku selama aku di Surabaya."

Aira memutar bola matanya, namun hatinya meleleh juga. "Sudah, cepat pakai bajunya. Sebentar lagi Pak Bambang sampai."

Setelah Dewa berangkat dengan berat hati, Aira menarik napas lega. Ia merasa rumah ini mendadak sangat sepi meski ada puluhan pelayan di sekelilingnya. Ia segera bersiap untuk menemani Nyonya Widya.

Acara bakti sosial itu diadakan di sebuah panti asuhan di pinggiran Jakarta. Nyonya Widya tampak sangat anggun dengan setelan batiknya, sementara Aira mengenakan gamis berwarna mocca yang sederhana namun elegan.

Di sana, mereka bertemu dengan banyak tamu undangan, termasuk para pengusaha dan istri-istrinya. Aira berusaha bersikap sopan, meskipun ia merasa beberapa mata menatapnya dengan pandangan menilai.

"Oh, jadi ini istri Dewa?" tanya seorang wanita paruh baya dengan perhiasan yang sangat mencolok. "Cantik ya, Widya. Dengar-dengar dari kalangan... orang biasa?"

Nyonya Widya, yang biasanya sensitif dengan status sosial, kali ini justru berdiri tegak di samping Aira. "Aira bukan orang biasa bagi keluarga kami. Dia adalah jantungnya Pradipta. Dan ya, dia jauh lebih tulus daripada perhiasan mahal mana pun."

Aira tersentuh. Ia melirik ibu mertuanya dan memberikan senyuman terima kasih. Namun, suasana haru itu terganggu ketika seorang pria muda dengan kamera profesional di lehernya mendekat.

"Nyonya Muda Aira? Boleh minta waktunya sebentar untuk sesi foto dan wawancara singkat soal panti ini?" tanya pria itu ramah. Ternyata dia adalah fotografer resmi acara tersebut, sekaligus teman sekolah Aira saat SMA dulu, bernama Adit.

"Adit? Kamu Adit yang dulu ketua OSIS kan?" seru Aira kaget.

"Wah, kamu masih ingat aku, Ai? Kamu sekarang jadi Nyonya Pradipta, hebat ya!" Adit tertawa renyah. Mereka pun mengobrol sebentar, mengenang masa sekolah yang sederhana.

Tanpa Aira sadari, salah satu asisten Nyonya Widya yang kurang suka dengan Aira mengambil foto saat Aira dan Adit sedang tertawa bersama. Foto itu langsung dikirimkan kepada Dewa dengan caption.

"*Nyonya Muda tampak sangat akrab dengan fotografer di acara bakti sosial*."

~~

Malam harinya di Surabaya, Dewa baru saja selesai rapat makan malam saat ia melihat foto yang dikirimkan asisten ibunya. Darahnya mendidih. Ia tahu Aira setia, tapi sifat posesifnya yang sudah mendarah daging membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

Dewa segera melakukan video call ke Aira.

"Halo, Mas! Sudah makan?" sapa Aira dengan wajah ceria di layar ponsel. Ia sedang duduk di ranjang memakai daster favoritnya.

"Sudah," jawab Dewa singkat dan dingin.

Aira mengernyitkan dahi. "Mas kenapa? Capek ya? Rapatnya susah?"

"Tidak. Rapatnya lancar. Tadi acara sama Mama lancar juga?" tanya Dewa, matanya menyelidik.

"Lancar, Mas. Seru banget. Tadi aku juga ketemu teman lama, namanya Adit. Ternyata dia jadi fotografer sekarang," cerita Aira tanpa curiga sedikit pun.

"Oh, Adit. Seberapa dekat kalian dulu?" tanya Dewa, suaranya semakin berat.

Aira tertawa. "Cuma teman sekolah, Mas. Kenapa sih? Mas cemburu ya?"

"Menurut kamu?" Dewa mematikan kamera ponselnya, hanya menyisakan suara. "Aku di sini kerja keras buat masa depan kita, kamu di sana malah asyik nostalgia sama teman lama."

Aira tertegun. "Mas... kok bicaranya begitu? Aku cuma menyapa teman lama di depan Mama juga kok. Mas jangan kekanak-kanakan deh."

"Terserah kamu lah, Ai. Aku mau istirahat."

Klik.

Dewa mematikan sambungan teleponnya sepihak.

Aira menatap layar ponselnya yang gelap dengan perasaan sesak. Ia tidak menyangka Dewa akan semarah itu hanya karena hal sepele. Ia mencoba menelepon balik, tapi ponsel Dewa sudah tidak aktif.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Patrish
hhhmmmmmm......
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!