Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam telah larut, setelah tadi merayakan acara resepsi yang megah dan hanya di hadari kerabat dan teman dekat saja tanpa awak media.
Langsung terasa hening, dengan hembusan angin malam di kediaman Ganendra terasa lebih mencekam.
Mencekam bagi kehidupan Melina.
Kamar pengantin utama itu telah di hias dengan sangat indah oleh pendekor ternama.
Terlihat romantis dan intim, namun ini semua terasa Ironis dan tragis bagi dua jiwa yang sudah menikah saling terasing.
Aroma kamar terasa harum mawar bercampur dengan lilin aroma terapi yang memenuhi kamar itu.
Di tengah kamar, sebuah ranjang king size dengan sprei sutra berwarna putih gading tampak megah.
Kasur yang indah dengan di hiasi handuk angsa dengan lipatan, dan taburan bunga yang melambangkan malam pertama bagi dua pasangan sejoli.
Lampu kristal di atas nakas memberikan cahaya remang-remang yang romantis, tapi bagi Melina cahaya itu adalah awal neraka baginya.
Karena dirinya terikat pernikahan paksa dengan suami yang sama sekali tak mencintainya.
Melina masih mengenakan gaun pernikahannya, gaun putih dengan bordiran mutiara dan bahu terbuka itu kini terasa seperti tali yang mengikatnya kuat.
Mewakili statusnya yang sudah terikat kuat oleh pernikahan yang tanpa di duga ini.
Rambutnya masih terikat dalam cepolan pengantin, meski di rambut itu sudah tak ada lagi hiasan mutiara.
Di wajahnya masih menempel riasan yang sudah luntur, tubuhnya duduk di tepi ranjang dengan canggung.
Kedua tangannya meremas jemarinya sendiri sambil menunduk tak berani menatap sekeliling----termasuk suaminya.
Ishan Ganendra juga duduk di sisi lain ranjang, pemuda itu juga belum mengganti pakaiannya.
Jas hitam masih melekat di tubuhnya dengan dasi, kemeja dan peci hitam yang sama saat akad tadi pagi.
Ihsan menghela napas kasar, setelah duduk dan langsung menoleh ke arah Melina dengan tatapan sangat dingin.
"Kamu sekarang istri saya," ucapnya, tangannya sambil mengendurkan dasi di lehernya.
Melina masih menunduk dengan tubuh gemetar, tak berani menatap pria yang sudah menjadi suaminya.
Seharusnya Ihsan selaku sang suami menenangkannya, dan berusaha agar istrinya mengenal juga lebih dekat.
Tapi Ihsan malam ini mulai mengeluarkan titah sekaligus peraturan kepada istrinya.
"Dengarkan baik-baik, Melina Khairunisa."
Suaranya terdengar seperti memecah keheningan, tajam dan emosi.
"Jangan pernah berpikir pernikahan ini saya akan menerima kamu jadi istri saya," ucapnya dengan menatap gadis muda yang menunduk di sampingnya.
Melina sudah ketakutan dengan meremas ujung gaunnya.
"Karena pernikahan ini hanya formalitas untuk memuaskan keinginan mama saya, setelah kamu melahirkan anak kita akan bercerai!" pungkasnya.
Ishan berdiri mengambil selembar kertas, dokumen perjanjian yang sudah di siapkan di atas kasur.
"Ini adalah bukti pernikahan kita yang sah di hadapan negara dan agama, tapi ingat kamu tinggal disini jangan harap kita ada hubungan suami istri."
Suara Ishan terdengar tajam dan tegas.
"Karena jujur saya malu mengakui kamu sebagai istri saya," jawabnya.
Ucapan itu membuat Melina merasakan sakit hati yang mendalam, karena suami yang baru saja di nikahinya malah mengatakan hal menyakitkan.
Ishan kembali duduk dan mencengkram dagu Melina.
"Tatap saya!" pungkasnya.
Melina menatap mata Ishan suaminya secara perlahan, terlihat mata Ishan berwarna hijau menyala.
Tangannya masih mencengkram dagu Melina----Ishan tanpa belas kasih melihat mata istrinya yang berkaca-kaca.
"Di depan media dan mama saya, tolong bersikap sebagai pasangan suami dan istri," titahnya.
Melina hanya mengangguk patuh, karena sudah amat ketakutan.
"Dan jika di balik mereka semua jaga jarak ama saya, karena saya masih mencintai Livia!" tegas Ishan.
"Saya mengerti Mas...Mas tenang aja, saya akan menuruti peraturan Mas," ucap Melina matanya sudah berkaca-kaca.
Melina bernapas lega, pada akhirnya dirinya bisa melewati malam pengantin tanpa di sentuh Ishan.
"Mas istirahat aja, saya mau bersihin makeup."
Melina berdiri, namun saat mau berdiri tangannya di tahan oleh Ishan.
"Satu lagi," ucapnya.
Melina menatap suaminya, dengan perasaan cemas sepertinya sang suami akan melakukan sesuatu.
Gadis ini duduk saat sang suami berani mendudukkannya dengan kasar.
"Malam ini dan malam-malam seterusnya, kamu tidur di sofa itu. Saya tidak sudi berbagi ranjang dengan anak yang tak jelas asal usulnya sepertimu."
Ishan sambil menunjuk ke arah sofa beludru berwarna coklat tua yang terletak di sudut ruangan, dekat jendela besar.
Setelah itu Melina mengangguk, segera mengambil bantal dan menempatkannya di sofa yang di perintahkan Ishan.
"Iya Mas," ucapnya.
Ishan tersenyum lalu bangkit melepas pecinya dan melemparkannya ke meja, lalu beranjak menuju kamar mandi tanpa memperdulikan istrinya.
Melina menghela napas, dirinya tak bisa menangis lagi---toh selama ini hidupnya sudah biasanya dengan berat.
Melina akhirnya memutuskan melepas gaun pengantinnya seorang diri, dengan berusaha meraih resleting di belakang punggungnya.
Tangannya meraih micellar water untuk membersihkan wajahnya dengan kapas.
"Ya allah hamba percaya, engkau menikahkan hamba dengan Mas Ishan karena sesuatu," ucap Melina dalam hatinya.
"Tolong Ya allah kuatkan hati hamba," lanjutnya berusaha melepaskan gaun.
Gaunnya terlepas menyisakan tubuhnya yang mengenakan gaun satin sebatas paha, tanpa lengan.
Rambutnya berusaha di lepas cepolannya, dirinya besok akan keramas karena 'hair spray' yang di kenakannya.
"Besok keramaslah kaku banget rambut gua," ujar Melina menyisir rambutnya yang panjang sampai lengan.
Di saat yang sama Ishan keluar dengan mengenakan kemejanya, melihat Melina dari belakang.
Instingnya sebagai pria normal muncul, menatap Melina mengenakan gaun satin tengah membelakanginya.
Tangannya memegang sisir, menyisir rambutnya yang panjang.
"Ishan tahan lo harus ingat, lo nggak boleh menghamili tuh bocah! apa lu mau ngehamilin bocah yang asal usulnya kagak jelas," batinnya menahan insting sebagai pria normal.
Melina segera berbalik badan untuk ke kamar mandi, dan melihat Ihsan melamun.
Karena takut Melina berusaha tak membuyarkan lamunannya.
Tangannya meraih handuk dan sabun cuci muka, lalu dirinya akan membersihkan diri sebelum pergi tidur.
Ishan mengusap kepalanya saat tersadar Melina sudah masuk kamar mandi, dirinya menghela napas lalu terduduk di atas kasur.
"Muda sih cantik, bodynya juga oke. Tapi kalo gua ibadah ranjang hamil kagak ya tuh bocah," pikir Ihsan berusaha menghindari memiliki anak dengan Melina.
*
*
*
*
*
*
*
*
*