Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Ibu!" Rasya menggeliat dalam tidurnya, keringat memenuhi wajah, gelisah di alam bawah sadar.
"Ibu!" Ia terbangun dengan napas memburu hebat.
Matanya melilau ke segala arah, menatap setiap sudut ruangan. Tak ada siapapun di dalam ruangan itu, hanya ada dirinya seorang ditemani kehampaan. Rasya mulai menangis, menatap jendela yang terbuka di mana sinar matahari telah menampakkan dirinya.
"Ibu! Ibu di mana? Apakah semuanya hanya mimpi?" Dia memanggil sang ibu, menangis sendirian.
Brak!
"Ibu!" Rasya memanggil Rania, menatap dengan mata yang basah.
Pintu terbuka cepat, Rania berlari dari luar karena mendengar tangisan Rasya. Dia mendekat, memeluk anaknya segera.
"Sudah, jangan menangis. Ibu di sini," bisik Rania sembari mengusap kepala Rasya dengan lembut.
Perlahan-lahan tangis anak itu berhenti, kehangatan cinta Rania membuat hatinya merasakan ketenangan dan kedamaian. Rania melepas pelukan, menangkup wajah mungil anaknya. Mengusap air mata yang membasahi pipi mulus Rasya.
"Kenapa menangis?" Ia duduk di ranjang anaknya, menggenggam jemari Rasya.
Rasya mengangkat wajah, memandang sang ibu lebih lama. Dia takut semuanya hanya mimpi, seperti sebelumnya.
"Ibu, benarkah Ibu telah kembali? Ibu tidak akan pergi lagi, bukan?" tanyanya dengan sisa isak tangis yang membuat dada Rania sesak.
Rania tersenyum, menarik kepala Rasya ke dalam dekapan. Mengecup ubun-ubunnya cukup lama, menumpahkan kerinduan. Dia sendiri pun bertanya dengan pertanyaan yang sama. Akankah selamanya dia berada di dunia itu? Ataukah akan kembali ke alamnya?
"Ibu, jangan pergi lagi! Semua orang tidak menginginkan aku, semua orang membenciku," pinta Rasya, tangannya memeluk erat tubuh Rania.
Suaranya yang bergetar, sentuhan kecilnya di tubuh Rania, membuat hati wanita itu bergetar penuh amarah. Ia melepas pelukan, mengusap pipi sang anak.
"Ibu akan tetap di sini, Ibu akan menemanimu tumbuh hingga dewasa," katanya meski ragu.
Tuhan, dengarkan permintaanku. Aku hanya ingin menemani anakku tumbuh. Jika memang aku harus kembali, tunggu sampai dia mampu melawan kerasnya dunia.
Batin Rania bergumam lirih, melangitkan harapan. Matanya menatap manik Rasya yang jernih meski sayu. Ada banyak kesedihan di dalam sana, kebencian dan dendam yang membara. Rania bisa melihat itu.
"Siapa namamu, sayang?" tanya Rania, mengusap lembut kepala anaknya.
"Rasyaka Fattana," jawab Rasya tegas.
Rania tersenyum, mengecup dahi anaknya cukup lama dan memeluknya kembali.
"Rasya, Ibu sudah di sini. Bagaimana dengan ayahmu?"
Rania teringat pada Hadrian, setiap kali pikirannya menyebut nama itu, setiap itu juga hatinya dipenuhi kemarahan. Rasya melepas pelukan, memalingkan wajahnya yang menunduk. Kesedihan seketika melanda hatinya bila teringat akan sang ayah.
"Ayah tidak menginginkan aku. Setiap hari ayah sibuk bekerja, tidak pernah pulang ke rumah. Kata bibi ayah sangat membenciku dan tak ingin bertemu denganku. Ayah tidak ingin melihatku," jawab Rasya dengan suara yang lirih.
Rania geram, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sungguh keterlaluan, tapi dia masih menolak untuk percaya. Hadrian adalah tipe laki-laki yang bertanggungjawab.
"Bagaimana mungkin, sayang. Ayah paling menyayangi kita, ayah paling menyayangimu. Dia sudah menantikan dirimu sejak lama. Rasanya tidak mungkin, apakah ada kesalahpahaman?" ujar Rania meski hatinya menahan geram karena sikap Hadrian.
Rasya tercenung, teringat kisah di mana Hadrian menolak pelukannya saat datang ke rumah. Saat itu, usia Rasya baru menginjak lima tahun. Dia ingin bercerita, dia ingin bermain dengan ayahnya, tapi Hadrian yang baru saja kembali dari luar negeri menolak memeluk Rasya.
"Ada apa, sayang?" Rania mengusap kepala anaknya.
Rasya mendongak, jejak kesedihan jelas terlihat di kedua matanya dan itu membuat hati Rania sakit. Rasya menggelengkan kepala pelan, memeluk Rania kembali.
"Ibu jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri lagi. Semua orang mengatakan Ibu sudah mati dan tidak akan pernah kembali lagi. Mereka mengatakan Ibu sudah tidak mencintai ayah dan tidak menginginkan aku. Tapi, aku tetap yakin mereka semua berbohong. Aku tetap percaya Ibu akan kembali," tutur Rasya di dalam pelukan Rania.
Sekali lagi, hati Rania bagai dihantam godam berduri. Sesak dan sakit mendengar cerita dari bibir anaknya.
Mereka sungguh kejam. Kenapa memperlakukan anakku seperti ini?
"Mereka itu siapa, sayang?" Sambil menahan geram, Rania bertanya.
"Paman, bibi, dan Shakira. Dia mengatakan bahwa dia menggantikan Ibu untuk menjadi ibuku. Aku menolak, aku tidak menyukai Shakira. Tapi, ayah mengatakan bahwa dia adalah sahabat terbaik Ibu," jawab Rasya lagi tanpa melepas pelukan.
Sahabat terbaik? Sahabat yang menginginkan kematianku hanya karena cemburu kehidupanku jauh lebih baik darinya. Shakira, kau tidak akan pernah aku lepaskan!
Mata Rania menyipit, bara dendam berkilat-kilat di sana. Dia harus mendatangi Hadrian dan bertanya langsung kepadanya.
"Kita akan temui ayahmu setelah kau sembuh. Sekarang, kau makan dulu. Ibu membelikanmu bubur. Katanya, ini bubur terenak di rumah sakit ini," ucap Rania seraya melepaskan pelukan dan membuka kotak makan.
Rasya tersenyum sumringah, menunggu suapan pertama dari sang ibu dengan sangat antusias.
"Mmm ... benar-benar enak! Ini makanan terenak yang pernah aku makan!" serunya.
Setiap kata yang diucapkan Rasya selalu berhasil meremukkan perasan Rania.
"Ini makanan terenak yang pernah kau makan? Selama ini apa saja yang kau makan, sayang?" tanya Rania tak percaya.
Ayahmu sangat kaya, bagaimana mungkin bubur jalanan ini adalah makanan terenak yang pernah dimakan anakku?
Hati Rania kembali bertanya-tanya. Benar-benar mencengangkan.
"Mereka hanya memberiku sayuran rebus, katanya agar aku tetap sehat," jawab Rasya seraya kembali membuka mulutnya.
"Kurang ajar! Biadab!" Rania menggenggam sendok dengan kuat, meluapkan kemarahan.
"Ibu, aaaa ...."
Eh?
Rania kembali menyuapi anaknya hingga bubur itu habis. Mereka menghabiskan hari dengan bercerita, bercanda, tertawa bahagia. Kebahagiaan pertama yang didapatkan Rasya selama hidupnya.
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄