Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Mansion Valerio sudah sepenuhnya tenggelam dalam kesunyian yang mencekam saat Elowen melangkah masuk ke kamarnya. Lorong-lorong megah yang biasanya memancarkan kemewahan kini terasa seperti koridor penjara yang dingin.
Pertemuan di apartemen Kai tadi benar-benar telah menguras energinya hingga ke titik terendah—bukan secara fisik, melainkan mental. Setiap kata yang keluar dari mulut Ezzra di depan teman-temannya terasa seperti peluru nyasar yang nyaris mengenai kepalanya, atau lebih buruk lagi, seperti bom waktu yang detaknya kian melambat menuju ledakan.
Elowen menutup pintu kamarnya dengan bunyi klik yang berat, seolah ingin mengunci dunia luar di sana. Ia melepaskan gaun berkerah tingginya dengan kasar, membiarkan kain itu merosot ke lantai sebelum melemparkannya ke keranjang cucian seolah benda itu adalah sesuatu yang terkutuk. Ia berdiri di depan cermin besar di kamar mandinya, hanya mengenakan pakaian dalam sutra tipis yang melekat pas di tubuhnya.
Matanya tertuju pada pantulan lehernya di bawah cahaya lampu neon yang terang. Jejak itu masih ada. Samar, berwarna keunguan yang mulai menguning di tepinya, namun tetap sangat nyata bagi siapa pun yang melihatnya dari dekat. Jejak itu adalah tanda kepemilikan yang ditinggalkan oleh seorang bernama Ezzra Velasquez.
Ia mendesah lelah, jemarinya yang lentik mulai mengikat rambut hitamnya ke atas, menampakkan seluruh garis leher dan bahunya yang pucat. Rutinitas skincare malam adalah satu-satunya cara bagi Elowen untuk merasa memegang kendali atas hidupnya sendiri di tengah kekacauan ini. Namun, saat ia sedang menuangkan cleansing oil ke telapak tangannya, ponsel di atas wastafel bergetar hebat. Sebuah getaran yang terasa lebih agresif dari biasanya.
Panggilan video. Nama di layar membuat jantungnya berdegup tak keruan: Ezzra Velasquez.
Elowen memejamkan mata sejenak, menghitung satu sampai tiga, mencoba menekan gemetar di tangannya sebelum menyentuh layar. Ia mengangkatnya dengan sisa-sisa ketegasan yang ia miliki.
"Kenapa? Aku akan tidur!" ketusnya langsung, bahkan sebelum wajah Ezzra muncul sepenuhnya.
Layar ponsel menampilkan wajah Ezzra yang sedang bersandar di kepala ranjangnya yang luas. Rambutnya berantakan, beberapa helai jatuh menutupi keningnya, dan pencahayaan remang di kamarnya memberikan kesan misterius sekaligus intim.
Ezzra tidak memakai baju; hanya selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia menatap Elowen melalui kamera dengan tatapan sayu yang dalam, tatapan yang seolah bisa menembus layar ponsel.
"Kau tidak merindukanku?" tanya Ezzra. Suaranya terdengar lebih rendah dan serak melalui speaker ponsel, menciptakan vibrasi yang aneh di ulu hati Elowen.
"Tidak," jawab Elowen cepat. Ia mulai memijat wajahnya dengan minyak pembersih, gerakan tangannya sengaja dibuat seolah-olah ia sangat sibuk dan tidak peduli.
Ezzra mendengus, sebuah senyum miring yang provokatif muncul di bibirnya. "Kau bohong. Aku bisa melihat detak nadimu di lehermu itu, Baby. Kau sudah menghabiskan waktumu dengan Jeff hampir tiga jam tadi. Dan aku? Aku sama sekali tidak mendapatkan bagianmu malam ini. Kau jahat. Kau tidak adil padaku."
Elowen menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap wajah Ezzra di layar. Ada nada kekanakan yang aneh dalam protes pria itu, sebuah kecemburuan yang egois, namun Elowen tahu itu adalah bentuk obsesi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar cinta monyet. Ia tidak ingin berdebat lagi, tidak setelah ketegangan yang hampir membuatnya gila di apartemen Kai.
"Baiklah, aku minta maaf," ucap Elowen akhirnya, suaranya merendah dan pasrah. Ia sudah paham betul bahwa Ezzra Velasquez bukanlah tipe pria yang akan membiarkannya tidur dengan tenang jika egonya tidak diberi makan.
"Sedang apa, Baby?" tanya Ezzra lagi, matanya menyipit, mencoba memperhatikan setiap inci aktivitas Elowen di layar kecil itu.
"Aku sedang pakai skincare," jawab Elowen singkat sambil mulai membilas wajahnya dengan air dingin.
Saat Elowen kembali tegak dan mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, posisi kamera ponsel yang ia sandarkan di botol parfum menangkap jelas area lehernya yang kini tidak lagi tertutupi kain dress. Cahaya kamar mandi yang terang membuat bekas kemerahan itu terlihat sangat kontras.
"Tandanya masih ada," ucap Ezzra pelan. Suaranya berubah, menjadi lebih berat dan penuh damba, seolah ia sedang mengagumi hasil karyanya sendiri yang paling berharga.
Elowen melirik lehernya di cermin, lalu kembali ke layar dengan tatapan kesal. "Mungkin lusa baru menghilang. Aku bahkan muak memakai baju berkerah terus-menerus di cuaca panas ini. Dan tidak mungkin aku memakai syal ke kampus, orang-orang akan menganggap ku aneh atau gila."
Ezzra terkekeh pelan, suara tawa yang terdengar sangat maskulin di telinga Elowen. "Kau cantik, Baby, kalau marah seperti itu. Terlihat sangat hidup daripada saat kau berakting menjadi boneka Jeff."
"Dasar gombal murahan," cibir Elowen, meskipun ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya. Ia membawa ponselnya keluar dari kamar mandi, mematikan lampu utama kamarnya, dan menyandarkan dirinya di tumpukan bantal di atas ranjang besarnya yang hanya diterangi lampu tidur remang.
Suasana hening sejenak. Hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan melalui sambungan telepon, menciptakan keintiman artifisial yang justru terasa lebih intim daripada pertemuan fisik tadi sore. Elowen pikir Ezzra akan menutup teleponnya setelah melihatnya di ranjang, namun pria itu justru menatapnya dengan pandangan yang kian menggelap, penuh dengan hasrat yang tertahan.
"Mau lakukan phone s*x?" tanya Ezzra tiba-tiba. Pertanyaan itu lugas, tanpa basa-basi, tanpa rasa malu sedikit pun.
Elowen tersentak, matanya membelalak lebar. Ia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak! Aku tidak gila sepertimu, Ezzra. Ini mansion Valerio, keluargaku ada di sebelah. Ini sudah sangat larut."
"Kumohon," kata Ezzra lagi. Nadanya bukan lagi perintah yang mendikte, melainkan permintaan yang penuh godaan, sebuah rayuan yang dibalut dalam suara serak yang mematikan. "Hanya kita berdua. Bayangkan aku ada di sana, di sampingmu. Bayangkan tidak ada dinding yang memisahkan kita."
Elowen terdiam. Logikanya berteriak kencang untuk menekan tombol merah dan mengakhiri kegilaan ini. Namun, memori tentang malam panas di penthouse Ezzra tiba-tiba membanjiri benaknya seperti tsunami. Ia ingat bagaimana tangan besar pria itu menyentuhnya, bagaimana aroma parfumnya memenuhi indranya, dan bagaimana suaranya membisikkan kata-kata kotor yang justru membuatnya merasa diinginkan.
"Baiklah... dasar pria pemaksa," bisik Elowen akhirnya, menyerah pada tarikan gravitasi Ezzra.
"Bagus," suara Ezzra terdengar semakin serak, hampir seperti geraman rendah. "Tutup matamu, Elowen. Bayangkan aku sedang berdiri di pintu kamarmu sekarang. Aku mengunci pintunya, lalu berjalan mendekat ke arah ranjangmu. Aku menanggalkan pakaianku satu per satu sambil terus menatapmu..."
Elowen memejamkan mata, membiarkan imajinasinya bekerja di bawah kendali suara Ezzra. Di kegelapan kamarnya, suara itu seolah berubah menjadi wujud nyata.
"Aku merangkak ke atas ranjang, tepat di atas tubuhmu," lanjut Ezzra panas. "Aku akan melumuri mu dengan ciuman. Mulai dari keningmu, turun ke matamu, lalu ke jejak yang aku buat di lehermu itu. Aku akan menggigitnya lagi di sana, El."
"Lalu apa?" tanya Elowen, napasnya mulai sedikit memburu, dadanya naik turun di balik sutra tipisnya.
"Kubuka bajumu perlahan, sangat perlahan hingga kau gemetar menungguku," suara Ezzra kini menjadi panduan bagi gairahnya. "Lalu aku membaringkan mu di ranjang kita. Aku telanjang sekarang, Baby. Bayangkan kulitku yang panas bersentuhan dengan kulitmu yang dingin. Bayangkan otot-otot ku menekan mu ke kasur."
Elowen meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Ia bisa membayangkan berat tubuh Ezzra di atasnya, aroma tubuh pria itu yang maskulin, campuran antara tembakau mahal dan sabun kayu.
"Aku mulai menyentuh pahamu," suara Ezzra kini hampir seperti bisikan ghaib di telinganya. "Lalu aku berhenti sejenak hanya untuk melihat bagaimana kau menginginkanku. Aku lembut menyentuhnya, terus membelai mu perlahan ke atas, menuju tempat yang paling kau inginkan untuk kus entuh..."
Elowen menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang hampir lolos. Suara Ezzra di seberang telepon seolah menjadi sentuhan nyata di kulitnya, sebuah frekuensi yang merangsang saraf-sarafnya hingga ke titik puncak.
"Ku masukkan j*riku ke dalam tubuhmu... merasakan betapa hangatnya kau di sana, betapa kau menerimaku dengan sangat baik. Dan setelah itu, kita bercinta. Tanpa ada Jeff di pikiranmu, tanpa ada nama Valerio yang membebani mu. Hanya aku dan kau. Hanya Ezzra dan Elowen yang saling menghancurkan."
Elowen Valerio untuk pertama kalinya merasa benar-benar gila. Ia menyadari bahwa ia telah jatuh ke dalam lubang gelap yang ia gali sendiri, namun di saat yang sama, ia tidak pernah merasa sehidup ini. Di kegelapan kamarnya, dengan suara Ezzra yang terus membimbingnya melalui frekuensi telepon, Elowen menyerah sepenuhnya pada gairah yang terlarang itu.
Malam itu, mereka melakukan hal gila bersama melalui suara dan imajinasi, sebuah ikatan gelap yang kian mengunci Elowen pada pria yang seharusnya ia jauhi demi keselamatannya sendiri.
Saat telepon akhirnya terputus beberapa puluh menit kemudian, Elowen menatap langit-langit kamarnya dengan napas yang belum teratur dan jantung yang masih berpacu. Ia menyadari bahwa ia telah benar-benar mengkhianati segalanya—Jeff, keluarganya, dan harga dirinya sendiri—dan yang paling mengerikan adalah, ia tidak menyesalinya sedikit pun. Di bawah remang lampu tidur, ia menyentuh bekas kemerahan di lehernya, tersenyum pahit menyadari bahwa Ezzra Velasquez telah menjadi candu yang lebih mematikan daripada keinginan untuk mati.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...