NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang dipisahkan kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai.

Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

PS: Mengandung Catatan Horor Yang Tinggi & Dapat Mempengaruhi Sisi Psikologis..!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Setelah melewati beberapa perempatan lampu merah yang terasa tak ada habisnya, bersabar di jerami kemacetan lalu lintas Bogor yang selalu mencekik, memasuki beberapa ruas jalan besar yang ramai, kemudian menyempit menjadi ruas jalan kecil yang berliku, mobil akhirnya perlahan menyelinap di bawah gapura pemakaman umum yang berdiri kokoh dan usang, berlumut di beberapa bagian. Gapura itu seolah menjadi gerbang pembatas transparan antara tempat keramaian hidup yang bising dan tempat kesepian abadi yang sunyi.

Di balik gapura itu terhampar deretan pusara yang berjejer teratur namun padat, membisu dalam luapan kisah tak terucap. Deretan nisan yang sebagian besar terbuat dari marmer putih, ada pula yang dari batu granit hitam, seakan meluapkan kata, mengungkap banyak hal, saling nyaris menghimpit antara satu dengan lainnya, membentuk labirin kesedihan yang tak berujung. Laura lalu memarkir kendaraannya di area yang teduh di bawah pohon kamboja tua. Turun dari mobil, ia segera mengenakan kacamata hitam berbingkai besar yang menutupi seperempat wajahnya, menyembunyikan sorot matanya yang mungkin berkaca-kaca. Kemudian, ia membuka payung lipat berwarna merah cerah miliknya, sebuah kontras yang mencolok dengan suasana muram di sekitarnya. Dengan langkah tenang dan mantap, ia berjalan menyusuri jalan setapak di antara pintu-pintu lemari tanah yang menyimpan tulang dan bangkai orang mati, sebuah ironi kehidupan yang tak terhindarkan bagi sebagian besar manusia.

Beberapa blok pemakaman ia lalui, beberapa kondisi nisan ia amati dengan seksama, mulai dari yang masih baru dan berkilat hingga yang sudah usang dan berlumut. Beberapa nama yang terukir dengan indah atau sekadar terpahat sederhana ia baca satu per satu, lengkap dengan masing-masing tahun kelahiran dan kematian, seolah setiap nisan adalah sebuah buku cerita yang telah usai. Beberapa bentuk sebab-sebab kematian, dari yang wajar hingga yang tragis, terlintas di benaknya, berlalu-lalang menawarkan roman sekarat, bercokol terbayang ngeri, sebab keberadaan mereka di sini selalu diawali oleh beragam hal kejadian yang membuat jantung mereka terhenti mendadak, napas mereka terputus secara brutal, sehingga terputuslah aliran darah, cairan kental yang kemudian menjadi genangan busuk, kebusukannya bahkan menembus mempengaruhi tekstur daging, otot, lemak, dan kulit, mengubah jasad menjadi sekadar materi bangkai yang kembali ke tanah. Pikirannya berputar, merenungi kefanaan hidup yang menimpa banyak jiwa, dan betapa tipisnya batas antara ada dan tiada.

Tetapi, di tengah lamunannya yang gelap tentang kefanaan dan kerusakan jasad, bisikan lain merasuk ke dalam benaknya. Sebuah bisikan tentang ruh, bukan hanya tentang kondisi tubuh busuk yang mirip semen basah, yang kebanyakan perlahan akan hancur lebur. Bisikan itu mengingatkannya bahwa di balik wujud fisik yang fana, ada identitas manusia yang sebenarnya, yang jauh lebih esensial dan tak tersentuh oleh pembusukan. Itulah ruh, entitas yang melihat dunia dengan mata sebenarnya, merasakan setiap emosi yang mendalam, meraba tekstur kehidupan, menyentuh hati sesama, menghayati makna keberadaan, mengucap kata-kata penuh makna, dan mendengar nyayian alam semesta. Ruh adalah esensi di titik sentral kehidupan, membedakan manusia dari sekadar gumpalan daging.

Dan… Laura termenung, memikirkan mengapa ruh-ruh itu kini tak lagi mampu berharmonisasi dengan jasadnya. Padahal sebelumnya, ruh dan jasad adalah kesatuan yang utuh, hidup, bergerak, dan merasakan. Ada tawa riang, ada tangis pilu, ada cinta yang membara, ada juga harapan yang menjulang. Namun kini, keharmonisan itu telah putus. Jasad-jasad yang dulu penuh vitalitas, yang menjadi wadah bagi ruh untuk berekspresi, kini teronggok beku di bawah tanah, menjadi mayat. Ruh telah bersembunyi, entah di mana, mencampakkan tubuh yang hanya akan menjadi santapan cacing dan mikroba. Pertanyaan itu terus mengusik benaknya, tanpa jawaban pasti, hanya menyisakan misteri tentang kehidupan dan kematian.

Langkah kaki Laura yang semula mantap kini mulai melambat, menapak perlahan di antara hamparan makam, seolah setiap jejak kakinya mengandung beban emosi yang berbobot berat. Debu tipis dari tanah pemakaman menempel di sepatu kets hitamnya, namun ia tak peduli. Pikirannya, yang sebelumnya mengembara merenungi filosofi kehidupan dan kematian, kini mulai mengerucut, berpusat pada satu titik tujuan. Setelah beberapa saat mencari, matanya menangkap sebuah nisan sederhana dari marmer putih, dihiasi ukiran kaligrafi yang masih terlihat jelas. Di sana tertulis nama yang tak pernah pudar dari ingatannya: Doni Fatta Mentara.

Di depan pusara kekasihnya. Jantung Laura berdenyut nyeri, seolah luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam kini terbuka kembali. Kedua lututnya perlahan turun di samping makam, meletakkan payung merahnya di tanah, dan menanggalkan kacamata hitamnya. Mata Laura kini menatap lurus pada nisan itu, mengamati setiap huruf dari nama Doni, seolah mencoba menemukan jejak kenangan yang masih tersisa. Tangan kanannya terulur, menyentuh permukaan marmer yang dingin, merasakan dinginnya kematian yang memisahkan mereka.

Di tempat itu, di samping pusara cinta pertamanya, Laura membiarkan dirinya tenggelam dalam telaga kenangan. Ia mengingat kembali senyum Doni yang selalu berhasil menenangkan guruh dalam hatinya, pelukan hangat yang terasa seperti kabin dengan perapiannya, dan setiap janji yang pernah mereka ukir bersama di bawah langit malam purnama. Kenangan akan kencan pertama mereka yang canggung namun manis, pertengkaran kecil yang berakhir dengan tawa, hingga rencana masa depan yang mereka rajut penuh harap, semua berkelebat cepat dalam benaknya.

Di sisi lain, ingatan tentang tiga gadis bergaun merah juga menggerayang mengelilinginya, ingatan romantisme yang bercampur dengan ingatan mistik, hari-hari cinta yang dilanjutkan hari-hari tanda tanya, ketika hatinya tersenyum disentuh oleh kenangan, senyum itu dipaksa memudar oleh sesuatu yang sampai hari ini Laura belum dapat memecahkannya.

"Doni... aku merindukanmu," suaranya menyatu bersama semilir angin yang berdesir, seolah sengaja datang membawa bisikannya agar menembus ke dalam tanah, mencapai Doni di alam sana. "Banyak sekali yang terjadi, Don. Aku... aku lelah."

Ia merenung lama, duduk bersimpuh di sana sembari merasakan dinginnya tanah yang meresap hingga ke tulangnya. Ada sebuah kelegaan yang ia rasakan, meski sesekali ada bayangan buruk tentang mimpi ketika ia melihat tiga bayi yang keluar dari perut Doni. Laura mencoba memejamkan mata, membayangkan Doni tersenyum kepadanya, tidak tentang bayangan yang lain.

Setelah dirasa cukup, setelah hatinya sedikit lebih tenang, Laura menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. Ia menyeka air matanya, mengambil kembali payungnya, dan mengenakan kacamata hitamnya. Meskipun berat, ia tahu ia harus bangkit.

Dengan langkah gontai namun lebih ringan, Laura beranjak dari pusara Doni. Ia menoleh untuk terakhir kalinya, memberikan senyum antara manis dan pahit. "Sampai jumpa lagi," bisiknya. Kemudian ia berbalik, berjalan kembali menuju ke tempat parkiran mobilnya.

Setelah momen yang menguras emosi di pusara Doni, Laura segera kembali mengemudikan mobilnya, melaju membelah jalanan Bogor yang siang itu terasa lebih lengang. Ia memilih jalur alternatif yang melewati jalanan asri, melintasi kawasan pinggiran kota yang dipenuhi pepohonan rindang dan rumah-rumah dengan taman-taman luas.

Pikirannya masih melayang-layang di antara kenangan Doni, namun Laura berusaha mengalihkan fokusnya ke Roni. Roni yang selalu menjadi penengah antara dirinya dan Doni, Roni yang bijaksana, Roni yang sering memberinya nasihat-nasihat praktis dalam hidup. Kehilangan Roni adalah pukulan berat lainnya bagi Laura, sebuah lubang yang tak pernah benar-benar terisi. Ia tahu, Roni akan marah sebagaimana ia dulu seringkali marah jika melihatnya larut dalam kesedihan terlalu lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!