NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Ekspedisi Lembah Kabut Abadi

Suara deru mesin helikopter siluman milik Surya Corp perlahan memudar, meninggalkan gema yang memantul di antara dinding-dinding tebing granit yang menjulang tinggi. Saat baling-baling berhenti berputar, kesunyian pegunungan yang menekan indra pendengaran segera menyergap. Kirana Larasati melangkah keluar dari kabin, sepatunya menapak pada tanah lembap yang diselimuti lumut tebal berwarna hijau zamrud.

Udara di sini sangat berbeda dengan Jakarta. Dinginnya menusuk hingga ke tulang, membawa aroma tanah basah, pinus, dan sesuatu yang manis namun kuno—aroma yang mengingatkan Kirana pada pelukan ibunya. Di hadapannya, hamparan kabut putih susu membentang luas tanpa ujung, menelan segala bentuk vegetasi hingga hanya menyisakan siluet pepohonan purba yang meliuk seperti raksasa yang sedang membeku dalam kutukan waktu.

"Koordinatnya tepat di depan kita, Nyonya," ucap Reno, suaranya sedikit terdistorsi oleh gangguan frekuensi. Ia memeriksa perangkat navigasi holografik di lengannya yang terus berkedip merah. "Namun, ada anomali elektromagnetik yang sangat agresif. Kompas analog mati total, dan sinyal GPS militer kita mulai melompat-lompat. Kita berada di zona buta."

Adyatma melangkah ke samping Kirana. Pria itu tidak lagi mengenakan jas mahalnya, melainkan setelan taktis hitam yang melekat erat pada tubuh tegapnya. Tangannya secara refleks menyentuh hulu belati perak di pinggangnya. Aura naga di dalam dirinya bereaksi aneh terhadap lingkungan ini—bukan dengan kemarahan atau gejolak panas yang biasa, melainkan dengan semacam kerinduan yang purba dan tenang.

"Tempat ini... ia mengenalku," bisik Adyatma, suaranya berat dan serak. "Aku bisa merasakan detak jantung bumi di bawah kaki kita berdenyut seirama dengan nadiku. Kirana, berhati-hatilah. Kabut ini bukan fenomena alam. Ini adalah napas penjaga."

Labirin Alami dan Sastra Cyber

Mereka mulai berjalan menembus kabut yang semakin pekat. Kirana memimpin di depan, menggunakan insting spiritualnya yang kini terasa tajam setelah kejadian di gudang tempo hari. Sesuai dengan catatan dalam jurnal ibunya tentang Sastra Cyber, tempat ini dilindungi oleh mekanisme pertahanan berlapis yang menggabungkan elemen alam Nusantara dengan teknologi digital masa depan.

"Berhenti," perintah Kirana tiba-tiba, mengangkat tangannya.

Di hadapan mereka berdiri sebuah pohon beringin raksasa yang akarnya menjuntai seperti tirai kematian. Kirana melihat pola aneh pada batang pohon tersebut. Bukan sekadar guratan kayu alami, melainkan sirkuit organik yang berpendar redup dengan warna biru neon.

"Ibu tidak hanya menyembunyikan tempat ini dengan kabut," gumam Kirana. Ia mengeluarkan ponsel khusus yang telah dimodifikasi. "Ia menyandikannya dengan algoritma fraktal. Jurnal Ibu menyebutkan bahwa setiap langkah di lembah ini adalah baris kode. Jika kita salah melangkah, kita tidak akan sampai ke tujuan, melainkan terjebak dalam putaran ruang (looping) yang akan membuat kita gila."

Kirana membuka aplikasi Nusantara-Drive yang telah terenkripsi. Di sana, terdapat folder rahasia berjudul "Proyek Cendana". Ia memindai sirkuit pada pohon tersebut menggunakan kamera ponselnya.

"Reno, buka Google-Sites internal yang kita buat. Masukkan kunci dekripsi 'Melati-04'. Kita butuh peta topografi yang disinkronkan dengan aliran energi spiritual di pohon ini," perintah Kirana.

Jari-jari Kirana menyentuh permukaan kulit pohon yang kasar. Ia menyalurkan sedikit energi "Darah Cendana" dari ujung jarinya. Seketika, sirkuit di pohon itu menyala terang. Kabut di depan mereka tersingkap secara mekanis, memperlihatkan sebuah jalan setapak yang terbuat dari batu hitam mengkilap, seolah-olah alam sedang membukakan gerbang bagi sang ratu yang kembali.

Serangan Bayangan Klan Scorpio

Namun, kedamaian itu hancur dalam sekejap. Dari balik keheningan kabut, sebuah suara desingan halus membelah udara. Sebuah anak panah berujung hitam pekat melesat dengan kecepatan tinggi menuju leher Kirana.

Ting!

Adyatma bergerak dengan kecepatan yang nyaris tak kasat mata. Dengan satu kibasan tangan, ia menangkap anak panah tersebut tepat beberapa inci sebelum menyentuh kulit Kirana. Cairan ungu pekat menetes dari ujung panah, mengeluarkan asap dan mendesis saat menyentuh tanah—racun kalajengking tingkat tinggi yang diracik khusus untuk melumpuhkan energi spiritual.

"Klan Scorpio... mereka benar-benar gigih mencari kematian," desis Adyatma. Matanya mulai berkilat biru safir, tanda bahwa naga di dalamnya telah terjaga.

Belasan pembunuh bayaran muncul dari balik tirai kabut. Mereka tidak lagi menggunakan senjata api yang bising dan ceroboh; mereka mengenakan pakaian taktis yang bisa menyerap cahaya, membawa pedang lengkung dan panah tiup yang telah dilapisi sihir hitam oleh Dewan Tetua Langit. Pemimpin mereka, seorang pria dengan tato kalajengking raksasa yang menutupi separuh wajah dan lehernya, melangkah maju dengan angkuh.

"Serahkan jurnal itu dan ponselmu, Nona Larasati," ucap sang pemimpin dengan nada mengejek yang serak. "Berikan kami kunci akses 'Proyek Cendana', dan kami mungkin akan membiarkan Sang Naga mati dengan cepat tanpa rasa sakit. Jika tidak, tempat ini akan menjadi makam bagi kalian berdua."

Kirana tidak gemetar. Ia justru tersenyum dingin, sebuah ekspresi yang sangat mirip dengan Adyatma. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma cendana murni memenuhi rongga paRunya, menguatkan mental dan energinya.

"Kalian pikir kalian adalah pemburu di lembah ini?" suara Kirana menggema, tenang namun mematikan. "Kalian salah besar. Kalian hanyalah tumbal yang datang tepat waktu untuk membangkitkan sejarahku yang tertidur."

Bangkitnya Pasukan Bayangan Cendana

Kirana menghantamkan telapak tangannya ke tanah batu hitam tersebut. Melalui fitur Google-Forms khusus yang telah ia program sebagai sistem kendali jarak jauh (remote control), Kirana mengaktifkan protokol pertahanan "Gatotkaca".

Energi emas meledak dari titik sentuhan tangan Kirana, menjalar melalui akar-akar pohon yang tersambung dengan sirkuit organik di seluruh lembah. Tiba-tiba, tanah di sekitar mereka bergetar hebat.

Patung-patung batu yang tersembunyi di balik semak belukar dan lumut selama puluhan tahun mulai bergerak.

Ini adalah Pasukan Bayangan Cendana. Di kehidupan sebelumnya, Kirana tidak pernah tahu bahwa ibunya adalah seorang jenius teknologi yang menggabungkan material biokomposit (batu dan kayu) dengan mikro-mekanik yang ditenagai oleh energi spiritual. Mata patung-patung itu menyala keemasan, langsung mengunci target pada setiap anggota Klan Scorpio.

Pertempuran pecah seketika. Adyatma melesat bagai kilat biru, setiap tebasan belatinya memutus nyawa tanpa ampun.

Sementara itu, para penjaga batu menghancurkan formasi lawan dengan kekuatan fisik yang luar biasa. Kirana berdiri di pusat lingkaran, matanya fokus pada layar ponselnya, jarinya bergerak cepat mengarahkan setiap gerakan pasukan batunya melalui sinkronisasi gelombang otak yang terhubung ke server lokal "Cendana-Drive".

"Mustahil! Teknologi apa ini?!" teriak pemimpin Klan Scorpio saat melihat anak buahnya terlempar seperti boneka kain. "Ini bukan sihir! Ini... ini gila!"

"Ini adalah warisan Ibuku yang ingin kalian curi," balas Kirana. Dengan satu perintah di layarnya, salah satu penjaga batu raksasa menghantam tanah, menciptakan gelombang kejut yang membuat pemimpin klan tersebut terpental jatuh ke dalam jurang kabut yang gelap.

Rahasia di Balik Air Terjun Merah

Setelah sisa-sisa anggota Klan Scorpio yang selamat melarikan diri kembali ke dalam kabut, keheningan kembali menyelimuti lembah. Pasukan batu Kirana kembali ke posisi semula, menjadi patung tak bernyawa yang kembali diselimuti lumut, menunggu perintah selanjutnya.

Adyatma menghampiri Kirana, napasnya sedikit memburu. Ia melihat tangan Kirana yang masih memegang ponsel dengan erat.

"Teknologi ibumu... melampaui apa pun yang pernah dilihat oleh Surya Corp. Bagaimana ia bisa menyembunyikan semua ini?"

"Ibu tahu bahwa dunia tidak akan siap," jawab Kirana pelan. "Ia menggunakan 'Budaya Kuadratik'—menggabungkan narasi kuno dengan teknologi masa depan agar orang awam hanya menganggapnya sebagai mitos. Tapi bagi kita, ini adalah senjata."

Jalan setapak batu hitam itu menuntun mereka ke ujung tebing yang curam. Di sana, pemandangan luar biasa terbentang. Sebuah air terjun raksasa mengalir deras dari puncak gunung, namun airnya tidak berwarna bening. Air itu berwarna kemerahan mengkilap seperti tembaga cair, akibat kandungan mineral langka dan energi magis yang terkonsentrasi di puncaknya.

"Di balik air terjun ini adalah pintu masuk menuju 'Benteng Cendana'," ucap Kirana, matanya berbinar mencerminkan cahaya merah dari air terjun tersebut. "Jurnal Ibu menyebutkan bahwa air ini adalah pendingin alami untuk peladen (server) raksasa yang menyimpan seluruh data sejarah dan kekuatan spiritual Nusantara."

Adyatma memegang tangan Kirana, jemarinya bertaut erat. "Apapun yang ada di dalam sana, Kirana, itu akan mengubah takdir kita selamanya. Kita tidak akan bisa kembali menjadi orang yang sama. Kau siap menghadapi kebenaran tentang kematian ibumu?"

Kirana menatap Adyatma dengan penuh keyakinan. Tidak ada lagi keraguan di matanya. "Aku sudah melewati dinginnya kematian dan pengkhianatan untuk sampai di titik ini, Adyatma. Tidak ada lagi yang bisa membuatku takut, selama kau bersamaku."

Mereka melangkah menembus tirai air terjun merah yang bergemuruh. Rasa dingin yang luar biasa menyergap tubuh mereka, namun aroma cendana yang sangat pekat segera melindungi mereka. Di balik air terjun itu, bukan hanya sebuah gua gelap yang menunggu, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang mustahil.

Sebuah laboratorium megah dan asri yang dibangun di dalam perut gunung. Pohon-pohon cendana di sini tidak tumbuh di tanah, melainkan di dalam tabung kaca raksasa yang bercahaya keperakan. Jajaran pelayan android dengan desain estetika tradisional Jawa membungkuk hormat saat melihat Kirana masuk.

"Selamat datang kembali, Pewaris Utama Kirana Larasati," sebuah suara digital yang lembut namun berwibawa menyambut mereka melalui pengeras suara ruangan. "Protokol restorasi Nusantara telah diaktifkan. Seluruh data 'Proyek Cendana' siap untuk diunduh ke dalam nadimu."

Kirana menatap Adyatma. Di dalam benteng ini, tersimpan jawaban atas kutukan darah naga dan kunci untuk menghancurkan Dewan Tetua Langit hingga ke akar-akarnya. Perang besar yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

*** [Bersambung ke Bab 12...]

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!