Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 : Cinta tapi gengsi
Dubai
Azima menatap nyalang seorang pria yang berbaring cantik di atas kasur nya. Sudah beberapa kali ia menyindir pria itu agar mau meninggalkan kamar , namun sia sia.
Bebal atau apatis, hanya pria yang berbaring di atas kasur itu yang tau.
Setelah satu bulan Azima menikmati kehidupan damainya, mulai malam ini dan malam malam seterusnya , mungkin ia tidak bisa menikmati saat saat kesendirian nya lagi.
Dengan santai, Ayyazh menepuk kasur di sebelah nya, mengisyaratkan agar Azima mau berbaring dan tidur bersama.. " Tenang saja, aku terlahir sebagai manusia, bukan predator.. " Begitu katanya, di ucapkan penuh keyakinan untuk membuat lawan percaya dengan setiap kalimat bohongnya.
Dia memang bukan predator biasa, melainkan Apex predator. Ya, predator yang tidak bisa di mangsa hewan lain tapi dia bisa memangsa apa saja yang tersaji di depan mata..
( Kau pikir aku akan percaya begitu saja , cih ! dasar beruang kutub. )
Kesalnya belum habis saat di ruang ganti tadi, kini Ayyazh semakin menambah jumlah kemarahan Azima. Meski demikian, Azima tidak punya pilihan lain.
Akhirnya, setelah menghela nafas panjang , Azima menjatuhkan tubuhnya di samping Ayyazh. Namun, hal lucu kembali terjadi. Sebuah pematang yang terbuat dari beberapa bantal di tumpuk Azima sebagai benteng penghalang antara dirinya dan Ayyazh .
Ayyazh hanya menyaksikan dan menatap gundukan itu sembari menghela nafas.
" Jangan melewati batas !" Ancam nya sebelum berbaring di samping Ayyazh.
" Kalau aku langgar ?" Tantang Ayyazh .
Azima menggorok leher menggunakan tangannya, dan itu sebagai isyarat non verbal bagi Ayyazh untuk waspada.
" Selamat malam.." Ucap Azima ketus, berbalik badan dan memperlihatkan punggungnya pada Ayyazh.
Ayyazh tersenyum tanpa membalas ucapan Azima.
Tengah malam waktunya tidur, jantung yang sudah bekerja seharian sudah saatnya di istirahat kan, tapi tidak dengan Ayyazh . Untuk malam ini, jantung nya justru bekerja lebih ekstra dari pada biasanya.. Azima yang sudah terlelap sejak tadi mulai berulah. Dia yang memasang pengaman , dia pula yang membuka pengaman itu.
Bantal bantal itu berjatuhan di hempas kan oleh tangan dan kaki nya sendiri dalam keadaan tidak sadar. Lalu bagaimana kabar Ayyazh ?
Ayyazh menelan ludah berulang . Azima menjadikan Ayyazh guling bernyawa. Salah satu kakinya berada di atas paha Ayyazh, sementara tangan nya memeluk tubuh Ayyazh erat, takut jika longgar, Ayyazh akan pergi. Dan posisi itu membuat suhu ruangan yang sudah di atur ke suhu terdingin sebelum mereka tidur, justru jadi terasa semakin panas. Khusus untuk Ayyazh.
Meski tidur dengan pakaian lengkap termasuk jilbab, tetap saja fokus Ayyazh hanya pada wanita yang menempel sempurna di tubuhnya. Belum lagi dadanya semakin bergemuruh kala ia melihat ke bagian bawah, celana tidur Azima tersingkap hingga memperlihatkan pahanya yang seputih susu. Tetiba saja Ayyazh membutuhkan bantuan oksigen untuk membantunya bernapas lega . Beruntung, aroma tubuh Azima yang lembut dan manis campuran dari bunga Lily dan vanila bersatu memanjakan indra penciuman Ayyazh, hingga jiwa jiwa liarnya bisa sedikit tenang , walau riak riak gejolak itu masih bertahan .
Hingga perlahan, ia mulai bisa menenangkan diri nya. Kini, ia mengusap kepala Azima. Di sana, di relung hati nya yang paling dalam, ada rasa bersalah, rasa menyesal dan rasa takut kehilangan.
Satu tangan Ayyazh berada di atas punggung Azima, ia turut memeluk wanita nya. Perlahan Ayyazh mencium pucuk kepala Azima .
" Maukah kau menunggu ku ? Aku harus membereskan sesuatu. Jika pada akhirnya, apa yang aku curigai benar benar terjadi , bertahan lah di sisi ku. Walau itu menyakitkan untuk mu dan untukku , mari kita jalani dan lewati bersama. Aku tau , kamu pasti sangat menyayangi nya, begitupun dengan ku. Tapi, ingatlah, tanpa perjodohan ini pun, aku akan mengejar mu, kamu mau lari dan sembunyi di mana pun , pasti akan aku temukan. Itu karena,, aku sangat mencintaimu. "
Bunyi suara adzan berkumandang membangunkan Azima. Lelap sekali tidurnya semalam. Karena itu, ia mulai gelisah. Hal pertama yang ia lihat adalah celananya.
" Alhamdulillah, masih utuh. " Gumamnya di penuhi rasa syukur.
Azima kembali melihat pematang yang ia buat. Masih lengkap.
Ia pun tersenyum. " Dia bisa juga di percaya. " Ucapnya menatap ke arah kamar mandi di mana suara gemericik air riuh rendah menandakan jika teman tidurnya sedang membersihkan diri di dalam sana.
*
*
Indonesia.
Kicauan burung yang terdengar dari balik jendela membangunkan tidur lelap A. Entah apa yang membuatnya kembali ke kamar setelah sholat subuh berjamaah di masjid. Yang pasti, begitu kepalanya menyentuh bantal, dengkuran halus mulai memecah suasana pagi yang hening.
Ia mengurai rambutnya yang sedikit berantakan, cahaya terang dari balik tirai menyilaukan netra A. Setelah mengumpulkan nyawa, ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
Keluar dari ruang persegi panjang berukuran lumayan besar itu, membuat tampilan nya semakin segar . Netranya mengedar sekeliling, ada yang dia cari. Tepatnya wanita yang berbaring di sofa semalam.
" Kemana dia ? "
A menuruni anak tangga , tujuannya adalah dapur. Yang dia cari pertama kali, adalah Annasya. Walau tidak secara langsung bertanya, tapi umi Tata yang sementara mempersiapkan sarapan Abi paham dengan isi kepala anaknya.
" Siapa yang kau cari ? " Goda umi.
" Ha_ tidak ada ." A melongo sesaat sebelum melanjutkan .
" Istrimu sudah ke rumah sakit. Oiya, makan sarapan mu. Annasya yang buat sebelum ia berangkat." Ucap umi Tata menunjuk satu piring lebar berisi potongan labu kuning , edamame, kentang dan telur yang semuanya sudah di rebus. Di samping piring , ada segelas susu segar kesukaan hampir seluruh anggota keluarga Brawijaya.
" Aku tidak bertanya. " Sergah A menutupi rasa gugupnya.
" Mulut mu memang tidak, tapi matamu sangat jelas mencari keberadaan Asya. "
" Hmm..."
Umi Tata terkekeh pelan dengan gaya salah tingkah A.
A menatap isi piringnya, sangat berwarna. Ia tersenyum samar dan mulai menghabiskan makanan itu sedikit demi sedikit.
" Umi akan siapkan bekal untuk nya, siang kamu bawakan . Seharian ini, dia pasti akan sangat sibuk. Umi akan bertemu dengannya , tapi di operasi terakhirnya untuk hari ini. Dan semoga saja ia bisa pulang tepat waktu. "
( Tepat waktu ? Memangnya tepat waktu itu jam berapa ? ) Batin A.
" Berarti aku akan menjemputnya jam lima. "
" Apa kamu bilang ? Jam lima. Dia tidak akan pulang secepat itu. Minimal, dia biasa tiba di rumah jam delapan atau paling lambat jam sembilan. "
" Kenapa lama sekali?"
" Istrimu itu dokter bedah , A. Neuro surgery. Kau bisa baca baca artikel tentang spesialisasinya itu. "
Azima sudah pernah mengatakan padanya bagaimana kesibukan Annasya, namun ia belum punya waktu untuk berselancar di internet mencari tau informasi tentang Neuro surgery yang di katakan umi Tata barusan .
Usai sarapan, A kembali ke kamar, ponselnya tertinggal di atas tempat tidur. Sembari duduk di pinggiran kasur, A membuka benda segi panjang berlogo apel tersebut.
Yang pertama menarik perhatiannya adalah pesan WhatsApp dari seseorang yang sudah mengganggu hari harinya beberapa minggu terakhir.
( Assalamualaikum, aku sudah berangkat ke rumah sakit. Maaf karena tidak membangunkan mu. Pagi ini aku ada operasi. Sarapan sudah aku siapkan, selamat makan dan sampai bertemu nanti malam . )
" Nanti malam ? Gila ! Pekerjaan apa itu ? " Gumam A . Ia merasa jika pekerjaan Annasya terlalu berat untuk seorang wanita.
Pada akhirnya rasa penasaran dengan pekerjaan Annasya membuatnya mengotak atik laman pencarian di ponsel pintarnya.
' Neuro surgery ' . Kata itu menjadi kata kunci pencariannya di internet.
...****************...
komunikasikan dengan baik
itu....bisaaaaaa 😘👍👍👍💪💪💪💪💪
🤣
nahhhhh gitu dooong
kak fara kenapa sih seneng banget bikin kesel aku ini, dah tau kalau baca A bikin kesel mulu, eh sekarang di bikin senyam senyum malah pendek bener itu bab. duh berasa pengin datangin kerumah kak fara biar up lagi🤭🤭🤭
habis lah kau asya🤣🤣🤣
pengin tuh tiap hari up dua bab aja, atau satu bab tapi panjangggggggggggggggg🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hanya itu kekurangannya, kelebihan nya selalu bikin penasaran dan gemes dengan segala tingkah para lakon dalam cerita.
pokoknya bikin ke tagihan kalau udah baca.
semoga kak fara sehat dan sukses selalu dengan karyanya🥰🥰💪