NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Harus pergi

"Paman, aku harus pergi," bisiknya. Suaranya parau, berat oleh duka, namun terselip kemantapan yang belum pernah ada sebelumnya. "Aku tidak bisa lagi hanya diam di sini menunggu keajaiban yang tidak pernah datang. Jika Ibu tidak kunjung menjemputku, maka akulah yang akan mencarinya ke ujung dunia sekalipun. Aku… aku akan sangat merindukan omelanmu, Paman. Maafkan aku jika aku pergi tanpa membawa koin emas untukmu."

​Ia menegakkan tubuh, menyandang bungkusan kain kumal berisi sedikit perbekalan dan sisa tabungan koin perunggunya.

Dengan satu tatapan terakhir ke arah Kota Azure yang mulai mengecil di bawah sana, kota yang telah merampas masa kecilnya namun memberinya keluarga yang hilang Lu Ming membalikkan badan.

Ia melangkah menuju jalan setapak yang membelah Hutan Kabut Hitam, menuju dunia luas yang ia tahu akan jauh lebih kejam daripada sekadar rasa lapar di pinggir jalan.

​Perjalanan itu tidaklah indah. Dunia di luar tembok kota adalah rimba bagi para kultivator kuat dan ladang pembantaian bagi mereka yang lemah.

Lu Ming berjalan berhari-hari menembus semak belukar dan jalan setapak yang licin.

Kakinya lecet, membengkak, dan sesekali mengeluarkan darah, namun teknik pernapasan yang diajarkan Paman Han membantunya menekan rasa sakit hingga ke titik terendah.

​Pada sore hari yang mendung, saat ia sedang melintasi jalur sempit yang terjepit di antara dua tebing batu yang curam, langkahnya terhenti. Suasana mendadak senyap, hanya suara gagak yang sesekali terdengar di kejauhan.

​Tiga orang pria dengan pakaian kulit binatang yang kasar dan bau menyengat berdiri menghalangi jalan.

Mereka memegang parang lebar yang permukaannya sudah tergores namun tetap berkilat tajam.

Aura Qi yang tipis namun keruh dan kotor menyelimuti tubuh mereka, tanda bahwa mereka adalah kultivator pengembara yang melakukan segala cara.

​"Oi, Bocah! Berhenti di sana!" teriak pria di tengah yang memiliki bekas luka melintang di matanya, memberikan kesan permanen yang mengerikan. "Serahkan bungkusanmu dan koin apa pun yang kau sembunyikan di balik baju dekilmu itu sekarang, atau kau akan berakhir menjadi santapan burung bangkai!"

​Lu Ming berhenti, tubuhnya menegang. Tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang besi pendek di pinggangnya, bukan pedang milik Paman Han yang dibawa pergi oleh kemarahan Liu Shen, melainkan pedang murahan yang ia beli dengan sisa koin perak terakhirnya.

​"Tuan-tuan, aku tidak memiliki harta. Aku hanya seorang pengembara yang mencari keluargaku," ucap Lu Ming, mencoba menenangkan suaranya agar tidak bergetar. "Tolong, biarkan aku lewat."

​"Hahaha! Pengembara?" salah satu pria itu meludah ke tanah dengan jijik. "Pakaianmu penuh tambalan, tapi matamu terlalu jernih. Anak-anak sepertimu biasanya membawa pusaka atau barang berharga dari keluarga mereka. Serahkan, atau kami akan membedah perutmu untuk mencarinya sendiri!"

​Ketiganya maju bersamaan, menutup setiap jalan keluar. Lu Ming merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya.

Rasa takut itu ada, namun di balik ketakutan itu, ia teringat instruksi terakhir Paman Han: Pedang adalah tentang bertahan hidup satu detik lebih lama.

​Saat pria pertama menerjang dengan ayunan parang yang serampangan namun bertenaga, Lu Ming merendahkan tubuhnya dengan refleks yang tajam. Dunia seolah melambat di matanya.

Ia melihat celah lebar di bawah ketiak lawan. Dengan satu putaran kaki yang kokoh, ia mengeksekusi "Kuda-Kuda Akar Bumi" dan menebaskan pedangnya dalam satu garis lurus.

​Sret!

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!