“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Piring Kenangan Pecah
Rabu malam di apartemen 12-B biasanya adalah waktu bagi Sinta untuk melakukan dekompresi. Setelah seharian penuh "akting" menjadi orang asing bagi Jingga dan menghadapi tatapan tajam Adrian yang makin posesif, Sinta hanya ingin menyepi di dapur. Baginya, dapur bukan lagi sekadar tempat memasak, melainkan ruang suci di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu memakai topeng staf kredit teladan.
Malam itu, Sinta memutuskan untuk mencuci peralatan makan secara manual, sebuah ritual yang entah kenapa terasa menenangkan. Ia mengambil sebuah piring keramik berwarna putih gading dengan pinggiran bermotif bunga krisan kecil yang sudah agak memudar. Piring itu bukan bagian dari set peralatan makan modern yang mereka beli saat pindah ke sini. Itu adalah piring tua, satu-satunya benda yang tersisa dari set perangkat makan pernikahan mendiang ibunya.
"Hati-hati, Sin. Jangan melamun," bisik Sinta pada dirinya sendiri.
Tangannya yang bersabun mulai menggosok permukaan keramik itu dengan lembut. Pikirannya melayang pada percakapan dengan Jingga di balkon kantor kemarin. 'Mata gue nggak selalu mau nurut sama otak gue kalau menyangkut lu.' Kalimat itu terus bergema, menciptakan pusaran emosi yang membuatnya tidak fokus.
Di ruang tengah, Jingga sedang mencoba memperbaiki senter kepalanya yang rusak. Ia melirik ke arah dapur, melihat punggung Sinta yang tampak tegang. Ia ingin menyapa, ingin bertanya apakah hari ini Adrian berbuat macam-macam lagi, namun ia menahan diri. Ia tidak ingin merusak ketenangan Sinta.
Tiba-tiba, suara gedebuk kecil terdengar, disusul oleh suara dentingan nyaring yang memekakkan telinga.
PRANG!
Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Sinta. Ia menatap kosong ke arah lantai wastafel. Piring krisan itu—jimat fisiknya yang tersisa dari sang ibu—kini tergeletak dalam kondisi hancur. Bukan hanya pecah menjadi dua, tapi hancur berkeping-keping menjadi belasan fragmen kecil yang tajam.
"Sinta? Lu nggak apa-apa?" Jingga langsung melompat dari sofa dan berlari menuju dapur.
Sinta tidak menjawab. Ia berdiri mematung dengan tangan yang masih berlumur busa sabun. Matanya melebar, menatap puing-puing putih gading di bawah kakinya. Nafasnya mulai memburu, pendek-pendek dan berat.
"Eh, biar gue bersihin. Jangan gerak, nanti kaki lu kena beling," ucap Jingga panik. Ia segera mengambil sapu dan pengki. "Cuma piring, Sin. Nanti kita beli lagi yang baru di mall hari Sabtu, oke?"
Kata "cuma piring" seolah-olah menjadi pemantik ledakan yang sudah tertahan selama berminggu-minggu di dada Sinta.
Sinta tiba-tiba berlutut di lantai, mengabaikan peringatan Jingga soal pecahan tajam. Ia mencoba memunguti kepingan-kepingan itu dengan tangan kosong. "Ini bukan cuma piring, Jingga... ini punya Ibu... ini satu-satunya yang tersisa..."
"Sin, jangan pake tangan! Berdarah nanti!" Jingga mencoba menarik tangan Sinta, namun Sinta menepisnya dengan kasar.
"LU NGGAK MENGERTI!" teriak Sinta. Suaranya pecah, melengking dalam kesedihan yang murni.
Air mata yang sejak pagi ia tahan di kantor, air mata yang ia sembunyikan dari Adrian, dan air mata yang ia tekan saat rumor kantor menghujamnya, kini tumpah tak terbendung. Sinta menangis tersedu-sedu, bahunya berguncang hebat. Ia memegang salah satu pecahan besar krisan itu dan mendekapnya di dada, mengabaikan fakta bahwa ujung tajamnya mulai menggores telapak tangannya.
Jingga membeku. Ia belum pernah melihat Sinta seperti ini. Ia pernah melihat Sinta marah, ia pernah melihat Sinta kesal, bahkan ia pernah melihat Sinta ketakutan saat mati lampu. Tapi ini berbeda. Ini adalah tangisan seseorang yang merasa dunianya baru saja runtuh untuk kesekian kalinya.
"Sinta... maaf. Gue nggak bermaksud..." suara Jingga melemah. Ia merasa seperti bajingan paling kejam di dunia karena telah meremehkan arti piring itu.
Jingga berlutut di samping Sinta, mengabaikan rasa tidak nyaman di lututnya yang bergesekan dengan lantai keras. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Di kantor, ia bisa mengaudit triliunan rupiah dengan kepala dingin, tapi menghadapi tangisan wanita di depannya, otaknya mendadak macet.
"Itu piring terakhir, Jingga... Ibu selalu pake itu buat kasih aku buah pas aku sakit..." isak Sinta, suaranya parau. "Sekarang udah pecah. Semuanya pecah. Hidup gue pecah, kerjaan gue berantakan, dan sekarang ini juga hilang..."
Sinta menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang sembab. Kehancuran piring itu adalah metafora dari seluruh hidupnya yang kini terasa di luar kendalinya. Ia merasa gagal menjaga warisan ibunya, sebagaimana ia merasa gagal menjaga kejujuran dalam hidupnya sendiri.
Jingga merasakan sesak di dadanya. Tanpa banyak bicara, ia memberanikan diri untuk melingkarkan lengannya di bahu Sinta. Kali ini, Sinta tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke dada Jingga, menumpahkan segala rasa frustrasinya ke kemeja pria itu.
"Gue di sini, Sin. Gue di sini," bisik Jingga pelan, tangannya mengusap punggung Sinta dengan canggung namun penuh ketulusan.
Ia membiarkan Sinta menangis selama hampir lima belas menit. Ia tidak mencoba menghentikannya, tidak memberikan nasihat logis, dan tidak meminta Sinta untuk tenang. Ia hanya memberikan kehadirannya sebagai jangkar di tengah badai emosi wanita itu.
Setelah isakannya mulai mereda dan hanya menyisakan sesenggukan kecil, Jingga perlahan mengangkat wajah Sinta. Ia melihat luka gores kecil di telapak tangan Sinta akibat pecahan piring tadi.
"Tangan lu luka. Sini, biar gue obatin," ucap Jingga lembut.
Ia menuntun Sinta duduk di kursi makan, lalu mengambil kotak P3K. Dengan sangat telaten, Jingga membersihkan luka di tangan Sinta. Ia meniup luka itu perlahan agar tidak terlalu perih, sebuah tindakan yang sangat kontras dengan imej "Pangeran Es" yang ia sandang di kantor.
Sinta menatap Jingga dengan mata sembab. "Maaf gue tadi teriak. Gue cuma... gue cuma ngerasa kehilangan banget."
Jingga menatap mata Sinta, lalu beralih ke tumpukan fragmen piring di lantai. "Nggak, Sin. Gue yang harusnya minta maaf karena bilang itu 'cuma piring'. Gue harusnya tahu kalau buat lu, nggak ada yang 'cuma' kalau itu soal kenangan."
Jingga berdiri dan mulai membersihkan pecahan piring itu dengan sangat hati-hati, memasukkannya ke dalam sebuah kotak kecil, bukan ke tempat sampah.
"Kenapa nggak dibuang?" tanya Sinta lemah.
"Nanti gue coba cari cara buat benerin. Atau seenggaknya, kita simpen kepingannya. Jangan dibuang dulu," jawab Jingga.
Malam itu, setelah Sinta tertidur karena kelelahan menangis, Jingga tidak bisa tidur. Ia duduk di meja makan, menatap kotak berisi pecahan piring krisan itu. Ia merasa sangat bersalah. Selama ini ia merasa bahwa dialah yang paling menderita karena harus bersandiwara, tapi malam ini ia sadar bahwa Sinta membawa beban kenangan dan ekspektasi yang jauh lebih rapuh.
Jingga mengambil ponselnya, membuka peramban, dan mulai mengetik di mesin pencarian: "Restorasi keramik kuno Jakarta" dan "Piring keramik motif krisan vintage".
Ia bertekad. Jika ia tidak bisa memperbaiki hidup Sinta yang rumit di kantor, setidaknya ia harus bisa memperbaiki piring ini. Atau setidaknya, memberikan sesuatu yang bisa menggantikan senyum yang hilang dari wajah Sinta malam ini.
Rasa bersalah Jingga berubah menjadi misi. Ia tidak menyadari bahwa di balik rasa bersalah itu, ada rasa sayang yang mulai mengambil alih logikanya. Baginya, piring pecah itu bukan lagi sekadar benda mati; itu adalah simbol dari kerapuhan Sinta yang harus ia jaga sekuat tenaga.
"Gue bakal cari gantinya, Sin. Gue janji," gumam Jingga pada kesunyian malam.
Keesokan paginya, Sinta bangun dengan mata yang masih sedikit bengkak. Ia berjalan ke dapur dan mendapati lantai sudah bersih mengkilap. Tidak ada jejak piring pecah. Di atas meja, ada sebuah nota kecil dari Jingga: "Gue berangkat duluan. Ada urusan bentar sebelum ke kantor. Jangan lupa sarapan, ada bubur ayam di bawah tudung saji."
Sinta menyentuh plester di telapak tangannya. Rasa perihnya masih ada, tapi ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Piringnya memang pecah, tapi sesuatu di dalam hubungannya dengan Jingga justru terasa baru saja tersambung kembali, lebih kuat dari sebelumnya.
Namun, ia tidak tahu bahwa saat itu juga, Jingga sedang berada di sebuah pasar barang antik di pinggiran kota, berkeliling di bawah terik matahari pagi, hanya untuk mencari sebuah piring dengan motif krisan yang sama. Jingga yang biasanya benci keramaian dan tempat kotor, kini rela berdesakan demi sebuah benda yang semalam disebutnya "cuma piring".
Di kantor, rumor mungkin masih berhembus, dan Adrian mungkin masih menunggu untuk menerkam, tapi di apartemen 12-B, sebuah piring yang pecah telah membuka jalan bagi perhatian-perhatian kecil yang lebih jujur.