Bastian, gak sebaik dan gak sesempurna yang kalian kira guys. Lihat kisahnya disini, dimana dia hanya menyewa seorang wanita, hanya untuk memenuhi keinginan sang mama, untuk memberikannya cucu.
Tara, terpaksa mau untuk menolong keluarganya, hal yang makin membuat bastian benci sekaligus mulai sayang padanya, tapi bastian terlalu bodoh dan gensi untuk mengakuinya.
Bagamana kisah bastian.
Masih pada inget sosok bastian gak?
udah pernah saya post, satu part, mau dilanjutkan di buku baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 - AKHIRNYA MALAM PERTAMA
Setelah dua bulan, bilangnya gak mau nyentuh tara, tapi ya milik bastian bergetar juga, galau gak ada tempat menyalurkan nafsu, ditambah hati bastian yang mulai dia buka sejak tara hamil dan kabur.
"Yang dibawah ta," pinta bastian, salahkan bastian, bahasanya belibet, tinggal bilang mau apa, minta yang dibawah.
"Apaan sih. Ada tikus, kecoa." tara yang ketakutan membayangkan dua hewan itu langsung melompat memeluk bastian.
"Punya kamu, yang dibawah punya kamu, main di ranjang." Bisiknya malah ditelinga tara.
"Ahh.." tara terkejut, kenapa tiba-tiba. Lagi hamil pula. Tara senang tapi rasanya jantung tara kek mo copot.
"Tara lape, makan dulu." tara langsung melepaskan tangan yang memeluk bastian. Tara langsung menjauh, mengambil piring makanannya dan membawanya ke meja makan.
"berarti nanti habis makan ya?" tanya bastian yang mengikuti langkah tara ke meja makan. Sampai membuat tara tersendak.
"pelan-pelan makannya." bastian membantu tara mengusap punggungnya dan mengambilkan air.
Bastian duduk disamping tara, ikut makan nasi, tapi mata bastian terus mencuri pandang menatap tara. Sementara tara sendiri bingung, tante bilang sih kandungan tara baik, gak papa, tapi tara sendiri, gugupnya setengah mati.
"tante udah bilang kok aman." kata bastian tiba-tiba, seakan punya telepati kalau tara juga sedang memikirkan itu.
"Tapi tadi si tante resek, bilang gak boleh lah. Resek tuh dokter." kata bastian dengan nada kesal tapi terdengar merajuk, lucu.
Tara yang gugup, menghabiskan nasi gorengnga dengan sangat lama. Sementara bastian sudah selesai dari tadi. Ketika bastian ke belakang, tara memikirkan seribu cara bagaimana beralasan agar tak melakukannya.
"Langsung masuk ke kamar dan tidur. Iya.." tara tau, mungkin ini bisa. Tara belum siap. Tara langsung masuk kamar dan tidur. Ketika bastian kembali dari toilet, dia sudah tak melihat tara di meja makan.
"Ta," bastian inisiatif, melihatnya ditempat tidur. Ternyata sudah berbaring.
"Ta, katanya mau main. Jadikan?" bastian tanpa izin berbarin disamping tara, bahkan tangannya mengusap perut tara, lalu perlahan kepinggul dan menuju area privasi milik tara.
"Mas tian, kalau kedengaran ibu sama bapak, tara malu." hanya Itu alasan yang bisa tara beri.
"Iya juga sih." Tara pikir dia selamat. Tapi tidak.
"Tapi kan udah suami istri, pasti ibu sama bapak juga maklum." ******. Bastian masih menelusuri pinggul tara bahkan sudah tangannya sudah sampai diarea privasi tara yang sejak tadi bastian sebut, bagian bawah tara.
"Mas, jangan dulu. Tara takut adeknya kenapa-napa?" tara sudah mendesah nikmat, tapi dia takut, takut untuk semua hal, dia belum siap, malu sama ibu dan bapak dan takut bayinya.
"serius kata tante aman?" tanya tara lagi.
"Iya serius, aku liatin smsnya." bastian bahkan mengambil ponselnya. Tara juga tau sih aman. Ya tapi belum siap aja.
Saat Bastian mengambil ponselnya, itu kesempatan tara kabur. Tara malah kabur ke kamar ibu dan bapak yang tepat berada disebelahnya, makannya takut kalau kedengaran.
"Ta, mau kemana?" bastian berteriak pada tara, dia bahkan hampir lari, mau malan pertama aja kabur-kaburan.
"Ke kamar ibu sama bapak, mas." kata tara, yang akhirnya bisa ditangkap bastian, bastian terpaksa menahan tara ditembok kamar ketika tara tertangkap akan keluar.
"kenapa ke kamar mereka, kamu mau kabur ya dari aku." tanya bastian menatap tara yang tepat ada didepannya, menatap tajam mata tara yang tak berani menatap bastian. Malu dan gugup.
"Mas, nanti aja, tara izin dulu sama tante kinta, kita periksa dulu, mas tian kan belum ikut tara periksain kandungan tara, baru kalau kita udah dapet penjelasan dan semuanya aman, tara lega lakuinnya." alasan tara lagi, berbelit-belit.
"terus kapan lakuinnya?" tanya bastian frustasi.
"ya kalau udah ketemu sama tante kinta."
"telpon tante kinta aja, bentar." bastian yang sejak tadi memegang telponnya langsung menghubungi tante kinta, tak tau waktu. Jam hampir dua belas tengah malam.
"Apa sih bastian, gak tau waktu banget telponnya." omel tante kinta dari sebrang sana.
"Tante, plisss jelasin ke tara, aman kan kalau kita lakuin itu?" tanya tante kinta.
"Loh, tante udah jelasin ke tara, kandungan tara ternyata gak selemah yang saya kira. Jadi aman, tadi kan saya juga udah bales sms kamu, basss.... kalau ketemu kalian berdua tak jitak seribu kali loh. Ini jam berapa, dua belas malem, saya juga mau main."
"idihh.."
Bastian langsung menghentikan telponnya, dia meleparkan telponnya dan menatap kesal tara.
"Tante udah bilang kan ke kamu, ternyata kehamilan kamu kuat kok. Kenapa dari tadi takut?" tatapan bastoan berubah seakan ingin menerkam tara.
"iy-a sih, mas. Ta-pi..." sumpah tara gugup setengah mati.
Tanpa basa-basi, bastian menciun bibir tara, menikmati bibir manis istrinya itu. Tara pun mulai menikmati ciuman bastian. Bastian perlahan membawa tara ke ranjang, ciuman bastian mulai turun keleher. Bastian berangsur ke pintu, untuk menguncinya.
"Gak papa ta, aku lakuinnya pelan-pelan kok, janji." bastian sudah melepas bajunya, dia bahkan sudah mengungkung tara yang berbaring dibawah kakinya.
"Mas tian, jangan ya. Pliss, maafin tara. Tara belum siap. Jangan di rumah ibu, takut ibu dan bapak denger, tara malu, sumpah." waktu tian sudah menyingkap dres tara hingga memeperlihatkan bagian bawah tara, yang masih mengenakan cd. Tara menangis memintanya.
Bastian jadi gak tega. Bastian menghentikannya. "Ya udah, besok kita ke hotel, biar ibu sama bapak dan mama juga bina gak akan denger, dan aku juga bisa main puas, kamu bisa desah dan teriak sepuas kamu. Kamu puas?" bastian berguling tidur disamping tara yang menangis. Mau diajak berhubungan, sama suami lagi, kok nangis, ya mana tega bastian, emang dia mau perkosa gadis giti, jatuh banget harga diri bastian.
"Iya tara janji, tara masih gugup aja. Tara siap-siap dulu. Tara masih butuh waktu." Tara berbalik dan menatap wajah frustasi bastian yang menahan hasratnya.
"Tara ke kamar ibu ya, kan besok mau pulang, biar puas sama ibu sama bapak." kata tara yang tiba-tiba bangun lalu meninggalkan bastian tanpa dosa.
"hmm..." bastian hanya berdehem kesal. "Resek!" bastian mengambil bantal dan memukulnya, meninjunya. "udah diri juga milik gue. Dasar anak kecil, tetep aja kecil."
Bastian keluar menyusul tara, dia berjalan sambil mengenakan bajunya, sedikit berlari mengejar tara untuk memastikan ucapan tara. Dia menghentikan tara yang sejak tadi mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Ta, tapi kamu janji kan gak akan nolak lagi?" tanya bastian pada tara.
"iya janji, kasih waktu ke tara dikit lagi." jawab tara yakin.
"loh, kalian kenapa? ada apa?" ibu dan bapak tepat membuka pintu kamar.
"biar ibu sama bapak yang jadi saksi ya ta. Kamu jangan ingkarin janji kamu." kata bastian, tara malah melotot, menggeleng ke bastian, jangan bilang dong, malu taranya.
Tapi bastian gak mau. "Itu ibu, tara diminta main gak mau masak, katanya takut adek bayinya kenapa-napa? amankan bu asal kandungan tara gak ada masalah? tadi dokternya juga udah bilang gak papa, bu, pak."
Tanpa malunya, bastian mengadu. Membuat tara yang malu gak ketulungan. Ibu dan bapak hanya tersenyum.
"sampek tara nangis mohon ke aku, bu. Emangnya aku mau perkosa anak ibu, kan udah sah. Ya akunya gak tega lah."
Taranya malah makin nangis meluk ibu. Andai ibu tau malam pertama mereka, bagaimana dia hamil, lalu kenapa tiba-tiba sangat ingin.
"Ibu, tara kan cuma takut adeknya kenapa-napa? lagian mas tian telpon tante kayak desak tante ngebolehin. Tara belum tenang kalau belum ketemu tante langsung, kan juga baru jadi ibu, tara takut kandungan tara kenapa-napa."
"Ya udah, besok periksa ke dokternya. Malam ini ditahan dulu, ya bas. Kasian loh anak ibu, beneran nangis, kayak mau diperkosa. Hahaa..." ibu sejak tadi udah nahan ketawa, yah gak bisa ditahan juga. Bapak apalagi.
"Udah bas, tidur gih. Yang sabarrr ... bapak tutup ya pintunya." tara masuk dengan ibu, bapak minta izin tutup pintu.
Bastian cuma bisa pasrah, gilak udah kayak perkosa anak orang, pakai nangis segala, udah izin juga sama bapak-sama ibunya.
"Pokoknya di hotel, sekalian gue liburan Sekalian biar gue puas. Sebel gue." bastian kembali ke kamarnya, dia mengambil ponselnya dan langsung mencari hotel untuk main, juga sekalian liburan yang disarankan oleh om aryo.
-
kekekekekek
bastian dahh gak tahann...
hahahaaa...
belibet..
krn sepasinya trlalu panjaang kadang bikin gk nyambung jadinya
💪💪💪💪💪
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
sukses selalu thor suka banget ceritanya
ditunggu cerita selanjutnya
semangat
💪💪💪💪💪💪