Putri kerajaan yang hidup sebagai rakyat biasa dengan kisah asmara rumit, penuh perjuangan, dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dikAtHa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Beberapa bulan yang lalu
Putri sedang berjalan dikoridor istana ditengah malam. Tiba-tiba mahkamah agung Indragith mendatanginya.
"Putri, saya ada hal penting yang ingin saya bicarakan" ujar Indragith dengan khawatir.
"Katakan saja paman, jangan ragu" ujar putri.
"Bisakah kita bicara ditempat lain, ini mengenai ayah kandung putri"
"Baiklah mari paman" ajak putri.
Putri Fara dan mahkamah agung Indragith pergi ke kamar putri. Putri meminta agar perjaga diluar tidak membiarkan ada orang lain yang masuk. Putri lalu meminta mahkamah agung Indragith untuk memulai pembicaraan.
"Putri, kapan putri akan mencari putri Gabriel?" tanya Indragith.
"Memangnya ada apa apa paman?" tanya balik Putri Fara.
"Ingatlah putri, sebenarnya raja sangat ingin membuat putri Gabriella menjadi ratu dari kerajaan Peward. Namun kenyataannya raja meninggal diracun setelah putri Gabriella pergi" jelas Indragith.
"Tidak mungkin, ayah memiliki darah yang sama denganku. Tidak ada penyakit apapun yang bisa membunuh ayah"
"Kau benar putri, tapi apa putri lupa? Kalau dalam satu tubuh raja Cundiga terdapat 2 elemen yaitu darah dan racun"
"Iya, air liurnya merupakan racun yang mematikan. Namun darahnya adalah obat paling ampuh diantaranya. Jika keduanya tidak seimbang, maka itu akan menghancurkan tubuhnya sendiri"
"Maka dari itu putri, para musuh memanfaatkan atas kesedihan raja untuk meracuninya. Racun itu tidak berdampak secara cepat, namun perlahan. Itu yang membuat kematian raja tidak dicurigai"
"Lalu bagaimana paman bisa tahu?"
"Sebelum raja tewas, raja memintaku untuk mencari Ekalauya dan Ekalana. Mereka merupakan dokter kerajaan yang biasa mengobati raja, saya curiga jika ini ada kaitannya. Sebab setelah raja sekarat mereka tak muncul lagi hingga sekarang"
"Apa paman memiliki informasi terkini mengenai kereka itu?"
"Saya dengar mereka adalah sepasang suami istri dan menjadi kepala desa yang dilindungi oleh pangeran Pratap"
"Bagaimana aku bisa mengenalinya?"
"Ekalauya memiliki tanda lahir di pergelangan tangannya sedangkan Ekalana memiliki tanda lahir dilehernya"
"Aku akan temukan dia, paman. Aku akan penuhi keinginan ayah"
"Aku akan pergi, putri jangan cari saya atau pun menghubungi saya" pamit Indragith.
"Ada apa paman? Apa yang terjadi? Kenapa paman ketakutan?" tanya Fara yang khawatir.
"Kumohon putri, ikuti saja permintaan saya ini. Ingatlah putri, jadikan Gabriella menjadi ratu"
"Baik paman, aku akan jadikan dia sebagai ratu. Namun bagaimana caranya?"
"Fikirkan putri, hanya putri yang mampu meyakinkannya"
Indragith lalu pergi meninggalkan Fara yang sedan berfikir. Setelah kejadian tersebut Indragith tak terlihat kembali.
****************************************
.
.
.
Di Rumah.
tetangga yang penasaran ikut menguping dari balik gerbang rumah.
"Ampun putri, ampuni saya" ujar Eko.
"Kenapa kalian menunduk seperti itu? Seperti habis melakukan dosa saja" sindir Fara.
"Maaf putri, ada hal apa putri sampai membawa kami kemari?" tanya Eko
"Ada apa dek? Katakanlah" pinta Gabriel.
"Arjun! bawa dia kemarkas" pinta Fara.
"Baik putri"
Arjun pergi membawa bu Eka dan pak Eko ke tampat persembunyian.
"Ada apa sebenarnya Fara? Kenapa kau memperlakukan mereka seperti itu?" tanya heran Gabriel.
"Ini urusan kerajaan, orang biasa tidak perlu ikut campur" sinis Fara.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini padaku Fara?" keluh Gabriel.
"Sampai kakak lepaskan Rangga yang penjudi itu" ketus Fara.
"Tidak mungkin Fara, dia suamiku. Ayah dari anak-anakku, apa kau gila Fara?"
"Ya aku gila, aku gila mikirin kakak yang masih mau dengan cowok temperamen kayak dia" amarah Fara yang lalu pergi.
Aku tak pernah mengharapkan ini Fara, namun apa dayaku...gumam Gabriel.
"Yakinlah putri Gabriel, jika putri Fara sudah seperti itu. Pasti itu yang terbaik untuk anda" ujar Syena.
"Yang terbaik baginya, belum tentu itu yang terbaik untukku" ujar Gabriel
Didepan gerbang, Rangga heran melihat depan rumahnya sudah ramai dengan tetangga yang mengerumun.
"Ada apa ini ibu-ibu?" tanya Rangga.
"Eh Rangga, masa gak tahu sih. Rumah ini udah dijaga ketat sama yang ngaku-ngaku katanya putri Faradilla. Tapi gak tau iya atau bukan, sebab gak pernah tampak keluar" jawab salah satu tetangga.
"Ya sudah kalau gitu, saya masuk dulu" pamit Rangga.
Setelah melewati gerbang, Rangga dihadang oleh 2 penjaga. Mereka menahan agar Rangga tidak masuk.
"Siapa kamu?" tanya salah satu penjaga.
"Kamu yang siapa? Aku itu pemilik rumah ini" tegas Rangga.
"Benarkah?" heran salah satu penjaga tersebut.
"Biarkan dia masuk, nanti putri marahi kita lagi" bisik penjaga yang lain.
"Tapi kata putri... ujar penjaga yang tergantung.
"Sudah aku mau masuk, lagian saya suami dari kakaknya putri Fara. Kalian mau saya aduin" gertak Rangga.
"Tidak-tidak... masuklah" ujar para penjaga.
Rangga masuk dengan mudahnya, Glen yang berdiri didepan pintu telah mencium adanya bahaya. Glen pun menggonggong didepan pintu mencegah Rangga agar tidak masuk. Mendengar gonggongan dari Glen, Fara langsung keluar sesegera mungkin.
"Tenang sayangku" ujar Fara sambil mengusap kepala Glen. "Benar jika anjing itu lebih peka dengan bahaya daripada manusia itu sendiri"
"Maksudmu Bianca?" sinis Rangga.
"Lihat kejahatannya mulai nampakkan" ledek Fara.
Aku harus tenang jika ingin agar bisa diterima dirumah sendiri...batin Rangga.
Gabriel dan Syena ikut keluar mendengar keributan diluar.
"Rangga kau disini!" ujar Gabriel yang berlari menghampirinya.
"Tunggu!" tegas Fara sambil menahan tangan Gabriel. "Kenapa terburu-buru, dia saja tidak pernah perdulikanmu. Lalu kenapa kau sok memperdulikannya"
"Tapi dia suamiku" ujar Gabriel.
"Aku menyesal Intan, telah berbuat kasar padami. Ku mohon beri aku kesempatan agar bisa mencintaimu dan anak-anak kita sepenuhnya" pinta Rangga yang sambil memohon pada Gabriel.
"Dia sudah meminta maaf, aku akan memaafkannya dan membangun rumah tangga yang baru" ujar Gabriel yang menghempas tangan Fara.
"Kau sangat naif kak!!!" teriak Fara.
"Sudah Rangga, jangan dengarkan dia. Kali ini kita benahi saja rumah tangga kita" ujar Gabriel.
"Malam ini kau tidur denganku Syena, minta Arjun untuk mengetuk pintu jika ingin masuk kamar" bisik Fara yang kemudian masuk ke rumah.
Fara sangat kecewa melihat kedatangan Rangga. Ia tidak menerima jika Gabriel kembali kepada laki-laki pemabok seperti Rangga.
Malam ini Rangga ikut makan bersama, ia duduk disamping Fara. Tak ingin memancing amarah pada dirinya, Fara pun segera menghabiskan makanannya lalu pergi ke ruang tamu. Gabriel mengikutinya berusaha untuk membujuk adiknya agar menerima suaminya.
"Fara, boleh kakak bicara?" tanya Gabriel.
"Ingat, aku putri mahkota. Aku pergi membawa gelarku bukan sebatas adikmu" tegas Fara.
"Baiklah putri, terserah keinginanmu saja. Namun kumohon terimalah dia, bagaimana pun dia adalah kakak iparmu" pinta Gabriel.
"Aku tidak senaif dirimu kak, aku bisa lihat tujuan busuk pada dirinya" ketus Fara.
"Cukup putri! aku hanya minta sedikit permintaan kecil darimu. Tapi kau bahkan menghinanya, kau bukan Fara yang ku kenal. Kau hanya orang asing" amarah Gabriel yang sambil meneteskan air mata.
"Memangnya kapan kau mengenalku, bahkan pertemuan kita belum ada 1 tahun. Lalu bagaimana kau bisa dengan mudah mengatakan jika aku orang yang berbeda. Pikir sebelum berkata, aku anggap wajar jika kau seperti ini. Karna pada nyatanya kau kakakku yang tak pernah mengenali sikapku" tegas Fara yang lalu pergi.
"Fara tunggu, tunggu Fara" pinta Gabriel yang menghentikan langkah kaki Fara.
"Aku ingatkan sekali lagi, aku pergi membawa gelarku dan kali ini aku disini bukan sebagai adikmu. Melainkan seorang putri mahkota dari kerajaan Peward" ujar Fara yang lalu pergi.
semangatt
mampir ya ke cerita baru aku
2 👍
mampir juga ya kak di novelku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Lanjut, Thor. 😊
Semangat. 😉
Istriku mantanku
Ternyata Cinta Pertamaku